Tangis Sedih atas Kepergian Seorang Ahlus Sunnah

Tangis Sedih atas Kepergian Seorang Ahlus Sunnah

[Belasungkawa atas Berpulangnya Ustadz Bashiron ke Hadirat Allah]

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

gambar kuburUsai Sholat Isya’ di Masjid Al-Ihsan, Pesantren Al-Ihsan, Gowa, Sulawesi Selatan, aku langkahkan kaki untuk menjenguk seorang santri yang sedang di rawat di sebuah Puskesmas, dekat Pondok Pesantren Al-Ihsan.

Tiba-tiba aku dikagetkan dengan sebuah berita wafatnya Ustadz Muhammad Bashiron -rahimahullah- yang disampaikan oleh Ustadz Ibnu Yunus -hafizhahullah- yang juga hadir di tempat itu.

Mulut ini rasanya tak mampu bergerak, tangan dan kaki terasa lemas dan hati amat sedih mendengar berita itu. Dengan mata berkaca-kaca, segera kubuka aplikasi WhatsApp. Oh, ternyata betul apa yang disampaikan oleh Ustadz Ibnu Yunus. Pecah dan remuk perasaanku dengan datangnya berita itu. Sesaat, aku tak bisa bercengkerama dengan si sakit dan para hadirin. Aku menghindar agar orang tak melihatku.

Ustadz Muhammad Bashiron adalah seorang dai ahlus sunnah yang telah menghabiskan umurnya dalam menyebarkan kebenaran dan kebaikan. Terakhir beliau menjadi salah satu pengurus dan pembina di Pesantren Al-Madinah, Solo. Beliau wafat dengan meninggalkan banyak ilmu bagi generasi umat ini. Setiap Ahlus Sunnah, pasti mengenal beliau. Beliau telah menjadi dai yang berdakwah di jalan Allah, sedang kami saat itu masih jahil dan sebagian ustadz masih berstatus sebagai “santri”. Beliau termasuk sesepuh Ahlus Sunnah yang telah banyak berkorban di jalan dakwah, mengecap banyak pahit-manisnya mengajarkan kebenaran, menghadapi banyak tantangan dan problema dalam menyuarakan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- ala fahmis salaf.

Ustadz Muhammad Bashiron adalah amat sabar dan teguh dalam dakwah, sampai di masa-masa tuanya, masa dimana fisik sudah mulai melemah, mata sudah mulai kabur, suara sudah mulai turun, namun semangat beliau tak pernah redup. Mengajar di pesantren, dipadukan dengan berbagai aktifitas dakwah di masyarakat.

Kami pribadi selama bergaul dengan Ustadz Muhammad Bashiron, tak ada kata yang menyakitkan hati yang keluar dari mulut beliau. Beliau dikenal sebagai pribadi yang murah senyum dan gampang kenal orang.

Ini yang aku kenal tentang diri beliau, walaupun disana masih banyak cerita yang belum aku ungkapkan tentang jasa dan pribadi beliau yang mulia, hakadza nahsibuh wala nuzakki alallahi ahadan, wa hisabuhu alallah.

Kepergian Ustadz Muhammad Bashiron merupakan pukulan berat bagi Ahlus Sunnah. Bagaimana tidak, sementara orang utama seperti beliau telah pergi meninggalkan kita. Tiada kata, dan tiada ucapan yang terbaik, kecuali apa yang diajarkan oleh Allah dan Rosul-Nya:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

“Sesungguhnya kita ini semua adalah milik Allah dan sungguh kepada-Nya kita kembali.

Ya Allah, berikanlah pahala untukku dalam musibahku dan berilah aku ganti yang lebih baik darinya”.[1]

Kematian dan wafatnya seorang Ahlus Sunnah yang telah diikat oleh tali kuat : Kitabullah dan Sunnah yang membangun ukhuwah (persaudaraan) imaniah yang amat kokoh lagi mendalam. Tiada kecintaan yang lebih abadi dan hebat, dibandingkan kecintaan dan mawaddah di antara Ahlus Sunnah ‘pengikut kebenaran’.

Ahlus Sunnah bagaikan sebuah tubuh yang tak mungkin dipisahkan dan akan saling topang-menopang serta peduli dalam meraih kemuliaan, dan menghalau keburukan. Jika ada yang sakit, maka yang lain peduli, membantu, memikirkan dan menjenguk saudaranya.

Di kala seorang Ahlus Sunnah –apatah lagi seorang dai diantara mereka- berpulang ke hadirat Allah, maka kepergiannya bagaikan hilangnya sebuah anggota tubuh kita, bahkan terkadang lebih.

Ayyub bin Abi Tamimah As-Sikhtiyaniy -rahimahullah- berkata,

إني أُخبر بموت الرجل من أهل السنة وكأني أفقد بعض أعضائي

“Sesungguhnya aku dikabari tentang kematian seorang Ahlus Sunnah, seakan aku kehilangan sebagian anggota tubuhku.” [HR. Al-Laalika’iy dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah (no. 29) dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/9)]

Kesedihan atas meninggalnya seorang Ahlus Sunnah, bukanlah perkara yang ringan. Ahlus Sunnah yang selama ini berusaha mengikut sunnah, mengamalkannya, dan mendakwahkannya dengan lisan dan perbuatannya, sehingga tersebarlah sunnah, ketaatan dan tauhid. Lain halnya bila mendengarkan kematian seorang awam yang hanya menyibukkan diri dengan ibadah, tanpa didasari dengan ilmu dan sunnah.

Sebagian salaf dahulu, bila mendengarkan berita kematian seorang ash-habul hadits (nama lain dari Ahlus Sunnah)[2], maka berderailah air matanya, terkatuplah mulutnya, seluruh anggota badannya lemas tak bersemangat, terkesima dan termangu dengan sebab hal itu.

Hammad bin Zaid -rahimahullah- berkisah tentang kondisi Ayyub As-Sikhtiyaniy saat mendengar berita kematian seorang pemuda dari kalangan Ahlus Sunnah. Kata Hammad -rahimahullah-,

كان أيوب يبلغه موت الفتا من أصحاب الحديث فيرى ذلك فيه ويبلغه موت الرجل يذكر بعبادة فما يرى ذلك فيه

“Dahulu Ayyub, (berita) kematian seorang pemuda dari kalangan Ash-habul Hadits (yakni, Ahlus Sunnah). Maka terlihatlah (pengaruh berupa kesedihan) dari hal itu pada diri beliau. (Jika) kematian seseorang yang dikenal dengan ibadahnya sampai kepada Ayyub, maka hal itu (berupa kesedihan) tidak terlihat pada beliau.”  [HR. Al-Laalika’iy dalam Syarh Ushul Al-I’tiqod (no. 34)]

Seorang Ahlus Sunnah yang mencintai sunnah dan pengikutnya, akan merasa bersedih saat mendengarkan saudaranya dari kalangan ahlus sunnah sakit atau sekarat. Ia sadar bahwa seorang Ahlus Sunnah adalah saudaranya sama dalam keimanannya, aqidah dan manhajnya.

Asad bin Musa Al-Umawiy -rahimahullah- berkata,

كنا عند سفيان بن عيينة فنعى إليه الدراوردي فجزع وأظهر الجزع – ولم يكن قد مات – فقلنا ما علمنا أنك تبلغ مثل هذا قال إنه من أهل السنة

“Kami pernah di sisi Sufyan bin Uyainah, sedangkan (waktu itu) disampaikan kepada beliau tentang kematian Ad-Darowardiy. Maka Sufyan pun bersedih hati dan menampakkan kesedihan hatinya. Padahal Ad-Darowardiy belum wafat.

Maka kami pun berkata, “Kami tak pernah tahu anda sampai seperti ini.”

Sufyan menjawab, “Sungguh ia (Ad-Darowardiy) adalah seorang dari kalangan Ahlus Sunnah.”  [HR. Al-Laalika’iy dalam Syarh Ushul Al-I’tiqod (no. 56)]

Hilangnya seorang ahlus Sunnah, apalagi ia adalah seorang yang berilmu dan dai yang mengajak kepada Al-Kitab dan Sunnah ala minhaji ahlil haqq  merupakan sebab semakin asingnya sunnah di suatu negeri. Sebab, dahulu si Ahlus Sunnah yang mengajak kepada sunnah tersebut –semasa hidupnya- mengajarkan sunnah dan menyebarkannya dengan ilmu dan amalnya. Akan tetapi setelah kepergiannya, maka kosonglah negeri itu dari segala kebaikan dan ilmu yang pernah tersebar. Saat itulah, sunnah dan pengikutnya terkadang menjadi asing.

Sufyan bin sa’id ats-Tsauriy -rahimahullah- berkata,

استوصوا بأهل السنة خيرا فإنهم غرباء

“Wasiatkanlah kebaikan bagi Ahlus Sunnah, karena sesungguhnya mereka orang-orang asing”.   [HR. Al-Laalika’iy dalam Syarh Ushul Al-I’tiqod (no. 49)]

Seorang Ahlus Sunnah haruslah memiliki perhatian kepada Ahlus Sunnah yang lainnya. Karena, mereka ibarat satu tubuh.

Jika Ahlus Sunnah dahulu sedikit, maka di zaman ini lebih sedikit lagi dibanding dahulu. Karena itu, keberadaan seorang ahlus sunnah di tengah terasingnya sunnah di kalangan manusia, amatlah berharga. Keberadaannya akan menjadi penguat hati. Ia akan menguatkan hati kita dengan nasihat dan tegur sapanya. Bagaimana lagi jika si Ahlus Sunnah itu adalah dai, maka ia ibarat benteng yang dapat melindungi ahlus Sunnah lain dengan ilmu.

Akan tetapi jika si benteng ini meninggal dan berpulang ke hadirat Allah, maka hilang sesuatu yang amat berharga.

Tidak heran bila para salaf mewasiatkan kepada ahlus Sunnah setelahnya agar mereka saling memperhatikan antara satu dengan yang lainnya. Jika seroang ahlus Sunnah mukim di sebuah negeri yang jauh, dan yang lainnya di ujung dunia, maka para salaf menganjurkan kita agar mengirim salam, demi saling mengokohkan dan menguatkan dengan doa dan salam agar tetap di atas sunnah.

Sufyan Ats-Tsauriy -rahimahullah- berkata,

إذا بلغك عن رجل بالمشرق صاحب سنة وآخر بالمغرب فابعث إليهما بالسلام وادع لهما ما أقل أهل السنة والجماعة

“Jika sampai kepadamu suatu berita dari seorang ahlus Sunnah di bagian Timur, dan yang lainnya berada di barat, maka kirimlah salam kepada keduanya dan doakanlah kebaikan untuknya. Oh, alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”  [HR. Al-Laalika’iy dalam Syarh Ushul Al-I’tiqod (no. 50)]

Kirimlah salam kepada seorang ahlus Sunnah dan doakanlah mereka, apalagi di saat-saat mereka membutuhkan uluran doa kita, seperti di saat mereka wafat atau menderita.

Doa dan salam adalah wasilah yang dapat mengeratkan persaudaraan serta saling mengokohkan. Sedikitnya Ahlus Sunnah janganlah kemudian kita semakin melemahkan himmah ‘semangat’ mereka dengan kurangnya perhatian kita kepada mereka!! Mereka sakit, kita jenguk dan doakan; mereka meningggal kita doakan dan urusi jenazahnya; mereka meminta nasihat kita, maka berilah nasihat tulus untuknya; mereka jauh dari kita; maka kirimlah salam dan doakan kebaikan untuknya. Inilah tanda kecintaan seorang ahlus sunnah kepada ahlus Sunnah yang lainnya.

Al-Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah- pernah berkata dalam sebuah suratnya yang beliau kirim untuk Al-Imam Musaddad bin Musarhad -rahimahullah-. Kata Imam Ahmad dalam suratnya,

أحبوا أهل السنة على ما كان منهم . أماتنا الله وإياكم على السنة والجماعة . ورزقنا الله وإياكم اتباع العلم . ووفقنا وإياكم لما يحبه ويرضاه

“Cintailah Ahlus Sunnah sesuai apa yang ada pada mereka. Semoga Allah mewafatkan kami dan kalian di atas sunnah dan jama’ah serta memberikan kepada kami dan kalian nikmat mengikuti ilmu dan memberi taufik bagi kami dan kalian menuju sesuatu yang dicintai oleh Allah dan diridhoinya.” [Lihat Thobaqot al-Hanabilah (1/345)]
Tangis sedih para salaf atas kepergian saudaranya dari kalangan Ahlus Sunnah, sudah menjadi kebiasaan para salaf. Hati mereka terasa remuk dan hancur dengan kematian saudaranya.

Mu’tamir bin Sulaiman bin Thorkhon At-Taimiy -rahimahullah- berkata,

دخلت على أبي وأنا منكسر فقال مالك قلت مات صديق لي قال مات على السنة قلت نعم قال فلا تخف عليه

“Aku masuk menemui ayahku, sedang aku remuk (amat sedih).

Ayahku bertanya, “Kamu kenapa?”

Aku katakan, “Sahabatku meninggal.”

Ayahku bertanya lagi, “(Meninggal) di atas sunnah?”

Aku jawab, “Ya.”

Ayahku berkata, “Jangan kamu khawatir atasnya.”

[HR. Al-Laalika’iy dalam Syarh Ushul Al-I’tiqod (no. 61)]

Tidak ada yang merasa bergembira dengan kematian seorang Ahlus Sunnah, melainkan seorang yang ada penyakit di hatinya dan Allah sesatkan hatinya.

Tak ada yang membenci kebenaran dan pengikutnya, melainkan si pembenci itu adalah musuh kebenaran!!

Hammad bin Zaid -rahimahullah- berkata saat kematian seorang Ahlus Sunnah yang bernama Syu’aib bin Al-Habhab Abu Sholih Al-Bashriy -rahimahullah-.

Kata Hammad,

حضرت أيوب السختياني وهو يغسل شعيب بن الحبحاب ، وهو يقول :
“إن الذين يتمنون موت أهل السنة يريدون أن يطفئوا نور الله بأفواههم ، والله متم نوره ولو كره الكافرون”

“Aku menyaksikan Ayyub As-Sikhtiyaniy sedang memandikan (jenazah) Syu’aib bin Al-Habhab seraya berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang mengharap-harapkan kematian Ahlus Sunnah, mereka ini ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka. Sedangkan Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu benci.” [HR. Al-Laalika’iy dalam Syarh Ushul Al-I’tiqod (no. 35)]

Satu hal yang amat menyedihkan kita saat wafatnya Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Wushobiy, sebagian orang merasa bahagia dengan kematian beliau, disebabkan karena mereka telah menghukumi beliau secara zholim sebagai mubtadi’. Bahkan ada diantara mereka melarang kaum muslimin untuk tarohhum (mendokan rahmat) bagi beliau. Laa haula wala quwwata illa billah.

Sebuah musibah besar bagi Ahlus Sunnah di Indonesia pada tahun ini, wafatnya pionir dakwah Syaikh Muhammad Al-Wushobiy dan Ustadz Muhammad Bashiron -rahimahumallah-. Musibah dan kesedihan ini, tiada tempat untuk mengadukannya. Semoga kematian bagi mereka adalah sebuah kemuliaan bagi mereka berdua. Sebab keduanya –insya Allah- meninggal di atas sunnah dan telah berbuat banyak untuk sunnah.

Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarok Al-Marwaziy -rahimahullah- berkata

اعلم أني أرى أن الموت اليوم كرامة لكل مسلم لقي الله على السُنة فإنا لله وإنا إليه راجعون فإلى الله نشكو وحشتنا وذهاب الأخوان وقلة الأعوان وظهور البدع وإلى الله نشكو عظيم ما حل بهذه الأمة من ذهاب العلماء وأهل السُنة وظهور البدع.

“Ketahuilah bahwa aku memandang bahwa kematian pada hari ini kemuliaan bagi setiap muslim yang berjumpa dengan Allah di atas sunnah. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Hanya kepada Allah kita mengadukan kesedihan kita, kepergian (wafatnya) para saudara-saudara (dari kalangan Ahlus Sunnah), sedikitnya penolong (bagi sunnah), munculnya berbagai bid’ah. Hanya Kepada Allah kita mengadukan besarnya bencana yang menimpa umat ini dengan kepergian (kematian) para ulama dan ahlussunnah serta munculnya berbagai bid’ah.” [Atsar Riwayat Ibnu Wadhdhoh dalam Al-Bida’ wan Nahyu anha (hal. 46)]

Kematian seorang ulama atau dai sunnah –seperti Ustadz Muhammad Bashiron- yang telah banyak memberikan jasa dan sumbangsih dalam menyebarkan sunnah merupakan perkara yang amat berat terasa di hati setiap pencinta sunnah.

Para ulama sunnah dan dainya merupakan benteng kokoh dalam membendung berbagai macam kekafiran, bid’ah, dan maksiat. Di kala mereka pergi hilanglah sebagian pengaman dari senjata-senjata musuh yang senantiasa dihunuskan kepada kebenaran dan pengikutnya.

Al-Imam Abul Fida’ Ibn Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,

وقد كان الفضيل بن عياض يقولليس موت أحد أعز علينا من موت الرشيد، لما أتخوف بعده من الحوادث، وإني لأدعو الله أن يزيد في عمره من عمري، وقالوا: فلما مات الرشيد، وظهرت تلك الفتن والحوادث والاختلافات، وظهر القول بخلق القرآن، فعرفنا ما كان تخوفه الفضيل من ذلك” البداية والنهاية 10/ 221 

“Sungguh dahulu Fudholi bin Iyadh berkata, “Tidaklah kematian seseorang  yang lebih berat bagi kami dibandingkan kematian (Harun) Ar-Rosyid, karena sesuatu yang aku khawatirkan setelahnya berupa perkara-perkara baru (yakni, bid’ah-bid’ah). Sungguh aku memohon kepada Allah agar memberikan tambahan bagi umurnya dari umurku.

Mereka berkata,

“Tatkala Ar-Rosyid wafat, dan muncullah fitnah-fitnah, perkara-perkara baru (dalam agama) dan berbagai macam perselisihan, muncul pula pendapat bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk, maka barulah kami tahu apa yang dahulu yang dikhawatirkan oleh Al-Fudhoil berupa perkara-perkara tersebut.”

[Lihat Al-Bidayah wan Nihayah (10/221)]

Terakhir, kami memohon kepada Allah -Azza wa Jalla- agar mengampuni dosa dan kesalahan Saudara dan Ustadz kami, Muhammad Bashiron, memberikannya balasan yang mulia serta menjaga seluruh keluarga beliau, sebagaimana halnya dahulu di masa hidupnya telah menjaga Kitabullah dan Sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Allahumma amin…

……………………………………………

Tulisan ini rampung pada tanggal 21 Syawwal 1436 H yang bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 2015 M, di rumah kami, Gowa, Sulawesi Selatan.

[1] Doa yang diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada Ummu Salamah saat Abu Salamah (suaminya) wafat, sebagaimana dalam hadits shohih riwayat Muslim dalam Shohih-nya (no. 918).

[2] Mereka disebut demikian, karena sibuknya mereka mempelajari hadits (sunnah), meriwayatkannya, menyebarkannya dan bersabar dalam mengamalkannya.

No Responses

Leave a Reply