Syariat Menggunakan Kun-yah

Syariat Menggunakan Kun-yah

oleh:

Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

(Pengasuh Pesantren Al-Ihsan Gowa)

Kun-yah adalah nama sapaan yang didahului dengan “abu” (bapak) atau “ummu” (ibu), misalnya, Abu Abdillah (Bapaknya Abdullah) atau Ummu Abdillah (Ibunya Abdullah) atau menggunakan kata “ibnu” (anak), misalnya Ibnu Maryam (Anaknya Maryam)

Menggunakan kun-yah merupakan perkara yang disyariatkan dan diajarkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya agar setiap orang diantara mereka menggunakan kun-yah (nama sapaan), walaupun si pengguna kun-yah tidak memiliki anak. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- seringkali memberikan dan menyematkan kun-yah pada sebagian sahabatnya -radhiyallahu anhum-[1]. Ini merupakan anjuran dan dorongan beliau kepada mereka agar menggunakan kun-yah.

Tak heran jika setiap orang diantara sahabat memiliki kun-yah. Mereka berlomba-lomba dalam menggunakan kun-yah pada diri mereka dan anak-anak atau keluarga mereka.

Saking maraknya penggunaan kun-yah ini sampai para ulama saat menyebutkan nama-nama para sahabat, maka mereka sebutkan kun-yah mereka di depan nama-nama sahabat tersebut, seperti yang dilakukan oleh Al-Imam An-Nawawiy -rahimahullah- dalam kitabnya Riyadh Ash-Sholihin[2]. Bahkan para ahli hadits sebelumnya telah membuat kitab-kitab dengan judul “Al-Kuna”(kun-yah), sebagai bukti bahwa kebiasaan menggunakan kun-yah di kalangan para sahabat dan para salaf telah lama ada.[3]

Para pembaca yang budiman, penggunaan kun-yah telah digunakan di dalam Al-Qur’an Al-Karim. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan menggunakan telah di-taqrir (ditetapkan) oleh Allah -Azza wa Jalla- di dalam agama ini[4].

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

وَلَقَدْ آَتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآَتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ [البقرة/87]

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam[5] dan kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus[6]. Apakah setiap datang kepada kalian seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginan kalian, lalu kalian menyombongkan diri; maka beberapa orang (diantara mereka) kalian dustakan dan beberapa orang (yang lain) kalian bunuh?” (QS. Al-Baqoroh : 87)

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا [الأحزاب/40]

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak seorang laki-laki[7] di antara kalian[8], tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Ahzab : 40)

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ [الصف/6]

“Dan (ingatlah) ketika Isa, anak (putera) Maryam berkata, “Hai Bani Israil (anak-anak cucunya Isra’il)[9], sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata”. (QS. Ash-Shoff : 6)

Para pembaca yang budiman, inilah beberapa kalamullah yang menunjukkan kepada kita bahwa penggunaan kun-yah terdapat di dalam Al-Qur’an dan di-taqrir oleh Allah  -Tabaroka wa Ta’ala-.

Itulah sebabnya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- juga menggunakan kun-yah dan memberikan kun-yah kepada sebagian diantara para sahabatnya.Para sahabat juga yang menjadikan beliau sebagai panutan ikut dalam menyemarakkan penggunaan kun-yah.

 Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sendiri menggunakan kun-yah “Abul Qosim” (Bapaknya Qosim), karena beliau memiliki seorang anak yang bernama Al-Qosim, yang lahir dari Khodijah. Beliau juga dikenal dengan “Abu Ibrahim” (Bapaknya Ibrahim), karena beliau punya anak yang lahir dari Maryam Al-Qibthiyyah -radhiyallahu anha-.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

فَإِنِّي أَنَا أَبُو الْقَاسِمِ ، اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي ، وَأَنَا أَقْسِمُ

“Sesungguhnya aku adalah Abul Qosim (Bapaknya Al-Qosim). Allah -Azza wa Jalla- memberi, sedang akulah yang membagi”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2841) dan Ahmad dalam Al-Musnad (2/433). Hadits ini dinilai shohih oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 9598)]

Di dalam memberikan kun-yah kepada seseorang, bukanlah syaratnya bahwa ia harus punya anak. Di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sebagian sahabat ada yang tidak punya anak, tapi ia memiliki dan memakai kun-yah.

Anas -radhiyallahu anhu- berkata,

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ قَالَ أَحْسِبُهُ فَطِيمًا وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: (يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ نُغَرٌ) كَانَ يَلْعَبُ بِهِ، فَرُبَّمَا حَضَرَ الصَّلَاةَ، وَهُوَ فِي بَيْتِنَا، فَيَأْمُرُ بِالْبِسَاطِ الَّذِي تَحْتَهُ، فَيُكْنَسُ وَيُنْضَحُ ثُمَّ يَقُومُ وَنَقُومُ خَلْفَهُ، فَيُصَلِّي بِنَا

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah manusia yang paling baik akhlaqnya. Dahulu aku punya saudara (adik) yang disapa dengan Abu Umair (Bapaknya Umair) –rawi berkata- aku yakin ia baru disapih. Beliau (yakni, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-) bila datang, maka beliau bersabda, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh Nughoir[10]?”, yaitu seekor anak burung pipit yang dijadikan mainan olehnya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 6129 & 6203) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 2150)]

Hadits ini merupakan perkara yang amat gamblang dalam menunjukkan bolehnya seseorang menggunakan nama sapaan, walaupun ia tak memiliki anak!!

Al-Hafizh Abul Fadhl Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata,

“Di dalam hadits ini terdapat (keterangan) tentang bolehnya memberikan kun-yah (nama sapaan) bagi orang yang belum diberi anak dan bolehnya bagi anak kecil bermain burung”. [(Lihat Fathul Bari (10/584)]

Pemberian kun-yah bagi orang yang belum punya anak, bukan hanya adik Anas bin Malik -radhiyallahu anhu-, bahkan disana ada A’isyah -radhiyallahu anha- diberi kun-yah oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dengan mengambil nama keponakannya, yaitu Abdullah bin Zubair, anak saudari A’isyah yang bernama Asma’ bintu Abi Bakr -radhiyallahu anha-.

A’isyah -radhiyallahu anha- berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ كُلُّ صَوَاحِبِى لَهُنَّ كُنًى. قَالَ « فَاكْتَنِى بِابْنِكِ عَبْدِ اللَّهِ ». يَعْنِى ابْنَ أُخْتِهَا

“Wahai Rasulullah, semua maduku telah memiliki kun-yah”. Beliau bersabda, “Ber-kun-yah-lah dengan anakmu, Abdullah”. Yakni, anak saudarinya”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (6/151) dan Abu Dawud dalam As-Sunan (no. 4970). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 132]

Sejak adanya perintah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada A’isyah -radhiyallahu anhu- agar ber-kun-yah dengan menggunakan nama keponakannya, maka beliau pun dikenal dengan Ummu Abdillah” (Ibunya Abdullah).

Ulama Negeri Syam, Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata,

“Di dalam hadits ini terdapat peng-syariat-an menggunakan kun-yah, walaupun seseorang tak memiliki anak. Ini merupakan adab islamiy yang tiada taranya di sisi umat-umat lain sesuai yang aku ketahui. Nah, seharusnya bagi kaum muslimin untuk berpegang teguh dengannya, baik laki-laki, maupun wanita serta meninggalkan sesuatu yang menyusup pada mereka berupa kebiasaan orang ajam (yakni, kaum kafir)”. [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/257)]

Kun-yah merupakan tanda penghormatan bagi orang-orang yang menggunakannya. Oleh karena itu, para sahabat merasa senang jika dipanggil dengan kun-yah-nya.

Sahl bin Sa’ad -radhiyallahu anhu- berkata,

إِنْ كَانَتْ أَحَبَّ أَسْمَاءِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَيْهِ لاَبُو تُرَابٍ وَإِنْ كَانَ لَيَفْرَحُ أَنْ يُدْعَى بِهَا وَمَا سَمَّاهُ أَبُو تُرَابٍ إِلاَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَاضَبَ يَوْماً فَاطِمَةَ فَخَرَجَ فَاضْطَجَعَ إِلَى الْجِدَارِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَاءَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْبَعُهُ فَقَالَ هُوَ ذَا مُضْطَجِعٌ فِي الْجِدَارِ فَجَاءَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَامْتَلاَ ظَهْرُهُ تُرَاباً فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ التُّرَابَ عَنْ ظَهْرِهِ وَيَقُولُ: “اجْلِسْ يَا أَبَا تُرَابٍ”

“Sesungguhnya nama sapaan yang paling disukai oleh Ali adalah Abu Turob (Bapaknya Tanah). Sesungguhnya ia sangat bergembira jika dipanggil dengannya. Tak ada yang menamainya dengan “Abu Turob”, melainkan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Suatu hari Ali marah kepada Fathimah. Karenanya, ia pun keluar, lalu ia berbaring menghadap dinding masjid. Kemudian ia didatangi oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang mencarinya. Beliau bersabda, “Itu dia berbaring (menghadap) pada dinding masjid. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendatanginya, sedang punggung Ali penuh tanah. Mulailah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengusap tanah dari punggungnya seraya bersabda, “Duduklah wahai Abu Turob”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 6204)]

Hadits ini menggambarkan kepada kita betapa mulianya akhlaq Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Beliau mendatangi Ali demi menghiburnya dan bercanda dengannya agar kemarahannya reda. Maka beliau pun memberinya kun-yah yang merupakan kemuliaan baginya, walapun kun-yah itu agak sedikit menggelitik hatinya.

Al-Imam Abul Hasan A-Sindiy -rahimahullah- berkata, “Di dalam hadits ini terdapat kemuliaan akhlaq Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, dimana beliau mengarah (datang) kepada Ali demi membuatnya ridho (senang). Beliau pun mengusap tanah dari punggungnya serta bercanda bersamanya dengan kun-yah tersebut. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tidaklah mengecamnya karena kemarahannya kepada putrinya. Padahal putri beliau memeliki ketinggian martabat di sisinya”. [Lihat Al-Hasyiyah ala Shohih Al-Bukhoriy (4/39)]

Parapembaca yang budiman, kun-yah digunakan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya sebagai pemuliaan bagi si pemilik kun-yah itu.

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah -rahimahullah- berkata,

“Adapun kun-yah, maka ia semacam pemuliaan bagi yang diberi kun-yah dan isyarat baginya… Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah memberi kun-yah bagi Shuhaib dengan “Abu Yahya”. Beliau juga memberi kun-yah bagi Ali -radhiyallahu anhu- dengan “Abu Turob”, di samping berkun-yah dengan Abul Hasan (Bapaknya Al-Hasan). Kun-yah itu merupakan kun-yah yang paling ia sukai. Beliau juga memberikan kun-yah bagi adiknya Anas yang masih kecil, belum mencapai masa baligh dengan “Abu Umair”. [Lihat Zadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril Ibad (2/314)]

Manusia dahulu menganggap kun-yah adalah kebanggaan dan perkara yang mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Sebab dengan kun-yah, orang lain telah mengakuinya. Tentu saja hal yang seperti ini bisa mendatangkan rasa gembira.

Al-Imam Ali bin Kholaf Ibnu Baththol Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata,

“Kun-yah (nama sapaan) dibuat untuk memuliakan orang disapa dengannya dan melakukan sesuatu yang mendatangkan rasa gembira baginya. Karena, seseorang tak akan berkun-yah, kecuali dengan menggunakan kun-yah yang paling ia sukai. Boleh bagi seseorang untuk menggunakan dua kun-yah, jika ia memilih hal itu. Terlebih lagi bila ia diberi kun-yah dengan salah satu dari keduanya oleh seorang yang sholih dan berilmu”. [Lihat Syarh Shohih Al-Bukhoriy (9/352) oleh Ibnu Baththol, dengan tahqiq Abu Tamim, cet. Maktabah Ar-Rusyd, 1423 H]

Para pembaca yang budiman, para sahabat di zaman dahulu ada yang lebih dikenal dengan kun-yahnya dibandingkan namanya, seperti Abu Bakr (Abdullah bin Abi Quhafah), Abu Hurairah (nama aslinya adalah Abdur Rahman bin Shokhr Ad-Dausiy), Abu Musa Al-Asy’ariy (nama aslinya adalah Abdullah bin Qois), Abu Sa’id Al-Khudriy (Sa’ad bin Malik bin Sinan), Abu Mas’ud Al-Badriy (Uqbah bin Amer), Abu Sufyan (Shokhr bin Harb Al-Umawiy), Abu Qotadah Al-Anshoriy (Al-Harits bin Rib’iy), Abu Umamah (Shudaiy bin Ajlan Al-Bahiliy), Abu Ad-Darda’ (Uwaimir bin Zaid Al-Khozrojiy), Ummu Salamah (Hindun bintu Abi Umayyah Al-Makzumiyyah), Ummu Habibah (Romlah bintu Abi Sufyan) dan lainnya masih banyak.

Semua kun-yah mereka ini ada yang disematkan oleh orang lain kepada si penggunanya, dan ada juga yang mereka sematkan sendiri bagi diri mereka. Wallahu A’lam.

Inilah sekelumit tentang kun-yah. Semoga kita semua tergolong orang-orang yang menghidupkan sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- (salah satunya, menggunakan kun-yah)[11]. Terlepas dari banyaknya orang-orang yang meninggalkan sunnah yang satu ini ataukah menggunakannya sebagai topeng dalam mengelabui manusia, sehingga manusia percaya kepadanya[12].



[1] seperti, Abu Hurairah, Abu Umair, Ummu Abdillah dan lainnya.

[2] An-Nawawiy -rahimahullah- biasanya menyematkan kun-yah bagi setiap sahabat dalam Riyadh Ash-Sholihin, setiap kali membawakan hadits baru bagi seorang sahabat. Jadi, beliau sebutkan kun-yah mereka pada hadits pertama yang mereka riwayatkan. Kadang juga Al-Imam An-Nawawiy mengulanginya dalam rangka mengingatkan kun-yah sahabat tersebut. Wallahu a’lam.

[3] Diantara ulama yang menulis kitab sekitar nama dan kun-yah para sahabat dan salaf, Abu Ahmad dalam Al-Asaami wa Al-Kuna, Ahmad bin Hambal dalam Al-Asaami wa Al-Kuna, Al-Bukhoriy dalam Al-Kuna, Ad-Dulabiy dalam Al-Kuna wa Al-Asmaa’, Adz-Dzahabiy dalam Al-Muqtana fi Sardil Kuna, Ibnu Mandah dalam Fath Al-Bab fi Al-Kuna wa Al-Alqoob,

[4] Sebagian dalil wahyu yang kami sebutkan disini dibawakan oleh Al-Imam Ad-Daulabiy -rahimahullah- dalam kitabnya “Al-Kuna wa Al-Asmaa'” (1/2) – Syamilah.

[5] Kata Putra Maryam (ابن مريم) di dalam ayat ini merupakan kun-yah.

[6] Ruhul Qudus itu ialah malaikat Jibril. Ada yang berpendapat, ruhul qudus adalah Injil, sebab dengannya hati manusia menjadi hidup, sebagaimana halnya Jibril disebutkan demikian, sebab ia menjadi sebab hati manusia hidup dengan kedatangannya membawa kebaikan dari Allah. Ada juga yang menyatakan bahwa itu adalah nama yang Isa menghidupkan dengannya orang-orang mati dengan izin Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Tapi yang masyhur bahwa Ruhul Qudus adalah Jibril, sebab nama ini Allah berikan kepada malaikat Jibril sebagaimana yang tersebut dalam Surah An-Nahl : 102. Wallahu A’lam.[Lihat Zaadul Masiir (1/95) oleh Ibnul Jawziy]

[7] Kata “bapak seorang laki-laki” (أَبَا أَحَدٍ) juga merupakan kun-yah.

[8] Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- bukanlah ayah dari salah seorang lelaki dewasa diantara para sahabat. Karena, telah ditaqdirkan bahwa beliau tak memiliki anak laki-laki yang mencapai usia. Semuanya meninggal di masa kecil. Lantaran itu, janda Zaid dapat dikawini oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, karena Zaid bin Usamah bukanlah anak kandung Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Ia hanya anak angkat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang tak sama kedudukannya dengan anak kandung.

[9] Kedua kalimat yang bergaris bawah di dalam ayat ini adalah kun-yah (nama sapaan). Isra’il adalah nama lain bagi Nabi Ya’qub -Shallallahu alaihi wa sallam-. Oleh karena itu, tak boleh bagi kita mencela Yahudi sambil berkata, “Laknat Allah atas Isra’il yang telah membantai kaum muslimin”. Celaan demikian tak boleh, karena celaan itu mengarah kepada Nabi Ya’qub. Yang betul, katakan, “Laknat Allah atas kaum Yahudi yang telah membantai kaum muslimin”.

[10] Nughoir adalah seekor anak burung pipit yang dipelihara oleh adik Anas -radhiyallahu anhuma-.

[11] Mudah-mudahan kami termasuk diantaranya. Kami Penulis risalah ini telah lama menggunakan kun-yah “Abu Fa’izah” (Bapaknya Fa’izah), sejak kelahiran anak kami yang pertama, Fa’izah pada tahun 2004 M.

[12] Artikel ini kami rampungkan pada tanggal 18 Rajab 1434 H di rumah kami –Semoga Allah memberkahinya-.

No Responses

Leave a Reply