Sisi Kelam Perayaan Hari Valentin

Sisi Kelam Perayaan Hari Valentin

((Riset Ilmiah seputar Perayaan Valentine Day))

oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah

[Pengasuh Pesantren Al-Ihsan, Gowa-Sulsel]

valentineSebentar lagi, detik-detik “membahagiakan” bagi kawula muda datang menyambangi mereka. Hari yang identik dengan cinta asmara antara dua sejoli, sehidup dan semati.

 Alkisah, disebutkan dalam sejarah Hari Valentin (Valentine Day) bahwa Valentin adalah pendeta yang berjiwa patriotis dan peduli terhadap para pemuda yang sedang dimabuk asmara.

Pendeta Valentin menjadi ikon dan simbol cinta para pemuda-pemudi yang dimabuk asmara. Konon kabarnya –menurut sebagian sumber-, pada tanggal 14 Februari 269 M meninggallah seorang pendeta kristen yang bernama Valentine. Semasa hidupnya, selain sebagai pendeta ia juga dikenal sebagai tabib (dokter) yang dermawan, baik hati dan memiliki jiwa patriotisme yang mampu membangkitkan semangat berjuang.

 Dengan sifat-sifatnya tersebut, tampaknya mampu membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap penderitaan yang mereka rasakan, karena kezhaliman sang Kaisar. Kaisar ini sangat membenci orang-orang Nashrani dan mengejar pengikut ajaran nabi Isa.

Pendeta Valentine ini dibunuh karena melanggar peraturan yang dibuat oleh sang Kaisar, yaitu melarang para pemuda untuk menikah, karena pemuda lajang dapat dijadikan tentara yang lebih baik daripada tentara yang telah menikah.

 Valentine sebagai pendeta, sedih melihat pemuda yang mabuk asmara. Akhirnya dengan penuh keberanian, ia melanggar perintah sang Kaisar. Dengan diam-diam ia menikahkan sepasang anak muda. Pendeta Valentine berusaha menolong pasangan yang sedang jatuh cinta dan ingin membentuk keluarga. Pasangan yang ingin menikah lalu diberkati di tempat yang tersembunyi.

 Namun rupanya, sang Kaisar mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh pendeta tersebut, dan kaisar sangat tersinggung hingga sang Pendeta diberi hukuman penggal oleh Kaisar Romawi yang bergelar Cladius II.

 Sejak kematian Valentine, kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosok pun di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek-nenek mendongengkan cerita Santo Valentine pada anak dan cucunya sampai pada tingkat pengkultusan!!

 Ketika agama Katolik mulai berkembang, para pemimipin gereja ingin turut andil dalam peran tersebut. Untuk menyiasatinya, mereka mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih Sayang, Lupercus. Akhirnya mereka menemukan pengganti Lupercus, yaitu Santo Valentine.

 Di tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria yang dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo Valentine sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan kepada Santo Valentine. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak ada lagi dan diganti dengan “Valentine Days”.

 Dari kisah sejarah Hari Valentin, maka ada beberapa titik sorot yang perlu diperhatikan oleh seorang:

  1. Hari Valentin ada kaitannya dengan seorang pendeta.
  2. Hari Valentin walaupun pada awalnya ingin menikahkan dua sejoli yang menjalin asmara alias pacaran. Namun setelah itu, Hari Valentin kini menjadi wasilah (jalan) dalam melegalkan pacaran.
  3. Hari Valentin merupakan acara dan hari raya kaum gerejawan.

Dengan tiga titik sorot ini, para ulama kita mengharamkan kaum muslimin untuk ikut merayakan Hari Valentin, dengan pandangan yang didasari oleh dalil-dalil yang syariat yang menyatakan haramnya perayaan itu atau ikut serta di dalamnya. Inilah sisi kelam perayaan Hari Valentin (Valentine Day)

Jika kita melihat dari sejarahnya, ternyata Hari Valentin mengingatkan kita dengan seorang yang disucikan oleh kaum kafir Nasrani. Itulah Santo Valentin, seorang yang yang dianggap suci oleh kaum gerejawan. Peringatan seperti ini dengan tujuan seperti oleh kaum gerejawan, maka seorang muslim dilarang keras dalam meniru-niru mereka, walaupun tujuannya bukan dalam mengenang Santo Valentin.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut”. [HR. Abu Daud dalam Sunan-nya (4031). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Musykilah Al-Faqr (24)]

Mencocoki, meniru dan menyerupai ahlul Kitab dalam perayaan-perayaan mereka atau dalam urusan agama mereka merupakan perkara yang tercela dan terlarang dalam agama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,

“Tak ada bedanya antara mengikuti mereka dalam hari raya, dan mengikuti mereka dalam seluruh manhaj (metode beragama), karena mencocoki mereka dalam semua hari raya berarti mencocoki mereka dalam kekufuran. Mencocoki mereka dalam sebagian hari raya berarti mencocoki mereka dalam sebagian cabang-cabang kekufuran. Bahkan hari raya adalah ciri khas yang paling khusus di antara syari’at-syari’at (agama-agama), dan syi’ar yang paling nampak baginya. Maka mencocoki mereka dalam hari raya berarti mencocoki mereka dalam syari’at kekufuran yang paling khusus, dan syi’ar yang paling nampak. Tak ragu lagi bahwa mencocoki mereka dalam hal ini terkadang berakhir kepada kekufuran secara global”. [Lihat Al-Iqtidho’ (hal.186)].

Sikap latah dan tasyabbuh (meniru) orang kafir merupakan musibah yang kini menimpa kaum muslimin di negeri ini, disebabkan jauhnya kaum muslimin dari prinsip ajaran agamanya yang mengajarkan agar berlepas diri dari kaum kafir, ajaran, dan kebiasaan mereka dalam beragama.

Seorang Ulama Mesir, Syaikh Ali Mahfuzh -rahimahullah- berkata dalam mengungkapkan kesedihan dan pengingkarannya terhadap keadaan kaum muslimin di zamannya, “Diantara perkara yang menimpa kaum muslimin (baik orang awam, maupun orang khusus) adalah menyertai (menyamai) Ahlul Kitab dari kalangan orang-orang Yahudi, dan Nashrani dalam kebanyakan perayaan-perayaan mereka, seperti halnya menganggap baik kebanyakan dari kebiasaan-kebiasaan mereka. Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu membenci untuk menyamai Ahlul Kitab dalam segala urusan mereka…Perhatikan sikap Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seperti ini dibandingkan sesuatu yang terjadi pada manusia di hari ini berupa adanya perhatian mereka terhadap perayaan-perayaan, dan adat kebiasaan orang kafir.

Kalian akan melihat mereka rela meninggalkan pekerjaan mereka berupa industri, niaga dan kesibukan dengan ilmu, di musim-musim perayaan itu, dan menjadikannya hari bahagia, dan hari libur; mereka bermurah hati kepada keluarganya, memakai pakaian yang terindah, dan menyemir rambut anaka-anak mereka di hari itu dengan warna putih sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi, dan Nashrani.

Perbuatan ini dan yang semisalnya merupakan bukti kebenaran sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah hadits shohih, “Kalian akan benar-benar mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga andai mereka memasuki lubang biawak, maka kalian pun mengikuti mereka”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi, dan Nashrani”. Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka”. [HR. Al-Bukhoriy (3456) dari Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu]”. [Lihat Al-Ibda’ fi Madhorril Ibtida’ (hal. 254-255)]

Selain itu, ia telah ta’awun (bahu-membahu) dengan kaum gerejawan dalam menggalakkan dan menyemarakkan perayaan-perayaan mereka!! Sementara itu, seorang muslim dilarang keras ikut serta merayakan simbol-simbol kekafiran mereka!!!

Merayakan suatu hari merupakan ibadah. Sedang Hari Valentin bukan hari raya kita. Nah, ikut serta dalam merayakannya bersama dengan kaum kafir merupakan bentuk ta’awun yang terlarang, karena ia merupakan maksiat!!

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ [المائدة : 2

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (QS. Al-Maa’idah : 2)

 Ikut sertanya seorang muslim dalam perayaan begini, lambat laun dijadikan oleh setan sebagai jalan dalam menyesatkan manusia. Setan akan melahirkan rasa cinta dan jalinan erat dengan kaum kafir Nasrani, dengan sebab adanya kesamaan dan kemiripan dalam sikap dan tingkah laku.

Gejala seperti ini telah tampak perlahan ke permukaan, dimana sebagian pemuda yang sudah terjangkiti penyakit tasyabbuh (meniru-niru kaum kafir), merasa tidak enak perasaannya jika tidak ikut ber-Valentine Day seperti halnya kaum kafir Nasrani.

Kecintaan kepada kaum kafir akan terus tumbuh seiring dengan terbiasanya kaum muslimin ikut serta dalam merayakan hari-hari suci mereka (semisal, Hari Valentin dan lainnya). Sesuatu yang aksiomatis, jika kecintaan kepada orang kafir beserta perayaannya, maka otomatis akan hilang rasa benci kepada mereka. Demikian pula sebaliknya, jika kebencian kepada mereka dan agama serta perayaan mereka ada di dalam sanubari kaum muslimin, maka otomatis kecintaan kepada mereka beserta agama dan perayaan mereka akan hilang dan sirna.

Allah -Azza wa Jalla- menerangkan dalam firman-Nya bahwa kecintaaan kepada kaum kafir merupakan perkara yang terlarang,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [المجادلة : 22

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, mencintai orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya, dan dimasukannya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”. (QS. Al-Mujaadilah : 22)

 Al-Imam Abul Faroj Ibnul Jauziy -rahimahullah- berkata,

وهذه الآية قد بَيَّنتْ أن مودَّة الكفار تقدح في صحة الإيمان ، وأن من كان مؤمناً لم يوالِ كافراً وإِن كان أباه أو ابنه أو أحداً من عشيرته .

“Sungguh ayat ini telah menjelaskan bahwa mencintai kaum kafir akan merusak sahnya keimanan dan bahwa barangsiapa yang beriman, maka ia tak boleh mencintai orang kafir, walaupun ia (si kafir itu) adalah bapaknya, anaknya, atau seorang dari keluarganya”. [Lihat Zadul Masir fi Ilm At-Tafsir (6/3)]

Demikianlah selayaknya seorang mukmin; ia tak boleh mencintai kaum kafir di atas kekafirannya. Jika ia melihat kaum kafir merayakan hari-hari rayanya dan mengagungkan simbol-simbol kekafirannya, maka seorang mukmin dengan keimanan harus membenci orangnya dan perbuatannya.

Salah satu hari raya dan simbol kekafiran mereka adalah perayaan Hari Valentin (Valentine Day), sebuah perayaan yang diadakan oleh mereka dalam rangka mengenang seorang pendeta yang bernama Valentine, pendeta yang jelas mengajarkan kekafiran kepada kaumnya.

Aneh sungguh aneh manusia-manusia muslim pada hari ini. Ia mengaku muslim dalam KTP-nya, namun ia masih tetap latah dan ikut-ikutan membesarkan dan mengagungkan Hari Valentin. Padahal perayaan Hari Valentine Day adalah acara dan agenda kaum kafir Nasrani. Hari Valentine diadakan setiap tahunnya untuk mengenang tokoh pengajak (dai) kepada kekafiran yang bernama Valentine!!

Ketahuilah bahwa sikap latah dan ikut-ikutan seperti ini akan menjadi buah penyesalan di hari kiamat. Sebab perbuatan kita dalam meramaikan Hari Kekafiran (yakni, Hari Valentin) akan digugat di hadapan Allah -Azza wa Jalla-!!

Para pembaca yang budiman, Hari Valentin walaupun pada awalnya ingin menikahkan dua sejoli yang menjalin asmara alias pacaran. Namun setelah itu, Hari Valentin kini menjadi wasilah (jalan) dalam melegalkan pacaran.

 Ini adalah sisi yang menguatkan haramnya perayaan tersebut. Perayaan Hari Valentin sudah menjadi ajang busuk bagi para pemuda dan pemudi dalam meraih keinginan syahwatnya.

Hari Valentin digunakan untuk meluapkan perasaan cinta kepada sang kekasih, baik dengan cara memberikan hadiah, menghabiskan waktu hanya berdua saja? Bahkan terkadang sampai kepada jenjang perzinaan. Sementara dalam syariat Islam suci ini, seorang dilarang melakukan jalinan cinta asmara dengan seorang wanita sebelum melalui pintu pernikahan.

Allah -Subhanahu wa Ta’la- berfirman dalam melarang zina dan pengantarnya (seperti, pacaran, berduaan, berpegangan, berpandangan, dan lainnya),

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32)

Di dalam acara perayaan itu, ada berbagai macam pelanggaran yang dilakukan, mulai perayaan hari itu sendiri sebagai hari raya (padahal kita orang Islam cuma dua hari raya), lalu diiringi berbagai pelanggaran lain, seperti:

  • bercampur baur antara kaum pemuda dan pemudi yang sama sekali tidak memiliki ikatan mahram.
  • peniupan balon; jika ia menemukan perintah (berupa tulisan) dalam balon tersebut untuk melakukan apa saja, maka ia lakukan pada pasangannya, misalnya: ia diperintah untuk menggendong kekasih haramnya, maka ia pun menggendongnya. Bila ia diperintah memeluknya, maka ia pun memeluknya. Jika ia diperintah mencium kekasih haramnya, maka ia pun menciumnya layaknya seorang istri!! Apabila ia diperintah berjoget ria dan berdansa bersama pasangan haramnya, maka ia dengan senangnya melakukan hal itu.

Subhanallah, sungguh ini adalah perbuatan yang diharamkan dalam agama kita, seorang menyentuh wanita yang bukan mahramnya, wanita yang belum halal baginya.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda dalam menerangkan haramnya menyentuh wanita yang bukan mahram kita,

لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرُ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

“Andaikan kepala seseorang di cerca dengan jarum besi, itu lebih baik (ringan) baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tak halal baginya”. [HR. Ar-Ruyaniy dalam Al-Musnad (no. 1283), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (no. 486, & 487)]

Ahli Hadits dari Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashir Al-Albaniy -rahimahullah- berkata setelah menguatkan sanad hadits diatas dalam Ash-Shohihah (1/1/448), “Dalam hadits ini terdapat ancaman yang keras bagi orang yang menyentuh wanita yang tak halal baginya. Jadi, di dalamnya juga ada dalil yang menunjukkan haramnya berjabat tangan dengan para wanita (yang bukan mahram), karena berjabat tangan dicakup oleh kata “menyentuh”, tanpa syak. Perkara seperti ini telah menimpa kebanyakan kaum muslimin di zaman ini. (Namun sayang),diantara mereka ada yang berilmu andaikan ia ingkari dalam hatinya, maka masalahnya sedikit agak ringan. Cuman mereka ini berusaha meghalalkannya dengan berbagai jalan, dan takwil. Telah sampai suatu berita kepada kami bahwa ada seorang tokoh besar di Al-Azhar telah disaksikan oleh sebagian orang sedang berjabat tangan dengan para wanita !! Hanya kepada Allah tempat kita mengadu dari keterasingan Islam”.

  • Terkadang juga acara ini diikuti dengan acara minum khomer, na’udzu billah.

Momen perayaan ini menjadi sarana terhebat dalam menjatuhkan anak cucu Adam dalam zina. Dengannya, para pemuda dengan kekasih haramnya semakin erat jalinan cinta asmaranya dan semakin akrab, sebab dengan kehadiran mereka dalam acara tersebut semakin mengakrabkan dua insan manusia. Inilah jerat setan yang amat berbahaya!!! Tak heran bila banyak diantara mereka semakin terjerumus dalam pergaulan bebas, tanpa kendali agama dan aturan!!!!

Disinilah agama melarangnya, karena memiliki madhorot bagi agama dan masa depan generasi Islam dan manusia secara umum.

Para pembaca yang budiman, Hari Valentin merupakan acara dan hari raya kaum gerejawan. Sejarah telah mencatat bahwa Hari Valentin diadakan oleh orang-orang Nasrani-Kristen sebagai ganti bagi hari raya kaum penyembah berhala pada zaman itu. Jadi, Hari Valentin dibuat khusus oleh kaum gerejawan sebagai ganti bagi perayaan Hari Lupercaria, yang dulunya dirayakan oleh kaum pagan penyembah berhala!!

Lupercaria dulunya diperingati setiap tanggal 15 Februari, setelah Hari Valentin menggantikan kedudukannya, maka Hari Valentin diadakan pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya demi mengenang orang suci di kalangan kaum Nasrani-Kristen yang bernama Valentine. Orang dianggap suci oleh kaum gerejawan, makanya diberi gelar “Santo” (orang suci), sehingga ia pun dipanggil “Santo Valentine”. Walaupun ia hakikatnya bukan orang suci, sebab ia dai kepada kekafiran.

Merayakan dan mengagungkan sebuah hari merupakan hak Allah semata-mata, bukan manusia yang berhak membuatnya dan menetapkannya sebagai hari suci!!

Siapa saja yang membuat “hari suci”, maka ia mengada-ada dusta atas nama Allah -Azza wa Jalla-, dan ia telah lancang membuat syariat baru.

Allah -Azza wa Jalla- telah mengharamkan perbuatan mengada-adakan kedustaan atas nama Allah bahwa ini haram dan ini halal, padahal tidaklah demikian hukumnya.

Allah berfirman tentang orang yang berbuat demikian,

فَمَنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ [آل عمران : 94

“Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, Maka merekalah orang-orang yang zalim”. (QS. Ali imraan : 94)

 Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thobari -rahimahullah- berkata,

وإنما ذلك خبر من الله عن كذبهم، لأنهم لا يجيئون بذلك أبدًا على صحته، فأعلم الله بكذبهم عليه نبيَّه صلى الله عليه وسلم، وجعل إعلامه إياه ذلك حجةً له عليهم. لأن ذلك إذْ كان يخفى على كثير من أهل ملتّهم، فمحمد صلى الله عليه وسلم وهو أميٌّ من غير ملتهم، لولا أن الله أعلمه ذلك بوحي من عنده = كان أحرَى أن لا يعلمَه. فكان ذلك له صلى الله عليه وسلم، من أعظم الحجة عليهم بأنه نبي الله صلى الله عليه وسلم، إليهم. لأن ذلك من أخبار أوائلهم كان من خفيِّ عُلومهم الذي لا يعلمه غير خاصة منهم، إلا من أعلمه الذي لا يخفى عليه خافية من نبي أو رسول، أو من أطلعه الله على علمه ممن شاء من خلقه.

“Sesungguhnya hal itu merupakan berita dari Allah tentang kedustaan mereka, karena mereka (Ahlul Kitab) tak mampu mendatangkan (bukti dan dalil) selama-lamanya tentang keabsahan(pengakuan)nya (yakni, dalam mengharamkan hal-hal yang Allah telah halalkan bagi mereka).

Allah permaklumkan kedustaan mereka atas nama Allah kepada Nabi-Nya (yakni, Nabi Muhammad) -Shallallahu alaihi wa sallam-. Allah jadikan permakluman (pengabaran) itu sebagai hujjah bagi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- atas mereka.

Sebab hal itu -pada saat itu- samar atas kebanyakan pengikut agama mereka. Nah, Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-, seorang yang ummi (buta aksara), bukan pengikut agama mereka. Andaikan Allah tidak memberitahukan hal itu kepada beliau melalui wahyu dari sisi-Nya, maka beliau lebih utama untuk tidak tahu tentang hal itu.

Hal itu bagi beliau menjadi termasuk hujjah yang terbesar atas mereka bahwa beliau adalah Nabi Allah -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada mereka. Sebab hal itu (yakni, pemberitaan tentang kedustaan mereka dalam mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan) termasuk berita-berita para pendahulu mereka, termasuk pengetahuan-pengetahuan samar (tersembunyi) di kalangan mereka, yang tak diketahui orang yang tidak khusus diantara mereka, selain orang yang Allah kabari tentang sesuatu yang tak samar bagi-Nya dari kalangan para nabi atau rasul, atau dari kalangan orang yang Allah perlihatkan ilmu-Nya kepadanya dari kalangan orang yang dikehendaki Allah diantara makhluk-Nya”. [Lihat Tafsir Ath-Thobariy (6/16), dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1420 H]

Demikianlah Allah mencela kaum kafir dari kalangan Ahlul Kitab yang telah berdusta atas Allah bahwa ini haram dan ini halal tanpa bukti dan dalil wahyu dari langit.

Maka mengada-adakan kedustaan atas Allah bahwa Hari Valentin adalah hari raya yang boleh diperingati setiap tahunnya merupakan perkara tercela dan masuk dalam makna ayat ini.

Mengada-adakan kedustaan atas Allah merupakan perkara besar dan pelakunya terlaknat di sisi Allah -Azza wa Jalla-.

Allah terangkan perkara ini dalam firman-Nya,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ [هود : 18]

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta atas Tuhan mereka”. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim”. (QS. Huud : 18)

 Pelakunya dilaknat karena telah berbuat zhalim. Sedang zhalim itu adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Semestinya mereka tidak punya hak mengada-adakan aturan dan syariat bagi manusia, tapi Allah-lah tentunya yang berhak semata-mata. Namun mereka tetap saja mengada-adakan kedustaan atas nama Allah. Mereka tempatkan dirinya pada posisi pembuat dan penetap syariat, padahal itu bukan posisi mereka, bahkan itu adalah posisi Allah. Para nabi dan rasul saja tak berani membuat syariat di luar dari garis syariat Allah.

 Allah -Azza wa Jalla- pernah mengancam Nabi dan Rasul terbaik-Nya, yaitu Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam firman-Nya,

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ (44) لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ (45) ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (46) فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ (47) [الحاقة : 44 – 47

“Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia dengan Tangan Kanan. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu”. (QS. Al-Haaqqoh : 44-47)

Mengada-adakan hari raya –semisal Hari Valentin- merupakan perkara besar pertanggungjawabannya di sisi Allah -Azza wa Jalla-, karena telah mengada-adakan syariat yang tidak ada dalil dan bimbingannya dari langit.

Seorang ahli tafsir, Al-Imam Al-Anbariy -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat di atas,

وفائدة إِخبار الأشهاد بما يعلمه الله : تعظيم بالأمر المشهود عليه ، ودفع المجاحدة فيه .

“Faedah pengabaran kepada para saksi (di hari kiamat) tentang sesuatu yang Allah kabarkan (berupa kedustaan atas nama Allah), faedahnya untuk membesarkan perkara yang dipersaksikan dan untuk menepis penolakan dalam perkara itu”. [Lihat Zadul Masir (3/330) oleh Ibn Al-Jauziy, cet. Al-Maktabul Islamiy]

Ketika Fir’aun menuduh Nabi Musa menerima sihir dari Allah dan mempraktikkannya, maka Musa membantah fir’aun bahwa mukjizat itu bukanlah sihir, akan tetapi ia semata-mata pertolongan dari Allah.

Hal ini dikisahkan dalam firman-Nya,

قَالَ لَهُمْ مُوسَى وَيْلَكُمْ لاَ تَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُمْ بِعَذَابٍ وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَى [طه : 61

“Berkata Musa kepada mereka: “Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, lantaran itu Dia akan membinasakan kamu dengan siksa”. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan”. (QS. Thaahaa : 61)

 Ahli Tafsir Jazirah Arab, Al-Allamah Ibnu Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata,

زعم أن هذه الآيات التي أراه إياها موسى، سحر وتمويه، المقصود منها إخراجهم من أرضهم، والاستيلاء عليها، ليكون كلامه مؤثرا في قلوب قومه، فإن الطباع تميل إلى أوطانها، ويصعب عليها الخروج منها ومفارقتها.

“Fir’aun mengklaim bahwa ayat-ayat (mukjizat) yang diperlihatkan oleh Musa kepadanya adalah sihir dan kamuflase dan bahwa maksud dari mukjizat itu adalah untuk mengeluarkan mereka (Bangsa Mesir) dari negeri mereka dan untuk menguasainya, agar ucapan Fir’aun memberi pengaruh pada hati kaumnya. Karena tabiat manusia akan condong kepada negeri serta akan susah untuk keluar dan meninggalkan negerinya”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 508), cet. Mu’assasah Ar-Risalah]

Tuduhan dusta Fir’aun ini ditujukan kepada rasul (utusan) Allah yang bernama Nabi Musa –alaihis salam-. Ia menuduh Musa telah melakukan sihir, seakan ia telah menuduh Allah telah memerintahkan dan mengajarkan sihir kepada utusan-Nya (rasul-Nya). Subhanallah, sungguh ini adalah kedustaan yang diada-ada!!

Ia telah menuduh Allah bahwa Dia mengutus Nabi Musa untuk menguasai Mesir dan mengeluarkan bangsa Mesir dari negerinya. Sungguh dusta si Fir’aun ini. Musa datang hanyalah untuk tujuan mulia demi menyelamatkan manusia dari kesesatan dan kezhaliman Fir’aun!!

Saudaraku yang saya muliakan, orang-orang yang lancang mengada-ada atas Allah, ia akan dihinakan dalam Neraka Jahannam, akibat ulah dan perbuatannya di dunia!! Dia adalah orang yang paling zhalim!!

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ [العنكبوت : 68

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang haqq (kebenaran) tatkala yang haqq itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu, ada tempat bagi orang-orang yang kafir?”. (QS. Al-Ankabuut : 68)

Sebagian orang yang ber-Valentin berceloteh ketika diberi nasihat agar jangan merayakannya sambil ia berkata, “Kami kan merayakannya hanya untuk bersenang-senang dan pesta. Apa salahnya?! Apakah makan dan minum di acara itu terlarang dalam agama Islam?”

Yang lain lagi berkilah, “Kita kan hanya mengikuti orang-orang sebelum kami dan tak mungkin mereka semuanya salah”.

Kami katakan kepada mereka bahwa apa yang anda lakukan adalah perkara yang terlarang dari sisi :

  • Kalian telah membuat dan mengada-adakan hari raya baru dalam Islam yang tidak pernah disyariatkan dalam syariat agama kita, bahkan tidak pula dalam syariat nabi-nabi terdahulu. Ia adalah hari raya yang diada-adakan oleh para pemuka gereja, lalu berusaha disandarkan dalam agama mereka. Padahal sama sekali bukan darinya!! Ini alasan pelarangan ber-Valentin yang kalian tidak sadari, yakni telah menciptakan syariat baru yang tak pernah ditetapkan dalam syariat Islam, lalu kalian menyatakan hal itu boleh dan halal!! Dari mana kalian menetapkan hukum “halal” bagi perayaan Hari Valentin? Islam dan syariatnya telah sempurna tidak butuh kepada penambahan dari kalian!!
  • Makan dan minum serta bergembira boleh saja, asal jangan dikhususkan pada waktu atau tempat tertentu, tanpa ada keterangan wahyu.
  • Kalian telah menjadikannya sebagai ajang bermaksiat kepada Allah!!!
  • Adapun kalian mengikuti orang-orang sebelum kalian, maka itu bukanlah pembenaran, sebab berapa banyak pun manusia kalian ikuti, jika yang kalian ikuti tidak berada di atas hujjah dan kebenaran, maka sama sekali hal itu tak ada manfaatnya!!!!

Para pembaca yang budiman, Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an saat menjelaskan kebatilan kaum Quraisy yang apabila dilarang dari maksiat, maka mereka berdalih dan berpegang dengan kebiasaan para pendahulu mereka dari kalangan pemimpin-pemimpin dan nenek moyangnya, walaupun para pendahulu mereka dari kalangan pemimpin-pemimpin dan nenek moyangnya di atas kebatilan.

Al-Imam Muhammad bin Jarir Ath-Thobariy -rahimahullah- berkata dalam menafsirkan ayat di atas,

ومن أظلم أيها الناس ممن اختلق على الله كذبا، فقالوا إذا فعلوا فاحشة: وجدنا عليها آباءنا، والله أمرنا بها، والله لا يأمر بالفحشاء

“Siapakah yang lebih zhalim –wahai manusia- dibandingkan dengan orang yang menada-adakan kedustaan atas nama Allah seraya berkilah saat mereka melakukan maksiat, “Kami telah menjumpai di atas perkara itu para nenek moyang kami; Allah yang memerintahkan kami”. Padahal Allah tidaklah memerintahkan perbuatan keji (maksiat)”. [Lihat Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Ayil Qur’an (20/62)]

Mengada-adakan kedustaan atas nama Allah adalah haram dalam segala bentuknya, baik itu menghalalkan sesuatu yang haram (seperti, menghalalkan perayaan Hari Valentin), mengharamkan sesuatu yang halal (seperti, mengharamkan nikah atau mencari nafkah dan lainnya), menyandarkan sesuatu kepada agama dan syariat Allah (padahal ia bukan bagian darinya), menuduh Allah dan rasul-Nya membawa, menyebarkan mengajarkan ilmu sihir atau kesesatan lainnya (padahal tidaklah demikian), mengklaim para rasul telah menerima ajarannya dari para penyair terdahulu (padahal mereka hanya membawa dan membacakan wahyu), dan masih banyak lagi bentuk-bentuk mengada-adakan kedustaan atas nama Allah!! Yang jelas bahwa mengada-adakan hari suci yang diperingati secara rutin dan berulang (semisal: Hari Valentin) merupakan bagian dari bentuk-bentuk menga-adakan kedustaan atas Allah, sebab pelakunya masih menganggap bahwa syariat kita kurang, perlu penambahan, sehingga perlu dan boleh mengadakan hari raya baru yang dinamai dengan “Hari Valentin” (Valentine Day). Sungguh ini adalah kedustaan atas Allah!!!

Lantaran itu, tak ada manusia yang paling zhalim dibanding mereka yang suka mengada-adakan kedustaan atas Allah.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (6) وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الْإِسْلَامِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (7) يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (8) [الصف : 6 – 8

“Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. Ash-Shoff : 6-8)

Ulama ternama dari Andalusia, Al-Imam Abu Muhammad Makki bin Abi Tholib Al-Muqri’ Al-Qoisiy Al-Qurthubiy (wafat 437 H) -rahimahullah- berkata saat menerangkan makna dari ayat yang kami garis bawahi,

أي : لا أحد أظلم ممن اخترق على الله سبحانه الكذب ، وهو قولهم للنبي صلى الله عليه وسلم ، ساحر وشاعر إذ دعاهم إلى الإسلام ، يقولون له ذلك حين دعاهم إلى الدخول في الإسلام.

“Maksudnya, tak ada seorang pun yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan atas Allah –subhanahu-, yaitu ucapan mereka kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- (bahwa beliau adalah) seorang penyihir dan penyair, saat beliau mengajak mereka kepada Islam. Mereka menyatakan hal itu kepada beliau ketika beliau mengajak mereka untuk masuk ke dalam Islam”. [Lihat Al-Hidayah ila Bulugh An-Nihayah (11/7440)]

Kesimpulannya, di dalam agama kita yang sempurna ini, hanya tercatat dua hari raya, yaitu: Idul Fitri dan Idul Adha. Karenanya, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengingkari dua hari raya yang pernah dilakukan oleh orang-orang Madinah.

Perayaan Hari Valentin, Hari Natal, Hari Waisak, tahun baru masehi, dan lainnya diantara perayaan-perayaan kaum kafir merupakan perkara yang harus kita hapus, sebagaimana halnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah menghapus semua hari raya yang pernah diperingati oleh kaum jahiliah!!

Demikian pula hari-hari raya yang diciptakan oleh kaum muslimin, (seperti : Hari Maulid, Hari Isra’ dan Mi’raj, Hari Nuzulul Qur’an, Tahun Baru Hijriyyah, dan lainnya), maka ini juga merupakan perkara yang harus ditinggalkan oleh kaum muslimin, karena dengan merayakannya, maka berarti kita telah membuat hari raya baru dalam Islam, tanpa dalil.

Perhatikan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada para sahabat Anshor,

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِيْ الجَاهِلِيَةِ وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ النَّحَرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Saya datang kepada kalian, sedang kalian memiliki dua hari, kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyyah. Allah sungguh telah menggantikannya dengan hari yang lebih baik darinya, yaitu: hari Nahr (baca: iedul Adh-ha), dan hari fithr (baca: iedul fitri)”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1134), An-Nasa`iy dalam Sunan-nya (3/179), Ahmad dalam Al-Musnad (3/103. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1134)].

Ini adalah dalil qoth’iy yang menyatakan wajibnya kita menghapus meninggalkan semua bentuk hari raya, selain dua hari yang disebutkan dalam hadits ini: Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adh-ha!!

No Responses

Leave a Reply