Sikap Terhadap “Jamaah Islam Nusantara”

mobil rusakSoal 31 dan Jawabannya

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Akhiy mau tanya: Bagaimanakah sikap kita terhadap fenomena “Jamaah Islam Nusantara” ?

جزاك الله خيرا وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jawab:
Islam Nusantara adalah sebuah paham yang keliru. Jama’ahnya dikenal “Jama’ah Islam Nusantara” (JIN). Paham ini mengklaim memiliki asas “kearifan” lokal yang ingin menggabungkan semua paham, budaya dan adat Nusantara, tanpa melihat benar-tidaknya menurut syariat agama kita. Kebatilannya amat tampak bagi orang-orang berakal, dari beberapa sisi:
1.Paham keliru ini berusaha menggabungkan nilai Islam dengan budaya dan adat lokal Nusantara (Indonesia). Penggagas paham ini –menurutnya- Islam Nusantara beda dengan Islam Arab. Pada Islam dimanapun harus sama mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah ala fahmis salaf ‘di atas pemahaman salaf’.

2.Ini jelas paham sesat, sebab Islam hanyalah satu yang dibangun di atas tauhid, mengikuti wahyu Allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang shohihah, serta berlepas diri dari segala macam kekafiran atau kesyirikan dan pelakunya. Sementara paham JIN ini tidak memperhatikan tauhid, bid’ah, dan maksiat.

3.Menurut JIN cara pendekatan budaya, inilah yang mereka namakan dengan “Islam Nusantara”. Jadi, kalau kaum Hindu dahulu membuat sesajen, maka mereka (JIN) harus alihkan ke budaya baru yang rada mirip dengan acara persembahan sesajen, nah lahirlah “acara selamatan”.

Dari sini anda lihat bahwa JIN berani memasukkan dalam agama perkara yang bukan bagian darinya. Tidak heran jika paham JIN akan menjadi pintu bagi semua bid’ah dan kesesatan!!

Islam Nusantara ingin menggabungkan antara kebenaran dan kebatilan. Ia ingin menggabungkan Islam dengan semua adat-adat dan budaya Nusantara, tanpa melihat bahwa sebagian besar dari budaya yang mereka adopsi adalah budaya-budaya atau adat-adat yang merusak Islam, sebab ia merupakan bid’ah ataukah di saat ia dianggap bagian dari agama, maka jadilah budaya itu sebagai bid’ah dalam agama, karena ajaran sesat memasukkan sesuatu dalam agama perkara yang bukan bagian dari agama Islam.

4.Paham ini ingin memisahkan praktek agama yang benar yang telah dijalankan dan dipraktekkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, lalu beralih kepada praktek yang mereka (JIN) bikin dan rancang sendiri. Entah bagaimana warna agama kaum JIN ini. Dengan asas ini mereka (JIN) menolak syariat cadar yang sudah lama diyakini dan dipraktekkan sebagai agama dan syariat kaum muslimin. Mereka menolak penggunaan gamis sebagai bagian dari agama Islam. Pakaian asalnya memang adalah perkara mubah bila tak ada pelanggaran di dalamnya. Tapi ketika pakaian itu dicintai dan diutamakan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka berubahlah hukumnya menjadi mustahab ‘dianjurkan/sunnah’. Karenanya, An-Nawawiy (ulama Syafi’iyyah) memandang penggunaan gamis panjang adalah mustahab alias sunnah dalam kitabnya Riyadhus Sholihin.
Kasarnya, Islam Nusantara ini ingin membongkar dan merekostruksi agama Islam dan syariatnya yang telah turun di Timur Tengah dan dipraktekkan oleh para sahabat, lalu membangun agama baru yang dengan tanpa malu masih saja melabelinya dengan “Islam”. Betul-betul ajaran busuk.

5.JIN (Jaringan Islam Nusantara) mengambil acuan dari praktek Wali Songo yang berdakwah dengan penuh hikmah –menurut klaim JIN-.
Acuan kita dalam beragama dan berdakwah adalah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya. Mereka adalah kaum yang selalu berusaha di atas bimbingan Al-Kitab dan Sunnah.
Disini akan terlihat jelas bahwa memang acuan Islam yang dibawa oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- beda dengan acuan JIN.
Jika JIN mengacu pada kehidupan Wali Songo yang kehidupannya tidak memiliki bukti yang valid dan terpercaya, hanyalah semacam cerita rakyat yang tidak diketahui ujung pangkalnya.
Anggaplah bahwa berita-berita tersebut benar, maka kita akan melihat berbagai macam penyimpangan yang dilakukan oleh Wali Songo, seperti :
-Wali Songo berdakwah menggunakan wayang. Adakah para nabi dan para sahabat berdakwah dengan wayang yang dihiasi dengan musik dengan meniru budaya Hindu?! Jelas dakwah seperti ini bid’ah dan keliru. Musik bukanlah sarana dakwah yang dihalalkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, bahkan beliau mengharamkan musik (seperti, dalam hadits riwayat Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya)
-Wali Songo -menurut sebagian versi- bahwa mereka yang membuat budaya pemukulan beduk sebelum adzan. Sebelum turunnya syariat adzan, para sahabat mengusulkan cara mengumpulkan manusia untuk sholat dengan berbagai macam cara. Ada yang usulkan untuk menyalakan api, sehingga jika telah menyala, maka manusia harus berkumpul. Tapi cara ini ditolak oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Ada yang mengusulkan pemukulan loncengan atau peniupan terompet, maka Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pun menolaknya. Nah, dengan tetapnya adzan sebagai sarana dalam mengumpulkan manusia untuk sholat, maka semua sarana yang lainnya harus ditolak sebagaimana Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menolaknya. Jika ada yang membuat tata cara lain berupa pemukulan beduk –misalnya- untuk memanggail manusia untuk sholat, maka ini jelas ajaran baru yang bukan bagian dari Islam dan harus ditolak. Islam telah sempurna, tak butuh penambahan dan pengurangan.
-Dalam sebagian cerita Sunan Kali Jaga yang merupakan bagian dari Wali Songo, disebutkan bahwa ia melakukan pertapaan dan semedi di pinggir kali (sungai) dalam waktu lama sampai tubuhnya berlumut. Nah, kapankah ia sholat berjamaah atau kapankah ia sholat, kapankah ia menghadiri sholat Jumat. Semedi atau bertapa bukanlah bagian dari Islam, ia hanyalah budaya dan agama dari Hindu atau Buddha. Nah, apakah JIN juga akan bertapa karena berkiblat kepada Sunan Kali Jaga?!! Sekali lagi, bertapa bukan ajaran Islam!!

6.JIN (Jaringan Islam Nusantara) ingin menggabungkan dua hal yang berbeda antara agama yang merupakan keyakinan yang turun dari Allah dengan budaya yang merupakan hasil olah pikir manusia. Seakan-akan Islam sebagai agama yang sempurna, masih kurang dan perlu diberi tambahan. Subhanallah, sungguh lancang para penggagasnya!! Semoga Allah menghinakan mereka. Islam bukanlah hasil olah pikir manusia dan budaya bukan wahyu yang wajib dipegangi!! Namun bukan berarti Islam memerangi semua budaya. Adapun budaya yang sesuai sendi-sendi ajaran Islam dan tidak bertentangan dengannya, maka Islam tidaklah memeranginya, misalnya membaca dan menulis. Keduanya adalah budaya yang didukung kuat oleh Islam.
Hanya saja suatu budaya sering kali disusupkan dalam Islam dan berusaha dianggap sebagai bagian dari substansi agama. Padahal ia adalah bid’ah (ajaran baru) dan pelanggaran dalam Islam!! Sebagai contoh budaya yang disusupkan sebagai bagian dari agama, dakwah dengan wayang dan musik, bertapa, memukul beduk sebelum adzan, acara selamatan pada waktu tertentu, acara tolak bala, dan lainnya. Ketika seseorang menganggapnya bagian dari agama yang boleh atau sunnah atau wajib diikuti, maka berubahlah ia menjadi “bid’ah”. Belum lagi ada budaya yang memang hukum asalnya adalah haram, seperti musik. Bahkan ada budaya yang asalnya kesyirikan dan kekafiran, seperti budaya buang tumpeng ke Laut Selatan untuk Nyi Roro Kidul, atau Upacara Laut dengan membuang berbagai macam jenis makanan untuk menenangkan laut dan penguasanya.
Jadi, tidak semua budaya nusantara itu bagus dan dibenarkan agama.
Disinilah pentingnya seorang muslim memperdalam ilmu agamanya agar tidak mencampubaurkan dua perkara yang samar baginya, agar tidak menyamakan antara dua perkara yang mirip, namun hakikatnya jauh dan beda.

One Response

  1. galih abu fathimaAugust 13, 2015 at 1:05 pmReply

    bismillah,
    mohon ijin copas.
    jazaakallohu khoyron
    galih

Leave a Reply