Puasa Pengontrol Jiwa Hamba

Puasa Pengontrol Jiwa Hamba

(Rahasia Agung di Balik Syariat Shiyam ‘Puasa’)

oleh :

Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

[Pengasuh Pesantren Al-Ihsan Gowa]

gambar lagi puasaShiyam ‘puasa’ adalah sebuah syariat agung yang turun titahnya dari langit untuk menjadi pengontrol dan pengendali jiwa manusia. Sudah dimaklumi bersama, jiwa manusia andaikan dilepas begitu saja, tanpa ada kontrol dari Penciptanya, Allah -Azza wa Jalla-, maka hiduplah manusia itu laksana hewan yang tak berakal. Bahkan boleh jadi lebih buruk lagi!!

Allah, Robbul Izzah, telah menggambarkan kepada kita tentang sifat dari jiwa manusia di dalam sebuah firman-Nya saat menceritakan ucapan Nabi Yusuf –alaihis salam-,

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ [يوسف : 53

“Sesungguhnya nafsu (jiwa) itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan-ku. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang”. (QS. Yusuf : 53)

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thobariy -rahimahullah- berkata,

إن النفوسَ نفوسَ العباد، تأمرهم بما تهواه، وإن كان هواها في غير ما فيه رضا الله

“Sesungguhnya jiwa, yaitu jiwa para hamba, memerintahkan mereka sesuai apa yang diingini oleh jiwa itu, sekalipun kesenangan jiwanya di dalam sesuatu yang tak ada keridhoan Allah”. [Lihat Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Ayil Qur’an (16/142)]

Di dalam ayat itu, jelas sekali bahwa jiwa manusia selalu condong kepada keburukan yang akan merendahkan dan menghinakan dirinya. Andaikan bukan karena adanya rahmat dan kasih sayang dari Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, maka pasti jiwa manusia akan liar dan bebas tanpa kontrol dan aturan.

Sebuah rahmat dan hidayah agung yang Allah anugerahkan kepada para hamba-Nya, turunnya syariat mulia yang bernama “shiyam” (puasa). Sesuai asal dan akar kata shiyam (الصِيَامُ), maka shiyam ‘puasa’ artinya “menahan diri”.

Makna yang agung ini selaras dengan hikmah disyariatkannya puasa bagi manusia, agar manusia mampu menahan dan mengontrol jiwanya dengan puasa ini. Dengan shiyam ‘puasa’, seorang hamba mampu mengontrol godaan dan bisikan jiwa yang selalu menghasungnya kepada perkara-perkara hina.

Cobalah anda bayangkan bagaimana keadaan manusia jika jiwanya tidak dikontrol dengan suatu aturan yang maha hebat dari sisi Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijak, maka pastilah manusia akan terjerumus dalam zina, liwath (hubungan sesama jenis), onani dan lainnya diantara perbuatan-perbuatan keji dan hina!!

Tidaklah heran kiranya, bila Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mendapatkan perintah dari Allah -Azza wa Jalla- agar memberikan bimbingan kepada umatnya dalam memperbanyak puasa.

Suatu saat, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah memberikan wejangan kepada para pemuda yang memiliki kemampuan agar menikah segera. Bagi mereka yang belum dan tidak lagi punya kemampuan untuk menikah agar memperbanyak dan menjaga kebiasaan berpuasa.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda tentang hal itu,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai sekalian pemuda, siapa saja diantara kalian yang punya kemampuan, maka hendaknya ia menikah. Karena, nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Siapa pun yang yang belum mampu, maka hendaknya ia melazimi puasa. Karena, puasa itu merupakan wija’ (pengontrol) baginya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 5066) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 1400)]

Kata wija’ (وِجَاءٌ) artinya mengontrol. Orang Arab dulu bila ingin menggemukkan kambing atau hewan lainnya, maka mereka remukkan kedua pelir hewan itu, agar syahwatnya bisa terkontrol. Itulah wija’.

Demikianlah kehebatan puasa dalam mengontrol dan menjaga jiwa manusia dari segala keinginan bejatnya, seperti fungsi wija’ pada hewan peliharaan, bahkan melebihi wija’. Sebab wija’ pada hewan mungkin akan memberikan rasa sakit dan madhorot pada hewan dengan hilangnya kedua pelirnya dalam rangka meraih kemaslahatan yang lebih besar (yakni, dalam rangka penggemukan). Adapun wija’ ‘kontrol’ pada manusia melalui syariat puasa, tidaklah menyakiti manusia dan tidak pula mendatangkan madhorot. Tidak membuat manusia mandul. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah memberikan syariat yang indah nan mudah ini.

Al-Imam Abu Zakariyya An-Nawawiy -rahimahullah- berkata dalam sebuah kitabnya,

واختلف العلماء في المراد بالباءة هنا على قولين يرجعان إلى معنى واحد أصحهما أن المراد معناها اللغوي وهو الجماع فتقديره: من استطاع منكم الجماع لقدرته على مؤنه وهي مؤن النكاح فليتزوج ومن لم يستطع الجماع لعجزه عن مؤنه فعليه بالصوم ليدفع شهوته ويقطع شر منيه كما يقطعه الوجاء

“Para ulama kita berselisih tentang maksud kata al-ba’ah ‘kemampuan’ disini atas dua pendapat yang keduanya kembali satu makna. Namun yang paling benar bahwa yang dimaksudkan adalah maknanya secara etimologi, yaitu jimak. Jadi, penentuan maknanya: “Siapa pun diantara kalian yang mampu berjimak, karena ia mampu mengemban tanggung jawab pernikahan, maka hendaknya ia menikah. Siapa saja yang tak mampu berjimak, karena ia tidak mampu mengemban tanggung jawab pernikahannya, maka hendaknya ia melazimi puasa”, agar puasa itu membendung syahwatnya dan memutuskan keburukan maninya sebagaimana wija’ (pada hewan) memutuskannya”. [Lihat Al-Minhaj (9/173) oleh An-Nawawiy, Dar Ihya’ At-Turots Al-Arobiy, 1392 H]

Sungguh indah syariat shiyam ‘puasa’ ini, dimana ia mampu berfungsi sebagai pengontrol jiwa dan syahwatnya dari kelakuan hina. Puasa mengontrol syahwat, bukan menghilangkannya sebagaimana hewan bila dikebiri kedua pelirnya, maka hilanglah syahwatnya. Adapun puasa, maka ia tidaklah menghilangkan syahwat manusia, bahkan ia hanya menahan dan mengontrolnya agar tidak terjerumus dalam perbuatan haram!!

Siapa pun diantara para pemuda Islam yang menghadapi kendala berupa kekurangan dalam hal harta dan lainnya, sehingga ia pun tidak mampu menikah, maka solusi terbaik baginya adalah banyak perpuasa, karena puasa itu mampu mengekang nafsu syahwat yang bergelora dan melemahkan urat syahwat yang bergejolak saat memuncak. Namun puasa tidaklah sampai mematikan syahwat!!

Al-Imam Abul Hasan Ibnu Baththol Al-Bakriy Al-Qurthubiy -rahimahullah- berkata saat menerangkan kandungan hikmah hadits di atas,

ثم بين عليه السلام ، أن الناس كلهم لا يجدون طولا إلى النساء ، وربما خافوا العنت بفقد النكاح فعوضهم منه ما يدافعون به سورة شهواتهم ، وهو الصيام . فإنه وجاء

“Kemudian Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa manusia seluruhnya tidaklah memiliki kemampuan untuk menikahi wanita. Terkadang mereka takut kehancuran dan dosa karena tidak sempatnya mereka menikah, maka beliau gantikan untuk mereka dari hal itu sesuatu yang mereka mampu dengannya membendung gelora (badai) syahwatnya, yaitu puasa, karena ia adalah wija’ (pengontrol)”. [Lihat Syarh Shohih Al-Bukhoriy (4/26) oleh Ibnu Baththol, cet. Maktabah Ar-Rusyd, 1423 H]

Puasa amatlah penting bagi para pemuda dan lainnya. Apalagi di zaman ini, semua pintu fitnah berada di depan mata, terbuka selebar-lebarnya. Banyak orang yang telah binasa akibat badai syahwat yang tidak mampu ia bendung. Belum lagi kejahilan mendera dirinya sehingga ia tak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi gejolak syahwatnya yang menyala-nyala, di saat ia belum mampu menikahi seorang wanita yang ia cintai.

Tidaklah heran jika di zaman ini banyak korban yang berjatuhan perbuatan zina, onani dan homoseksual akibat ia lupa membentengi dirinya dengan puasa. Akhirnya, ia larut dalam kehinaan demi kehinaan. Andaikan ia mengetahui kehebatan shiyam ‘puasa’ dalam membentengi dirinya dan ia pun menjaga serta memperbanyak puasanya karena Allah, niscaya ia akan selamat, insya Allah. Tapi demikianlah realita kebanyakan pemuda amat jahil tentang agamanya. Akibatnya ia jauh dari banyak kebaikan.

Nah, di Bulan Romadhon tahun ini, mari kita mulai belajar membekali diri dan menjaga kehormatannya dengan membiasakan diri dengan puasa. Semoga Bulan Romadhon menjadi ajang melatih diri dengan puasa agar kita menjadi insan yang bahagia dunia dan akhirat.

Terakhir, kita bermohon kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala- agar senantiasa menjaga kita dari keburukan jiwa yang selalu mengarahkan manusia kepada kehinaan[1].

[1] Artikel ini rampung pada tanggal 28 Sya’ban 1436 H yang bertepatan dengan 16 Juni 2015 M, di rumah kami –semoga Allah memberkahinya dan pemiliknya-, Perumahan Tanwirus Sunnah, Bonto Marannu, Gowa, Sulsel.

No Responses

Leave a Reply