Puasa dan Sholat Lail, Syiar Orang-orang Sholih

Puasa dan Sholat Lail, Syiar Orang-orang Sholih

oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

gambar malamOrang-orang sholih dahulu kala memiliki dua sifat yang selalu mereka jaga pada dirinya. Dua sifat itu adalah ash-sholah (sholat) dan ash-shiyam ‘puasa’.

Dua sifat ini melekat pada diri mereka, seperti melekatnya pakaian pada diri seorang manusia. Keduanya telah menjadi syiar, kebiasaan dan kesenangan mereka di dunia. Kemana pun dan kapanpun saatnya, sholat malam (tahajjud) dan puasa sunnah senantiasa menghiasi diri mereka.

Tentang qiyamullail (tahajjud) mereka, Allah -Tabaroka wa Ta’ala- abadikan di dalam Al-Qur’an Al-Karim. Rasa takut terhadap huru-hara kiamat dan ngerinya siksa neraka, membuat orang-orang sholih bangkit di tengah malam untuk melaksanakan sholat lail (tahajjud), demi mencari rahmat dan keridhoan Allah -Tabaroka wa Ta’ala-.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ  [الزمر : 9

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (siksa) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar : 9)

Rasa takut seperti inilah yang menjadi pencegah bagi seorang dari perkara-perkara yang haram, sekaligus motivator (pendorong) baginya dalam menyiapkan bekal amal sholih.

Mata mereka tak terpejam di kala menunaikan sholat malam, sebab hatinya mengharap dan merindukan munajat dengan Sang Kekasih (Allah) -Tabaroka wa Ta’ala-.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19) [الذاريات : 15 – 19]

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia, mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam dan selalu memohonkan ampunan di waktu sahur (menjelang fajar). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat : 15-19)

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashriy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan kalimat yang bergaris bawah di atas,

مَدُّوْا فِيْ الصَّلاَةِ وَنَشَطُوْا، حَتَّى كَانَ اْلاِسْتِغْفَارُ بِسَحَرٍ.

Mereka memperpanjang sholat dan bersemangat sampai tiba (waktu) ber-istighfar  di waktu sahur.” [Lihat Jami’ Al-Bayan (22/409)]

Sholat malam adalah amalan utama yang diperintahkan kepada manusia yang terbaik, yakni Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Perintah agung itu datang kepada beliau melalui jalur wahyu, dalam sebuah suroh,

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا (4) إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا (5) إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا (6) [المزمل : 1 – 6

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sholat) di malam hari (sholat tahajjud), kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.  Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil : 1-6)

Saking penting dan utamanya sholat lail (tahajjud), Allah -Azza wa Jalla- perintahkan sholat lail tersebut kepada Rasul-Nya sebagai bentuk kewajiban atas beliau. Kemudian para sahabat mengikuti Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam hal, karena mereka menyadari dengan sedalam-dalamnya bahwa sholat malam (tahajjud) merupakan perkara yang mengandung fadhilah dan keutamaan yang amat tinggi di sisi Allah, Robbul alamin. Walaupun sholat malam bagi selain Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- tidak wajib, bahkan hukumnya sunnah, namun berkedudukan tinggi.

Al-Imam Ibnu Asyur Al-Malikiy -rahimahullah- berkata,

وَأَمْرُ الرَّسُولِ بِقِيَامِ اللَّيْلِ أَمْرُ إِيجَابٍ وَهُوَ خَاصٌّ بِهِ لِأَنَّ الْخِطَابَ مُوَجَّهٌ إِلَيْهِ وَحْدَهُ…وَأَمَّا قِيَامُ اللَّيْلِ لِلْمُسْلِمِينَ فَهُمُ اقْتَدَوْا فِيهِ بِالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Perintah sholat malam bagi Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah perintah wajib, dan itu khusus bagi beliau, karena titah (firman Allah) itu terarah kepada beliau saja…Adapun qiyamullail (sholat malam) bagi kaum muslimin, maka kaum muslimin berteladan kepada Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam-.” [Lihat At-Tahrir wa At-Tanwir (29/258)]

Kebiasaan menjalankan sholat tahajjud (qiyamullail) sudah mendarah daging pada diri orang-orang sholih dari kalangan para nabi dan rasul.

Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman saat menggambarkan sifat mereka dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا  [الفرقان : 64

“Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqon : 64)

Waktu malam itu mereka gunakan bermunajat dan berdoa kepada Allah -Azza wa Jalla- sembari merenungi dan mentadabburi ayat-ayat yang mereka baca dalam sholatnya, sampai mereka menangis. Sebab, mereka takut akan siksa Allah, sementara pengabdian kepada Allah di sisi mereka amatlah sedikit dan tidak cukup untuk membebaskan diri mereka dari siksa Jahannam, apalagi membayar surga yang penuh kenikmatan. Pendalaman daya pikir seperti inilah yang mengucurkan air mata mereka dalam mengharap ridho dan rahmat Allah, Sang Maha Pemilik alam semesta ini.

Fudhoil bin Iyadh Al-Yarbu’iy -rahimahullah- berkata tentang ayat di atas,

هُمْ قَوْمٌ إِذَا جَنَّهُمُ اللَّيْلُ قَامُوْا عَلَى أَطْرَافِهْمْ، تَسِيْلُ دُمُوْعُهُمْ عَلَى خَدُوْدِهِمْ

“Mereka adalah kaum yang apabila waktu malam tiba, maka mereka berdiri (dalam menunaikan sholat tahajjud) di atas kaki-kaki mereka, sedang air mata mereka bercucuran di atas pipi mereka. [Lihat Al-Hidayah ila Bulugh An-Nihayah (8/5254), karya Ibnu Hammusy Al-Qoisiy]

Air mata mereka menetes dan membasahi pakaian mereka, karena khusyuknya mereka dalam membayangkan neraka yang seakan-akan sebuah parit yang amat mengerikan dan membahayakan di depan mata mereka.

Seorang tabi’in yang mulia, Al-Imam Al-Hasan bin Abil Hasan Al-Bashriy -rahimahullah- berkata,

إِنَّ ِللهِ -عَزَّ وَجَلَّ- عِبَادًا كَمَنْ رَأَى أَهْلَ الْجَنَّةِ فِي الْجَنَّةِ مُخَلَّدِيْنَ، وَكَمَنْ رَأَى أَهْلَ النَّارِ فِي النَّارِ مُخَلَّدِيْنَ، قُلُوْبُهُمْ مَحْزُوْنَةٌ، وَشُرُوْرُهُمْ مَأْمُوْنَةٌ، حَوَائِجُهُمْ خَفِيْفَةٌ، وَأَنْفُسُهُمْ عَفِيْفَةٌ، صَبَرُوْا أَيَّامًا قِصَارًا تَعْقِبُ رَاحَةً طَوِيْلَةً، أَمَّا اللَّيْلَ فَمُصَافَّةٌ أَقْدَامُهُمْ، تَسِيْلُ دُمُوْعُهُمْ عَلَى خُدُوْدِهِمْ، يَجْأَرُوْنَ إِلَى رَبِّهِمْ : “رَبَّنَا، رَبَّنَا”، وَأَمَّا النَّهَارَ، فَحُلَمَاءُ عُلَمَاءُ بَرَرَةٌ أَتْقِيَاءُ

“Sesungguhnya Allah -Azza wa Jalla- memiliki hamba-hamba, seakan-akan ia melihat penduduk surga di dalam surga dalam keadaan kekal, dan laksana orang yang melihat penduduk neraka dalam neraka dalam keadaan kekal. Hati mereka bersedih, keburukan mereka aman (yakni, telah diampuni), hajat mereka ringan, dan diri mereka terjaga (dari hal yang menodainya). Mereka bersabar dalam hari-hari singkat (di dunia) yang diikuti oleh kesenangan yang panjang (abadi di surga). Adapun di waktu malam, maka kaki mereka bershoff, dalam keadaan air mata mereka bercucuran di atas pipi mereka. Mereka memohon kepada Tuhannya, “Wahai Tuhan-ku, wahai Tuhan-ku…”

Adapun di waktu siang, maka mereka adalah orang-orang yang lembut, berilmu, berbakti, dan bertaqwa.” [Atsar Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya’ (2/151)]

Selain, sholat lail (tahajjud), PUASA merupakan kebiasaan baik pada orang-orang sholih. Dengan berkah shiyam ‘puasa’ dan sholat malam, seorang hamba akan terjaga dari dosa dan sifat kefasikan, sebagaimana yang diisyaratkan oleh sebuah hadits. [At-Tarbiyah Adz-Dzatiyyah min Al-Kitab wa As-Sunnah (hal. 77)]

Anas bin Malik -radhiyallahu anhu- berkata,

كَانَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذَا اجْتَهَدَ لِأَحَدٍ فِي الدُّعَاءِ قَالَ :

جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صَلاَةَ قَوْمٍ أَبْرَارٍ ، يَقُومُونَ اللَّيْلَ ، وَيَصُومُونَ النَّهَارَ ، لَيْسُوا بِأَثَمَةٍ ، وَلاَ فُجَّارٍ.

“Dahulu Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bila bersungguh-sungguh dalam mendoakan kebaikan bagi sseseorang, maka beliau berkata (berdoa), “Semoga Allah menetapkan bagi kalian doa kaum yang baik : mereka berdiri menunaikan sholat malam, dan berpuasa di sing hari. Mereka bukan orang-orang yang berbuat dosa dan bukan pula orang-orang berbuat fasik.” [HR. Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhob (1360), dan Adh-Dhiya’ Al-Maqdisiy dalam Al-Ahadits Al-Mukhtaroh (1700). Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (3097)]

Di sela-sela hadits ini, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menerangkan kepada kita bahwa orang-orang sholih memiliki doa yang terkabul, karena mereka telah menjaga dua hak Allah -Azza wa Jalla- yang terbesar : SHOLAT dan PUASA.

Dengannya, mereka mendapatkan perlindungan dan penjagaan dari godaan setan dan hawa nafsu yang seringkali menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan dosa dan kefasikan.

Sholat dan puasa pada diri seorang hamba yang sholih bagaikan daging dan darahnya menjadi sebuah kesatuan yang tak akan terpisahkan. Bila ia luput dari sholat malam dan puasa pada waktu-waktu yang ia lazimi, seakan ia kehilangan sebagian jasadnya!!

Seorang tabi’in yang mulia, Tsabit bin Aslam Al-Bunaniy Al-Bashriy -rahimahullah- berkata,

لاَ يُسَمَّى عَابِدُ أَبَدًا عَابِدًا، وَإِنْ كَانَ فِيْهِ كُلُّ خَصْلَةِ خَيْرٍ، حَتَّى تَكُوْنَ فِيْهِ هَاتَانِ الْخَصْلَتَانِ : الصَّوْمُ وَالصَّلاَةُ، ِلأَنَّهُمَا مِنْ لَحْمِهِ وَدَمِهِ

“Seorang hamba tidak dinamai “AHLI IBADAH”, walaupun pada dirinya terdapat semua perangai (sifat) baik, sampai terdapat pada dirinya dua perkara : PUASA dan SHOLAT. Karena, kedua hal itu adalah darah dagingnya.” [Atsar Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (2/318-319)]

Demikianlah pentingnya seorang menjaga dan menghiasi dirinya dengan sholat dan puasa sebagai syiar dalam kehidupannya, niscaya Allah akan mengenalnya sebagai “hamba Allah” dan menjadi sebab datangnya penjagaan dari sisi Allah bagi dirinya di dunia dan di akhirat.

Sholat dan puasa merupakan syiar dan tanda orang-orang sholih. Dengannya, mereka terbedakan dari sekian banyak manusia, dan di akhirat mereka pun oleh Allah dengan dua perkara, sehingga ia menjadi hamba-hamba pilihan di sisi Allah Al-Malikil Quddus.

Mereka itulah yang Allah maksudkan dalam firman-Nya,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى [النازعات : 40

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” (QS. An-Naazi’aat : 40)

 

No Responses

Leave a Reply