Puasa, Amalan yang Tiada Tandingannya

Puasa, Amalan yang Tiada Tandingannya

(Menguak Keajaiban Syariat Puasa)

Oleh: Al-Ustadz Abdul Qadir Abu Fa’izah -Hafizhahullah-

gambar puasa tidak ada bandingannya

Puasa merupakan syariat yang indah, syariat yang mengajarkan berbagai kebaikan dan hikmah yang telah teruji dalam lembaran-lembaran sejarah manusia terbaik di zamannya, sehingga tidak suatu umat, melainkan para nabi dan rasul mereka membimbing mereka mengendalikan hawa nafsu melalui gemblengan puasa yang amat ampuh dalam mengekang hawa nafsu yang jahat dan merusak.

Di dalam puasa, terdapat berbagai macam pendidikan kejiwaan dan psikologis, sehingga menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, amanah, kejujuran, kemampuan mengontrol emosional dan kepatuhan kepada syariat.

Semua perkara ini bermuara dalam buah manis yang bernama “taqwallah”. Inilah yang pernah Allah -Tabaroka wa Ta’ala- sinyalir dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  [البقرة : 183

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqoroh : 183)

 

Cukuplah sebuah keutamaan dan keajaiban puasa, ia telah berjalan di kalangan umat-umat beriman sejak dahulu kala, mulai dari zaman Adam –alaihish sholatu was salam- sampai hari ini. [Lihat Anwar At-Tanzil (1/461) karya Al-Baidhowiy)

Al-Imam Shiddiq Hasan Khan Al-Husainiy Al-Qinnaujiy -rahimahullah- berkata,

أَنَّ الصَّوْمَ عِبَادَةٌ قَدِيْمَةٌ، مَا أَخْلَى اللهُ أُمَّةً مِنِ افْتِرَاضِهَا عَلَيْهِمْ، لَمْ يَفْرِضْهَا عَلَيْكُمْ وَحْدَكُمْ.

“Sesungguhnya puasa adalah ibadah yang telah lama ada. Allah tidak pernah mengosongkan suatu umat dari mewajibkan ibadah puasa ini atas mereka dan tidak hanya mewajibkannya atas kalian saja.” [Lihat Fathul Bayan fi Maqoshidil Qur’an (1/362) oleh Shiddiq Hasan Khan, cet. Al-Maktabah Al-Mishriyyah, 1412 H]

Ketika kita mengetahui bahwa ibadah puasa ternyata adalah syariat tua yang telah lama berlaku dan berjalan di kalangan kaum beriman di zaman mereka dengan syariat yang khas dan selaras dengan keadaan mereka masing-masing, maka pasti pengetahuan seperti ini akan menumbuhkan dalam jiwa kita semangat dan kekuatan berpuasa, sebab ternyata puasa itu telah berlaku dan mampu dijalani oleh umat terdahulu. Belum lagi ternyata syariat puasa umat-umat terdahulu, lebih berat. Sebab –konon kabarnya- mereka dahulu bila berbuka puasa, maka apa yang mereka santap berupa makanan, maka itu berfungsi sebagai sahur. Artinya, bila mereka berbuka, maka setelah itu mereka tidak boleh lagi makan, minum atau berhubungan dengan istri.

Al-Imam Abul Fadhl Mahmud Al-Alusiy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan hikmah dan faedah pengabaran tentang kewajiban puasa juga berlaku atas umat-umat terdahulu,

وَفِيْهِ تَأْكِيْدٌ لِلْحُكْمِ وَتَرْغِيْبٌ فِيْهِ وَتَطْيِيْبٌ ِلأَنْفُسِ الْمُخَاطَبِيْنَ فِيْهِ، فَإِنَّ اْلأُمُوْرَ الشَّاقَّةَ إِذَا عَمَّتْ طَابَتْ

“Di dalamnya terdapat penekanan hukum (wajibnya puasa), anjuran berpuasa, dan hiburan bagi jiwa orang-orang yang diajak berbicara tentang puasa, karena perkara-perkara yang berat, bila merata (pelaksanaannya), maka jiwa akan senang.” [Lihat Ruhul Ma’ani (2/56), oleh Al-Alusiy, cet. Dar Ihya’ At-Turots Al-Arobiy]

“Ketahuilah bahwa kemaslahatan dan manfaat puasa, tatkala telah diakui oleh akal sehat dan fitrah manusia yang lurus, maka Allah mensyariatkan puasa itu bagi para hamba-Nya sebagai rahmat (kasih sayang) bagi mereka, kebaikan, dan surga bagi seorang hamba. Sebab, tujuan dari puasa adalah menahan jiwa dari syahwat-syahwat, menyapihnya dari kebiasaan-kebiasaan yang menyeretnya kepada keburukan, menormalkan kekuatan syahwatnya, agar jiwa bahagia dengan mencari sesuatu yang di dalamnya terdapat puncak kebahagiaan dan kenikmatan, serta mampu menerima sesuatu yang menyucikan jiwa berupa perkara yang di dalamnya terkandung kehidupan abadi.

Puasa mampu mengalahkan rasa lapar dan dahaga dari pengaruhnya yang tajam, serta mengingatkan jiwa tentang keadaan jiwa-jiwa yang kelaparan dari kalangan orang-orang miskin.

Aliran dan jalan setan pada diri hamba akan menjadi sempit, dengan menyempitkan jalan makanan dan minuman, mengendalikan energi anggota-anggota badan dari keterlenaannya dalam perkara-perkara yang membahayakan dan merugikannya di dunia dan akhirat.

Setiap anggota badan dan kekuatan akan tenang dari hawa nafsunya, dan akan terkekang dengan kekangan puasa.

Puasa adalah tali kekang orang-orang bertaqwa, surga para mujahidin, dan taman bagi orang-orang yang gemar berbuat baik dan orang-orang yang dekat dengan Allah.

Puasa adalah amalan untuk Robbul alamin dari sekian banyak amalan. Karena, orang yang berpuasa tidaklah melakukan sesuatu apapun. Ia hanya meninggalkan syahwatnya, makanan dan minumannya, semata-mata karena Sembaha-nya (yakni, Allah).

Puasa adalah meninggalkan kesenangan jiwa dan kelezatan-kelezatannya, karena mengutamakan cinta kepada Allah dan keridhoan-Nya. Ia merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Robb-nya; tidak yang mengetahuinya, selain Dia.

Terkadang para hamba mengetahui seorang yang berpuasa itu meninggalkan pembatal-pembatal puasa yang bersifat lahiriah. Adapun ia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya, semata-mata karena Sembahan-nya, maka ini merupakan perkara yang tidak diketahui seorang manusia pun. Itulah hakikat puasa.

Puasa memiliki pengaruh yang ajaib dalam menjaga anggota-anggota badan yang tampak dan potensi-potensi batin, serta membentenginya dari zat-zat perusak yang bila menguasai anggota-anggota badan, maka zat-zat itu akan merusaknya. Puasa mampu menguras zat-zat tidak berguna yang dapat mengerdilkan kesehatannya. Jadi, puasa itu mampu menjaga kesehatan hati dan anggota-anggota badan, serta mengembalikan ke hati sesuatu yang dirampas dan diculik oleh tangan-tangan syahwat. Karenanya, puasa termasuk penolong terbesar kepada ketaqwaan.” [Dipetik dari Mahasin At-Ta’wil (2/16-17), oleh Al-Imam Muhammad Jamaluddin bin Muhammad Said bin Qosim Al-Hallaq Al-Qosimiy (wafat 1332 H), cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1418 H]

Inilah sebagian keajaiban puasa yang dapat mengantarkan kepada ketaqwaan yang tercermin dalam aktifitas ketaatan dan jauhnya manusia dari maksiat. Dari sini, kita memetik sebuah faedah besar bahwa kapan saja puasa tidak dapat mengarahkan jiwa dan raga kita untuk taat kepada Allah -Tabaroka wa Ta’ala- dan tidak pula membendung jiwa dan raga kita dari maksiat, maka ketahuilah bahwa PUASA yang kita kerjakan selama ini, bukanlah puasa hakiki yang dituntut oleh Allah -Azza wa Jalla- atas setiap jiwa beriman.

Sebab, puasa bukanlah hanya sekedar menahan makan, minum dan syahwat di siang hari, tapi puasa itu melatih jiwa dan raga kita bersabar di atas ketaatan kepada Allah, bersabar dari pintu-pintu maksiat, serta bersabar dari beratnya rasa lapar dan dahaga saat menjalani ibadah puasa di siang hari.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda dalam mengingatkan kita tentang hal ini,

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوْعُ .

“Terkadang orang yang berpuasa, tidak ada yang ia dapatkan dari puasanya, melainkan rasa lapar saja.” [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 1690), An-Nasa’iy dalam As-Sunan Al-Kubro (3249 & 3333), Abu Nu’aim dalam Tarikh Ashbahan (1/270), dan Al-Qudho’iy dalam Musnad Asy-Syihab (no. 1426). Hadits ini dinyatakan sebagai hadits shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghir (3488)]

Puasa –pada hakikatnya- bukan hanya menahan makan dan minum, tapi puasa yang hakiki dan sempurna adalah puasa yang menahan jiwa dan raga kita dari perbuatan yang sia-sia dan ucapan yang kotor, hina, dan terlarang.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Bukanlah puasa itu dari makan dan minum saja. Hanyalah puasa itu (menahan diri) dari perbuatan sia-sia dan ucapan yang jorok.” [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya (1996), Abu Abdillah Al-Hakim dalam Al-Mustadrok ala Ash-Shohihain (1570), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (4/270), dan  Ad-Dailamiy dalam Musnadul Firdaus (5224). Hadits ini shohih sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (1082)]

Al-Imam Ahmad bin Abdir Rahman bin Muhammad As-Sa’atiy -rahimahullah- berkata saat memetik faedah-faedah indah dari dari hadits ini dan sejumlah hadits yang semakna dengannya,

أَحَادِيْثُ الْبَابِ فِيْهَا حَثُّ الصَّائِمِ عَلَى التَّخَلُّقِ بِاْلأَخْلاَقِ الْفَاضِلَةِ, ِلأَنَّهُ مُتَلَبِّسٌ بِعِبَادَةٍ. وَالْعِبَادَةُ لاَ يُنَاسِبُهَا إِلاَّ ذَلِكَ, فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيُعْرِضْ عَنْهُ وَلاَ يُقَابِلْهُ بِالْمِثْلِ، (وَفِيْهَا) تَحْذِيْرُ الصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ, وَهُوَ الْكَلاَمُ الْفَاحِشُ الْقَبِيْحُ، (وَفِيْهَا أَيْضاً) التَّحْذِيْرُ مِنَ الْغِيْبَةِ وَتَقْبِيْحُهَا وَنَحْوِهَا مِنْ كُلِّ فِعْلٍ مُحَرَّمٍ شَرْعاً، (وَفِيْهَا) أَنَّ مَنِ ارْتَكَبَ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَقَدْ أَضَاعَ ثَوَابَ صِيَامِهِ وَاسْتَحَقَّ الْمَقْتَ مِنَ اللهِ, نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ ذَلِكَ

“Hadits-hadits bab (perkara) ini, di dalamnya terdapat anjuran bagi orang yang berpuasa untuk berhiasa dengan akhlak-akhlak yang utama, karena ia (orang yang puasa) berada dalam ibadah. Sementara ibadah tidaklah cocok dan selaras, kecuali hal itu (yakni, akhlak-akhlak yang utama). Jika ia dicela atau dihina seseorang, maka hendaknya ia berpaling darinya, dan tidak membalasnya dengan perbuatan yang sama. Di dalamnya, juga terdapat peringatan keras bagi yang berpuasa dari bahaya perbuatan yang sia-sia dan ucapan jorok, yaitu ucapan yang kotor lagi buruk. Di dalamnya, juga terdapat peringatan keras dari bahaya ghibah (menceritakan aib orang lain), mencelanya, dan semisalnya dari semua perbuatan yang diharamkan menurut syariat. Di dalamnya juga terdapat (faedah) bahwa barangsiapa yang melanggar hal-hal itu, maka sungguh ia telah menyia-nyiakan pahala puasanya, dan berhak mendapatkan kemurkaan dari Allah. Na’udzu billahi min dzalik.” [Lihat Bulugh Al-Amani min Asror Al-Fath Ar-Robbaniy (10/78), karya As-Sa’atiy, cet. Dar Ihya’ At-Turots Al-Arobiy]

Di saat berpuasa, seorang hamba dituntut untuk meninggalkan perkara-perkara yang asalnya halal (berupa makan, minum atau berhubungan dengan istri) di siang harinya.

Jika hal itu dituntut darinya, maka tentunya perkara-perkara yang asalnya haram dan terlarang, lebih dituntut lagi untuk ditinggalkan.

Disini tampak bagi kita bahwa seorang yang berpuasa harus meninggalkan dan menahan diri dari dua hal :

  1. makan, minum, dan jimak bersama istri di siang hari puasa.
  2. semua bentuk maksiat (dosa besar, atau dosa kecil) saat berpuasa dan tidak berpuasa.

Nah, kapan seorang yang berpuasa melakukan maksiat, maka berkuaranglah sebagian pahalanya, atau bahkan semua pahalanya, wal ‘iyadzu billah, sehingga jadilah puasa kurang sempurna!!

Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy -rahimahullah- berkata,

فَإِذَا ارْتَكَبَ فِيْ صَوْمِهِ بَعْضَ مَا نُهِيَ عَنْهُ كَانَ تَارِكًا لِبَعْضِ الصِّيَامِ، وَإِذَا تَرَكَ بَعْضَ الصِّيَامِ جَازَ أَنْ يُقَالَ : (لَيْسَ بِصَائِمٍ)، يُرَادُ : (لَيْسَ بِصَائِمٍ صَوْمًا كَامِلاً)

“Jika seseorang melanggar –di dalam puasanya- sebagian perkara yang terlarang darinya, maka (berarti) ia telah meninggalkan sebagian puasa. Jika ia meninggalkan sebagian puasanya, maka boleh untuk dikatakan (bahwa) “ia tidak berpuasa”, maksudnya : ia tidak berpuasa dengan puasa yang sempurna.” [Lihat Ta’zhim Qodr Ash-Sholah (2/584), oleh Al-Marwaziy, dengan tahqiq Dr. Abdur Rohman bin Abdil Jabbar Al-Furyawa’iy, cet. Maktabah Ad-Dar, 1406 H]

Para pembaca yang budiman, puasa yang membuahkan ketaqwaan merupakan amalan ajaib yang tiada tandingannya, bila kita kerjakan puasa itu dengan penuh keimanan dan memburu pahala ukhrawi di sisi Allah, Robbul ‘Izzah. 

Bayangkan saja keajaiban puasa itu! Ia menjadi sebab seorang diberi kemuliaan untuk merasakan kenikmatan surga dengan berbagai keindahannya yang tidak pernah terbayang dan terbetik dalam sanubari manusia.

Dari Abu Umamah Al-Bahiliy -radhiyallahu anhu- berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ ، أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ . قَالَ : عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ ؛ فَإِنَّهُ لاَ عِدْلَ لَهُ

“Aku katakan, “Wahai Rasulullah, kabarilah aku tentang suatu amalan yang akan memasukkan aku ke surga!”

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-  bersabda,

“Lazimilah puasa, karena sesungguhnya puasa itu tiada tandingannya.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/264). Hadits ini dinilai shohih oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrijul Musnad ()]

Di dalam riwayat lain, Roja’ bin Haiwah Al-Kindiy berkata,

فَكَانَ أَبُوْ أُمَامَةَ لاَ يُرَى فِيْ بَيْتِهِ الدُّخَّانُ نَهَارًا إِلاَّ إِذَا نَزَلَ بِهِمْ ضَيْفٌ، فَإِذَا رَأَوُا الدُّخَّانَ نَهَارًا عَرَفُوْا أَنَّهُ قَدِ اعْتَرَاهُمْ ضَيْفٌ

“Dahulu Abu Umamah, tidak terlihat di rumahnya asap di waktu siang, kecuali bila singgah seorang tamu pada mereka. Jika mereka (manusia) melihat asap di siang hari, maka mereka mengetahui bahwa sungguh ada seorang tamu yang mendatangi mereka (yakni, keluarga Abu Umamah).” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/258), dan Ibnu Hibban Al-Bustiy dalam Shohih-nya (no. 3425). Hadits ini dihukumi shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (no. 986)]

Dijelaskan oleh Al-Imam Abul Hasan As-Sindiy -rahimahullah- tentang hikmahnya puasa sebagai amalan yang tiada tandingannya, saat beliau berkata,

فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ فِيْ كَسْرِ الشَّهْوَةِ وَدَفْعِ النَّفْسِ اْلأَمَّارَةِ وَالشَّيْطَانِ، أَوْ لاَ مِثْلَ لَهُ فِيْ كَثْرَةِ الثَّوَابِ

“Sesungguhnya puasa itu tiada tandingannya dalam menahan syahwat dan mencegah jiwa yang senang memerintah (kepada keburukan) dan setan; atau tiada bandingannya dalam hal banyaknya pahala.” [Lihat Hasyiyah As-Sindiy ala An-Nasa’iy (4/165)

Sebab yang diterangkan oleh Abul Hasan As-Sindiy, dipaparkan lebih rinci lagi oleh Al-Imam Abdur Ro’uf -rahimahullah- saat beliau berkata,

فإنه لا عدل له إذ هو يقوي القلب والفطنة ويزيد في الذكاء ومكارم الأخلاق وإذا صام المرء اعتاد قلة الأكل والشرب وانقمعت شهواته وانقلعت مواد الذنوب من أصلها ودخل في الخير من كل وجه وأحاطت به الحسنات من كل جهة

“Sesungguhnya puasa itu tiada tandingannya, sebab ia menguatkan hati dan kepandaian. Puasa memberi tambahan dalam kecerdasan dan akhlak-akhlak mulia. Jika seorang manusia berpuasa, maka ia akan terbiasa sedikit makan dan minum, syahwatnya terkendali, terurai elemen-elemen dosa dari dasarnya, dan ia (orang yang berpuasa) akan masuk dalam kebaikan dari segala sisi, serta dikitari oleh kebaikan-kebaikab dari segala arah.” [Lihat Faidhul Qodir (4/330)]

Di dalam hadits di atas, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- memberikan kabar gembira bahwa orang yang berpuasa dengan benar akan diberi surga, insya Allah.

Subhanalloh, adakah anugerah dan pemberian yang lebih besar dibandingkan surga beserta segala kenikmatannya. Belum lagi kita akan melihat Allah -Tabaroka wa Ta’ala- yang amat indah.

Anugerah yang tiada tandingannya tersebut, tidak mungkin akan diraih oleh orang yang berpuasa dengan berleha-leha dan bermalas-malasan!! Tentunya diraih dengan mujahadah dan kesabaran dalam menjalani ibadah puasa.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ  [الزمر : 10

“Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

 

Bersabarnya seorang dalam melakukan ketaatan, menjauhi maksiat, dan menghadapi musibah dan segala kesusahan dan beban penderitaan, akan dibalas dengan pahala yang tiada hentinya dan tiada batasnya.

Sudah barang tentu, orang yang sabar dalam menahan dirinya -saat berpuasa- dari makan, minum, dan jimak di siang hari puasa, sebagaimana halnya ia menahan diri -saat puasa atau di luar puasa- dari segala maksiat yang dibenci oleh Allah -Ta’ala-, maka orang seperti masuk dalam keumuman ayat di atas. Sebab, orang yang ber-PUASA dengan baik, pada hakikatnya adalah orang-orang yang bersabar.

 Al-Imam Badruddin Mahmud bin Ahmad Al-Ainiy Al-Hanafiy -rahimahullah- berkata,

الصائمون الصَّابِرُونَ، ِلأَن الصَّوْم يسْتَلْزم الصَّبْر

“Orang-orang yang berpuasa adalah orang-orang yang bersabar, karena puasa itu mengharuskan (menciptakan) kesabaran.” [Lihat ‘Umdah Al-Qori (10/260) oleh Al-Ainiy, cet. Dar Ihya’ At-Turots Al-Arobiy]

Kesabaran yang lahir dan tumbuh dari puasa, menjadikan puasa sebagai salah satu ibadah terbaik yang membawa kebaikan dan keberuntungan.

Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Muflih Al-Maqdisiy -rahimahullah- berkata,

وَقَالَ ابْنُ شِهَابٍ : أَفْضَلُ مَا تَعَبَّدَ بِهِ الْمُتَعَبِّدُ الصَّوْمُ

“Ibnu Syihab berkata, “Seutama-utamanya sesuatu yang digunakan untuk beribadah oleh seorang ahli ibadah adalah PUASA.”  [Lihat Al-Furu’ wa Tashhih Al-Furu’ (1/469) oleh Ibnu Muflih, dengan tahqiq Abu Az-Zahro’ Hazim Al-Qodhi, cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1418 H]

Demikianlah kehebatan puasa yang tiada tandingannya. Puasa mampu melahirkan kesabaran, dan ketaqwaan sebagai bekal bagi seorang hamba dalam mencapai dan meraih kenikmatan surga.

No Responses

Leave a Reply