Potret Sholat Jama’ah dalam Kehidupan Salaf (4)

  • Bulan Madu Bukan Rintangan

Bulan madu bukanlah merupakan suatu penghalang bagi para salaf dalam menunaikan dan mendahulukan hak Robb mereka. Bahkan ada di antara mereka yang rela meninggalkan istrinya demi melaksanakan sholat jama’ah.

Mereka bukanlah seperti generasi masa kini, jika datang malam pengantin -sedang mereka berbulan madu bersama istrinya-, maka mereka tak rela bangun melaksanakan sholat Ashar atau sholat shubuh demi menyenangkan dan memuaskan syahwat belaka. Mereka lupa bahwa istri hanyalah perhiasan belaka dan penolong dalam ketaatan, bukan penolong dalam kedurhakaan kepada Allah. Mereka lupa tentang hari kiamat saat tegaknya semua manusia dari Adam sampai manusia terakhir di hadapan Allah Al-Hakim (Sang Maha Bijaksana) untuk menghukumi, dan memutuskan segala tindak-tanduk makhluknya ketika mereka hidup di atas permukaan bumi ini. Ketika itulah Allah akan menampakkan segala yang tersembunyi sampai seorang yang bersembunyi dan berselimut bersama keluarganya akan ditampakkan oleh-Nya demi menanyakan segala perbuatannya.

Perkara ini betul-betul dipahami oleh para salafush sholeh. Hal itu tampak pada diri dan perbuatan mereka. Sekarang perhatikan, dulu ada seorang salaf bernama Anbasah ibnul Azhar berkata, “Al-Harits bin Hassan –radhiyallahu anhu- -dan beliau memiliki persahabatan (dengan Nabi –Shollallahu alaihi wasallam-) telah menikah. Lalu beliau ditanya: “Apakah engkau akan keluar (pergi sholat shubuh), padahal engkau berbulan madu dengan istrimu di malam ini?” Maka beliau menjawab: “Demi Allah, Jika ada seorang istri yang menghalangi aku dari sholat shubuh bersama jama’ah, maka ia sungguh istri yang buruk”.[1]

 


[1] Lihat Majma’ Az-Zawa’id (2/41) oleh Al-Haitsamiy

No Responses

Leave a Reply