Peristiwa Pahit 9 Desember

Peristiwa Pahit 9 Desember

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

[Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa, Sulsel]

gambar ban terbakar oleh riosetiawanBeberapa hari yang lalu telah terjadi suatu peristiwa pahit bagi negeri ini, turunnya sebagian masyarakat ke jalan-jalan untuk melakukan aksi demonstrasi (baca: kerusuhan) secara serentak di berbagai tempat di Indonesia Raya. Konon kabarnya, mereka melakukan aksi itu bertepatan dengan peringatan “HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA”, pada tanggal 9 Desember 2013 M tersebut.

Di dalam aksi itu banyak perbuatan amoral yang muncul dari para demonstran, mulai dari bakar ban, melempar orang atau fasilitas umum, melawan aparat, menjelek-jelekkan pemerintah yang berkuasa dengan berbagai macam celaan pedas yang menurunkan wibawa mereka, dan lainnya.

Ironisnya, sebagian demonstran menganggap hal itu adalah perjuangan alias jihad fi sabilillah. Mereka mengira bahwa aksi mereka adalah usaha untuk memperjuangkan kebenaran. Tapi benarkah cara mereka?

Niat yang baik dan ikhlash tidaklah cukup untuk membenarkan suatu perbuatan, jika cara dan kaifiatnya salah, tidak mencocoki petunjuk Allah dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Oleh karena itu, Sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu anhu- berkata,

وَكَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيْبَهُ

“Alangkah banyaknya orang yang menginginkan kebaikan, tapi ia tak sempat meraihnya”. [HR. Ad-Darimiy dalam Sunan-nya (1/68-69), dan Bahsyal dalam Tarikh Wasith (hal. 198). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 2005)]

Kenapa demikian?! Karena tidak mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Jadi, niat yang baik tidaklah cukup dalam membenarkan suatu perbuatan, jika tidak dibarengi dengan ittiba’ (keteladanan) terhadap sunnah (petunjuk) Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Demonstrasi yang dilakoni oleh masyarakat selama ini, walaupun niatnya baik, tapi caranya tidak benar dan tidak sesuai petunjuk Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sebab itu merupakan jalan orang-orang kafir dari kalangan pejuang-pejuang asas demokrasi yang batil dalam menuangkan aspirasi mereka. Selain itu, ia juga merupakan jalan para pemberontak dari kalangan KHAWARIJ. Lantaran itu, para ulama kita telah lama memberikan pengingkaran kepada aksi demonstrasi, karena ia membawa kepada perusakan di atas muka bumi ini.

Para demonstran yang terlibat, ibaratnya seperti yang dinyatakan oleh Allah –Azza wa Jalla- dalam firman-Nya,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لاَ يَشْعُرُونَ (12) [البقرة : 11 ، 12]

“Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, maka mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.  Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat KERUSAKAN, tetapi mereka tidak sadar”. (QS. Al-Baqoroh: 11-12)

Kerusakan apa yang ditimbulkan oleh demonstrasi? Banyak kerusakan yang timbul darinya, seperti mandegnya sebagian aktifitas, baik yang berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, politik, dakwah, dan lainnya. Jika kita mau menghitung berapa kerugian masyarakat dalam sehari dengan adanya kegiatan demo, maka terlalu banyak, dan susah diperkirakan.

Namun kerusakan demonstrasi yang paling besar adalah rusaknya wibawa pemerintah, bencinya masyarakat kepada mereka sehingga bermuara kepada PEMBERONTAKAN dan kekacauan di dalam negeri kaum muslimin.

Melakukan demo merupakan bentuk pemberontakan non-senjata yang akan mengantarkan kepada pemberontakan senjata, dan fisik. Demo bukanlah perkara yang remeh, yang orang boleh berijtihad di dalamnya, sebab ia merupakan bentuk khuruj alal hukkam (pemberontakan kepada penguasa). Sedang memberontak kepada penguasa muslim adalah perkara yang menyelisihi aqidah dan manhaj (pedoman hidup) para sahabat. Pemberontakan sekecil apapun, itu terlarang; walaupun menghasung orang dengan ucapan dalam menjelekkan dan melawan pemerintahnya!!

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata saat menjelaskan hadits Dzul Khuwaisiroh yang mengoreksi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di depan publik, “Ini merupakan dalil terbesar bahwa pemberontakan terhadap pemerintah (khuruj alal hukkam, -pen.) bisa dengan senjata, ucapan dan komentar. Maksudnya, orang ini (Dzul Khuwaisiroh) tidak mengambil senjata melawan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, tapi orang itu hanya mengingkari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Adapun sesuatu yang disebutkan dalam sebagian kitab-kitab Ahlus Sunnah bahwa pemberontakan melawan pemerintah adalah pemberontakan dengan menggunakan senjata, maka yang mereka maksudkan dengan hal itu adalah pemberontakan akhir lagi terbesar, sebagaimana halnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa zina bisa mata, telinga, kaki. Tapi zina terbesar –yang merupakan zina pada hakikatnya- adalah zina farji. Ungkapan seperti ini dari sebagian ulama’, inilah maksud mereka.

Kita tahu betul -berdasarkan konsekuensi tabiat suatu kondisi- bahwa tak mungkin ada pemberontakan bersenjata, kecuali didahului oleh pemberontakan dengan menggunakan lisan, dan ucapan. Manusia tak mungkin akan mengambil senjata untuk memerangi pemerintah, tanpa ada sesuatu yang memancing emosi mereka. Pasti disana ada sesuatu yang memancing emosi mereka, yaitu ucapan. Jadi, pemberontakan melawan pemerintah dengan menggunakan ucapan merupakan pemberontakan pada hakikatnya yang telah ditunjukkan oleh Sunnah dan waqi’ (realita). Adapun Sunnah, maka anda telah mengetahuinya. Adapun realita, maka sesungguhnya kita telah tahu dengan yakin bahwa pemberontakan bersenjata adalah cabang (akibat) dari pemberontakan lisan dan ucapan. Karena manusia tak akan memberontak melawan pemerintahnya, karena hanya sekedar ada yang bilang, “Ayo jalan, ambil pedang”. Mesti disana ada pengantar dan pembukaan berupa celaan kepada pemerintah, dan menutupi kebaikan-kebaikan mereka. Kemudian hati pun dipenuhi dengan perasaan marah, dan dendam. Ketika itulah terjadi bala’ (yakni, pemberontakan fisik)”. [Lihat Fatawa Al-Ulama’ Al-Akabir fi ma Uhdiro min Dima’ fil Jaza’ir (hal. 95-96)]

Menasihati dan mengingkari kemungkaran pemerintah muslim, bukanlah dengan cara terang-terangan dan kasar melalui aksi demonstrasi. Tapi memberikan nasihat kepada mereka harus rahasia (empat mata saja). Nasihat kepada mereka jangan diekpos dan disebar ke masyarakat lewat media dan mimbar-mimbar.

Inilah yang diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya,

مَنْ َأَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلا َيُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى اَلَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ.

“Barangsiapa ingin menasihati penguasa dalam suatu perkara, maka janganlah ia menampakkan secara terang terangan. Akan tetapi hendaknya ia ia mengambil tangannya agar ia bisa berduaan. Jika ia terima, maka itulah yamg diharap, jika tidak maka sungguh ia telah menunaikan tugas yang ada pada pundaknya”. [HR Ahmad dalam Al-Musnad (3/403-404) dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (1096, 1097, 1098). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-Jannah (hal. 514)]

Ibnu An-Nuhhas Asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata, “Seseorang yang menasehati penguasa hendaknya memilih pembicaraan empat mata bersama penguasa dibandingkan berbicara bersamanya di depan publik, bahkan diharapkan (adanya kebaikan) andaikan ia berbicara dengan penguasa secara sirr ((rahasia), dan menasehatinya secara tersembunyi, tanpa pihak ketiga.” [Lihat Tanbih Al- Ghofilin (hal. 64)]

Selain itu, nasihat yang kita berikan adalah nasihat yang lembut, bukan celaan dan ucapan kasar. Sebab pemerintah adalah manusia biasa seperti kita, tak ingin dimarahi dan direndahkan martabatnya.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman saat memberikan petuah kepada dua orang nabi-Nya ketika keduanya hendak menasihati manusia yang paling kafir dan zhalim di zamannya,

اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلاَ تَنِيَا فِي ذِكْرِي (42) اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولاَ لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)  [طه : 42 – 45]

Pergilah kamu (Musa) beserta saudaramu (Harun) dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku.  Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaahaa : 42-44)

Al-Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata saat menafsiri ayat ini, “Inti dari komentar para ulama kita bahwa dakwah Nabi Musa dan Nabi Harun kepada Fir’aun adalah dengan kelemahlembutan, dekat, lagi mudah agar lebih mengena, mendalam dan manjur bagi hati”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (5/295), tahqiq Sami Salamah.]

Orang-orang yang melakukan aksi demo telah membuka aib para penguasa. Ini tiada lain, kecuali penghinaan dan perendahan kepada para penguasa, yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

من أجل سلطان الله أجله الله يوم القيامة

“Barangsiapa yang memuliakan penguasa Allah, niscaya Allah akan memuliakannya pada hari kiamat”. [HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (no. 1025). Hadits di-hasan-kan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (no. 2297)]

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa memuliakan pemerintah muslim, walaupun ia banyak melakukan maksiat, baik itu berupa korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta kezholiman. Selama ia muslim, maka kita wajib memuliakan mereka dan menghormatinya. Barangsiapa yang merendahkan mereka, maka Allah akan merendahkannya pada hari kiamat sebagai balasan atas kejelekannya dalam bermuamalah dengan pemerintah.

Di sebagian negeri-negeri Islam ada yang berkilah dalam mendurhakai pemerintah muslim bahwa pemerintah kami menerapkan sistem yang tidak islamiy sehingga kami tak mau taat dan membai’atnya.

Pernyataan seperti ini adalah keliru, sebab jika seorang pemimpin muslim berkuasa dengan cara tak syar’iy, (seperti berkuasa melalui pemberontakan, kudeta, demokrasi, dan lainnya), maka seorang wajib membai’atnya, dan mengakuinya sebagai pemimpin yang harus ditaati dan dimuliakan!! Adapun kesalahannya, maka dinasihati dengan cara syar’i: lembut, sopan dan rahasia, bukan diekspos!!

Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- ketika ditanya tentang pemerintah Al-Jaza’ir yang menerapkan sistem demokrasi, maka beliau menjelaskan bahwa mereka (para pemimpin muslim) memiliki hak untuk dibai’at oleh rakyat Al-Jaza’ir. Andaikan mereka bukan pemimpin dan pemerintah yang sah, maka tentu Syaikh akan menyatakan bahwa tak ada bai’at bagi mereka. Dengar dialog berikut ini yang terjadi antara Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin dengan para penanya dari kalangan orang-orang Al-Jaza’ir:

   Penanya: Hubungannya dengan pemerintah Al-Jaza’ir –wahai Syaikh-, sekarang para pemuda (yakni, anggota FIS) yang telah keluar dari penjara. Kebanyakan diantara mereka masih ada pada mereka sedikit perasaan dendam sehingga walaupun mereka telah keluar dari penjara, dan telah dimaafkan, tapi mereka senantiasa berbicara masalah takfir (pengkafiran, dan masalah pengkafiran pemerintah dengan main tunjuk, dan bahwa Pemimpin (pemerintah) yang ada di Al-Jaza’ir adalah pemimpin kafir, dan tak ada bai’at baginya, tak perlu didengar dan ditaati, baik dalam perkara ma’ruf maupun mungkar, karena mereka (pemuda FIS) ) telah mengkafirkan pemimpin, dan menganggap Al-Jaza’ir sebagai negara kafir.

   Syaikh: Negara Kafir?

   Penanya: Betul, negara kafir, wahai Syaikh! Karena mereka (pemuda FIS) berkata, “Sesungguhnya undang-undang yang ada di Al-Jaza’ir adalah undang-undang barat, bukan undang-undang Islam”. Pertama, apa nasihat anda kepada para pemuda tersebut? Apakah ada bai’at bagi pemerintah Al-Jaza’ir, dan perlu diketahui –wahai Syaikh- bahwa pemimpin itu biasa melakukan umrah, dan menampakkan syi’ar-syi’ar Islam.

   Syaikh: Dia sholat atau tidak?

   Penanya: Dia sholat, wahai Syaikh!

   Syaikh: Kalau begitu, ia (pemimpin) itu muslim.

   Penanya: Dia datang kesini (Saudi), dan berumrah sekitar 20 hari atau sebulan. Dia pernah di Kerajaan Saudi Arabia.

   Syaikh: Selama ia masih sholat, maka ia adalah muslim, tak boleh dikafirkan. Oleh karena ini, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tatkala ditanya tentang pemberontakan melawan pemerintah, maka beliau bersabda,

لاَ مَا صَلَّوْا

“Jangan, selama ia masih sholat”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Imaroh (62)]

Tidak boleh memberontak melawan pemimpin itu, tak boleh mengkafirkannya!! Barangsiapa yang mengkafirkannya, maka dia (yang mengkafirkannya) dengan perbuatannya ini menginginkan masalah kembali dari nol. Baginya ada bai’at, dia adalah pemimpin yang syar’iy”. [Lihat Fatawa Al-Ulama’ Al-Akabir fi maa Uhdiro min Dima’ fil Jaza’ir (hal. 173-175) karya Syaikh Abdul Malik Romadhoni Al-Jaza’ir, cet. Maktabah Al-Asholah Al-Atsariyyah, 1422 H].

 

No Responses

Leave a Reply