Orang Berpuasa Laksana Penjelajah

Orang Berpuasa Laksana Penjelajah

Oleh: Al-Ustadz Abdul Qadir Abu Fa’izah -Hafizhahullah- 

gambar orang puasa laksana seorang penjelajah

Di zaman dahulu, sebagian manusia melakukan pengembaraan, penjelajahan dan perlawatan ke berbagai negeri, tanpa membawa bekal yang memadai. Perkara itu mereka lakukan dalam rangka mencari ilmu, berjihad, berdagang, dan ibadah.

Penjelajah dan pengembara pada zaman itu melakukan perjalanan panjang dengan berbekal kesabaran, keuletan, keikhlasan, dan semangat membara dalam melintasi hutan-hutan, gurun-gurun tandus, dan samudera “yang tak bertepi”.

Bila anda merenungi HAKIKAT PUASA yang disyariatkan dalam agama yang suci ini, maka anda akan mendapati bahwa seorang yang berpuasa dalam memetik janji Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berupa surga, maka mereka harus memiliki sifat para penjelajah dan pengembara yang tangguh, berupa sifat kesabaran, keuletan, keikhlasan, dan semangat membara dalam meraih kebaikan dan fadhilah yang Allah janjikan bagi seorang hamba yang berpuasa.

Dengannya, Allah -Azza wa Jalla- menggelari orang yang gemar berpuasa dengan “penjelajah” (السَّائِحُوْنَ).

Inilah yang disinyalir oleh Allah -Tabaroka wa Ta’ala- dalam firman-Nya,

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآَمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ  [التوبة/112

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang menjelajah (yakni, berpuasa), yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At-Taubah : 112) 

Adh-Dhohhak bin Muzahim Al-Hilaliy -rahimahullah- berkata,

كل شيء في القرآن (السائحون)، فإنه الصائمون.

“Segala sesuatu di dalam Al-Qur’an (yang berbunyi) : “السائحون” (orang-orang yang menjelajah), maka sesungguhnya itu adalah orang-orang yang berpuasa.” [Lihat Jami’ Al-Bayan (14/505/no. 17306)]

 Orang-orang yang berpuasa diperumpamakan dan disamakan dengan orang yang menjelajah dan mengembara, karena para pengembara seringkali kehabisan bekal makanan dan minuman dalam perjalanannya. Namun semua itu mereka lalui dengan penuh kesabaran, dan semangat yang menggelora.

Muhammad bin Manzhur Al-Mishriy -rahimahullah- berkata,

قيل إِنما قيل للصائم سائح لأَن الذي يسيح متعبداً يسيح ولا زاد معه إِنما يَطْعَمُ إِذا وجد الزاد والصائم لا يَطْعَمُ أَيضاً فلشبهه به سمي سائحاً

“Konon, orang yang berpuasa disebut dengan “penjelajah”, karena orang yang melakukan penjelajahan (pengembaraan) dalam rangka ibadah, ia melakukan penjelajahan, tanpa ada bekal bersamanya. Ia hanya makan, bila mendapati bekal (yakni, makanan). Sementara orang yang berpuasa juga tidak makan. Karena adanya kesamaan itu, maka orang yang berpuasa dinamai ‘penjelajah’.” [Lihat Lisan Al-Arab (2/492)]

Demikianlah seyogianya orang yang berpuasa; ia lalui detik-detik waktunya dengan kesabaran dan keikhlasan dalam menahan makan,minumnya, serta syahwatnya, agar ia terlatih di kemudian hari dalam meninggalkan semua perkara yang dilarang oleh Allah -Tabaroka wa Ta’ala-. Semua itu ia lakukan dalam rangka mengambil dan meraih cita-cita termulia berupa keridhoan Allah -Azza wa Jalla-.

Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy -rahimahullah- berkata,

فَالصَّائِمُ مُسْتَمِرٌّ عَلَى الطَّاعَةِ فِيْ تَرْكِ مَا يَتْرُكُهُ مِنَ الطَّعَامِ وَغَيْرِهِ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ السَّائِحِ.

“Jadi, orang yang berpuasa terus-menerus di atas ketaatan dalam meninggalkan sesuatu yang (seharusnya) ia tinggalkan berupa makan, dan lainnya. Ia sekedudukan dengan orang yang menjelajah.” [Lihat Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (8/270)]

Para pembaca yang budiman, bila anda kembali menengok akhir ayat di atas, maka anda akan menjumpai bahwa ternyata orang-orang yang berpuasa memiliki dua keutamaan : (1) ia digolongkan oleh Allah sebagai orang-orang beriman, (2) ia diberi kabar gembira atas kesabaran dan keikhlasannya dalam berpuasa. Alangkah bahagianya orang-orang yang dipuji oleh Allah -Tabaroka wa Ta’ala- dalam ayat tersebut, sebab semua perkara yang ada pada mereka adalah lambang keimanan, bahkan keimanan itu sendiri.

Al-Imam Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,

الإيمان يشمل هذا كله، والسعادة كل السعادة لمن اتصف به.

“Keimanan mencakup semua perkara ini. Kebahagiaan semuanya ada pada orang yang tersifati dengannya.” [Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (4/219), karya Ibnu Katsir, tahqiq Sami bin Salamah, cet. Dar Thoybah, 1420 H]

Di dalam ayat itu, Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menggunakan kata “orang yang menjelajah” (السَّائِحُوْنَ), maka yang dimaksud adalah SAFAR (perjalanan jauh) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan merealisasikan perintah-Nya, seperti safar dalam rangka berjihad, mencari ilmu agama, berhijrah, berhaji atau berumroh. [Lihat At-Tahrir wa At-Tanwir (11/41)

Nah, sebuah kebaikan di atas kebaikan, bila seorang hamba berpuasa saat ia melakukan safar ketaatan dan kebaikan.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللهِ بَعَّدَ اللهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Siapa saja yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan jauhkan wajahnya dari neraka sejarak 70 tahun.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2840), dan Muslim (1153)]

Al-Imam Ibnu Daqiq Al-Ied Al-Qusyairiy Asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan kata “jalan Allah” dalam hadits di atas,

العرف الأكثر استعماله في الجهاد، فإن حمل عليه كانت الفضيلة لاجتماع العبادتين، قال: ويحتمل أن يراد بسبيل الله طاعته كيف كانت، والأول أقرب، ولا يعارض ذلك أن الفطر في الجهاد أولى لأن الصائم يضعف عن اللقاء كما تقدم تقريره في “باب من اختار الغزو على الصوم” لأن الفضل المذكور محمول على من لم يخش ضعفا، ولا سيما من اعتاد به فصار ذلك من الأمور النسبية، فمن لم يضعفه الصوم عن الجهاد فالصوم في حقه أفضل ليجمع بين الفضيلتين

“Kebiasaan terbanyak, penggunaan kata “jalan Allah” dalam jihad. Jika kata itu diarahkan kepada makna itu, maka keutamaan tersebut terjadi karena berkumpulnya dua ibadah. Kata itu juga mengandung kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan “jalan Allah” adalah ketaatan kepada-Nya, bagaimana pun bentuknya. Namun makna pertama lebih dekat (kepada kebenaran). Hal itu tidaklah bertentangan karena (alasan) berbuka dalan jihad adalah lebih utama, sebab orang orang berpuasa akan lemah dalam menghadapi musuh, sebagaimana telah berlalu penetapannya dalam “Bab : Orang yang Memilih Berperang Dibandingkan Puasa,” karena keutamaan tersebut diarahkan bagi orang yang tidak khawatir lemah. Terlebih lagi orang yang terbiasa dalam berpuasa. Maka jadilah hal itu perkara yang bersifat relatif. Karenanya, siapa yang tidak dilemahkan oleh puasa dari mengikuti jihad, maka puasa baginya adalah lebih afdhol (utama), agar ia dapat mengumpulkan dua keutamaan (yakni, keutamaan jihad dan puasa,- pen.).” [Lihat Fathul Bari (6/48), Mir’ah Al-Mafatih (7/78), dan Al-Afnan An-Nadiyyah Syarh Manzhumah As-Subul As-Sawiyyah (3/178)]

Sungguh sebuah keutamaan bagi seorang hamba, perjalanan, penjelajahan, dan perlawatannya di atas ibadah puasa, menuju pintu ibadah lainnya, demi menggapai ridho Allah -Tabaroka wa Ta’ala-. Itulah kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada taranya.

Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [التوبة : 72

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Sedang keridhoan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. At-Taubah : 72)

Al-Imam Al-Hasan bin Abil Hasan Al-Bashriy -rahimahullah- berkata,

يَصِلُ إِلَى قُلُوبِهِمْ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ مِنَ اللَّذَّةِ وَالسُّرُورِ مَا هُوَ أَلَذُّ عِنْدَهُمْ وَأَقَرُّ لأَعْيُنِهِمْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَصَابُوهُ مِنْ لَذَّةِ الْجَنَّةِ.

“Akan sampai ke hati mereka dari keridhoan Allah berupa kelezatan, dan kegembiraan yang lebih lezat di sisi mereka, dan lebih menyejukkan mata mereka dibandingkan segala sesuatu yang mereka dapatkan berupa kelezatan surga.” [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Aziz (2/219), karya Ibnu Abi Zamanin Al-Murriy Al-andalusiy, cet. Al-Faruq Al-Haditsah, 1423 H]

No Responses

Leave a Reply