Menyatukan Langkah dalam Beribadah

Menyatukan Langkah dalam Beribadah

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah-

[Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa, Sulsel]

Allah -Ta’ala- mengutus Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagai rasul pembawa agama sempurna yang memiliki tujuan-tujuan mulia (maqoshidusy syari’ah). Diantara tujuan-tujuan mulia itu, Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Kitab dan As-Sunnah memerintahkan agar senantiasa berjama’ah, dan bersatu di atas al-haq. Sebaliknya, Allah -Ta’ala- dan Rasul-Nya melarang tafarruq (perpecahan), dan ikhtilaf (perselisihan).

Allah -Ta’ala- berfirman dalam memerintahkan kita bersatu di atas agama-Nya,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ  [آل عمران/103]

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kalian mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran: 103).

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata saat menafsiri ayat ini, “Allah -Ta’ala- memerintahkan mereka berjama’ah (bersatu), dan melarang mereka dari perpecahan. Berbagai macam hadits telah datang membawa larangan berpecah (bercerai-berai), dan perintah berkumpul, dan bersatu”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (1/514)]

Allah -Ta’ala- juga berfirman,

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ  [آل عمران/105]

“Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. (QS. Ali Imran: 105)

Al-Imam Ath-Thobariy -rahimahullah- berkata memaknai ayat ini, “Allah –Jalla Tsana’uh- berfirman, “Janganlah kalian berpecah-belah –wahai orang-orang beriman- dalam hal agama kalian, seperti berpecahnya mereka itu dalam agamanya; janganlah kalian melakukan perbuatan mereka, dan (jangan pula) mencontoh jalan hidup mereka dalam agama kalian. Lantaran itu kalian mendapatkan siksa Allah yang berat, seperti yang mereka dapatkan”. [Lihat Jami’ Al-Bayan (3/385)]

Berangkat dari ayat semisal ini, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  dalam segala kesempatan dan waktunya berusaha memerintahkan agar para sahabatnya menjaga jama’ah, dan persatuan, serta melarang perpecahan, dan segala wasilah (sarana) dan sebab yang mengantarkan kepada perpecahan.

Ambil saja sebagai contoh, kisah yang dituturkan oleh Sahabat Wahsyi bin Harb -radhiyallahu ‘anhu-,

أَنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ, إِنَّنَا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ: فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُوْنَ ؟ قَالُوْا: نَعَمْ. قَالَ: فَاجْتَمِعُوْا عَلَى طَعَامِكُمْ, وَاذْكُرُوْا اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ, يُبَارِكْ لَكُمْ فِيْهِ

“Para sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami biasa makan, tapi tidak kenyang!? Beliau bersabda, “Barangkali kalian bercerai-berai? Mereka bilang, “Ya”. Beliau bersabda, “Berkumpullah (berjama’ahlah) kalian pada makananmu, sebutlah nama Allah (baca bismillah, pent.) padanya, niscaya kalian akan diberi berkah padanya”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (3764), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3286), dan lainnya. Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (664)]

Demikian pula, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mensyari’atkan bagi ummatnya –khususnya pria- untuk menghadiri sholat lima waktu secara berjama’ah (bersama dan berkumpul). Hikmahnya, untuk menghilangkan sebab-sebab perselisihan, dan mempererat tali persatuan diantara kaum muslimin. Inilah sebabnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  pernah bersabda,

مَا مِنْ ثَلاَثَةٍ فِيْ قَرْيَةٍ وَلاَ بَدْوٍ لاَ تُقَامُ فِيْهِمُ الصَّلاَةُ إِلاَّ قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ , فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ,

قَالَ زَائِدَةُ : قَالَ السَّائِبُ يَعْنِيْ بِالْجَمَاعَةِ الصلاةُ فِي الْجَمَاعَةِ

“Tak ada tiga orang di suatu kampung, maupun pedalaman; tidak ditegakkan diantara mereka sholat, kecuali setan sungguh akan menguasai mereka. Lazimilah jama’ah, karena serigala hanyalah memangsa kambing yang jauh (dari kelompoknya, -pent.)”.

Za’idah berkata, “As-Sa’ib berkata,”Beliau memaksudkan dengan jama’ah adalah sholat bersama jama’ah”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (547), dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (847). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 1067)]

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah melihat para sahabat berpencar ketika singgah, dan tidur. Ketika berpencar dan bercerai-berai dalam kondisi seperti itu adalah salah satu sebab setan akan melahirkan perpecahan, dan perselisihan diantara mereka, maka Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang mereka berpencar saat tidur.

 Abu Tsa’labah Al-Khusyaniy -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

كَانَ النَّاسُ إِذَا نَزَلُوْا مَنْزِلاً تَفَرَّقُوْا فِي الشِّعَابِ وَاْلأَوْدِيَةِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ تَفَرُّقَكُمْ فِيْ هَذِهِ الشِّعَابِ وَاْلأَوْدِيَةِ إِنَّمَا ذَلِكُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ. فَلَمْ يَنْزِلْ بَعْدَ ذَلِكَ مَنْزِلاً إِلاَّ انْضَمَّ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ حَتَّى يُقَالَ لَوْ بُسِطَ عَلَيْهِمْ ثَوْبٌ لَعَمَّهُمْ

“Dahulu manusia (para sahabat) jika singgah pada suatu tempat, maka mereka berpencar di jalan-jalan setapak, dan lembah-lembah. Maka Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya berpencarnya kalian di jalan-jalan setapak, dan lembah-lembah ini, itu hanyalah dari setan. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  tak pernah singgah setelah itu, kecuali, sebagian mereka bergabung dengan yang lainnya sampai dikatakan,”Andaikan dihamparkan pada mereka suatu pakaian, niscaya pakaian itu akan meliputi mereka”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (2628). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 3914)]

Di dalam hadits-hadits ini, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  memerintahkan kita bersatu, dan berjama’ah; jangan bercerai-berai, walaupun dalam perkara makan, tidur, sholat lima waktu, dan lainnya. Karena hal-hal remeh seperti ini akan melahirkan perpecahan, dan perselisihan, bahkan kebencian jika dilalaikan.

Jadi, bersatu, dan berjama’ah adalah perkara yang amat signifikan dan urgen. Tanpa jama’ah, dan persatuan, maka kehidupan akan terasa susah, dan sempit. Persatuan dan jama’ah adalah rahmat yang akan mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  bersabda,

وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“Berjama’ah adalah rahmat, dan berpecah adalah adzab”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/102/no. 4419). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 667)]

Perpecahan, dan perselisihan akan menimbulkan kebencian, permusuhan, putusnya hubungan baik, kecurigaan, sikap acuh tak acuh, kurangnya kekompakan diantara kaum muslimin, sehingga tidur tak jadi enak; makan pun tak sedap; aktifitas tak konsen, tapi disibukkan oleh berbagai macam pikiran.

Abdullah bin Abbas -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

قَضْمُ الْمِلْحِ فِي الْجَمَاعَةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَكْلِ الْفَالُوْذَجِ فِي الْفُرْقَةِ

“Mengisap garam dalam kondisi berjama’ah (bersatu) lebih aku cintai dibandingkan makan kue Faludzaj (kue paling enak, pent.) dalam kondisi berpecah”. [HR. Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (7521), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (10/305)]

Jadi, perselisihan, dan perpecahan dalam beragama adalah perkara yang tercela, termasuk di dalamnya berselisih dalam menetapkan awal Romadhon, dan hari raya sehingga lahir jurang, dan pemisah antara rakyat dan penguasanya. Jika seseorang dicela karena bercerai-berai ketika makan, dan tidur, maka tentunya lebih layak ia tercela jika bercerai berai ketika berpuasa, dan berhari raya.

      Fatwa Ahlul Ilmi tentang Penetapan Awal Romadhon

Sudah menjadi polemik berkepanjangan di negeri kita, adanya khilaf sepanjang tahun tentang penentuan hilal (awal) bulan Romadhon. Karenanya, kita akan menyaksikan keanehan ketika kaum muslimin terkotak-kotak, dan terpecah dalam urusan ibadah mereka. Ada yang berpuasa –misalnya- tanggal 2 September karena mengikuti negeri lain; ada yang puasa tanggal 1 karena mengikuti pemerintah; ada yang berpuasa tanggal 3, karena mengikuti negeri yang lain lagi, sehingga terkadang muncul beberapa versi. Semua ini timbul karena jahilnya kaum muslimin tentang agamanya, dan kurangnya mereka bertanya kepada ahli ilmu.

Jika memang terjadi khilaf dan perbedaan antara rakyat dan pemerintahnya dalam menetapkan awal Romadhon, dan hari raya, nah manakah versi yang benar, dan sikap yang lurus bagi seorang muslim dalam menghadapi khilaf seperti ini? Menjawab masalah ini, tak ada salahnya –dan memang seyogyanya- kita kembali kepada petunjuk ulama’ kita, karena merekalah yang lebih paham agama.

Pada kesempatan ini, kami akan mengangkat fatwa para ulama’ Islam yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’, yang beranggotakan: Syaikh Abdul Aziz bin Baz (Ketua), Abdur Razzaq Afifiy (Wakil Ketua), Abdullah bin Ghudayyan (staf), Abdullah bin Mani’ (Staf), dan Abdullah bin Qu’ud (Staf). Fatwa berikut ini kami nukilkan dari kitab yang berjudul “Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah”, (hal. 94-), kecuali fatwa Syaikh Nashir Al-Albaniy.

  • Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah (no. 313)

Soal, “Kami mendengar dari siaran radio berita permulaan masuknya puasa di Kerajaan Saudi Arabia, di waktu kami tidak melihat adanya hilal di negeri Pantai Gading , Guinea, Mali, dan Senegal; walaupun telah ada perhatian untuk melihat hilal. Oleh sebab itu, terjadi perselisihan diantara kami. Maka diantara kami ada yang berpuasa, karena bersandar kepada berita yang ia dengar dari siaran radio, namun jumlah mereka sedikit.diantara kami;  Ada yang menunggu sampai ia melihat hilal di negerinya, karena mengamalkan firman Allah-Subhanahu wa Ta’la-,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barang siapa diantara kalian yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”; sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

صُوْمُوْا لِِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya”;

sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-,

“Bagi setiap daerah ada ru’yahnya”.sungguh telah terjadi perdebatan yang sengit antara dua kelompok ini.maka berilah fatwa kepada kami tentang hal tersebut.

Al-Lajnah Ad-Da’imah menjawab, “Tatkala orang-orang dahulu dari kalangan para ahli fiqhi berselisih di dalam masalah ini; setiap orang diantara mereka memiliki dalil, maka -jika telah nyata terlihatnya hilal, baik melalui radio, atau yang lainnya di selain tempatmu-, wajib bagi kalian untuk mengembalikan masalah puasa atau tidaknya kepada penguasa umum (tertinggi) di negara kalian. Jika ia (pemerintah) telah memutuskan berpuasa atau tidak, maka wajib atas kalian untuk mentaatinya, karena sesungguhnya keputusan penguasa akan menghilangkan adanya perselisihan di dalam masalah seperti ini. Atas dasar ini,  pendapat untuk berpuasa atau tidak akan bersatu, karena mengikuti keputusan kepala negara kalian; masalah akhirnya bisa terselesaikan.

Adapun kalimat yang berbunyi, “bagi setiap tempat memiliki ru’yah”, ini bukanlah hadits dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Itu hanyalah merupakan ucapan kelompok yang menganggap berbedanya matla’ (waktu & tempat munculnya) hilal dalam memulai puasa Ramadhan dan akhirnya.

Hanya kepada Allah kita meminta taufiq dan semoga Allah memberi sholawat kepada Nabi klta–Shollallahu ‘alaihi wasallam-, keluarga serta para sahabatnya”. P

  • Fatwa Syaikh Nashir Al-Albaniy -rahimahullah-

Syaikh Nashir Al-Albaniy -rahimahullah- berkata dalam Tamam Al-Minnah (hal. 398-399), “Sampai nanti negeri-negeri Islam bisa bersatu di atas hal itu (puasa & hari raya, ed), maka sesungguhnya sekarang aku memandang wajib bagi rakyat di setiap negara untuk berpuasa bersama negara (pemerintah)nya; tidak berpuasa sendiri-sendiri. Akhirnya, sebagian rakyat berpuasa bersama negara (pemerintah)nya, dan sebagian lagi puasa bersama negara lain”; negara (pemerintah) lebih dahulu berpuasa ataukah terlambat, karena di dalam hal ini terdapat sesuatu yang bisa memperluas perselisihan di sebuah rakyat sebagaimana yang terjadi di sebagian negeri-negeri Arab sejak beberapa tahun yang silam, Wallahul Musta’an”.

Inilah sekelumit pembahasan seputar penentuan sikap dalam berpuasa dan berhari raya berdasarkan petunjuk Al-Kitab dan Sunnah, serta kalam para ulama. Semoga menjadi sebab yang menyatukan langkah kaum muslimin dalam beribadah kepada Allah di hari yang penuh kebahagiaan.

 

No Responses

Leave a Reply