Menilik Akar Sejarah Perayaan Isra’ – Mi’raj

Menilik Akar Sejarah Perayaan Isra’-Mi’raj

(Sebuah Renungan Historis)

oleh :

Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

[Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa]

Setiap tahunnya kaum muslimin Indonesiamerayakan sebuah hari yang mereka klaim sebagai “Hari Isra’ dan Mi’raj”, sebuah hari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dahulu di-isra’-kan (diperjalankan) dari Makkah menuju Baitul Maqdis pada waktu malam. Setelah itu, beliau di-mi’raj-kan (dinaikkan) ke langit untuk menerima sebuah syariat agung, yaitu syariat sholat.

Yang populer di Indonesia, tanggal terjadinya Isra’ dan Mi’raj adalah tanggal 27 Rajab, sehingga setiap tanggal tersebut mereka melakukan perayaan dan peringatan Isra’ dan Mi’raj secara bersama.

Nah, benarkah Isra’-Mi’raj terjadi pada tanggal itu? Ini adalah sebuah pertanyaan besar yang membutuhkan jawaban ilmiah.

Para pembaca yang budiman, tanggal, bulan dan tahun terjadinya dua peristiwa itu (Isra’ dan Mi’raj) telah menjadi perselisihan dan polemik di kalangan para ulama dan sejarawan Islam.

Perselisihan itu digambarkan secara detail oleh Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy Asy-Syafi’iy -rahimahullah- saat beliau berkata,

“Sungguh telah diperselisihkan tentang waktu Mi’raj. Ada yang bilang, “Hal itu sebelum diutusnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-“. Ini adalah pendapat yang ganjil, kecuali jika hal itu dipahami Mi’raj terjadi ketika itu dalam mimpi sebagaimana telah berlalu[1].

Namun kebanyakan ulama berpendapat bahwa Mi’raj terjadi setelah diutusnya beliau. Kemudian mereka (mayoritas ulama) berselisih lagi. Ada yang bilang, “Hal itu terjadi setahun sebelum hijrah”. Pendapat ini dinyatakan oleh Ibnu Sa’ad dan selainnya. Pendapat inilah juga dipastikan oleh An-Nawawiy dan Ibnu Hazm berlebihan sampai ia menukil ijma’ (kesepakatan ulama) tentang hal itu. Namun klaim itu tertolak. Karena di dalam hal itu terdapat perselisihan yang banyak sekitar 10 pendapat.

Diantara pendapat-pendapat itu, apa yang disampaikan oleh Ibnul Jawziy bahwa mi’raj itu delapan bulan sebelum hijrah. Ada yang berpendapat, “Mi’raj enam bulan sebelum hijrah”. Pendapat kedua ini disampaikan oleh Abur Robi’ bin Salim. Ibnu Hazm menyampaikan konsekuensi pendapat yang sebelumnya. Karena, ia (ibnu Hazm) berkata, “Mi’raj itu di bulan Rajab tahun 12 dari kenabian”.

Ada yang berpendapat lagi, “Mi’raj itu 11 bulan sebelum hijrah”. Pendapat ini dipastikan oleh Ibrahim Al-Harbiy saat ia berkata, “Mi’raj terjadi pada Rabiul Akhir, setahun sebelum hijrah”. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnul Munayyir dalam Syarh As-Siroh karya Ibnu Abdil Barr.

Ada yang bilang, “Mi’raj terjadi setahun lebih dua bulan sebelum hijrah. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Abdil Barr.

Ada yang bilang, ” Mi’raj terjadi setahun lebih 3 bulan sebelum hijrah”. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Faris.

Ada yang bilang, “Mi’raj terjadi setahun lebih 5 bulan sebelum hijrah”. Pendapat ini dinyatakan oleh As-Suddiy. Pendapatkan ini dikeluarkan (diriwayatkan) oleh Ath-Thobariy dan Al-Baihaqiy dari jalur As-Suddiy. Berdasarkan keterangan ini, maka mir’raj terjadi di bulan Syawwal atau Ramadhan dengan membuang selebihnya dari bulan itu dan Rabi’ Al-Awwal. Pendapat ini dipastikan oleh Al-Waqidiy. Berdasarkan lahiriahnya, pendapat ini sesuai dengan pendapat yang disebutkan oleh Ibnu Qutaibah.

Disampaikan oleh Ibnu Abdil Barr bahwa mi’raj terjadi 18 bulan sebelum hijrah.

Menurut Ibnu Sanad dari Ibnu Abi Sabroh bahwa mi’raj terjadi di bulan Romadhon, 18 bulan sebelum hijrah.

Ada yang bilang, “Mi’raj itu terjadi di bulan Rajab”. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Abdil Barr dan dikuatkan oleh An-Nawawiy dalam Ar-Roudhoh.

Ada yang bilang, “Mi’raj terjadi tiga tahun sebelum hijrah”. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnul Atsir.

Iyadh menyampaikan –dan diikuti oleh Al-Qurthubiy dan An-Nawawi—dari Az-Zuhri bahwa mi’raj itu terjadi lima tahun sebelum hijrah. Pendapat ini dikuatkan oleh Iyadh dan ulama yang mengikutinya. Beliau berhujjah, tak ada khilaf bahwa Khodijah sholat bersama Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- setelah diwajibkannya sholat dan tak ada khilaf bahwa Khodijah wafat sebelum hijrah, entah tiga tahun dan sejenisnya atau lima tahun. Tak ada khilaf juga bahwa diwajibkannya sholat pada malam Isra’.

Aku (Ibnu Hajar) katakan, “Dalam seluruh apa yang ia nafikan (tiadakan) berupa khilaf, perlu dikoreksi.

Adapun yang pertama, sungguh Al-Askariy telah menyampaikan bahwa Khodijah wafat tujuh tahun sebelum hijrah. Ada yang bilang empat tahun sebelum hijrah. Dari Ibnul A’robiy bahwa Khodijah mati pada tahun hijrah.

Adapun perkara kedua, maka sungguh pewajiban sholat telah diperselisihkan tentangnya.

Ada yang bilang, “Pewajiban itu di awal pengutusan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Kewajiban sholat itu dua rakaat di waktu pagi

dan dua rakaat di waktu petang. Yang diwajibkan pada malam Isra’ hanyalah sholat lima waktu.

Adapun perkara yang ketiga, maka sungguh telah berlalu dalam biografi Khodijah berdasarkan hadits A’isyah di Kitab Bad’il Kholqi  bahwa A’isyah memastikan bahwa Khodijah   wafat sebelum diwajibkannya sholat.

Yang menjadi standar bahwa maksud orang yang menyatakan (Khodijah wafat) setelah diwajibkannya sholat, yaitu sholat yang diwajibkan sebelum sholat lima waktu, jika hal itu benar. Sedang maksud A’isyah dalam ucapannya, “Khodijah wafat sebelum diwajibkannya sholat”, yakni sholat lima waktu. Jadi, dikompromikan antara dua pendapat itu dengan hal itu. Terharuskan darinya bahwa Khodijah wafat sebelum Isra’.

Adapun perkara yang keempat, maka tentang tahun kematian Khodijah terdapat perselisihan yang lain. Al-Askariy menyampaikan dari Az-Zuhriy bahwa Khodijah wafat tujuh tahun setelah beliau (Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-) diutus. Lahiriah hal itu, bahwa perkara itu (yakni, kematian Khodijah) adalah enam tahun sebelum hijrah.  Al-Askariy membedakan pendapat ini dari pendapat orang yang menyatakan, “Sesungguhnya selang waktu antara pengutusan dengan hijrah adalah 10 tahun”. [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (7/203) oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar, cet. Dar Al-Fikr]

Inilah penjelasan rinci dari seorang ulama sekaligus sejarawan Islam, Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- tentang perselisihan yang cukup sengit diantara para sejarawan dalam menentukan waktu terjadinya Isra’ dan Mi’raj.

Sisi lain, bahwa setiap pendapat tidak memiliki sandaran kuat berupa dalil Al-Qur’an dan Sunnah atau penjelasan para sahabat yang diriwayatkan dengan sanad yang shohih. Setiap ulama hanya ber-ijtihad dalam hal itu, sehingga pendapatnya mungkin benar, dan mungkin pula salah.

Bahkan Al-Imam Ibnu Abi Syamah Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- menyatakan bahwa penetapan waktu 27 Rajab sebagai malam Isra’-Mi’raj merupakan kedustaan. Beliau -rahimahullah- berkata,

وذكر بعض القصاص أن الأسرى كان في رجب وذلك عند أهل التعديل والتجريح عين الكذب

“Sebagian qushshosh (tukang cerita)[2] menyebutkan bahwa Isra’ terjadi di bulan Rajab. Hal itu menurut para ahli jarh dan ta’dil (yakni, ahli hadits) adalah inti kedustaan”. [Lihat Al-Ba’its ala Inkar Al-Bida’ wa Al-Hawadits (hal. 74), oleh Abu Syamah, cet. Darul Huda, 1398 H]

Jadi, waktu terjadinya diperselisihkan, mulai harinya, tanggalnya, bulannya sampai tahunnya. Semua menjadi perselisihan.

Al-Imam Abul Abbas Ahmad Ibnu Abdil Halim Al-Harroniy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,

“Tak ada dalil yang diketahui tentang bulan (dari malam Isra’-Mi’raj), puluhannya[3] dan hari persisnya. Bahkan nukilan-nukilan tentang hal itu semuanya terputus dan bertentangan. Tak ada di dalamnya sesuatu yang bisa dipastikan dan tidak disyariatkan bagi kaum muslimin untuk mengkhususkan malam yang dianggap sebagai malam Isra’ dengan sholat malam dan lainnya”. [Lihat Zaadul Ma’ad (1/58) oleh Ibnul Qoyyim, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1421 H]

Dari komentar dan perselisihan para ulama di atas, maka kita tidak boleh menetapkan, memastikan, ataupun meyakini bahwa peristiwa Isra’-Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab. Hanya Allah yang mengetahui kapan peristiwa tersebut terjadi!!

Ini menunjukkan bahwa pelaksanaan “Peringatan Isra’-Mi’raj” tidaklah dibangun di atas sebuah kepastian.

Anggaplah waktunya diketahui terjadi tanggal sekian dan bulan sekian, maka tetap harus kita pertanyakan, “Apakah Peringatan Isra’-Mi’raj adalah perkara yang dianjurkan dan dibolehkan dalam agama?”

Jawaban globalnya, Peringatan Isra’-Mi’raj adalah perkara yang terlarang dalam agama, sebab ia merupakan perkara yang diada-adakan dan disusupkan dalam agama. Sebuah perkara yang tak memiliki dasar dan contoh dalam agama. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tak pernah melakukannya dan tak pula menganjurkannya.

Tak heran apabila peringatan ini tak pernah dilakukan dan tak dikenal di kalangan masyarakat sahabat dan tabi’in. Peringatan Isra’-Mi’raj tidak diketahui asal-usulnya secara pasti siapa yang pertama kali melakukannya. Yang jelas, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat, para tabi’in dan termasuk para imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’iy dan Ahmad) sama sekali tak pernah melakukannya; dan memang tak mungkin mereka akan lakukan, sebab mereka tahu bahwa suatu urusan yang berkaitan dengan agama dan tak ada dalilnya merupakan perkara sia-sia yang tak mendapatkan ganjaran pahala, bahkan dosa yang mereka dapatkan. Kenapa? Karena pelakunya telah memasukkan sesuatu yang bukan syariat Allah ke dalam syariat Islam.

Ketahuilah bahwa para salaf telah bersepakat bahwa membuat hari (waktu perayaan) selain hari-hari yang disyariatkan, termasuk bid’ah yang diada-ada, yang telah dilarang oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam agama, -pent), karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”.[4]

Beliau juga melarang suatu perkara yang diada-ada dalam agama, sementara tak ada dasarnya, dengan sabdanya,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ)

“Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan termasuk darinya, maka ia (perkara) itu tertolak”. [HR. Al-Bukhoriy, dan Muslim][5]

Dalam riwayat Muslim,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tak ada padanya urusan (agama) kami, maka ia (amalan) itu tertolak”.[6]

Peringatan Isra’-Mi’raj merupakan bid’ah (ajaran yang tak berdasar dalam agama) lagi diada-adakan oleh manusia sepeninggal generasi terbaik umat ini. Parasahabat dan tabi’in tak pernah sama sekali mengerjakannya. Padahal andaikan memang peringatan dan perayaan maulid adalah baik, maka pasti mereka akan mendahului kita. Sebab, mereka adalah kaum yang lebih perhatian dan lebih besar semangatnya dalam melakukan kebaikan dan amal sholih dibanding kita. [Lihat Al-Bida’ Al-Hawliyyah (hal. 266) oleh Abdullah At-Tuwaijiriy]

Dari hadits-hadits itulah para ulama kita dari zaman ke zaman terus mengingkari orang-orang yang membuat ajaran baru, diantaranya melakukan peringatan Isra’-Mi’raj, Maulid Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, peringatan Nuzulul Qur’an dan lainnya. Sejak munculnya bid’ah yang disebut dengan Peringatan Isra’-Mi’raj, para ulama memberikan pengingkaran. Karena, semua bid’ah adalah sesat dalam agama!!!

Al-Imam Ibnu Hajj Al-Abdariy yang wafat pada tahun 737 H telah berkata,

ومن البدع التي أحدثوها فيه أعني في شهر رجب ليلة السابع والعشرين منه التي هي ليلة المعراج

“Diantara bid’ah-bid’ah yang mereka (manusia) ada-adakan di dalamnya, yakni di bulan Rajab, pada malam ke-27 Rajab, yang merupakan malam Mi’raj”.[7] [Lihat Al-Madkhol (1/294), cet. Dar Al-Fikr, 1401 H]

Seorang ulama berkebangsaan Mesir, Syaikh Muhammad Abdus Salam Khodhir Asy-Syuqoiriy -rahimahullah- berkata,

وقراءة قصة المعراج ، والاحتفال لها في ليلة السابع والعشرين من  رجب بدعة ، وتخصيص بعض الناس لها بالذكر والعبادة بدعة ، والأدعية  التي تقال في رجب ، وشعبان ، ورمضان كلها مخترعة مبتدعة ، ولو كان خيراً  لسبقونا إليه ، والإسراء لم يقم دليل على ليلته ، ولا على شهره ،

“Membaca kisah Mi’raj dan melakukan perayaan Mi’raj pada malam ke-27 Rajab adalah bid’ah (ajaran yang tak berdasar). Pengkhususan yang dilakukan oleh sebagian orang pada malam itu dengan berdzikir dan beribadah merupakan bid’ah. Doa-doa yang diucapkan pada bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan, semuanya diada-ada dan bid’ah[8]. Andaikan hal itu baik, maka mereka (para salaf) akan mendahului kita kepadanya. Isra’, tak dalil yang menunjukkan tentang malamnya dan tidak pula tentang bulannya”. [Lihat As-Sunan wa Al-Mubtada’at Al-Muta’alliqoh bil Adzkar wa Ash-Sholawat (hal. 143) oleh Asy-Syuqoiriy, dengan tahqiq Syaikh Muhammad Kholil Harros, cet. Dar Al-Fikr]

Seorang ulama besar di zaman ini, Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah- berkata saat ditanya tentang sebagian bid’ah yang dilakukan oleh manusia di bulan Rajab,

تخصيص رجب بصلاة الرغائب أو الاحتفال بليلة ( 27 ) منه يزعمون أنها ليلة الإسراء والمعراج كل ذلك بدعة لا يجوز ، وليس له أصل في الشرع ، وقد نبه على ذلك المحققون من أهل العلم ، وقد كتبنا في ذلك غير مرة وأوضحنا للناس أن صلاة الرغائب بدعة ، وهي ما يفعله بعض الناس في أول ليلة جمعة من رجب ، وهكذا الاحتفال بليلة ( 27 ) اعتقادا أنها ليلة الإسراء والمعراج ، كل ذلك بدعة لا أصل له في الشرع ، وليلة الإسراء والمعراج لم تعلم عينها ، ولو علمت لم يجز الاحتفال بها لأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يحتفل بها ، وهكذا خلفاؤه الراشدون وبقية أصحابه رضي الله عنهم ، ولو كان ذلك سنة لسبقونا إليها . والخير كله في اتباعهم والسير على منهاجهم

“Pengkhususan bulan Rajab dengan Sholat Rogho’ib dan Perayaan malam ke-27 Rajab (yakni, perayaan Isra’-Mi’raj)[9]; mereka mengklaim bahwa malam itu adalah Malam Isra’-Mi’raj. Semua itu adalah bid’ah yang tidak boleh, tak memiliki landasan dalam syariat. Hal itu telah diingatkan oleh para ulama muhaqqiqin. Kami telah berulang kali menulis dalam perkara itu dan kami telah jelaskan kepada manusia bahwa Sholat Rogho’ib adalah bid’ah, yaitu sholat yang dilakukan oleh sebagian orang di malam Jumat pertama dari Bulan Rajab. Demikian pula perayaan malam ke-27 Rajab karena meyakininya sebagai malam Isra’ dan Mi’raj. Semua itu adalah bid’ah (ajaran yang tak berdasar dalam agama).

Malam Isra’-Mi’raj tidaklah diketahui waktunya secara persis. Andaikan pun diketahui, maka tak boleh merayakannya. Karena, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tidaklah merayakannya. Demikian pula Al-Khulafa’ Ar-Rosyidin dan seluruh sahabatnya -radhiyallahu anhum-. Andaikan perayaan itu adalah sunnah, niscaya mereka akan mendahului kita kepadanya. Semua kebaikan hanyalah dalam mengikuti mereka berjalan di atas manhaj (metode beragama) mereka”. [Lihat Majallah Ad-Da’wah (1566), Jumadal Akhiroh, 1417 H dan Majmu Fatawa wa Rosa’il Mutanawwi’ah Asy-Syaikh Abdil Aziz bin Baaz (11/389)]

Parapembaca yang budiman, para ulama kita telah memberikan pengingkaran terhadap peringatan dan perayaan yang tidak ada contohnya dalam agama. Di dalam Islam tak ada hari yang boleh kita rayakan, kecuali dua saja. Selain itu, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang kita untuk merayakannya.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- saat datang ke Madinah, kaum Anshor memiliki dua hari yang mereka peringati dan rayakan, yaitu Hari Nairuz dan Hari Mahrojan. Andaikan merayakan suatu hari (selain Iedul Fitri dan Iedul Adh-ha) adalah perkara yang boleh, maka Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pasti tak akan menghapus peringatan dan perayaan Hari Nairuz dan Hari Mahrojan dan cukup beliau ubah saja ritual yang ada di dalamnya agar sesuai Islam. Tapi ternyata beliau tak membiarkan hari itu diperingati. Bahkan beliau menghapuskan dan membersihkannya dari syariat kita.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada para sahabat Anshor,

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِيْ الجَاهِلِيَةِ وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ النَّحَرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Saya datang kepada kalian, sedang kalian memiliki dua hari, kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyyah. Allah sungguh telah menggantikannya dengan hari yang lebih baik darinya, yaitu: hari Nahr (baca: Iedul Adh-ha), dan hari fithr (baca: Iedul Fitri)”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1134), An-Nasa`iy dalam Sunan-nya (3/179), Ahmad dalam Al-Musnad (3/103. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1134)].

Perhatikanlah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menghapus dua hari yang bid’ah tersebut, yakni Hari Nairuz dan Hari Mahrojan. Kemudian tak ada diantara sahabat yang protes dan berdalih, “Kenapa harus dihapus!! Itukan bid’ah hasanah!!!”

Ini menunjukkan bahwa di dalam Islam, tak ada istilah bid’ah hasanah (baik), semua bid’ah (ajaran yang tak berdasar dalam agama) adalah buruk dan tercela!!!!

Para pembaca yang budiman, di dalam agama kita, seseorang tak boleh merayakan, menyucikan, dan mengagungkan hari dan tempat, tanpa didasari oleh dalil wahyu berupa ayat atau hadits Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Oleh karena itu, para ulama melarang perayaan-perayaan yang tidak pernah dilakukan di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Sebab, perayaan dan peringatan merupakan bentuk perayaan, penyucian, dan pengagungan hari, tanpa hujjah dan dalil wahyu!!!!

 Kesimpulan:

  1. Isra’ dan Mi’raj adalah dua peristiwa besar yang dialami oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam satu malam sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits shohih.
  2. Peristiwa Isra’-Mi’raj tidak diketahui kapan terjadinya secara pasti. Karenanya, para ulama berselisih dalam menentukannya.
  3. Semua pendapat tak ada yang didukung oleh dalil kuat.
  4. Perayaan Isra’-Mi’raj pada tanggal 27 Rajab merupakan perayaan yang dibangun di atas sebuah persangkaan –dari sisi historis-.
  5. Peringatan dan Perayaan Isra’-Mi’raj adalah bid’ah (ajaran baru yang tak memiliki dasar dalam agama).
  6. Peringatan Isra’-Mi’raj tidak diketahui secara pasti kapan dan siapa yang pertama kali yang melakukannya. Yang jelas, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat, tabi’in dan imam-imam yang empat tidaklah pernah melakukannya atau menganjurkannya!!
  7. Seorang muslim tidak dibenarkan menciptakan hari-hari yang ia peringati dan rayakan, selain dua hari ied : Iedul Fitri dan Iedul Adh-ha.
  8. Para ulama telah membid’ahkan peringatan Isra’-Mi’raj sejak kemunculannya.[10]
  9. Di dalam urusan agama, tak istilah “Bid’ah Hasanah”. Semua bid’ah adalah kesesatan, sedang kesesatan itu tempatnya adalah neraka!!!

[1] Disini jangan dipahami bahwa Al-Hafizh meyakini bahwa peristiwa Isra’-Mi’raj terjadi dalam mimpi. Beliau hanya mengisyaratkan adanya khilaf dalam hal itu. Wallahu a’lam.

[2] Qushshosh (tukang cerita) adalah orang-orang yang biasa menceritakan sesuatu, tanpa memperhatikan keabsahan dan kebenaran cerita yang ia sampaikan. [Lihat Talbis Iblis (hal. 151) karya Ibnul Jawziy, dengan tahqiq Dr. Sayyid Al-Jumailiy, cet. Dar Al-Kitab Arobiy, 1405 H]

[3] Yakni, tidak diketahui di puluhan berapakah malam tersebut? Wallahu A’lam.

[4] HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4607), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2676), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (42 & 44). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (2455), dan Takhrij Al-Misykah (165)

[5] HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2697), dan Muslim dalam Shohih-nya (1718)

[6] HR. Muslim dalam Shohih-nya (1718)

[7] Setelah itu beliau sebutkan beberapa bid’ah dan kemungkaran yang dilakukan pada malam itu.

[8] Maksudnya, beberapa doa yang dibikin-bikin oleh kaum awam pada bulan-bulan itu, tanpa merujuk kepada sunnah dan haditsnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

[9] Bid’ahnya sholat Rogho’ib telah dijelaskan oleh Al-Imam Al-Izz Ibnu Abdis Salam dalam kitab Musajalah Ilmiyyah baina Al-Imamain Al-Jalilain: Al-Izz Ibni Abdis Salam wa Ibnish Sholah Haula Sholah Ar-Rogho’ib Al-Mubtada’ah, dengan tahqiq dan takhrij Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy, cet. Al-Maktab Al-Islamiy, 1405 H.

[10] Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang mengingkari Peringatan Isra’-Mi’raj dan lainnya, bukanlah orang-orang Saudi Arabiyyah saja sebagaimana yang dihembuskan para ahli bid’ah diIndonesia. Mereka hanya sebagian diantara orang-orang yang ikut mengingkarinya!!

No Responses

Leave a Reply