Malang Nian Penyembah Harta

Malang Nian Penyembah Harta

gambar uang emasHarta, tentu banyak yang menginginkannya. Dari berbagai macam golongan manusia berlomba untuk mendapatkan dan mengumpulkan harta sehingga harta memperbudak dirinya. Tua, muda, muslim, nashara, yahudi, dan selainnya menginginkan harta. Beragam cara pun dilakukan untuk mendapatkannya. Halal dan haram bukan lagi menjadi pedoman hidup dalam mendapatkan harta bagi sebagian manusia.

Tragisnya lagi, sebagian orang melakukan kesyirikan dalam mendapatkan harta. Berbagai macam bentuk kesyirikan pun dilakukan, mulai dari mendatangi kuburan yang mereka anggap orang shalih atau wali, membuat sesajian pada pohon-pohon besar, mendatangi para dukun, “orang pintar” atau para normal, memakai jimat atau rajah-rajah yang mereka yakini dapat menolong dan mendatangkan rizki bagi mereka. Padahal semua itu adalah syirik dan perbuatan haram!!

Para Pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa tak ada yang mampu mendatangkan kebahagiaan dan rezki, selain Allah. Adapun para dukun, dan semodelnya, maka mereka adalah makhluk yang lemah, dan tidak mengetahui pintu-pintu rezki. Andai tahu, para dukun pasti mendahului kalian, dan tak akan mengemis di hadapan manusia.

Oleh karena itu, Allah -Ta’ala- berfirman,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [الأنعام/17]

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan dia sendiri. dan jika dia mendatangkan kebaikan kepadamu, Maka dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS.Al-An’am :17)

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal (paranormal), lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (no. 9171). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Ash-Shohihah (3387)]

Harta merupakan salah satu nikmat Allah yang dikaruniakan kepada manusia. Keindahan dan kenikmatannya demikian mempesona. Lebih dari itu, harta adalah sebuah realita yang melingkupi kehidupan umat manusia. Jati dirinya yang berbasis fitnah (ujian), telah banyak melahirkan berbagai macam masalah dan gonjang-ganjing kehidupan. Dia sanggup membuat pertikaian antar keluarga yang memiliki pertalian darah, dia sanggup mengalirkan darah sebagian manusia, dan dia sanggup menciptakan api peperangan. Bahkan harta sanggup memurtadkan kaum muslimin, berpaling dari agama.

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

“Bergegaslah kalian untuk beramal (karena akan datang) fitnah-fitnah ibarat potongan-potongan malam yang gelap. (Disebabkan fitnah tersebut) di pagi hari seorang beriman dan sore harinya berubah menjadi kafir, di sore hari ia beriman dan keesokan harinya berubah menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.” [HR. Muslim dalam Al-Iman (no. 118)]

Manusia sendiri merupakan makhluk Allah yang berjati diri amat zhalim dan amat bodoh. Allah -Subhanahu wa Ta’la- berfirman dalam QS.Al-Ahzab :72,

إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً  [الأحزاب/72]

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Bukti kejahilan dan kebodohan itu, tatkala harta datang kepadanya, ketertarikan hati pun sangat kuat terhadap harta. Sedang harta sering membuat manusia rakus sehingga ia menempuh segala macam cara dalam meraihnya, tanpa peduli halal-haramnya. Semua itu mereka lakukan karena kerakusan dan kecintaan yang mendalam terhadap harta duniawi.

Allah -Ta’ala- berfirman,

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا  [الفجر/20]

“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.”.  (QS.Al-Fajr : 20)

Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لَوْ أَنَّ لابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Andai anak cucu Adam memiliki sebuah lembah emas, maka ia menginginkan agar ia memiliki dua lembah emas. Tak ada yang bisa memenuhi (menutupi) mulutnya, kecuali tanah (kuburan). Allah akan memberikan tobat kepada orang yang bertobat”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Ar-Riqoq (no. 6439), dan At-Tirmidziy dalam Az-Zuhd (2337)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata usai membawakan beberapa hadits yang semakna dengan hadits di atas dari sahabat yang berbeda, “Di dalam hadits-hadits yang ada dalam bab ini terdapat celaan terhadap sikap rakus dan serakah pada harta. Dari sinilah mayoritas salaf lebih mengutamakan untuk mengambil sedikit (seadanya) dari dunia, merasa cukup dengan harta yang sedikit, dan ridho terhadap sesuatu ala kadarnya”. [Lihat Fathul Bari (11/310), cet. Darus Salam]

Dunia memang menggiurkan, maka tak mengherankan bila (kebanyakan) manusia teramat berambisi mengumpulkan dan menumpuk-numpuk harta. Berbagai macam cara mereka lakukan, dari yang haram sampai cara-cara yang penuh kesyirikan. Lihatlah saat mereka mendatangi dukun-dukun, paranormal dan sejenisnya, karena mengharapkan jampi-jampi, jimat-jimat dari sang dukun agar usahanya dapat sukses. Bagi pedagang, mereka datang ke dukun agar dagangannya laris dan lancar; bagi pengusaha agar bisnisnya lancar dan banyak; bagi pejabat agar jabatannya tetap dan naik terus; bagi para artis minta dipasangkan susuk agar tetap cantik dan menarik. Begitulah seterusnya yang semuanya berujung pada penumpukan materi dan penyembahan harta. Jika sudah seperti ini, harta tak lagi menjadi rahmat, namun menjadi celah turunnya siksa.

          Kondisi serba berkecukupan, dan kaya tak jarang membuat seseorang lupa daratan, melampaui batas dan sombong, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an tentang seorang yang bernama Qorun, seorang kaya raya dari Bani Israil (anak paman Nabi Musa -alaihis salam-) yang telah melampaui batas lagi sombong. Allah berfirman,

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآَتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لاَ تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْفَرِحِينَ (76) وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ اْلآَخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (77) قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلاَ يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ (78) فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (79) وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلاَ يُلَقَّاهَا إِلاَّ الصَّابِرُونَ (80) [القصص/76-80]

Sesungguhnya Qorun adalah termasuk kaum Musa. Maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Qorun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Qorun kepada kaumnya dalam kemegahannya. berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qorun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar”. (QS. Al-Qoshash :76-80)

          Al-Imam Al-Qurtubiy -rahimahullah- berkata, “Allah menerangkan (dalam ayat-ayat tersebut) bahwa Qorun telah diberi perbendaharaan harta yang amat banyak hingga ia lupa diri. Semua yang dimilikinya itu tidak mampu menyelamatkannya dari azab Allah -Ta’ala- sebagaimana pula yang telah dialami oleh Fir’aun”. [Lihat Tafsir Qurthubiy (13/321), cet. Darul Hadits]

          Para pembaca, demikianlah fenomena mengerikan tentang harta dan perannya yang amat besar dalam mengantarkan anak manusia kepada kesombongan. Al-Qur’an dilecehkan dan orang-orang berilmu pun direndahkannya. Padahal seluruh harta dan kekayaan yang dimilikinya itu tidak akan dapat menyelamatkan dari azab Allah -Ta’ala-.

          Hendaknya kita mengambil pelajaran dari kisah Qorun. Harta dan kekayaan yang menumpuk tidaklah mampu menyelamatkannya dari azab Allah -Ta’ala- . bahkan ia dan seluruh kekayaannya dibenamkan ke dalam bumi!? Na’udzu billahi min dzalik.

          Lantaran itu, tidaklah pantas bagi seorang muslim yang diberi karunia harta oleh Allah -Ta’ala- untuk berbangga diri dengan hartanya. Bukankah harta itu merupakan titipan Allah -Ta’ala- yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat?? Betapa besar fitnah harta telah mencengkeram dengan kuat umat manusia di jaman ini. “Time is Money” (waktu adalah uang) begitu slogan hidup yang mereka pegang, tidak boleh waktu terlewat sedikit pun kecuali dengan mengahasilkan uang. Pagi, siang, dan malam tidak ada lagi bedanya, asalkan bisa digunakan untuk mencari uang. Maka mereka para penumpuk dan pencari harta akan terus berlomba-lomba mencarinya tanpa memperhatikan waktu dan halal-haramnya sehingga muncullah istilah “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal”. Padahal semua harta yang kita miliki ini akan kita tinggalkan dan akan diminta pertanggungjawabannya di hari kiamat. Dari manakah harta itu diperoleh dan untuk apa harta itu digunakan?

          Fenomena di atas akan kian nyata bila anda mencermati berbagai sarana untuk mendapatkan sumber ekonomi yang tidak lagi memperhatikan norma-norma syariat. Praktik riba merajalela. Mulai dari yang berkedok Islam dengan mengatasnamakan “Syari’ah” atau yang dipraktikkan secara terang-terangan. Persaingan usaha pun makin tak sehat, jegal sana jegal sini, suap sana suap situ. Bahkan nyawa pun siap dipertaruhkan. Tak mengherankan bila kehidupan bisnis dan industri saat ini banyak diwarnai kasus-kasus korupsi. Praktik penipuan kerap kali dilakukan dengan cara-cara samar, licik dan keji. Bahkan untuk meraup harta orang lain pun tak jarang ditempuh lewat jalur hukum, dalam kondisi pelakunya sadar bahwa ia sedang berbuat aniaya.  Allah -Ta’ala- berfirman,

وَلاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِاْلإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ [البقرة/188]

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS.Al-Baqarah :188)

Perjudian dengan barbagai jenisnya, menjadi jalan pintas yang paling digemari sebagian orang dalam mencari uang; mulai dari sepak bola sampai permainan kartu. Padahal Allah telah mengharamkan perjudian.

Sementara itu, jika kita mencermati orang-orang yang diberi karunia harta oleh Allah -Ta’ala-, maka beragam pula modelnya. Ada yang menghambur-hamburkan hartanya dengan boros (di jalan yang tidak jelas, bahkan haram) dan ada pula yang menjadi kikir, bakhil alias pelit.  Karena itu, bila anda termasuk orang yang mendapatkan karunia harta dari Allah -Ta’ala-, jadikanlah harta anda sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah!! Tunaikanlah segala hak yang berkaiatan dengan harta benda! Keluarkanlah zakat, berinfaklah kepada fakir miskin, santunilah anak yatim, bantulah orang-orang yang sedang kesusahan, dan lain sebagainya. Jauhkanlah diri anda dari perbuatan menghambur-hamburkan harta (boros), sebagaimana halnya menjauhi sifat kikir.

Yang terpenting lagi, carilah harta dengan jalan yang benar, dan jangan anda diperhamba dan disibukkan oleh harta dan dunia kalian dari kewajiban-kewajiban agama, seperti sholat pada waktunya, mengerjakan haji, mengeluarkan zakat dan infaq, menghadiri majelis ilmu, menyambung tali kerabat, menjenguk orang sakit, melayat atau mengantar jenazah, dan lainnya diantara kewajiban-kewajiban agama.

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

No Responses

Leave a Reply