Kisah Palsu Anak Yatim di Hari ‘Ied

Kisah Palsu Anak Yatim di Hari Ied

Oleh: Al-Ustadz ‘Abdul Qadir Abu Fa’izah -Hafizhahullah-

gambar yatim

Kisah palsu yang disandarkan kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, teramat banyak jumlahnya. Semua itu disebabkan karena beberapa faktor. Diantaranya, tersebarnya kejahilan di kalangan kaum muslimin tentang ilmu hadits. Tak luput, kejahilan tentang ilmu hadits ini, juga mewarnai sebagian besar muballigh dan dai kita.

Padahal Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- jauh hari telah bersabda,

وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya(110), dan Muslim dalam Shohih-nya (3)]

 Al-Allamah Ibnul Arabiy Al-Malikiy -rahimahullah- berkata,

أَنَّ الحَدِيث الضَّعِيف لَا يُعْمَلُ بِهِ مُطلقًا

“Hadits dho’if tidak boleh diamalkan secara mutlak”. [Lihat Al-Muqni’ fi Ulum Al-Hadits (hal. 104) oleh Sirojuddin Ibnul Mulaqqin Al-Anshoriy, tahqiq Abdullah bin Yusuf Al-Judai’, cet. Dar Fawwaz lin Nasyr, 1413 H]

Para pembaca yang budiman, dalam beberapa momen ied yang berbeda, kami telah mendengarkan dari beberapa orang dai, sebuah hadits yang asing rasanya di telinga kami. Itulah KISAH BOCAH YATIM yang dijumpai oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam kondisi si bocah bersedih karena kehilangan sang ayah tercinta.

Kisah ini kembali menelisik telinga kami di hari ied (1 Syawwal 1437 H/6 Juli 2016 M) dari seorang khothib yang menyampaikan khutbah ied di Alun-alun (dulu Lapangan Gaswon), Wonomulyo, Polman, Sulawesi Barat.

Rasa penasaran dan ingin tahu tentang keabsahan kisah itu, mendorong kami untuk membuka kitab-kitab hadits yang merangkum dan menghimpun hadits-hadits dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Sebelum kami jelaskan kedudukan kisah anak yatim ini, maka ada baiknya kami bawakan teks dan redaksi kisah tersebut sebagaimana yang tersebar di lisan para dai, muballigh dan khothib di hari ied, dan juga tersebar di dunia maya :

خَرَجَ الرَّسُوْلُ يَوْمًا لأداء صلاة العيد، فرأى أطفالاً يلعبون ويمرحون، ولكنه رأى بينهم طفلاً يبكي، وعليه ثوب ممزق، فاقترب منه، وقال (( مالكَ تبكي ولا تلعب مع الصبيان؟؟))
فأجابه الصبيُّ : أيها الرجلُ دَعْنِيْ وشأني ، لقد قُتِلَ أبِيْ في إحدى الحروبِ وتزوجتْ أُمِّيْ، فأكلوا مالي وأَخْرَجُوْنِيْ من بيتي، فليس عندي مأكل ولا مشرب ولا ملبس ولا بيت آوِيْ إِلَيْهِ !! فعندما رايتُ الصبيانَ يلعَبونَ بسرور تَجَدَّدَ حُزْنِيْ فَبَكَيْتُ عَلَى مُصِيْبَتِيْ .
فأخذ الرسول بيد الصبي، وقال له : (( أَمَا تَرْضَى أَنْ أَكُوْنَ لَكَ أَباً، وَفَاطِمَةُ أُخْتاً، وَعَلِيٌّ عَمًّا وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ أَخَوَيْنِ ؟؟؟((

فعرَف الصبيُّ الرسولَ، وَقَالَ : كَيْفَ لاَ أَرْضَى بِذَلِكَ، يَارَسُوْلَ اللهِ !!
فأَخَذَهُ الرَّسولُ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) إلَى بَيْتِهِ وَكَسَاهُ ثَوْبًا جَدِيْدًا وَأَطْعَمَهُ وَبَعَثَ فِيْ قَلْبِهِ السُّرُوْرَ . فَرَكَضَ الصبيُّ إلَى الزِّقَاقِ لِيَلْعَبَ مَعَ الصِّبْيَانِ.

فقال له الصبيةُ : لَقَدْ كُنْتَ تَبْكِيْ، فَمَا الَّذِيْ جَعَلَكَ أَنْ تَكُوْنَ فَرِحًا وَمَسْرُوْرًا ؟؟؟
فقالَ اليتيمُ : كُنْتُ جَائِعًا فَشَبِعْتُ، وَكُنْتُ عَارِيًا فَكُسِيْتُ، وَكُنْتُ يَتِيْمًا فَأَصْبَحَ رَسُوْلُ للهِ أَبِيْ، وَفَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ أُخْتِيْ، وَعَلِيٌّ عَمِّيْ، وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ إِخْوَتِيْ .

“Pada suatu hari Rasul keluar untuk melaksanakan shalat ‘ied. Beliau melihat anak-anak kecil sedang bermain-main dan bersuka ria. Namun beliau melihat di antara mereka, ada seorang anak kecil yang sedang menangis dan berpakaian robek-robek. Lalu Rasulullah mendekati anak itu, seraya bersabda, “Mengapa engkau menangis, dan mengapa pula engkau tak bermain dengan anak-anak lain?”

Anak kecil itu menjawab, “Pak, tinggalkan aku dan keadaanku ini. Ayahku terbunuh dalam suatu peperangan. Ibuku menikah lagi dan mereka memakan hartaku, mengeluarkanku dari rumahku sehingga aku tidak punya makanan, tidak punya minuman, tidak punya pakaian, dan tidak punya pula rumah untuk kutinggali. Maka tatkala aku melihat anak-anak lain bermain dengan gembira, semakin bertambahlah kesedihanku sehingga aku menangis atas musibah yng menimpaku.”

Kemudian Rasulullah memegang tangan anak kecil itu seraya bersabda, “Relakah engkau jika aku menjadi ayah bagimu, Fathimah menjadi saudari bagimu, ‘Ali menjadi pamanmu, dan al-Hasan serta Husain sebagai saudaramu?”

(Mendengar itu), tahulah anak itu bahwa lelaki di hadapannya itu adalah Rasul, lantas dia pun berkata, “Bagaimana mungkin aku tak rela menerima itu, wahai Rasulullah?”

Lalu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun membawa anak kecil itu ke rumah beliau. Beliau memakaikan pakaian baru kepada anak kecil itu, memberinya makanan dan melahirkan kegembiraan ke dalam hatinya.

Kemudian anak kecil itu pun berlari ke jalan setapak untuk bermain bersama anak-anak kecil lainnya.

Seorang anak perempuan kecil bertanya kepadanya, “Tadi kau menangis, sekarang apa yang membuatmu begitu gembira dan senang?”

Anak yatim itu berkata, “Tadi aku lapar namun sekarang kenyang, tadi aku tak berpakaian layak namun sekarang pakaianku bagus, tadi aku anak yatim namun sekarang aku berayahkan Rasulullah, bersaudarikan Fathimah az-Zahra’, berpamankan ‘Ali, dan bersaudarakan al-Hasan dan al-Husain.” –demikian redaksi kisahnya-

Kisah yatim dengan redaksi seperti ini adalah hadits atau kisah palsu yang tidak ada asal-muasalnya di dalam kitab-kitab hadits yang ditulis oleh para ahli hadits.

Kami telah berusaha mencari kisah ini di dalam kitab-kitab hadits dan tarikh (sejarah), namun hasilnya nihil.

Tidak heran apabila Al-Allamah Muhammad bin Abdis Salam Asy-Syuqoiriy -rahimahullah- berkata,

وقد فتشت عليها كثيراً في  الكتب فلم أجدها إلا في كتاب التحفة المرضية ، وهو قد حوى من الخرافات  والأكاذيب والترهات شيئا كثيراً

“Seringkali aku melakukan pemeriksaan terhadap kisah ini di dalam kitab-kitab. Namun aku tak menemukannya, selain dalam kitab At-Tuhfah Al-Mardhiyyah. Sedang ia (kitab At-Tuhfah Al-Mardhiyyah) sungguh mengandung berbagai khurafat, kedustaan-kedustaan, dan bencana-bencana yang amat banyak.” [Lihat As-Sunan wa Al-Mubtada’at (hal. 90), oleh Asy-Syuqoiriy, cet. Dar Al-Fikr]

Kitab At-Tuhfah Al-Mardhiyyah yang ditulis oleh Abdul Majid bin Ali Al-‘Adawiy, seorang penjaga kubur di Mesir. Konon kabarnya, ia salah satu penjaga kubur Zainab bintu Ali bin Abi Tholib. Zainab bintu Ali biasa dinamai “Zainab Al-Kubro”.[1]

Kubur yang dianggap sebagai kubur Zainab Al-Kubro ini, disembah dan dikultuskan oleh orang-orang jahil pada hari ini di Kairo, Mesir. Disinilah Abdul Majid Al-Adawiy bekerja sebagai penjaga kubur yang dikultuskan dan disembah!! Sungguh sebuah kesyirikan!!

Jika anda membuka kitab At-Tuhfah Al-Mardhiyyah ini, maka anda akan menemukan berbagai khurafat, kedustaan-kedustaan, dan bencana-bencana yang amat banyak, sebagaimana yang diterangkan oleh Asy-Syuqoiriy -rahimahullah- yang juga senegara dengan Abdul Majid Al-Adawiy.

Perlu diketahui bahwa kitab At-Tuhfah Al-Mardhiyyah ini bukanlah kitab-kitab hadits yang memiliki sanad bersambung kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Ia hanya bercerita dan menukil sesuatu yang sering kali tidak diketahui asal-muasalnya, termasuk kisah si yatim ini. [Lihat Idhohul Maknun (1/258), dan Hadiyyah Al-Arifin (2/190) oleh Isma’il Basya Al-Baghdadiy]

Di dalam redaksi hadits ini terdapat berbagai keganjilan yang tidak mungkin akan terjadi di zaman Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- :

Pertama : Ibu si yatim itu menikah lagi, lalu memakan harta si yatim. Andaikan itu terjadi, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- selaku pemerintah di zamannya, pasti akan menuntut sang ibu dan mengadilinya.

Kedua : Anak itu diusir dari rumah. Ibu si yatim adalah seorang muslimah dan sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Kelakuan seperti ini tidak mungkin akan dilakukan oleh masyarakat sahabat yang dibina langsung oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Dari sini anda tahu bahwa kisah ini mengandung pelecehan kepada seorang sahabat (dalam hal ini sang ibu dari anak yatim itu), bahkan pelecehan bagi Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- selaku pembina masyarakat sahabat yang telah gagal membina mereka di bawah bimbingan wahyu.

Mungkinkah seorang sahabat yang dikenal dengan sifat kasih dan sayangnya yang kuat, kemudian mengusir buah hatinya dari rumahnya, lalu berkeliaran kemana-mana memelas kasih dan mengharap asa dari manusia saat itu? Jawabnya, tentu tidak!!

Mungkinkah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- membiarkan kezoliman besar itu atas anak yatim yang lemah, tanpa teguran dari beliau kepada sang ibu? Jawabnya, tentu tidak!!

Coba kita perhatikan kisah di bawah ini, bagaimana Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- memberikan hak kepada seorang anak dari ayahnya.

Dari Ma’an bin Yazid -radhiyallahu anhu- berkata,

كَانَ أَبِي يَزِيدُ أَخْرَجَ دَنَانِيرَ يَتَصَدَّقُ بِهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَجُلٍ فِي الْمَسْجِدِ فَجِئْتُ فَأَخَذْتُهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ وَاللهِ مَا إِيَّاكَ أَرَدْتُ فَخَاصَمْتُهُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ

“Dahulu bapakku ‘Yazid’ mengeluarkan beberapa dinar untuk beliau sedekahkah. Ia pun meletakkannya di sisi seorang laki-laki di dalam masjid. Kemudian aku datang mengambilnya seraya membawa dinar-dinar itu kepada bapakku.

Beliau pun berkata, “Demi Allah, bukan kamu yang aku inginkan.”

Aku pun melaporkannya kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, lalu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

“Kamu (sang bapak) memperoleh apa yang niatkan, wahai Yazid, dan kamu (sang anak) mendapatkan apa yang kamu ambil (berupa dinar-dinar tersebut), wahai Ma’an.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 1422)]

Perhatikan hadits ini baik-baik, niscaya anda mendapatkan sebuah pelajaran bahwa ketika Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengetahui bahwa sang anak berhak mengambil sedekah yang berasal dari bapaknya sendiri, maka Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- langsung mengadili keduanya dan memberikan hak sang anak.

Lalu bagaimana mungkin Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- membiarkan si yatim dirampas hak dan warisannya serta diusir dari rumahnya oleh ibunya sendiri, lalu si ibu dibiarkan bersenang-senang?! Jelas ini tidak mungkin terjadi!!

Ada kemungkinan kecil bahwa kisah ini adalah kisah yang telah dicampur aduk, direkayasa, diramu, dan dirakit dari karangan-karangan para dai dengan hadits berikut:

Dari Bisyr bin Aqrobah Al-Juhaniy -radhiyallahu anhu- berkata,

اسْتُشْهِدَ أَبِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ غَزَوَاتِهِ، فَمَرَّ بِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي فَقَالَ لِي: ” أَسْكُتْ أَمَا تَرْضَى أَنْ أَكُونَ أَنَا أَبُوكَ وَعَائِشَةُ أُمُّكَ ؟ ” قُلْتُ: بَلَى، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ

“Bapakku mati syahid bersama Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sebagian peperangannya. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melewatiku, sedang aku menangis. Beliau bersabda kepadaku, “Diamlah, tidakkah engkau senang bila aku menjadi ayahmu dan A’isyah menjadi ibumu?”

Aku jawab, “Ya, senang. Bapak dan ibuku tebusanmu wahai Rasulullah.” [HR. Al-Bukhoriy dalam At-Tarikh Al-Kabir (no. 1751), Al-Bazzar sebagaimana dalam Kasyful Astar (no. 1910), Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (10/300), dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (no. 11044). Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (no. 3249)]

Dari riwayat ini tampak bagi kita bahwa di dalamnya tidak disebutkan kezoliman ibunya dan terusir si yatim dari rumahnya setelah ibunya menikah.

Ringkasnya, kisah yang dibawakan oleh para khotib di hari ied dengan redaksi yang panjang tersebut adalah kisah palsu yang tidak boleh disandarkan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Seorang muslim –apalagi khotib- haram hukumnya menyebarkan kisah itu[2], berdalil dengannya, dan menyandarkannya kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Adapun kisah Bisyr bin Aqrobah -radhiyallahu anhu-, maka kisahnya benar terjadi di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Tapi apakah Bisyr bin Aqrobah yang dimaksudkan dalam kisah panjang dan masyhur itu, wallahu a’lam.

Yang jelas, tak ada hubungan antara dua kisah itu, dan tak ada keterangan yang menjelaskan bahwa ibu Bisyr bin Aqrobah pernah melakukan kezoliman itu kepada Bisyr yang kala telah yatim.

……………..

Selesai kami tulis, Selasa, 7 Syawwal 1437 H/12 Juli 2016 M, di Ma’had As-Sunnah, Makassar.

[1] Para ahli tarikh (sejarah) telah memperbincangkan kebenaran kubur yang dinisbahkan kepada Zainab Al-Kubro. Para ulama tarikh tersebut telah bersepakat bahwa Zainab Al-Kubro tidak pernah menginjakkan kakinya di Tanah Mesir, sehingga mereka mengingkari keberadaan kubur itu sebagai kubur Zainab Al-Kubro.  Ini sama keadaannya dengan kubur palsu yang disandarkan kepada Husain di Mesir. [Lihat An-Nujum Az-Zahiroh fi Akhbar Muluk Mishr wa Al-Qohiroh oleh Ibnu Taghri Bardi, Al-Khuthoth Al-Maqriziyyah, Husnul Muhadhoroh & Darrus Sahabah karya As-Suyuthiy, Al-Kawakib As-Sayyaroh oleh Ibnuz Zayyat Al-Anshoriy, Tuhfah Al-Ahbab oleh As-Sakhowiy, Al-Fadho’il Al-Bahiroh oleh Al-Qodhi Ibnu Zhohiroh, dll.]

[2] Kecuali jika sertai dengan penjelasan tentang kepalsuannya.

No Responses

Leave a Reply