Kiblat, Haruskah Berubah?

Kiblat, Haruskah Berubah?

oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

gambar ka'bah

 

Beberapa waktu yang silam, kaum muslimin dikagetkan dengan polemik yang muncul seputar masalah penetapan arah kiblat, sehingga banyak diantara kaum muslimin yang bingung, karena tiba-tiba arah kiblat mereka “harus” berubah. Realita ini mengundang pro dan kontra diantara kaum muslimin, bahkan terkadang berujung kepada perdebatan, pertengkaran, perpecahan, dan perkelahian antara jama’ah dalam sebuah masjid. Sekelompok diantara mereka ada yang bertahan dengan arah kiblat yang lama, dengan alasan bahwa andaikan kiblatnya salah, maka sholat kaum muslimin tak ada yang sah, kecuali hari ini. Kelompok lainnya bersikeras bahwa kiblat harus berubah dan berpindah arah, sebab teknologi dan ilmu falak membuktikan arah kiblat yang benar.

Menjawab polemik yang membingungkan ini, maka ada baiknya kita kembali kepada penjelasan para ulama yang mumpuni, berdasarkan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah An-Nabawiyyah. Kini buletin mungil At-Tauhid mengajak anda mengikuti pembahasan berikut dengan otak dan pikiran yang jernih, tanpa disertai dengan perasaan atau sikap ta’ashshub (fanatik) kepada seseorang atau kelompok tertentu.

  • Arti Kiblat

Kiblat kaum muslimin dalam beribadah adalah Ka’bah yang terletak di Kota Makkah Al-Mukarromah. Ka’bah disebut dengan “qiblat” (kiblat), karena manusia menghadap kepadanya, dan juga karena orang yang menunaikan sholat menghadap kepadanya.

Ka’bah juga biasa disebut dengan Baitullah. Ka’bah disebut demikian karena ketinggiannya.

Ada yang menyatakan bahwa ka’bah artinya kamar, karena bentuknya segi empat menyerupai kamar. [Lihat Mu’jam Maqoyiis Al-Lughoh (hal. 895) karya Ibnu Faris, Kifayah Al-Akhyaar fi Halli Ghoyah Al-Ikhtishor (1/139) oleh Abu Bakr Al-Hishniy ]

  • Hikmah Keberadaan Kiblat

Kiblat adalah wasilah (sarana) untuk menyatukan dan menyeragamkan ibadah kaum muslimin menuju kepada sebuah arah. Dahulu di awal Islam kaum muslimin sholat menghadap kepada Baitul Maqdis yang sekarang berada di Palestina. Semoga Allah -Azza wa Jalla- mengembalikannya ke tangan kaum muslimin dari tangan-tangan zhalim kaum Yahudi.

Setelah itu Allah memerintahkan kaum muslimin di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- agar mengubah haluan dalam beribadah, yaitu sholat menghadap Ka’bah. Perubahan ini berdasarkan permohonan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada Allah sebagaimana yang terdapat dalam Surah Al-Baqoroh,

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ  [البقرة/144]

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit. Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al-Baqoroh : 144)

 

Sebagian ulama menjelaskan tentang sebab perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis menuju ke Ka’bah bahwa Ka’bah adalah kiblat kakek Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, yaitu Nabi Ibrahim -‘alaihissalam- sehingga beliau senang jika diperintah oleh Allah menghadap kepadanya dibandingkan menghadap Baitul Maqdis. Lalu Allah pun memerintahkan beliau menghadap Ka’bah dan kaum muslimin sampai hari ini. Selain itu, hikmahnya untuk mementahkan hujjah kaum Yahudi atas kaum muslimin karena kesamaan kaum muslimin dengan kaum Yahudi dalam perkara kiblat. Sebenarnya masih ada hikmah lain di balik itu, hanya Allah yang tahu semua itu. [Lihat Fataawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (6/312)]

  • Kedudukan kiblat dalam ibadah

Kiblat kaum muslimin yang bernama Ka’bah adalah pusat peribadatan kaum muslimin. Para ulama Islam telah menerangkan bahwa seorang yang mengerjakan sholat wajib menghadap Ka’bah, sebab ia adalah syarat sahnya sholat. Jika tidak menghadap Ka’bah, maka sholatnya tak sah berdasarkan firman Allah -Ta’ala-,

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ  [البقرة/144]

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit. Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al-Baqoroh : 144)

 

Al-Wazir Ibnu Hubairoh -rahimahullah- berkata, “Mereka (para ulama) telah bersepakat bahwa menghadap kiblat adalah syarat sahnya sholat berdasarkan firman-Nya -Azza wa Jalla- (kemudian beliau menyebut ayat di atas), kecuali karena ada udzur dalam dua kondisi: kondisi terdesak dan sangat takut (seperti, saat perang dan lainnya, –pen), dan kondisi melaksanakan sholat nafilah (sunnat) dalam safar panjang di atas kendaraan karena darurat, walaupun seseorang tetap diperintah dalam kondisi menghadap kiblat dan takbiratul ihram untuk menghadap kiblat sesuai kemampuannya. Jika seorang yang sholat berada di depan Ka’bah, maka ia menghadap ke titik (letak dan posisi) Ka’bah. Jika ia dekat ke Ka’bah, maka berdasarkan keyakinan. Jika ia absent (jauh darinya), maka berdasarkan ijtihad, dan taklid (mengikuti orang) atau berdasarkan berita dari orang yang wajar (jujur)”. [Lihat Kitab Al-Ifshoh an Ma’ani Ash-Shihhaah fi Madzaahib Al-A’immah Al-Arba’ah (1/246-247) karya Ibnu Hubairoh, dengan tahqiq Muhammad Ya’qub Ubaidiy, cet. Markaz Fajr, 1419 H]

Ijma’ (kesepakatan) yang disampaikan oleh Al-Wazir Ibnu Hubairoh -rahimahullah- juga telah dicatat ulama lain di dalam kitab-kitab mereka, seperti Ibnu Qudamah dalam Al-Mughniy (1/432-440), An-Nawawiy dalam Al-Majmu’ (3/232-234), Ibnul Mundzir dalam Al-Isyroof (1/70), dan lainnya.

  • Maksud Menghadap Kiblat

Para ulama menjelaskan bahwa menghadap ke arah kiblat memiliki dua bentuk, yaitu menghadap ke titik (posisi) Ka’bah, atau menghadap ke arahnya, walaupun tidak menghadap dengan tepat ke titik (posisi) Ka’bah.

Mereka merinci dan membedakan antara orang yang melihat Ka’bah dengan orang yang tak melihatnya, baik ia dekat atau jauh. Orang yang melihat Ka’bah, maka wajib menghadap titik (posisi) Ka’bah. Adapun orang yang tak melihat Ka’bah, maka disini mereka juga merincinya. Jika orang yang dekat itu berada dalam shaf yang masih bersambung dengan shaf yang ada di dalam Baitullah, maka ia mengikuti hukumnya orang yang ada di dalam atau minimal ia yakin berdasarkan gholabah zhonn (perkiraan maksimal) bahwa ia telah menghadap ke titik Ka’bah.

Jika orang yang tak melihat Ka’bah, yakni jauh posisinya dari Ka’bah, (seperti orang-orang yang ada di luar Masjidil Haram, orang-orang Madinah, atau lebih jauh lagi, seperti orang-orang Indonesia), maka hukumnya tidak wajib menghadap pas ke titik Ka’bah, tapi cukup menghadap ke arah Ka’bah. Bagi penduduk Madinah dan searahnya, maka arah Ka’bah adalah selatan, maka cukup bagi mereka menghadap ke arah Ka’bah, tak mesti ke titik Ka’bah. Bagi penduduk Yaman, Malaysia, Indonesia, Australia dan lainnya, maka arah Ka’bah adalah Barat, maka cukup bagi mereka sholat menghadap ke arah Ka’bah, yaitu arah barat, tanpa harus tepat menghadap ke titik Ka’bah.

Ini berdasarkan penjelasan para ulama dan juga realita. Realita telah menjelaskan bahwa dari zaman ke zaman kaum muslimin sholat dan membuat masjid yang menghadap ke arah Ka’bah, yakni ke arah barat bagi masyarakat Indonesia berdasarkan perkiraan saja, tanpa ada pengingkaran dari para ulama sejak zaman dahulu sampai zaman sekarang, kecuali segelintir manusia yang kurang memperhatikan permasalahan dengan cermat. Selain itu, masjid yang terbangun, baik Masjid Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- atau pun masjid lainnya, semua terbangun dalam bentuk segi empat dengan posisi shaff yang memanjang. Andaikan wajib menghadap ke titik Ka’bah bagi orang yang jauh dari Ka’bah (baik ia imam atau makmum), maka wajib mereka membangun masjid-masjid mereka dengan bentuk setengah lingkaran agar semua dapat menghadap ke titik (posisi) Ka’bah dengan tepat, tanpa kesalahan satu derajat atau senti pun!! Tapi kenyataan tidak demikian. Semua ini membuktikan kepada kita tentang kebatilan pendapat yang menyatakan bahwa wajib bagi orang jauh menghadap ke titik Ka’bah.

Oleh karena itu, kaum muslimin tak perlu pusing, lalu mengubah arah kiblat masjid sehingga menimbulkan perselisihan, pemborosan akibat sebagian tempat tak terisi shaff lagi, menyebabkan sempitnya masjid, bingungnya jama’ah tentang arah kiblat, juga menyebabkan buruknya pemandangan masjid, karena serongnya posisi jama’ah ke arah lain yang menyelisihi arah kiblat sebelumnya. Selain itu, dengan adanya perubahan arah kiblat akan menimbulkan persangkaan bahwa sholat yang tak menghadap ke titik Ka’bah adalah sholat yang batal, tak sah, atau minimal tak ada pahala atau kurang pahalanya.

Ringkasnya, orang yang jauh tak mesti menghadap persis ke Ka’bah, tapi cukup baginya menghadap ke arah Ka’bah, yaitu menghadap ke barat bagi Indonesia. Hal ini didasari oleh sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,

مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

“Sesuatu (arah) yang terdapat antara timur dan barat adalah kiblat”. [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (no. 342) dan Ibnu Majah dalam As-Sunan (no. 1011). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Irwa’ Al-Gholil (no. 292)]

Hadits ini menjelaskan bahwa arah yang terdapat antara timur dan barat, yaitu arah selatan adalah kiblat bagi penduduk Madinah. Adapun penduduk Yaman, dan yang searah dengannya ke timur, seperti Indonesia dan lainnya, maka kiblat mereka adalah arah barat. Hadits ini dikuatkan oleh hadits berikut:

إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

“Bila kalian mendatangi tempat buang air, maka janganlah menghadap kiblat (saat buang air besar dan kencing), dan jangan pula membelakanginya. Tapi menghadaplah ke timur atau barat”. [HR. HR. Al-Bukhoriy (no. 144) dan Muslim (no. 608)]

Hadits ini memerintahkan kepada penduduk Madinah agar buang air menghadap ke barat atau timur. Ini menunjukkan bahwa antara timur dan barat (yakni, arah selatan) adalah kiblat bagi mereka. Karenanya, mereka dilarang buang air ke arah selatan atau membelakanginya. [Lihat Shohih Fiqh As-Sunnah (1/304) karya Abu Malik]

Terakhir, kami akan nukilkan pernyataan Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan, seorang ulama dan mufti di Timur Tengah saat beliau berkata, “Barangsiapa yang dekat dengan Ka’bah, dan ia melihatnya, maka wajib baginya menghadap ke Ka’bah itu sendiri dengan seluruh badannya, karena ia mampu menghadap ke titik Ka’bah secara pasti. Karenanya, tak boleh baginya serong darinya. Barangsiapa yang dekat dengan Ka’bah, tapi ia tak melihatnya, karena adanya penghalang antara dirinya dengan Ka’bah, maka ia berusaha tepat  dan menghadap kepadanya sesuai yang mungkin baginya. Barangsiapa yang jauh dari Ka’bah di bagian manapun dari sisi bumi, maka ia menghadap dalam sholatnya ke arah yang Ka’bah terdapat padanya, tak membahayakan baginya menyerong sedikit ke kanan atau ke kiri  berdasarkan sebuah hadits (lalu beliau menyebutkan hadits di atas)”. [Lihat Al-Mulakhkhosh Al-Fiqhiy (1/96-97) karya syaikh Al-Fauzan, dengan tahqiq Hilmi bin Muhammad Ar-Rosyidiy, cet. Darul Iman, tahun 2002 M]

Pernyataan yang disebutkan oleh Syaikh Sholih Al-Fauzan adalah pendapat yang paling benar, karena andaikan tujuan menghadap kiblat bagi orang yang tak melihatnya adalah menghadap tepat ke bangunan Ka’bah, maka pasti tak akan sah sholatnya orang yang berada dalam shaff panjang yang berada dalam satu garis lurus, dan tak sah pula sholatnya dua orang yang saling berjauhan posisinya, namun keduanya menghadap ke arah kiblat. Sebab tak mungkin ia dapat menghadap ke titik Ka’bah seiring dengan panjangnya shaff yang melebihi ukuran Ka’bah.

Pernyataan inilah yang dikuatkan oleh sejumlah ulama, seperti Imam Malik, Abu Hanifah, Ahmad, lahiriah pendapat Imam Asy-Syafi’iy, Asy-Syaukaniy, Baha’uddin Al-Maqdisiy dan segolongan ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah di Timur tengah. [Lihat Nail Al-Author (1/682), As-Sail Al-Jarror (1/385), Al-Uddah Syarhul Umdah (hal. 73), Fataawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Iftaa’ (6/313), Al-Mausu’ah Al-Fiqh Al-Muyassaroh (1/417-418)]

No Responses

Leave a Reply