Ketukan-ketukan Jiwa bagi Para Penuntut Ilmu dari Kisah Lika-liku Perjalanan Salaf dalam Mencari Ilmu

Ketukan-ketukan Jiwa bagi Para Penuntut Ilmu

dari Kisah Lika-liku Perjalanan Salaf dalam Mencari Ilmu

 [Risalah Peneguh Hati bagi Mereka yang Datang Jauh Mencari Ilmu]

oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

 

gambar ilmuIlmu adalah sebaik-baik bekal yang diraih oleh seorang hamba dari majelis-majelis ulama dan orang-orang yang berilmu. Dalam meraihnya, seorang pencari ilmu harus mengerahkan dan mengorbankan segala kemampuannya. Lika-liku mencari ilmu tidaklah semulus dan semudah apa yang kita bayangkan, bagaikan sampan kecil yang mengarungi samudera luas yang tiada bertepi dan penuh dengan terpaan ombak, angin dan badai yang terkadang siap menghempas sampan dan pengendaranya.

Siang hari kemarin (25/07/2015), tepatnya pukul 10:00, Panitia Dauroh dan Tablig Akbar Nasional Wilayah Makassar-Sulsel 1436 H mengadakan rapat paripurna dalam mempersiapkan segala yang diperlukan dalam menyambut para pencari ilmu.

Di sela-sela rapat, disampaikan bahwa para penuntut ilmu dari berbagai daerah di Sulawesi akan berdatangan dan berbondong-bondong ingin menghadiri majelis ilmu ‘Dauroh & Tablig Akbar Nasional’

Tidak kalah semangatnya para ustadz dan ikhwah (kaum muslimin) dari luar Sulawesi sudah melakukan registrasi dan persiapan berangkat ke Negeri Makassar –semoga Allah menjaganya dari segala keburukan-.

Berita yang sampai kepada kami, mereka yang akan hadir dari Aceh, Jakarta, Jawa, Papua, dan lainnya.

Kepada mereka, kami ucapkan :

أَهْلاً وَسَهْلاً وَمَرْحَبًا بِطُلاَّبِ الْعِلْمِ

Kedatangan mereka membuat ahlus sunnah di Makassar amat berbahagia menyambut para pencari kebaikan itu –semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan berkah-.

Sekadar memberikan nasihat penggugah jiwa, kami tuliskan untuk para saudara fillah yang menghadiri dauroh masyayikh tahun ini, di Kota Makassar, dan lainnya. Semoga saudara fillah mendapatkan siraman jiwa yang menumbuhkan semangat.

Ikhwah (saudara) fillah sekalian, meninggalkan kampung halaman, rumah, keluarga, dan handai tolan merupakan perkara yang berat bagi jiwa manusia. Sebab, kepergian itu akan menjadi beban pikiran bagi seseorang dalam hal keluarga, panjangnya perjalanan dan kondisi yang akan dia hadapi dalam perjalanan atau keadaan susah-senang yang yang ia akan rasakan di negeri orang.

Seorang penuntut ilmu dan pencari kebaikan tidak akan mampu meraih ilmu yang ia kejar, kecuali ia harus bersusah payah dengan mengerahkan tenaga, pikiran, waktu, harta, bahkan jiwanya siap dikorbankan.

Tidak ada yang dapat meraih berkahnya ilmu, kecuali dengan pengorbanan dan kesabaran yang mengiringi langkah-langkah kakinya dalam menapaki jalan-jalan ilmu. Segala penderitaan dan gundah gulana dalam mencari ilmu tak akan terasa indah dan manis, melainkan si pencari ilmu harus bersiap menghadapi segala cobaan yang akan menerpa dirinya. Ia jadikan segala rintangan sebagai pemanis langkahnya dan kenangan indah yang memompa semangatnya.

Seorang pencari ilmu yang jujur mencari ilmu, harus mengingat dan menulis dalam benaknya sebuah ucapan masyhur dari seorang ulama tabi’in yang benama Abu Nashr Yahya bin Abi Katsir Al-Yamamiy (wafat 132 H) -rahimahullah-, saat beliau berkata,

لاَ يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ

“Ilmu itu tak akan mampu diraih dengan kesantaian (kenyamanan) badan.” (Atsar Riwayat Muslim dalam Shohih-nya (no. 612)]

Dari awal keberangkatan, ucapan ini harus terngiang-ngiang dalam benak si pencari ilmu agar segala kesusahan dan penderitaan yang ia alami dalam perjalanan pergi atau pulang ke kampung, akan terasa ringan.

Ketahuilah, ilmu tak akan datang kepadamu begitu saja, tanpa engkau memberikan kepadanya “sebuah mahar berharga” berupa pengorbanan yang merupakan lambang keikhlasan atas kecintaanmu kepada ilmu. Tidakkah engkau membayangkan seorang pemuda yang mengidam-idamkan seorang wanita sholihah yang akan ia persunting untuk menjadi pengantar dirinya menuju alam bahagia ‘surga’ yang penuh kenikmatan. Kamu akan melihat pemuda ini akan bersusah payah, pagi sampai sore banting tulang untuk mengumpulkan harta untuk membeli sebuah mahar yang ia akan berikan kepada calon pendampingnya.

Demikianlah ilmu yang akan mengantarkan kita kepada surga Allah -Tabaroka wa Ta’ala- dan menjadi teman hidup dan pelita hidup kita, tidak akan menerima kita, apabila kita bermalas-malasan dan santai saja dalam meminang dan meraihnya.

Ilmu merupakan pendamping termulia bagi seorang hamba dalam mengarungi kehidupan ini. Ilmu lebih mulia daripada istri.

Jika seseorang tidak punya ilmu yang mendampingi dirinya dalam kehidupan dunia, maka ia tak akan bahagia dunia dan akhirat. Beda halnya, jika seseorang tidak diberi istri sebagai pendamping hidup, maka belum tentu hidupnya akan bahagia, bahkan boleh jadi hidupnya susah, bila ia diberi istri yang buruk perangainya.

Para pencari ilmu yang kami muliakan, perjalanan kalian dalam mencari ilmu ke Negeri Makassar atau negeri lainnya, hendaknya di tahun ini lebih bermakna dan lebih indah dibandingkan tahun kemarin.

Mungkin saja di tahun kemarin atau waktu yang lain, kita berkeluh kesah dan jengkel dengan berbagai kendala yang kita hadapi. Namun di tahun ini –insya Allah-, semua kendala yang kita hadapi bukan lagi “masalah” yang membuat dahi kita berkerut, hati kita jengkel dan gusar, mulut dan perasaan kita tidak sabar.

Sebagian pencari ilmu di kala menghadiri majelis-majelis ilmu, harapan dan idealismenya tinggi, sehingga kesabaran dan keikhlasannya hilang. Terdengar dari mulutnya, keluhan-keluhan, omelan, buruk sangka dan tuduhan keji kepada orang lain (baik itu syaikh/gurunya, temannya ataukah panitia yang mengadakan majelis ilmu) yang menurutnya tidak menyenangkan dirinya.

Ia berkeluh kesah karena mobil atau kendaraan yang ia tumpangi terlambat, macet, mogok, busuk, tidak menyenangkan dirinya.

Makanan yang ia santap, juga ia keluhkan, karena tidak enak, kurang serasi dengan seleranya, murahan, monoton tahu-tempe atau yang lainnya, piringnya kurang mewah atau kurang bersih, jadwal makan kadang terlambat, porsi makanan sedikit, dan sederet keluhan lain.

Asrama yang ia tinggali tak luput dari ocehannya, mulai dari sempitnya, sederhananya, ndak seperti hotel, banyak penghuninya, jauh dari majelis, airnya tak lancar, WC-nya bermasalah, kurang bersih, fasilitas banyak yang tak ada, penuh debu (padahal sudah dibersihkan oleh panitia), bising karena dekat dengan jalan, dan lainnya

Majelis pun ia sering jadikan bahan untuk merendahkan usaha panitia dauroh atau tablig akbar yang telah berusaha keras memberi pelayanan terbaik, seperti syaikhnya berhalangan (mungkin karena sakit atau ada halangan syar’iy lainnya), pelajaran terlambat dari jadwal, pelajaran itu-itu saja, pelajaran menurutnya tidak sesuai levelnya, syaikh kurang ilmu, syaikhnya kurang enak didengar retorikanya, tempat sempit karena banyaknya orang, dan lain sebagainya.

Jika keluhan-keluhan dan omelan ingin dideret, maka ia akan menjadi sebuah kitab yang panjang untuk dibahas dan dikomentari.

Orang yang jujur dalam mencari tidak akan menjadikan semua keluhan-keluhan tadi sebagai masalah yang kemudian membuat dirinya malas mencari ilmu. Justru hal seperti ini harus menjadi cambuk bagi dirinya untuk lebih bersabar dan ikhlas dalam mencari ilmu.

Ia seyogianya sadar bahwa jalan-jalan yang ia lalui tak akan selamanya mulus dan lancar. Manisnya ilmu tidak akan dirasakan oleh seseorang, selain ia hadapi segala kondisi yang susah dengan penuh ketabahan dan keyakinan yang kuat bahwa di balik kesulitan, ada kemudahan, kebaikan dan keberkahan.

Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا  [الشرح : 6]

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu, ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh : 6)

Kesulitan dan penderitaan tidak akan menjadi kemudahan, tanpa diringi dengan kesabaran dan keyakinan kuat. Para ulama yang mencapai puncak dalam keilmuan tidaklah akan sampai kepada tingkatan itu, melainkan dua hal terkumpul pada diri mereka : kesabaran dan keyakinan terhadap janji Allah bagi mereka yang berbuat baik.

 Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ  [السجدة : 24]

“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami, ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (QS. As-Sajdah : 24)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al-Harroniy -rahimahullah- mengambil faedah dari ayat yang mulia ini bahwa ketinggian dan kepemimpinan dalam ilmu hanyalah diraih dengan kesabaran dan keyakinan.

Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata,

فَالصَّبْرُ وَالْيَقِينُ بِهِمَا تُنَالُ الْإِمَامَةُ فِي الدِّينِ

“Kesabaran dan keyakinan, dengan keduanya kepemimpinan dalam agama akan diraih”. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (3/385)]

Ucapan ini, dijabarkan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah -rahimahullah- dalam ucapannya,

فَأَخْبَرَ أَنّ إمَامَةَ الدّينِ إنّمَا تُنَالُ بِالصّبْرِ وَالْيَقِينِ فَالصّبْرُ يَدْفَعُ الشّهَوَاتِ وَالْإِرَادَاتِ الْفَاسِدَةَ وَالْيَقِينُ يَدْفَعُ الشّكُوكَ وَالشّبُهَاتِ .

“Dia (Allah -Tabaroka wa Ta’ala-) mengabarkan bahwa kepemimpinan dalam agama hanyalah diraih dengan kesabaran dan keyakinan. Sebab, kesabaran akan menolak syahwat dan keinginan-keinginan rusak, sedang keyakinan akan menolak keragu-raguan dan syubhat”. [Lihat Zadul Ma’ad (3/10), cet. Mu’assasah Ar-Risalah, dengan tahqiq Al-Arna’uth]

Bermanja-manja bukanlah bekal seorang penuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu sejati, bukanlah mereka yang senang berkeluh kesah, dan ingin selalu santai atau nyaman dalam segala perjalanannya.

Amatlah mengherankan mereka yang amat santai meninggalkan pelajaran para syaikh demi berjalan-jalan melihat kota setempat, atau mengunjungi tempat-tempat rekreasi atau berziarah ke rumah keluarga atau kenalan.

Amatlah aneh sebagian “penuntut ilmu” yang tidak mau menghadiri dauroh atau majelis ilmu, kecuali ia harus tidur di hotel-hotel yang lengkap fasilitas dan empuk. Walaupun terkadang jauh dari lokasi majelis, sehingga seringkali ia terlambat.

Amat mengherankan sebagian orang yang bersantai di kamar atau penginapan, karena mengandalkan rekaman audio atau radio streaming. Padahal ia datang dari tempat yang jauh.

Amat ganjil jika seorang penuntut ilmu pulang ke daerahnya, yang ia bawa hanyalah kekurangan-kekurangan panitia sebagai bahan ghibah.

Amatlah aneh, seorang pencari ilmu hanya sibuk potret sana-potret sini, namun bukunya kosong dari catatan. Lebih sibuk mencari oleh-oleh dibandingkan mencari kitab-kitab ilmu yang akan ia beli dan dibawa ke kampung halamannya.

Lebih sibuk mencari dan bertanya info harga-harga barang dagangan dibandingkan bertanya kepada syaikh tentang masalah-masalah diniyyah dan hukum-hukum syar’iy yang berkaitan dengan diri dan masyarakatnya!!

Fenomena kesantaian ini kadang muncul pada sebagian orang, karena menyangka dirinya telah berkorban demi ilmu, padahal pengorbanannya yang amat minim, belum sepadan dengan harga sebuah ilmu yang akan ia ambil dari seorang ulama.

Orang-orang seperti ini dengan sedikit kesusahan yang ia dapati dalam perjalanan dan safar, maka ia pun menganggap bahwa tidak orang yang lebih menderita dan susah dibandingkan dirinya. Padahal pengorbananmu -wahai saudaraku- belum ada nilainya jika dibandingkan dengan lika-liku para salaf (pendahulu) kita dari kalangan ulama dalam hal menuntut ilmu.

Agar segala kesusahan dan penderitaan yang kita rasakan tidak memberatkan langkah kita, bahkan berubah menjadi sesuatu yang mengasyikkan, nah ada baiknya kita melirik seorang ulama melalui lembaran-lembarah siroh (sejarah) hidupnya dalam mencari ilmu.

Itulah Al-Imam Abu Hatim Ar-Roziy (wafat 277 H) rahimahullah-[1], salah seorang pionir para penuntut ilmu yang dikenal dengan kesabaran dan keikhlasannya dalam menapaki lika-liku rihlah dan safar dalam mencari ilmu.

Kisah ketabahan beliau dalam menuntut ilmu akan kami jabarkan dalam beberapa nuktah urgen ‘penting’ di bawah ini, agar kita petik ibrahnya:

  • Safar Panjang Demi Ilmu

gambar jejakAbu Hatim Ar-Roziy -rahimahullah- terkenal dengan keuletannya dalam mencari ilmu, tanpa mengenal lelah.

Sekarang anda dengar penuturan beliau dalam menjelaskan jarak tempuh beliau yang amat jauh dalam mencari ilmu, sampai sebagian diantara kita tercengang kaget.

أول سنة خرجت في طلب الحديث أقمت سبع سنين، أحصيت ما مشيت على قدمى زيادة على ألف فرسخ (يساوي خمسة آلاف كيلومتر ) لم أزل أحصى حتى لما زاد على ألف فرسخ تركته

ما كنت سرت أنا من الكوفة الى بغداد فما لا أحصى كم مرة ومن مكة الى المدينة مرات كثيرة، وخرجت من البحرين من قرب مدينة صلا إلى مصر ماشيا ومن مصر إلى الرملة ماشيًا، ومن الرملة إلى بيت المقدس، ومن الرملة إلى عسقلان، ومن الرملة إلى طبرية، ومن طبرية إلى دمشق، ومن دمشق الى حمص، ومن حمص الى أنطاكية، ومن أنطاكية الى طرسوس،

ثم رجعت من طرسوس الى حمص وكان بقى على شيء من حديث أبى اليمان فسمعت

ثم خرجت من حمص إلى بيسان، ومن بيسان إلى الرقة، ومن الرقة ركبْتُ الفُرَاتَ إلى بغداد، وخرجت قبل خروجى الى الشام من واسط إلى النيل، ومن النيل إلى الكوفة

كل ذلك ماشيا كل هذا في سفرى الأول وأنا بن عشرين سنة، أجُوْلُ سبع سنين، خرجت من الرَّيِّ سنة ثلاثَ عشْرَةَ ومائتين (213 هـ) — الجرح والتعديل – (1 / 359-360)

“Awal tahun aku keluar dalam mencari hadits, aku tinggal 7 tahun. Aku hitung jarak yang aku lalui berjalan dengan kedua kakiku, lebih dari 1000 farsakh. Senantiasa aku menghitungnya sampai ketika melebihi 1000 farsakh, maka aku tinggalkan.

Perjalananku dari Kufah ke Baghdad, aku tidak pernah menghitungnya berapa kali; dari Makkah ke Madinah banyak kali. Aku keluar dari Bahrain dari tempat yang berdekatan dengan Kota Shola menuju Mesir dengan berjalan kaki. Dari Mesir ke Romlah dengan berjalan kaki. Dari Romlah ke Baitul Maqdis dengan berjalan kaki. Dari Romlah ke Asqolan. Dari Romlah ke Thobariyyah (Tiberias). Dari Thobariyyah ke Dimasyqu (Damaskus). Dari Dimasyqu ke Himsh. Dari Himsh ke Anthokiyah. Dari Anthokiyah ke Thorosus.

Kemudian aku kembali dari Thorosus menuju Himsh, sedang (waktu itu) masih ada yang tersisa bagiku dari haditsnya Abul Yaman (orang Himsh,- pen.). Kemudian aku pun mendengarkan (hadit-haditsnya).

Kemudian aku keluar dari Himsh menuju Baisan. Dari Baisan menuju Roqqoh. Dari Roqqoh aku menyeberangi Sungai Eufrat menuju Baghdad. Aku keluar –sebelum aku keluar menuju Syam- dari Wasith menuju Nil. Dari Nil menuju Kufah.

Semua (perjalanan itu) dalam keadaan berjalan kaki. Semua ini dalam safarku yang pertama, sedang aku adalah seorang yang berumur 20 tahun. Aku berkeliling selama 7 tahun. Aku keluar dari Ar-Royyu (Rozi) pada tahun 213 H”. [Lihat Al-Jarh wa At-Ta’dil (1/359-360) karya Ibnu Abi Hatim]

Perhatikan rute safar beliau yang amat jauh, ditempuh dengan berjalan kaki. Sekarang coba kita lihat rute-rute beliau di bawah ini : 

  1. Dari Kufah ke Baghdad : berjarak 156 km
  2. Dari Makkah ke Madinah : berjarak 441 km
  3. Dari Bahrain (dari tempat yang berdekatan dengan Kota Shola) menuju Mesir : berjarak 2.623 km
  4. Dari Mesir ke Romlah : 720 km
  5. Dari Romlah ke Baitul Maqdis : 44,6 km.
  6. Dari Romlah ke Asqolan: 54 km.
  7. Dari Romlah ke Thobariyyah (Tiberias) : 146 km.
  8. Dari Thobariyyah ke Dimasyqu (Damaskus) : berjarak 3.117 km
  9. Dari Dimasyqu ke Himsh: berjarak 162 km.
  10. Dari Himsh ke Anthokiyah: berjarak 255 km
  11. Dari Anthokiyah ke Thorosus: berjarak 240 km.
  12. Dari Thorosus menuju Himsh: berjarak 471 km.
  13. Dari Himsh menuju Baisan: 2.369 km.
  14. Dari Baisan menuju Roqqoh : 3.009
  15. Dari Roqqoh aku menyeberangi Sungai Eufrat menuju Baghdad : berjarak 675 km.
  16. Dari Wasith menuju Nil : berjarak 2.253 km
  17. Dari Nil menuju Kufah : berjarak 2.144 km. 

Subhanallah, sebuah perjalanan yang cukup memayahkan. Namun apa rahasia Abu Hatim Ar-Rozi begitu semangat melalui rute-rute perjalanan yang amat panjang ini?! Rahasianya, ia cinta ilmu. Dari kecintaan itu lahir kesungguhan dan kesabaran serta keikhlasan dalam mencari dan mengejarnya!!

Sampai disinikah akhir dari perjalanan beliau? Jawabnya, tidak!!

Kita dengarkan ungkapan semangat membara beliau dalam berkelana mencari ilmu.

Abu Hatim Ar-Roziy -rahimahullah- :

ورحلت مرّةً ثانية سنة اثنتين وأربعين ومائتين (242 هـ)، ورجعت إلى الرِّيّ سنة خمسٍ وأربعين (245 هـ). وحججت رابع حجَّةٍ سنة خمسٍ وخمسين.)) تاريخ الإسلام للإمام الذهبي – (20 / 431)

“Aku melakukan rihlah (perjalanan panjang) untuk kedua kalinya pada tahun 242 H, dan aku kembali ke Ar-Royyu (kampung halaman) pada tahun 245 H, serta aku berhaji yang keempat kalinya pada tahun 255 H.” [Lihat Tarikh Al-Islam (20/431), karya Adz-Dzahabiy]

Perhatikanlah umur beliau dalam rihlah kedua ini. Berapakah umurnya? Umur beliau saat itu adalah 47 tahun. Beliau berhaji yang keempat kalinya dengan umur 60 tahun.

Tahukah anda rihlah dan perjalanan yang dilakukan oleh Abu Hatim ini, bukan dengan kendaraan yang nyaman, berupa motor, mobil, kereta api, kapal laut, atau pesawat.

Dengan kesempitan hidup dan beratnya perjalanan serta banyaknya rintangan atau marabahaya safar saat melintasi gurun pasir yang panas, danau, sungai, dan lautan. Perjalanan beliau bukanlah perjalanan yang nyaman dan berbekal makanan yang memadai, bahkan terkadang habis dalam perjalanan.

Di zaman yang penuh dengan kemudahan ini, masihkah kita berkeluh kesah dan lemah semangat mencari ilmu. Apakah penderitaan kita jika dibandingkan penderitaan Abu Hatim -rahimahullah- adalah sama dan sepadan. Demi Allah, setitik dari lautan perjalanan beliau susah untuk dibandingkan. Belum lagi, keikhlasan mereka membedakan kita dengan mereka. Kadang kita datang ke sebuah majelis hanya sekedar tanazzuh (piknik) saja!

Bayangkanlah susahnya perjalanan beliau yang berpuluh kilometer, ratusan, atau bahkan ribuan kilometer. Jarak yang tidak melemahkan semangat beliau dan tidak mematahkan cita-citanya. Bayangkan jika perjalanan hanya mengandalkan bintang dan tanda (rambu) jalan yang amat sederhana berupa bekas tapak kaki hewan atau manusia.

Di malam hari saat mereka lelah, singgah di gurun dan tanah yang tandus lagi tak berpenghuni, tiada kawan dan tiada bekal yang memadai. Kawan hanyalah bunyi jangkrik dan binatang buas yang mungkin saja berkeliaran di alam bebas. Air mata ini menetes jika membayangkan kondisi sempit dan susah dari para ulama semisal Abu Hatim -rahimahullah-.

Masihkah kita mengeluh dan menangis dengan kesusahan yang kita dapatkan di atas kapal PELNI, karena hanya berdesak-desakan dengan penumpang lain?! Masihkah anda merasa lelah mengangkat koper, dan tas atau barang lain saat mengendarai pesawat yang super mudah.

Wallahi, sungguh kita manja di masa ini, masa yang penuh dengan fasilitas dan sarana, namun justru semangat kita lemah.

  • Jual Barang Demi Menyambung Hidup dalam Mencari Ilmu

Satu lagi dari sekian gambaran ketabahan Abu Hatim Ar-Roziy -rahimahullah- dalam mencari ilmu. Beliau bersabar belajar, walaupun harus kekurangan bekal dan harta dalam perantauan.

Sekarang anda kembalikan kepada diri anda, pernahkah anda menjual baju yang di badan di kala kekurangan pada hari-hari mencari ilmu di negeri orang?! Aku yakin belum ada yang pernah merasakannya. Pasti ia akan meminta bantuan kepada orang lain, teman atau syaikh (guru).

Lain halnya dengan Abu Hatim -rahimahullah-, beliau bersabar dan tetap menjaga harga diri dengan tidak meminta-minta.

Kita dengarkan penuturan beliau,

بَقِيْتُ فِي سَنَةِ أَرْبَعَ عَشْرَةَ، ثَمَانِيَةَ أَشْهُرٍ بِالبَصْرَةِ، وَكَانَ فِي نَفْسِي أَنْ أُقِيْمَ سَنَةً، فَانْقَطَعَتْ نَفَقَتِي، فَجَعَلْتُ أَبِيْعُ ثِيَابِي حَتَّى نَفِدَتْ، وَبَقَيْتُ بِلاَ نَفَقَةٍ، وَمَضَيْتُ أَطُوْفُ مَعَ صَدِيْقٍ لِي إِلَى المَشْيَخَةِ، وَأَسْمَعُ إِلَى المَسَاءِ، فَانْصَرَفَ رَفِيْقِي، وَرجَعْتُ إِلَى بَيْتِي، فَجَعَلْتُ أَشْرَبُ المَاءَ مِنَ الجُوْعِ، ثُمَّ أَصْبَحْتُ، فَغَدَا عَلَيَّ رَفِيْقِي، فَجَعَلْتُ أَطُوْفُ مَعَهُ فِي سَمَاعِ الحَدِيْثِ عَلَى جُوْعٍ شَدِيْدٍ، وَانصَرَفْتُ جَائِعاً، فَلَمَّا كَانَ مِنَ الغَدِ، غَدَا عَلَيَّ، فَقَالَ: مُرَّ بِنَا إِلَى المَشَايِخِ.

قُلْتُ: أَنَا ضَعِيْفٌ لاَ يُمْكِنُنِي.

قَالَ: مَا ضَعْفُكَ؟

قُلْتُ: لاَ أَكْتُمُكُ أَمْرِي، قَدْ مَضَى يَوْمَان مَا طَعمتُ فِيْهِمَا شَيْئاً.

فَقَالَ: قَدْ بَقِيَ مَعِيَ دِيْنَارٌ، فَنِصْفُهُ لَكَ، وَنَجْعَلُ النِّصْفَ الآخَرَ فِي الكِرَاءِ، فَخَرَجْنَا مِنَ البَصْرَةِ، وَأَخَذْتُ مِنْهُ النِّصْفَ دِيْنَار.

“Aku tinggal di Bashroh pada tahun 214 H selama delapan bulan, sebenarnya aku berniat tinggal padanya selama satu tahun. Lalu habislah perbekalanku. Karenanya, akupun menjual bajuku (yang aku pakai, helai demi helai) sampai semuanya habis, dan aku pun tinggal tanpa nafkah (bekal).

Aku dan temanku berkeliling mendatangi para Syaikh (ulama), mendengarkan dari mereka (hadis -red) hingga sore hari. Kemudian temanku kembali ke rumahnya, akupun kembali ke rumahku (dengan tangan kosong tanpa membawa makanan). Akupun minum air karena saking lapar. 

Keesokan harinya, temanku datang kepadaku, selanjutnya aku berkeliling kembali bersama temanku untuk mendengarkan hadits, sedangkan aku dalam keadaan sangat lapar. Lalu aku pulang (ke rumah) dalam keadaan lapar.

Pada keesokan harinya dia datang kepadaku di waktu pagi seraya berkata, “Ayo, berangkat bersama kami mendatangi para syaikh.”

Aku pun menjawab, “Aku sangat lemah, tidak mungkin bagiku (untuk keluar).”

Dia bertanya, “Apa yang membuat badanmu menjadi lemah?”

Aku menjawab, “Aku tidak bisa menyembunyikan kondisiku ini kepadamu. Sungguh telah berlalu dua hari, sedang aku belum makan sesuatu apapun padanya.

Dia pun berkata, “Aku mempunyai sisa uang satu dinar[2], aku akan memberimu setengah dinar dan setengahnya kau gunakan untuk membayar sewa rumah.”

Setelah itu kami keluar (pergi) dari Kota Bashrah dan aku ambil darinya setengah dinar”. [Lihat Tarikh Madinah Dimasyqo (52/11), Al-Muntazhom fi Tarikh Al-Muluk Al-Umam (5/108), Siyar A’lam An-Nubala’ (13/256)]

  • Tidak Peduli dengan Makan demi Ilmu

Kecintaan dan Asyiknya Abu Hatim dengan ilmu, tiada tandingannya. Semangat ini kemudian diwarisi oleh anaknya yang bernama Ibnu Abi Hatim -rahimahullah-.

Ibnu Abi Hatim saking cintanya kepada ilmu, sampai membuatnya lupa akan segalanya, sampai ia lupa memasak dan menyantap makanan yang enak. Sesuatu yang hampir tidak layak dimakan pun, beliau makan demi menghemat dana, menghindari sifat boros, dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Sebab, kalau ikan itu tak disantap, lalu diganti dengan ikan lain, maka hal itu membutuhkan waktu, tenaga, dan dana.

Ali bin Ahmad Al-Khawarzami berkata, ‘Ibnu Abi Hatim berkata,

كُنَّا بِمِصْرَ سَبْعَةَ أَشْهُرٍ، لَمْ نَأْكُلْ فِيْهَا مَرَقَةً، كُلُّ نَهَارِنَا مُقَسَّمٌ لِمَجَالِسِ الشُّيُوْخِ، وَبَاللَّيْلِ: النَّسْخُ وَالمُقَابَلَةُ.

قَالَ: فَأَتَيْنَا يَوْماً أَنَا وَرَفِيْقٌ لِي شَيْخاً، فَقَالُوا: هُوَ عَلِيْلٌ، فَرَأَينَا فِي طَرِيْقِنَا سَمَكَةً أَعْجَبَتْنَا، فَاشتَرِيَنَاهُ، فَلَمَّا صِرنَا إِلَى البَيْتِ، حَضَرَ وَقْتُ مَجْلِسٍ، فَلَمْ يمكنَا إِصْلاَحه، وَمَضَينَا إِلَى المَجْلِسِ، فَلَمْ نَزَلْ حَتَّى أَتَى عَلَيْهِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، وَكَادَ أَنْ يَتَغَيَّرَ، فَأَكَلْنَاهُ نِيْئاً، لَمْ يَكُنْ لَنَا فَرَاغٌ أَنْ نُعْطِيَهْ مَنْ يَشْوِيه.

ثُمَّ قَالَ: لاَ يُسْتَطَاعُ العِلْمُ بِرَاحَةِ الجَسَدِ.

“Aku tinggal di Mesir selama tujuh bulan. Kami tidak pernah makan kuah. Siang hari aku gunakan buat berkeliling ke para guru. Sementara malam harinya aku gunakan buat menulis naskah dan memperbandingan (antara satu naskah dengan naskah lain).

Pernah pada suatu hari aku dan temanku mendatangi seorang guru. Lalu orang-orang berkata, “Beliau sakit.”

Ketika pulang, kami melihat seekor ikan besar. Kami lalu membelinya untuk dimasak. Akan tetapi, sesampai di rumah tiba waktunya kami harus belajar kepada seorang guru.

Selama tiga hari, kami biarkan ikan tersebut sehingga hampir berubah (membusuk). Akan tetapi, kami tetap memasak dan memakannya juga, meskipun rasanya sangat tidak nikmat. Kemudian, temanku itu berkata, “Ilmu itu tidak bisa didapat dengan memanjakan jasmani.”

[Lihat Tarikh Madinah Dimasyqo (35/261), Tadzkiroh Al-Huffazh (3/35), Tarikh Al-Islam (24/208), Siyar A’lam An-Nubala’ (13/266), dan Taudhih Al-Musytabih fi Dhobth Asma’ Ar-Ruwah wa Ansabihim wa Alqobihim wa Qunahum (9/106) oleh Ibnu Nashiriddin Ad-Dimasyqiy]

Kesederhanaan hidup dan kurangnya harta benda dalam safar tidak menghalangi mereka untuk belajar. Lihatlah realita hidup Abu Hatim -rahimahullah- dalam kisah di bawah ini.

Abu Hatim mengatakan,

ضاقت بي الحال أيام طلبي العلم ، فعجزت عن شراء البرز ، فكنت أخرج بالليل إلى الدرب الذي أنزله ، وأرتفق بسراج الحارس ، وكان ربما ينام الحارس ، فكنت أنوب عنه

“Di hari-hari mencari hadits, keadaanku benar-benar sangat amat sempit. Aku tidak mampu membeli minyak pelita. Lantaran itu, di malam aku (terpaksa) keluar ke pintu gerbang yang aku singgahi. Aku mamfaatkan (untuk belajar) dengan menggunakan lampu penerangan yang dipakai oleh tukang ronda. Terkadang kalau si tukang ronda tidur, aku yang menggantikannya.” [Lihat Al-Hatstsu ala Tholab Al-Ilm wa Al-Ijtihad fi Jam’ih (hal. 80) karya Abu Hilal Al-Hasan bin Abdillah Al-Askariy (wafat 390 H), cet. Al-Maktab Al-Islamiy, 1406 H]

Susah senangnya perantauan mencari ilmu yang merupakan warisan termulia para nabi dan rosul, telah dilalui oleh seorang penuntut ilmu yang bernama Muhammad bin Idris, yang kemudian hari kita kenal dengan panggilan “Abu Hatim Ar-Roziy”.

Penderitaan dan kesusahan yang beliau rasakan, bukan hanya berhenti sampai disitu, namun ia temui di setiap langkahnya dalam mencari ilmu.

  • Jatuh Pingsan dalam Perjalanan Mencari Ilmu

Panjangnya perjalanan, dan kurangnya perbekalan serta tidak adanya perkampungan yang mereka lalui, akibatnya mereka jatuh pingsan, semata-mata mencari sesuatu yang mereka cintai. Itulah ilmu!!

Imam Abu Hatim -rahimahullah- menceritakan sekelumit pengalaman­nya ketika ia sedang merantau menuntut ilmu. Ia katakan,

خَرَجْنَا مِنَ المَدِيْنَةِ، مِنْ عِنْدِ دَاوُدَ الجَعْفَرِيِّ، وَصِرْنَا إِلَى الجَارِ وَرَكِبْنَا البَحْرَ، فَكَانَتِ الرِّيْحُ فِي وَجُوْهِنَا، فَبَقِيْنَا فِي البَحْرِ ثَلاَثَةَ أَشْهُرٍ، وَضَاقتْ صُدُوْرُنَا، وَفَنِيَ مَا كَانَ مَعَنَا، وَخَرَجْنَا إِلَى البَرِّ نَمْشِي أَيَّاماً، حَتَّى فَنِيَ مَا تَبَقَّى مَعَنَا مِنَ الزَّادِ وَالمَاءِ، فَمَشَيْنَا يَوْماً لَمْ نَأْكلْ وَلَمْ نَشْرَبْ، وَيَوْمَ الثَّانِي كمثل، وَيَوْمَ الثَّالِثِ، فَلَمَّا كَانَ يَكُوْنُ المَسَاءَ صَلَّيْنَا، وَكُنَّا نُلْقِي بِأَنْفُسِنَا حَيْثُ كُنَّا، فَلَمَّا أَصْبَحْنَا فِي اليَوْمِ الثَّالِثِ، جَعَلنَا نَمْشِي عَلَى قَدْرِ طَاقَتِنَا، وَكُنَّا ثَلاَثَةَ أَنْفُسٍ: شَيْخٌ نَيْسَابُورِيٌّ، وَأَبُو زُهَيْرٍ المَرْوَرُّوْذِيُّ، فَسَقَطَ الشَّيْخُ مَغْشِيّاً عَلَيْهِ، فَجِئْنَا نُحَرِّكُهُ وَهُوَ لاَ يَعْقِلُ، فَتَرَكْنَاهُ، وَمَشَيْنَا قَدْرَ فَرْسَخٍ، فَضَعُفْتُ، وَسَقَطْتُ مَغْشِيّاً عَلِيَّ، وَمَضَى صَاحِبِي يَمْشِي، فَبَصُرَ مِنْ بُعْدٍ قَوْماً، قَرَّبُوا سَفِيْنَتَهُم مِنَ البِرِّ، وَنَزَلُوا عَلَى بِئْرِ مُوْسَى، فَلَمَّا عَايَنَهُم، لَوَّحَ بِثَوْبِهِ إِلَيْهِم، فَجَاؤُوهُ مَعَهُم مَاءٌ فِي إِدْاوَةٍ.

فَسَقَوْهُ وَأَخَذُوا بِيَدِهِ.

فَقَالَ لَهُم: الحَقُوا رَفِيْقَيْنِ لِي، فَمَا شَعَرْتُ إِلاَّ بِرَجُلٍ يَصُبُّ المَاءَ عَلَى وَجْهِي، فَفَتَحْتُ عَيْنِيَّ، فَقُلْتُ: اسقِنِي، فَصَبَّ مِنَ المَاءِ فِي مَشْربَةٍ قَلِيْلاً، فَشَرِبْتُ، وَرَجَعَتْ إِليَّ نَفْسِي، ثُمَّ سَقَانِي قَلِيْلاً، وَأَخَذَ بِيَدِي، فَقُلْتُ: وَرَائِي شَيْخٌ مُلْقَى، فَذَهَبَ جَمَاعَةٌ إِلَيْهِ، وَأَخَذَ بِيَدِي، وَأَنَا أَمشِي وَأَجُرُّ رِجْلَيَّ، حَتَّى إِذَا بَلغْتُ إِلَى عِنْدِ سَفِيْنَتِهِم، وَأَتَوا بِالشَّيْخِ، وَأَحْسَنُوا إِليْنَا، فَبَقِينَا أَيَّاماً حَتَّى رَجَعَتْ إِلَيْنَا أَنْفُسُنَا، ثُمَّ كَتَبُوا لَنَا كِتَاباً إِلَى مَدِيْنَةٍ يُقَالُ لَهَا: رَايَة، إِلَى وَالِيهِم، وَزَوَّدُونَا مِنَ الكَعْكِ وَالسَوِيْقِ وَالمَاءِ.

فَلَمْ نَزَلْ نَمْشِي حَتَّى نَفِدَ مَا كَانَ مَعَنَا مِنَ المَاءِ وَالقُوْتِ، فَجَعَلْنَا نَمْشِي جِيَاعاً عَلَى شَطِّ البَحْرِ، حَتَّى دُفِعْنَا إِلَى سُلَحْفَاةٍ مِثْلَ التُّرْسِ، فَعَمَدْنَا إِلَى حَجَرٍ كَبِيْرٍ، فَضَرَبْنَا عَلَى ظَهْرِهَا، فَانْفَلَقَ، فَإِذَا فِيْهَا مِثْلُ صُفْرَةِ البَيْضِ، فَتَحَسَّيْنَاهُ حَتَّى سَكَنَ عَنَّا الجُوْعَ ٌ ثُمَّ وَصَلْنَا إِلَى مَدِيْنَةِ الرَّايَةِ، وَأَوْصَلْنَا الكِتَابَ إِلَى عَامِلِهَا، فَأَنْزَلَنَا فِي دَارِهِ، فَكَانَ يُقَدِّمُ لَنَا كُلَّ يَوْمٍ القَرْعَ، وَيَقُوْلُ لخَادِمِهِ: هَاتِي لَهُم اليَقْطِيْنَ المُبَارَكِ، فَيُقَدِّمُهُ مَعَ الخُبْزِ أَيَّاماً.

فَقَالَ وَاحِدٌ مِنَّا: أَلاَ تَدْعُو بِاللَّحْمِ المَشْؤُومِ؟! فسَمِعَ صَاحِبُ الدَّارِ، فَقَالَ: أَنَا أُحْسِنُ بِالفَارِسِيَّةِ، فَإِنَّ جَدَّتِي كَانَتْ هَرَوِيَّة، وَأَتَانَا بَعْدَ ذَلِكَ بِاللَّحْمِ، ثُمَّ زَوَّدَنَا إِلَى مِصْرَ.

“Kami keluar dari Madinah, dari sisi Dawud Al-Ja’fariy dan kami menuju ke sebuah perahu, lalu melintasi lautan. Angin (menerpa) pada wajah kami. Kami berada di tengah lautan selama tiga bulan.

Dada kami sempit (yakni, susah) dan habislah perbekalan yang bersama kami. Kami keluar (dari lautan) menuju daratan, berjalan kaki selama berhari-hari. Sementara bekal kami dan air, sudah habis sama sekali.

Selama sehari, kami berjalan kaki, tanpa makan dan minum. Begitu pula dengan hari kedua dan hari ketiga. Jika tiba waktu sore, kami berhenti untuk menunaikan shalat. Kami rebahkan diri kami dimana saja kami berada.

Tatkala di hari ketiga, kami mulai berjalan kaki sesuai kadar kemampuan kami. Kami bertiga : orang tua dari Naisabur, dan Abu Zuhair Al-Marrudziy.

Tiba-tiba orang tua dari Naisabur jatuh pingsan. Kami berdua menghampirinya untuk menggerak-gerakkannya, sedang ia tidak sadarkan diri.

Akhirnya kami tinggalkan ia. Kami berdua terus melanjutkan perjalanan sejauh satu farsakh. Tubuhku terasa lemah, dan aku pun jatuh pingsan.

Temanku (Abu Zuhair Al-Marrudziy) berlalu (meninggalkan aku). Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat rombongan manusia yang sedang melabuhkan perahu mereka ke daratan. Mereka singgah di sumur Musa.

Tatkala ia (Abu Zuhair) menyaksikan mereka dengan jelas,  ia pun melambai-lambaikan pakaiannya ke arah mereka (sebagai isyarat minta pertolongan).

Mereka lalu menghampirinya dengan membawa bejana berisi air. Mereka memberinya minum dan memegang tangannya.

Ia (Abu Zuhair) berkata kepada mereka, “Carilah dua temanku”.

Aku (Abu Hatim) tak merasakan (sesuatu), kecuali seorang laki-laki yang menuangkan air pada wajahku. Aku buka kedua mataku seraya berkata, “Berilah aku minum”. Orang itu pun menuangkan sedikit air pada sebuah wadah minum. Kemudian aku minum dan pulihlah perasaanku. Lalu orang itu memberiku lagi minum dan memegang tanganku.

Aku (Abu Hatim) berkata, “Di belakangku, ada orang tua yang jatuh tersungkur.” Sekelompok orang pun datang kepada orang tua itu. Orang itu memegang (menuntun) tanganku, sementara aku berjalan menyeret kakiku, sampai ketika aku tiba di dekat perahu mereka dan mereka pun mendatangkan orang tua tadi, maka mereka (para pemilik perahu) berbuat baik kepada kami.

Kami tinggal beberapa hari sampai perasaan kami pulih kembali. Kemudian mereka menuliskan buat kami sebuah surat (pengantar) kepada sebuah kota yang bernama “Rooyah”, surat buat Gubernurnya.

Mereka memberi kami bekal berupa kue, tepung gandum dan air minum.

Kami terus berjalan kaki sampai habislah semua perbekalan yang bersama kami berupa air dan makanan. Kemudian kami pun mulai berjalan kaki dalam kondisi lapar melalui pantai, sampai kami diperhadapkan dengan seekor penyu laksana perisai.

Kami segera mengarah kepada sebuah batu besar, lalu kami pukulkan ke punggungnya. Lalu punggung binatang tersebut terbelah. Ternyata di dalamnya ada sesuatu (berupa cairan) yang mirip kuning telur.

Kami hirup cairan itu sampai hilang rasa lapar dari kami. Kemudian kami pun tiba di Kota Rooyah dan sampaikan surat (pengantar) itu kepada Gubernurnya. Ia pun menjamu kami di rumahnya. Sang Gubernur menghidangkan labu kepada kami setiap hari, seraya berkata kepada pembantunya, “Beri mereka labu yang berkah”.

Si Pembantu pun menghidangkan labu bersama roti dalam waktu beberapa hari.

Seorang diantara kami berkata, “Tidakkah kamu minta daging panggang?!”[3]

Tuan rumah ternyata mendengarnya, seraya berkata, “Aku juga bisa berbahasa Persia dengan baik, karena nenekku adalah berasal dari suku Harawi.’

Setelah itu, ia pun menghidangkan daging kepada kami. Kemudian ia membekali kami sampai ke Mesir.” [Lihat Al-Jarh wa At-Ta’dil (1/364-365), Thobaqot Asy-Syafi’iyyah Al-Kubro (2/210-211), Tarikh Al-Islam (20/434-435) dan Siyar A’lam An-Nubala’ (13/257-258)]

Cobalah anda perhatikan kesabaran Abu Hatim Ar-Roziy -rahimahullah- dalam melakukan perjalanan panjang dari Kota Madinah Nabawiyyah menuju Kota Rooyah[4], lalu lanjut ke jantung Kota Mesir.

Perjalanan ini melalui rute panjang sebagaimana anda bisa lihat rinciannya di bawah ini:

  1. Madinah ke Kota Rooyah : berjarak 1.453 km.
  2. Kota Rooyah menuju Mesir : 15,6 km.

Subhanallah, wajarlah apabila mereka jatuh pingsan. Mereka melalui rute panjang dengan melintasi gurun pasir dan pantai yang tandus. Adakah diantara kita yang pernah berjalan kaki dalam menghadiri majelis taklim, dauroh atau tablig akbar dengan rute sejauh dan sesusah itu, dengan bekal yang serba kurang dan minim?!

Kepada para ikhwah fillah, laluilah segala perjalanan kita dengan ringan hati dan ingatlah bahwa sesusah apapun yang kita hadapi, maka para pendahulu (salaf) kita lebih berat tantangan dan kesusahan yang mereka hadapi.

Jika engkau mencintai ilmu dan pembawanya, maka iringi perjalananmu dengan kesabaran, semangat dan keikhlasan, niscaya engkau akan mendapatkan banyak kebaikan

——————————————————

Selesai kami tulis di rumah kami –semoga Allah memberkahi penghuninya-, Gowa, Sulsel, Perumahan Tanwirus Sunnah, pada tanggal 13 Syawwal 1436 H yang bertepatan dengan tanggal 29 Juli 2015 M.

[1] Nama aslinya: Muhammad bin Idris Ar-Roziy. Namun dikenal dengan Abu Hatim Ar-Roziy (195 H-277 H)

[2] Satu Dinar pada tahun 2011, senilai Rp. 1.950.000,-

[3] Mereka hanya bercanda dan menyangka pemilik rumah tidak mengerti bahasa mereka, yakni Bahasa Persia.

[4] Kota Rooyah merupakan salah kota yang dikenal dalam peradaban dan sejarah Islam, walaupun sekarang banyak manusia yang tidak mengenalnya. Tinggal satu tanda yang bisa kita kenal bagi kota ini bahwa disana terdapat Masjid Jami’ Amer bin Al-Ash. Ia sekarang masuk wilayah negara Mesir. [Lihat Mu’jam Al-Buldan (3/22) oleh Yaqut Al-Hamawiy -rahimahullah-]

No Responses

Leave a Reply