Kesibukan Belajar Fiqih dan Meriwayatkan Hadits harus Dibarengi dengan Roqo’iq dan Siroh Salaf

  Kesibukan Belajar Fiqih dan Meriwayatkan Hadits harus Dibarengi dengan Roqo’iq dan Siroh Salaf.

Oleh: Al-Ustadz Abdul Qadir Abu Fa’izah -Hafizhahullah-

(Pengasuh Pesantren Al-Ihsan Gowa)

hatiSeorang pencari ilmu haruslah membekali diri dengan perkara roqo’iq (hal-hal yang melembutkan hati) dari Al-Qur’an dan Sunnah. Sebab hati yang keras akan susah menerima dan mengamalkan kebenaran yang ia pelajari. Hati yang lembut dengan mudahnya mengamalkan apa yang ia terima berupa kebenaran.

Selain itu, seorang pencari ilmu hendaknya punya ihtimam ‘perhatian’ dengan siroh (sejarah hidup) para salaf. Dengannya, ia akan melihat contoh kesungguhan dalam beramal, dan barometer dalam beramal, sehingga lahirlah semangat membara dalam mengamalkan kebenaran dan sunnah yang ia pelajari.

Al-Imam Abul Faroj Ibnul Jauziy (wafat 597 H) -rahimahullah- berkata,

“Aku memandang menyibukkan diri dengan fiqih dan mendengar hadits, hampir saja tak cukup bagi kebaikan hati, kecuali bila dicampur (dibarengi) dengan perkara-perkara roqo’iq dan merenungi siroh para salaf sholih. Adapun sekedar mengetahui halal dan haram, maka hal itu tidak memiliki pengaruh besar bagi kelembutan hati. Hanyalah hati akan lembut dengan menyebutkan hadits-hadits roqo’iq dan berita hidup para salaf sholih. Karena, mereka (para salaf) membahas tujuan dari penukilan hadits serta keluar dari bentuk perbuatan yang diperintahkan menuju rasa makna dari perbuatan-perbuatan tersebut dan maksudnya. Tidaklah aku mengabarimu tentang hal ini, kecuali setelah menghadapi dan merasakannya. Karena, aku jumpai, mayoritas ahli hadits dan para pencari hadits, cita-cita seorang mereka adalah dalam hal (mendapatkan) hadits dengan sanad yang ‘ali (tinggi), memperbanyak juz-juz (kumpulan) hadits. Sementara mayoritas ahli fiqih (cita-cita seorang diantara mereka) adalah dalam hal ilmu debat dan sesuatu yang dengannya lawan bisa terkalahkan. Nah, bagaimanakah hati bisa jadi lembut seiring dengan hal-hal seperti ini?” [Lihat Shoidul Khothir (hal. 288), karya Ibnul Jauziy, cet. Dar Al-Qolam, 1425 H]

Demikianlah realita sebagian penuntut ilmu di zaman Ibnul Jauziy -rahimahullah-. Mereka jauh dari tujuan belajar, yaitu mengamalkan ilmu dan melembutkan hati dengan, sehingga lahir rasa takut kepada Allah -Tabaroka wa Ta’ala-. Disinilah akan tampak bagi anda pentingnya belajar hadits-hadits roqo’iq ‘yang melembutkan hati’, serta siroh para salaf. Siroh Salaf amatlah berguna bagi generasi setelahnya, agar kita melihat dan mengambil teladan. Adanya teladan akan menjadi “teman” penyemangat dalam beramal dalam waktu yang panjang. Sebab, hati terkadang loyo dan kehilangan semangat di saat ia tak tahu bahwa disana ada manusia yang telah mendahuluinya dalam beramal.

Kehidupan para salaf dengan segala kesusahan, kesederhanaan hidup dan kekurangan harta benda, akan menjadi penggerak bagi hati kita. Terlebih lagi bila kita berada di atas kebahagiaan hidup dengan segala harta benda dan fasilitas yang kita miliki. Hati akan bergumam, “Para salaf dengan segala kesederhanaan, mampu beramal penuh semangat. Lalu kenapa kami yang berkecukupan, tak mampu?!”

No Responses

Leave a Reply