Kedudukan Hadits Keutamaan Sholat Tarwih pada Malam-malam Romadhon

Kedudukan Hadits Keutamaan Sholat Tarwih

pada Malam-malam Romadhon

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-  

 

gambar mic terbakarTelah tersebar sebuah ceramah Al-Ustadz M. Nur Maulana, yang  diterbitkan pada tanggal 6 Apr 2015 dengan judul :

“CERAMAH LUCU USTAD M. NUR MAULANA TEMA PUASA TERBARU 2015″.

Ceramah ini dipublikasikan di medsos (https://www.youtube.com/watch?v=__1AkUo_bMM)

Tema yang dipaparkan oleh Nur Maulana tentang puasa dan Romadhon. Di dalamnya bercerita tentang keutmaan sholat tarwih di malam-malam Romadhon. Ustadz Nur Maulana menyebutkan di sela-sela ceramahnya sebuah hadits yang menyebutkan secara rinci keutamaan tarwih pada setiap malam dari malam-malam Romadhon, mulai dari malam pertama sampai malam terakhir.

  • Adapun lafazhnya:

عن علي بن ابي طالب رضي الله تعالى عنه أنه قال : ” سئل النبي عليه الصلاة والسلام عن فضائل التراويح فى شهر رمضان

فقال: يخرج المؤمن ذنبه فى أول ليلة كيوم ولدته أمه

وفى الليلة الثانية يغفر له وللأبوية ان كانا مؤمنين

وفى الليلة الثالثة ينادي ملك من تحت العرش؛ استأنف العمل غفر الله ماتقدم من ذنبك

وفى الليلة الرابعة له من الاجر مثل قراءة التوراه والانجيل والزابور والفرقان

وفى الليلة الخامسة أعطاه الله تعالى مثل من صلى في المسجد الحرام ومسجد المدينة والمسجد الاقصى

وفى الليلة السادسة اعطاه الله تعالى ثواب من طاف بالبيت المعمور ويستغفر له كل حجر ومدر

وفى الليلة السابعة فكأنما أدرك موسى عليه السلام ونصره على فرعون وهامان

وفى الليلة الثامنة أعطاه الله تعالى ما أعطى ابراهيم عليه السلام

وفى الليلة التاسعة فكأنما عبد الله تعالى عبادة النبى عليه الصلاة والسلام

وفى الليلة العاشرة يرزقة الله تعالى خير الدنيا والآخرة

وفى الليلة الحادية عشر يخرج من الدنيا كيوم ولد من بطن أمه

وفى الليلة الثانية عشر جاء يوم القيامة ووجهه كالقمر ليلة البدر

وفى الليلة الثالثة عشر جاء يوم القيامة آمنا من كل سوء

وفى الليلة الرابعة عشر جاءت الملائكة يشهدون له أنه قد صلى التراويح فلا يحاسبه الله يوم القيامة

وفى الليلة الخامسة عشر تصلى عليه الملائكة وحملة العرش والكرسى

وفى الليلة السادسة عشر كتب الله له براءة النجاة من النار وبراءة الدخول فى الجنة

وفى الليلة السابعة عشر يعطى مثل ثواب الأنبياء

وفى الليلة الثامنة عشر نادى الملك ياعبدالله أن رضي عنك وعن والديك

وفى الليلة التاسعة عشر يرفع الله درجاته فى الفردوس

وفى الليلة العشرين يعطى ثواب الشهداء والصالحين

وفى الليلة الحادية والعشرين بنى الله له بيتا فى الجنة من النور

وفى الليلة الثانية والعشرين جاء يوم القيامة آمنا من كل غم وهم

وفى الليلة الثالثة والعشرين بنى الله له مدينة فى الجنة

وفى الليلة الرابعة والعشرين كان له اربعه وعشرون دعوة مستجابة

وفى الليلة الخامسة والعشرين يرفع الله تعالى عنه عذاب القبر

وفى الليلة السادسة والعشرين يرفع الله له ثوابه أربعين عاما

وفى الليلة السابعة والعشرين جاز يوم القيامة على السراط كالبرق الخاطف

وفى الليلة الثامنة والعشرين يرفع الله له ألف درجة فى الجنة

وفى الليلة التاسعة والعشرين اعطاه الله ثواب ألف حجة مقبولة

وفى الليلة الثلاثين يقول الله : ياعبدى كل من ثمار الجنة واغتسل من مياه السلسبيل واشرب من الكوثرأنا ربك وأنت عبدى

Dari Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu- berkata bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang keutamaan Shalat Tarawih pada Bulan Ramadhan. Kemudian Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

  • Di malam pertama, orang mukmin keluar dari dosanya , seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.
  • Di malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.
  • Di malam ketiga, seorang malaikat berseru di bawah Arsy, “Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat”.
  • Di malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan.
  • Di malam kelima, Allah Ta’ala memberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjid al-Haram, masjid Madinah, dan Masjid Al-Aqsho.
  • Di malam keenam, Allah -Ta’ala- memberikan pahala orang yang ber-thawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
  • Di malam ketujuh, seolah-olah ia menjumpai Nabi Musa –alaihis salam- dan menolongnya atas Firaun dan Haman.
  • Di malam kedelapan, Allah -Ta’ala- memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
  • Di malam kesembilan, seolah-olah ia beribadah kepada Allah -Ta’ala- sebagaimana ibadah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
  • Di malam kesepuluh, Allah -Ta’ala- mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
  • Di malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
  • Di malam kedua belas, ia datang pada hari kiamat dengan wajah bagaikan bulan di malam purnama.
  • Di malam ketiga belas, ia datang di hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.
  • Di malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih. Lantaran itu, Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.
  • Di malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para pemikul Arsy dan Kursi.
  • Di malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
  • Di malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
  • Di malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, “Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu”.
  • Di malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajatnya dalam surga Firdaus.
  • Di malam kedua puluh, Allah memberi pahala para syuhada’ (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).
  • Di malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya rumah (istana) dari cahaya.
  • Di malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
  • Di malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
  • Di malam kedua puluh empat, ia memperoleh dua puluh empat (24) doa yang dikabulkan.
  • Di malam kedua puluh lima, Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.
  • Di malam kedua puluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
  • Di malam kedua puluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
  • Di malam kedua puluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
  • Di malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
  • Di malam ketiga puluh, Allah ber firman : “Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku”.

Hadits keutamaan tarwih ini, seringkali dibawakan oleh Ustadz Nur Maulana dalam ceramah-ceramahnya seputar Romadhon, sampai sebagian kaum muslimin –khususnya di Sulsel- sudah seringkali mendengarnya dari sang Ustadz tersebut.

Di suatu hari, usai sholat Subuh, di sebuah masjid yang bernama Masjid Wal Ashri, dibilangan Jalan Pelita Raya, Makassar, tiba-tiba tampillah seorang ustadz yang lucu. Dengan “gagahnya” dan berapi-api menyampaikan sebuah ceramah dengan tema “Keutaman Sholat Tarwih pada Setiap Malamnya, mulai Hari Pertama sampai Terakhir”.

Di dalam ia berbicara keutamaan sholat tarwih dan sekali lagi ia bawakan sebuah hadits tentang keutamaan tarwih pada setiap malamnya. Telinga dan hati kami terheran-heran mendengarkan hadits yang begitu rinci menyebutkan keutamaan tarwih dari awal sampai akhir.

Sebagai seorang tholibul ilmi (pelajar ilmu agama), kami tidak tergesa-gesa menghukumi bahwa hadits itu palsu. Hanya kami merasakan keanehan, keganjilan dan keasingan pada lafazh demi lafazh, setiap kali Sang Ustadz membacakannya. Rasa dan bau kepalsuan pada hadits itu amat tampak!!

Sepulang ke rumah, kami segera memeriksa hadits itu di dalam kitab-kitab induk hadits. Dalam waktu cukup lama, kami memeriksa siapa tahu haditsnya shohih atau tidak, maka sampailah kami kepada sebuah pertanyaan besar:

  1. Kenapa hadits ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab induk, semisal : Shohih Al-Bukhoriy, Shohih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidziy, Sunan An-Nasa’iy, Sunan Ibni Majah, Musnad Ahmad, Muwaththo’ Malik, Tiga Mu’jam karya Ath-Thobroniy, As-Sunan Al-Kubro karya An-Nasa’iy dan Al-Baihaqiy, Musnad Asy-Syihab, dan masih banyak lagi kitab-kitab induk yang mengumpulkan semua hadits-hadits Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-?! Kesimpulannya, semua kitab-kitab induk tidak menyebutkan hadits ini!!
  2. Kenapa para ulama ahli fiqih dalam bab-bab tentang Romadhon dan ahli hadits dalam kitab-kitab Fadho’il atau At-Targhib, tak ada satu pun diantara mereka yang menyebutkannya??

Dua pertanyaan ini memberikan isyarat kuat bahwa hadits ini palsu dan laa ashla lahu (tidak ada asal-muasalnya dalam kitab-kitab hadits yang ditulis oleh para ahli hadits yang terpercaya). Setelah melakukan pencarian, paling maksimal bisa kita temukan dalam Durrotun Nashihin fi Al-Wa’zhi wa Al-Irsyad (hlm. 19), tepatnya pada Al-Majlis Ar-Robi’ fi Fadhilati Syahr Romadhon, karya Utsman bin Hasan bin bin Ahmad Al-Khubawiy Ar-Rumiy (wafat 1241 H).

Al-Khubawiy, Penulis Durrotun Nashihin mengisyaratkan bahwa hadits ini terdapat dalam Majalis, yakni Majalis Al-Abror , karya Ahmad bin Abdil Qodir Ar-Rumiy. Disini ada dua hal yang perlu kita cermati:

  1. Kitab Majalis Al-Abror bukanlah kitab hadits bersanad yang meriwayatkan hadits-hadits dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- beserta sanadnya (rawi-rawinya). Kitab ini lebih cenderung sebagai kitab adab dan fikih, bukan kitab hadits. Penulisnya mutakhirin yang hidup jauh dari zamannya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Ia wafat pada tahun 1041 H. Jadi, ia hidup di abad ke-11 hijriah. Ia hidup jauh  dari zaman periwayatan.
  2. Ternyata hadits yang diisyaratkan oleh Al-Khubawiy (yakni, hadits yang kita sedang bahas), tidak ditemukan dalam kitab Majalis Al-Abror!!

Dua perkara ini semakin meyakinkan kita bahwa hadits di atas (yang menyebutkan secara terperinci tentang keutamaan tarwih pada setiap malamnya, mulai malam pertama sampai malam terakhir Romadhon) merupakan hadits palsu!!

Para pembaca yang budiman, agar anda yakin bahwa hadits itu palsu dan diada-adakan oleh sebagian pendusta, kini kami akan mengajak anda untuk melihat beberapa ciri-ciri hadits palsu berikut, lalu anda cocokkan ciri-ciri tersebut dengan poin-poin keutamaan malam-malam tersebut.

Diantara ciri-ciri hadits palsu yang diutarakan oleh para ahli hadits:

  1. Seorang rawi hadits meriwayatkan sebuah hadits yang wajib untuk diketahui dan diamalkan oleh semua orang yang mukallaf, namun ia bersendirian dalam meriwayatkannya. Ini merupakan indikasi kuat yang menunjukkan kedustaan dan palsunya hadits itu. [Lihat Al-Hiththoh (hal. 94), karya Shiddiq Hasan Khan]

Kalau kita hubungkan ciri ini dengan hadits tarwih ini, maka hadits ini andaikan shohih (benar) dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka pasti akan diriwayatkan oleh banyak ahli hadits, sebab mengandung banyak keutamaan yang besar, mampu memompa semangat manusia dalam menjalankan tarwih. Tapi ternyata hadits ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadits yang marfu’ sampai kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Dari sini anda tahu kepalsuannya.

  1. Ciri kedua, suatu hadits yang menyelisihi konsekuensi akal sehat dan syariat, dimana kaedah-kaedah syariat (qowa’id syar’iyyah) mendustakannya. [Lihat Al-Hiththoh (hal. 95), karya Shiddiq Hasan Khan]

Jika kita hubungkan hadits keutamaan tarwih yang kita bahas ini, maka jelas sekali di dalamnya mengandung hal-hal yang diingkari dan didustakan oleh syariatkan. Kita ambilkan contoh dari lafazh-lafazh keutamaan tarwih tersebut. misalnya :

  • Di malam kedelapan, Allah -Ta’ala- memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
  • Di malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah -Ta’ala- sebagaimana ibadah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
  • Di malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.

Tiga lafazh ini merupakan kalimat-kalimat mungkar dan menyalahi kaedah dan prinsip syariat dan agama kita. Perhatikanlah hadits ini menetapkan bahwa orang-orang yang menghidupkan malam ke-7 dengan tarwih, maka ia mencapai derajat Nabi Musa –alaihis salam-; yang menghidupkan malam ke-8, akan mendapatkan keutamaan yang didapatkan oleh Nabi Ibrahim –alaihis salam-. Lebih mungkar lagi, hadits ini menetapkan bahwa siapa yang menghidupkan malam ke-17, maka ia mendapat pahala seperti yang didapatkan oleh para nabi. La haula wala quwwata illa billah.

Ketahuilah bahwa para ulama telah menetapkan dan berijma’ (sepakat) bahwa tidak ada manusia yang mampu menyamai atau mengalahkan keutamaan dan derajat para nabi dan rasul. Oleh karena itu, mereka menetapkan bahwa para nabi dan rasul adalah manusia termulia di sisi Allah, tak ada yang mampu mengejar keutamaan mereka, walaupun kita mengerjakan begitu banyak amalan.

Mereka diberi keutamaan karena kuatnya ma’rifah (ilmu) dan keimanan mereka kepada Allah yang melahirkan amal sholih yang agung.

Al-Imam Muhammad bin Yahya Al-Adniy -rahimahullah- berkata,

أفضل الناس إيمانا أفضلهم معرفة

“Manusia yang paling utama keimanannya adalah manusia yang utama pengenalannya”. [Al-Iman (hal. 133) karya Al-Adniy]

Siapakah diantara kita yang paling mengenal Allah, kampung akhirat, hakikat kehidupan, dan seluk-beluk syariat?! Jawabannya, yang paling tahu dan mengenal perkara-perkara itu adalah para nabi dan rasul, setelah itu para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, lalu para ulama.

Al-Imam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah Al-Harroniy -rahimahullah- berkata usai menjelaskan kesesatan kaum sufi,

لَكِنَّ الْمَقْصُودَ أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ الصَّحَابَةَ خَيْرُ الْقُرُونِ وَأَفْضَلُ الْخَلْقِ بَعْدَ الْأَنْبِيَاءِ

“Akan tetapi yang diinginkan (disini), (harus) diketahui (oleh manusia) bahwa para sahabat adalah generasi terbaik dan makhluk yang paling utama setelah para nabi”. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (27/394)]

Ini merupakan prinsip dan keimanan yang sudah disepakati dan terwarisi di kalangan kaum muslimin bahwa manusia yang paling utama adalah para nabi dan rasul, setelah itu para sahabat Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-. Kemudian sahabat yang utama adalah Abu Bakr, lalu Umar, lalu Utsman, lalu Ali -radhiyallahu anhum-

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Imam Abu Bakr As-Suyuthiy -rahimahullah- berkata,

فالأحاديث الصحيحة والإجماع على أن أبا بكر ، وعمر أفضل الخلق بعد النبيين والمرسلين .

“Hadits-hadits shohih dan ijma’ (kesepakatan para ulama umat) bahwa Abu Bakr dan Umar adalah manusia yang paling utama setelah para nabi dan rasul”. [Lihat Al-Hawi lil Fatawa (2/73)]

Inilah ijma’ dan prinsip agama yang diselisihi oleh hadits keutamaan tarwih yang sedang kita bahas ini.

  1. Diantara ciri hadits palsu, dari sisi lafazh dan makna adalah lemah dan buruk, dimana hadits itu mengandung lafazh-lafazh tidak sesuai dengan kaedah-kaedah bahasa Arab atau tidak sejalan dengan posisi kenabian dan kewibawaan kerasulan; atau ditemukan padanya suatu kesalahan. [Lihat Al-Hiththoh (hal. 95) oleh Shiddiq Hasan Khan]

Jika dihubungkan dengan hadits tarwih ini, maka kita akan menemukan sebuah kelemahan dalam penggunaan istilah “tarawih” (التراويح), maka ini adalah lafazh yang tak pernah digunakan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya. Lafazh ini lahir setelah munculnya kebiasaan sholat tarwih kembali dihidupkan, dimana kaum muslimin pada zaman itu, jika mereka sholat 4 rakaat tarwih, maka mereka istirahat dari lelah dan panjangnya sholat. Sejak itulah, sholat lail (malam) yang mereka lakukan dimanai oleh para ulama setelahnya dengan “sholat tarawih” (sholat yang melegakan).

  1. Ciri lain dari hadits palsu, hadits itu berlebihan dalam memberikan ancaman keras atas dosa kecil, atau ia mengandung janji yang besar atau suatu amalan yang ringan, kecil atau sedikit, seperti hadits yang berbunyi:

من صلى ركعتين فله سبعون ألف دار، في كل دار سبعون ألف بيت، في كل بيت سبعون ألف سرير، على كل سرير سبعون ألف جاريةٍ،

“Siapa yang sholat dua rakaat, maka ia akan mendapatkan 70 ribu perkampungan. Di dalam setiap perkampungan terdapat 70 ribu rumah. Pada setiap rumah itu terdapat terdapat 70 ribu ranjang. Pada setiap ranjang terdapat 70 ribu gadis (bidadari)”.

Ahli Hadits Negeri India di zamannya, Al-Imam Shiddiq Hasan Khan berkata usai membawakan hadits palsu ini,

بل أحاديث هذا النسق كلها تعد موضوعة سواء كانت في باب الثواب أو باب العقاب

“Bahkan hadits-hadits seperti ini modelnya, semuanya teranggap palsu, sama saja apakah dalam perkara pahala atau perkara ancaman”. [Lihat Al-Hiththoh (hal. 96) oleh Shiddiq Hasan Khan]

Pernah kami dengar dari Ustadz Muhammad Nur Maulana saat membawakan hadits keutamaan tarwih ini. Di saat tiba pada keutamaan malam kedua puluh satu, yaitu Allah membangun untuknya rumah (istana) dari cahaya.

Setelah itu, ia sebutkan bahwa di dalam surga ia akan mendapatkan 70 ribu rumah, di dalam setiap rumah itu ada 70 ribu ranjang, di dalam setiap ranjang ada 70 ribu bantal, dan pada setiap bantal ada 70 ribu bidadari. Ini yang kami ingat sebagian isi ceramahnya saat ia berceramah di Masjid Wal Ashri, Makassar. Ternyata semua ini adalah kepalsuan di atas kepalsuan. Lafazh hadits yang ia tambahkan bukan bagian dari lafazh hadits yang sedang kita bahas. Ia merangkai sebuah hadits palsu dengan hadits palsu lainnya!!

  1. Ciri berikutnya hadits itu bisa dihukumi dari lahiriah dan redaksinya sebagai hadits palsu, hadits itu menyebutkan pahala haji dan umroh bagi amalan yang kecil dan ringan. [Lihat Al-Hiththoh (hal. 96)]

Di dalam hadits keutamaan tarwih yang dibawakan oleh Ustadz M. Nur Maulana itu, ada lafazh yang seperti ini cirinya. Coba anda baca keutamaan malam ke-29 dari hadits palsu itu. Lafazhnya begini:

“Di malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.”

Subhanallah, satu amalan sunnah (sholat tarwih) bisa menyamai, bahkan amalan wajib (seperti, haji). Satu malam tarwih mampu menghimpun pahala 1000 kali haji. Kalau begitu, ya ndak usah haji!!

Hadits maudhu’ (palsu) seperti inilah yang membuat kaum muslimin malas beribadah dan berangan-angan jauh lagi kosong. Padahal ia telah dibohongi oleh hadits-hadits palsu ini melalui lisannya para muballigh yang kurang ilmu dan rasa takutnya kepada Allah -Tabaroka wa Ta’ala-.

  1. Ciri keenam suatu hadits dianggap palsu, ia menyebutkan bahwa orang yang melakukan amal kebaikan akan diberi janji pahala para nabi dan rasul, seperti yang anda lihat pada hadits keutamaan malam-malam tarawih ini. [Lihat Al-Hiththoh (hal. 96)]
  2. Diantara sifat dan tanda hadits palsu, ia mengandung perkara yang mengharuskan umat bersepakat di atas kesesatan. [Lihat Al-Mufashshol fi Ulumil Hadits (1/169)]

Di dalam hadits tarwih yang kita bahas di atas, ada sesuatu yang semisal ini, seperti yang anda lihat pada:

  • Di malam kedelapan, Allah -Ta’ala- memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
  • Di malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah -Ta’ala- sebagaimana ibadah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
  • Di malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.

Lafazh-lafazh yang seperti ini menyalahi kesepakatan para ulama dari zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, para sahabat dan setelahnya bahwa tak ada manusia yang mampu mengejar keutamaan para nabi, walaupun ia melakukan banyak amalan. Seakan ulama yang sudah bersepakat tersebut, semuanya salah atau sesat. Sebaliknya, hadits palsu inilah yang benar. Jelas ini merupakan konsekuensi batil dan sesat!!

Nasihat dan Peringatan

Demikianlah penjelasan tentang kepalsuan hadits tentang keutamaan tarwih pada setiap malam-malam Romadhon. Oleh karena itu, hendaknya para muballigh yang menyebarkan hadits palsu segera bertobat kepada Allah -Tabaroka wa Ta’ala- dari menyebarkan dan mendakwahkannnya kemana-mana, sebelum anda mati dan mendapatkan ancaman yang keras dalam hadits di bawah ini:

وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya(110), dan Muslim dalam Shohih-nya (3)]

Periksalah hadits-hadits yang kalian sampaikan dalam ceramah-ceramah kalian. Jika tidak tahu, maka belajarlah, dan tanya kepada orang-orang yang berilmu. Janganlah perasaan malu dan sombong membuat dirimu malu bertanya dan belajar sehingga engkau sendiri yang menggelincirkan dirimu dalam neraka, wal’iyadzu billah !!

Kebanyakan muballigh dan dai yang tergelincir dalam kesalahan meriwayatkan hadits lemah atau palsu, muncul dari kalangan muballigh yang kurang perhatiannya dengan ilmu ushul dan mushtholah. Kerjanya, “yang penting hati bapak senang” atau “hati jamaah senang”.

Ini merupakan bala’, munculnya banyak dai-dai yang rapuh, atau bahkan tidak ada dasar ilmu agamanya. Karenanya, dai-dai seperti ini kosong ceramahnya dari Kitabullah, hadits yang shohih, atau atsar para salaf. Kebanyakannya hanya pandai cerita, bersilat lidah dan melawak saja. Sekali lagi, ini bala’ (musibah)

Al-Imam As-Suyuthiy, Penulis Tafsir Al-Jalalain -rahimahullah- berkata,

وقال ابن الجوزي في كتاب الموضوعات : ((معظم البلاء في وضع الحديث إنما يجري من القصاص لأنهم يريدون أحاديث ترقق وتنفق والصحاح تقل في هذا، وما أكثر ما يعرض علي أحاديث ذكرها قصاص الزمان فأردها عليهم ويحقدون علي)) اهـ

“Ibnul Jauzi berkata dalam kitab Al-Muadhu’at, “Kebanyakan bala’ (musibah) dalam memalsukan hadits hanyalah terjadi (muncul) dari para tukang cerita. Karena mereka menginginkan hadits-hadits yang melembutkan hati dan laris (digemari). Sementara hadits-hadits yang shohih sedikit dalam perkara seperti ini. Alangkah banyaknya disodorkan kepadaku hadits-hadits yang disebutkan oleh para tukang cerita itu di zaman ini (yakni, para muballigh yang kosong ilmu dan ketaqwaannya). Lalu aku pun membantahnya dan mereka pun dendam kepadaku”. [Lihat Tahdzir Al-Khuwwash (hal. 155-156) karya As-Suyuthiy, dengan tahqiq Muhammad Luthfi Ash-Shobbagh, cet. Al-Maktab Al-Islamiy, 1394]

Inilah yang perlu kami utarakan dalam bahasan singkat ini tentang hadits yang dimasyhurkan oleh Ust. Muhammad Nur Maulana seputar keutamaan malam-malam tarwih.

Terakhir, perlu kami jelaskan bahwa para ulama yang terkumpul dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ telah menjelaskan derajat hadits ini dan hadits lain lagi saat ditanyai tentangnya.

Mereka menjawab,

كِلاَ الْحَدِيْثَيْنِ لاَ أَصْلَ لَهُ، بَلْ هُمَا مِنَ اْلأَحَادِيْثِ الْمَكْذُوْبَةِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Kedua hadits tersebut adalah hadits yang tidak ada sumbernya (la ashla lahu). Bahkan, keduanya termasuk hadits-hadits yang dipalsukan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (4/481)]

 

No Responses

Leave a Reply