Islam Menjunjung Tinggi Harkat dan Martabat Wanita

Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah-

Sebuah hembusan syubhat dan tuduhan kosong yang datang dari arah orang-orang kafir dan munafik serta orang-orang yang tertipu dengan mereka bahwa Islam merendahkan martabat wanita, memperbudaknya, menghinakan, menekannya, menzhaliminya, mengungkungnya, serta berbagai macam tuduhan keji lainnya.

Tuduhan keji ini tiada gunanya. Ia hanyalah angin lalu dan lalat busuk yang akan pergi sendiri setelah nyatanya kebenaran!!

Islam adalah agama yang datang dari Allah Sang Pencipta yang mengetahui segala seluk-beluk makhluk ciptaannya serta segala hajat dan kemaslahatan mereka. Dialah yang mengatur posisi dan kedudukan makhluknya, termasuk kedudukan wanita dan lelaki. Allah telah menempatkan mereka dengan penempatan yang adil dan bijak, bukan curang dan khianat!!

Jika ingin melakukan studi secara seksama dari lembaran-lembaran Al-Qur’an, maka kita akan mendapati pengaturan maha hebat dalam memuliakan kaum wanita. Sehingga haram hukumnya seorang muslim menuduh bahwa Islam telah menzhalimi wanita. Bahkan para wanita belum pernah dimuliakan dalam sejarah bangsa kafir sebagaimana ia dimuliakan oleh Islam.

Lihat saja –sebagai contoh- Allah -Subhanahu wa Ta’ala- memerintahkan kaum lelaki selaku suami agar memperlakukan wanita dengan cara yang ma’ruf.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آَتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا  [النساء/19]

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menghalangi mereka (dari menikahi orang lain setelah menalaknya), karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata[1]. Dan Pergaulilah mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah), karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (QS. An-Nisaa’ : 19)

Menurut adat sebahagian Arab Jahiliyah apabila seorang meninggal dunia, maka anaknya yang tertua atau anggota keluarganya yang lain mewarisi janda itu. Janda tersebut boleh dikawini sendiri oleh si anak atau dikawinkan dengan orang lain, tapi maharnya diambil oleh pewaris atau tidak dibolehkan kawin lagi. [Lihat Fathul Qodir (2/106) karya Al-Imam Asy-Syaukaniy]

Islam datang menghapuskan aturan jahiliah yang merendahkan dan menyusahkan para wanita. Sebab para wanita, mereka sejajarkan dengan barang (benda) warisan atau mirip budak. Bahkan para wanita diberikan kebebasan oleh Allah untuk menikahi lelaki usai masa iddah, bila ditinggal mati oleh sang suami atau ditinggal karena talak. Ayat ini melarang suami menahan istri dan membuatnya terkatung-katung sehingga membuat ia terzhalimi. Ayat ini turun sebagai pelajaran bagi kaum lelaki bahwa tak boleh membuat istri terkatung-katung. Jika memang tak menyukainya, maka ceraikan dengan cara yang baik. Jangan nanti diceraikan saat ia minta dicerai sehingga terjadi khulu’ (permintaan cerai dari pihak istri). Jika terjadi cerai, maka ia pun harus membayar fidyah.

Islam telah menjaga hak-hak para wanita dan menempatkan mereka pada kedudukan yang amat tinggi, walaupun kaum lelaki tentunya lebih ditinggikan oleh Allah -Azza wa Jalla-. Sehingga sebuah kekeliruan besar jika sebagian orang menuduh Islam telah merendahkan martabat para wanita, mengungkungnya, dan menyepelekannya.

Sakingnya mulianya wanita di dalam Islam, Allah -Azza wa Jalla- mewajibkan para wanita menutupi seluruh badannya dengan jilbab yang syar’iy dan benar, bukan jilbab gaul yang ketat lagi transparan. Apa hikmahnya? Hikmahnya agar para wanita terhormat dan tidak menjadi bulan-bulanan dan permainan bagi para lelaki jahat dan berpenyakit hati.

Allah -Ta’ala- berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا [الأحزاب/59]

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab : 59)

Al-Imam Abu Hayyan Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata,

“Kebiasaan kaum jahiliah dulu bahwa wanita dan budak mereka keluar dalam keadaan tampak wajahnya saat menggunakan pakain dan kerudung. Sementara orang-orang yang suka berzina suka menghadang para budak wanita, bila para wanita keluar di waktu malam untuk buang air di sela-sela pohon kurma dan tempat-tempat cekung. Terkadang mereka menghadang para wanita merdeka dengan alasan itu budak seraya berkata, “Kami menyangkanya budak!!”. Maka wanita muslimah pun  (setelah datangnya Islam) diperintahkan untuk membedakan cara berpakaian mereka dengan para budak wanita dengan menggunakan pakaian dan penutup serta menutup kepala dan wajah agar mereka disegani dan tidak lagi diincar. Diriwayatkan bahwa dulu di Kota Madinah ada suatu kaum yang suka duduk di tempat-tempat tinggi demi mengintip para wanita, menghadang dan menggoda mereka. Lalu turunlah ayat ini”. [Lihat Al-Bahr Al-Muhith (7/205), cet. Dar Al-Fikr]

Perhatikanlah keindahan Islam dalam memuliakan para wanita. Semua ini membantah segala tuduhan keji dan opini buruk bahwa Islam merendahkan para wanita.

Para wanita ditutup dan dijaga rapi badannya agar jangan dijadikan komoditi dagang murahan di depan para lelaki hidung belang dan play boy.

Lirik juga pemuliaan Islam terhadap wanita dalam hal pekerjaan. Para lelaki sebagai suami diberi kewajiban mencari nafkah bagi istri dan anak-anaknya agar Istri tak keluar rumah sehingga bercampur baur dengan kaum lelaki yang bukan mahramnya di lapangan kerja. Cukup mereka membantu suami di rumah mendidik anak, mengurusi rumah tangga dan hajat suami yang mampu mereka selesaikan di rumah. Ini bukanlah larangan keluar secara mutlak sebagaimana yang dipahami oleh orang jahil. Boleh mereka keluar dari rumah bila ada hajat yang amat penting, seperti belajar, sholat, berjihad atau perkara lainnya yang dibenarkan oleh agama. Jika tak ada hajat yang amat penting, maka sebaiknya mereka bersabar di rumah. Sebab keluarnya wanita dari rumah, sering menimbulkan berbagai macam problema sosial. Wanita dengan segala kelembutan dan kemolekannya seringkali menggoda dan menggelincirkan kaum lelaki, baik para wanita sadari atau tidak.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman kepada para wanita,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ [الأحزاب/33]

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya”. (QS. Al-Ahzab : 33)

Jika para wanita bersabar tinggal di rumah membantu pekerjaan orang tua atau suami bila sudah bersuami. Semua ini adalah ibadah dan ketaatan yang akan diberi balasan besar bila para wanita melakukannya karena taat kepada Allah.

Al-Imam Ibnu Asyur Al-Malikiy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan perintah tinggal di rumah bagi para wanita, “Ini adalah perkara yang dikhususkan bagi mereka, yakni wajibnya tinggal di rumah mereka sebagai bentuk pemuliaan bagi mereka dan penguat bagi bagi kesucian mereka. Jadi, tinggalnya mereka di rumah-rumah mereka adalah ibadah”. [Lihat At-Tahrir wa At-Tanwir (11/247)]

Adapun sikap kaum kafir terhadap wanita, maka mereka menginginkan agar para wanita keluar dari rumah kemuliaannya, lalu keluar menyaingi kaum lelaki dalam mengerjakan banyak job yang semestinya ditangani kaum lelaki. Di tempat kerja mereka bercampur baur dan saling bermuamalah bebas. Jangan heran bila banyak kerusakan sosial timbul di masyarakat. Semua itu akibat bebasnya wanita bekerja di luar rumah.

Itulah hasil emansipasi barat yang melanda negeri kita yang tercinta ini. Kini meninggalkan jejak dan bekas buruk di masyarakat Islam –secara khusus- dan seluruh masyarakat –secara umum-. Wallahul musta’an.

Gerakan dan propaganda yang mengeluarkan wanita dari rumahnya, lalu keluar kemana-mana dengan bebas, sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala. Sehingga mereka pun hina karenanya.

Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan –hafizhahullah- berkata,

“Sikap orang-orang kafir terhadap wanita pada hari ini sama dengan sikap mereka kemarin. Mereka ingin agar para wanita menangani pekerjaan-pekerjaan kaum lelaki yang wanita tak dicipta untuk itu dan memang mereka tak punya kesiapan dalam menanganinya. Orang-orang kafir ingin agar para wanita keluar dari kemuliaan dan kesuciannya. Mereka ingin agar wanita terpajang di depan mereka sehingga mereka dapat bersenang-senang dengan para wanita dengan murahan selama wanita itu masih hijau (muda). Namun bila sudah layu (tua), maka akan membuangnya bersama sampah-sampah!! Akhirnya, jatuhlah perhiasan itu (yakni, wanita) sampai ia mati dalam kondisi hina dan rendah”. [Lihat Al-Mar’ah baina Takrim Al-Islam wa Da’aawa At-Tahrir (84-85) karya Muhammad bin Nashir Al-Uroiniy, cet. Mathba’ah Safir, 1420 H]

Para pembaca yang budiman, kemuliaan wanita semakin diangkat dengan pendidikan yang mereka harus kecap sebagaimana halnya lelaki.

Allah -Azza wa Jalla- berfiman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ [التحريم/6]

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim : 06)

Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thobariy -rahimahullah- berkata dalam menafsirkan ayat ini,

“Ajarilah sebagian orang atas sebagian yang lainnya sesuatu yang dapat kalian gunakan dalam melindungi orang yang kalian ajari dari neraka dan menghalau neraka darinya jika ia menagamalkannya berupa ketaatan kepada Allah dan lakukanlah ketaatan kepada Allah”. [Lihat Jami’ Al-Bayan (23/491), cet. Mu’assasah Ar-Risalah]

Kemudian Ath-Thobariy menyebutkan sebuah atsar dari sahabat Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu- bahwa maknanya “…peliharalah…” adalah ajarilah dan didiklah mereka.

Ini menunjukkan bahwa Islam dari dulu sudah mendorong para suami dan penanggung jawab keluarga agar mereka mendidik keluarganya agar mereka selamat di dunia dan akhirat dari neraka.

Ini membungkam mulut para pendusta yang menyatakan bahwa Islam tidak memberikan pendidikan kepada wanita. Sehingga mereka pun secara dusta menyatakan bahwa perempuan harus dientaskan dari keterbelakangan dan kebodohannya. Muncullah istilah emansipasi wanita. Seakan-akan wanita tidak diperhatikan dalam Islam, lalu orang-orang kafir itulah yang memperhatikan para wanita dan memberikan pendidikan kepada kaum wanita!!

Diantara pemuliaan Islam terhadap kaum wanita, Allah menjaga dan menetapkan bagian warisan mereka di dalam Islam. Adapun di zaman jahiliah, maka mereka tidak mendapatkan warisan, bahkan mereka ikut diwarisi. Bagian-bagian mereka telah dijelaskan oleh Allah di awal-awal lembaran Surah An-Nisaa’.

Pembagian yang adil ini datang dari Allah Sang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Di dalamnya tak ada kecurangan sedikit pun. Allah menetapkan perbedaan bagian bagi setiap manusia berdasarkan hajat dan kemaslahatan mereka menurut ilmu Allah -Azza wa Jalla-.

Kemudian sisi lain yang kadang kurang diperhatikan orang bahwa Allah memerintahkan wanita sebagaimana hal pria agar menundukkan pandangannya dari semua perkara yang haram dilihat demi menjaga dan memuliakan wanita.

Allah -Ta’ala- berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُن [النور : 30 ، 31]

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya”. (QS. An-Nuur : 30-31).

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata,

“Ini adalah perintah dari Allah -Ta’ala- bagi para hamba-Nya yang beriman agar mereka menundukkan sebagian pandangan mereka dari sesuatu yang diharamkan bagi mereka. Jadi, janganlah mereka melihat, kecuali kepada sesuatu yang Allah halalkan untuk dilihat oleh mereka. Allah juga perintahkan agar menundukkan pandangan mereka dari perkara-perkara haram (untuk dilihat). Jika kebetulan matanya melihat sesuatu yang diharamkan, tanpa sengaja, maka hendaklah ia memalingkan pandangannya dari hal itu dengan secepatnya”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/41)]

Inilah petunjuk Islam bagi mata para lelaki dan wanita sebagai bentuk penjagaan terhadap syahwat mereka agar tidak terjerumus dalam kehinaan. Mereka harus memalingkan mata dari yang haram –misalnya, wanita bukan mahram-, bila bertemu di jalan. Kalau pun melihatnya karena tidak sengaja, maka segera palingkan mata ke arah lain. Ini sesuai petunjuk dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya.

Dari Jarir bin Abdillah Al-Bajaliy -radhiyallahu anhu- berkata,

سألت النبي صلى الله عليه وسلم، عن نظرة الفجأة، فأمرني أن أصرفَ بَصَري.

“Aku bertanya kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tentang pandangan spontan (tiba-tiba). Beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2159)]

Semua ini adalah bentuk penjagaan dan pemuliaan kepada wanita dari kubang-kubang kehinaan.

Inilah sebagian dari pemuliaan Islam terhadap wanita. Jika kita ingin menghitungnya satu-persatu, maka perlu waktu yang panjang. Semoga saja suatu saat kami akan angkat lagi sebagiannya pada waktu lain.

 


[1] Maksudnya: berzina atau membangkang perintah suami dalam perkara yang baik menurut agama.

No Responses

Leave a Reply