Hukum Ucapan Selamat Natal dan Natal Bareng

Hukum Ucapan Selamat Natal dan Natal Bareng

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

[Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa, Sulsel]

gambar hukum mengucapkan selamat natalDi suatu majelis, seorang teman menyampaikan suatu berita yang menyayat hati. Pasalnya, ia menemukan suatu berita tentang keikutsertaan sebuah partai besar bernama PKB dalam perayaan natal bersama kaum Nasrani (Kristen).

Suatu hari sejak mendengar berita itu, hati kami risau dengan berita itu. Akhirnya, kami coba berselancar di dunia maya untuk mencari tahu kebenaran berita itu. Ternyata sebuah foto dirilis dalam sebuah situs resmi umat Kristiani (Nasrani alias Kristen) bahwa PKB akan melaksanakan Natal bareng dengan kaum kafir. Subhanallah, sungguh ini adalah sebuah ide gila dan persatuan terlaknat!!

PKB yang dideklarasikan oleh lima Kyai NU (Nahdlatul Ulama) 23 Juli 1998 M, kini bukan hanya berbasa basi mengucapi selamat natal, namun justru menyelenggarakan perayaan natal.

Spanduk yang terpampang di jalan raya, dapat dibaca jelas. Sungguh aneh, perayaan kaum kafir, namun diadakan oleh partai PKB yang didirikan oleh para kyai NU itu dilaksanakan di Graha Bethel Jl Ahmad Yani Kav 65, Cempaka Putih (By Pass) Jakarta Pusat, Kamis 05 Des 2013 pukul 18.30, dengan menghadirkan Pendeta Gilbert Lumoindong, S.Th sebagai pembicara dalam acara itu!![1]

Spanduk ini dirilis secara resmi oleh sebuah situs umat Kristiani sebagaimana yang anda dapat lihat di dunia maya[2]. Dengan momen ini, kaum Kristen senang kegirangan, ternyata partai yang mengusung nama ulama Islam, dapat mereka pecundangi dalam menyebar misi Kristenisasi. Sadar atau tidak, kaum muslimin telah dibodohi!!

Setelah kami berhasil menemukan foto yang diisyaratkan oleh teman tadi, waduh mata kami diserang lagi oleh berita lain tentang Natalan Bareng ini.

Dirilis dalam situs resmi UIN Makassar suatu berita tertanggal 20 Desember 2013 M : “Perayaan natal yang digelar oleh PLN kali ini, ada nuansa yang beda dari perayaan-perayaan sebelumnya, yaitu kehadiran mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama Prodi Sosiologi Agama (SA) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar yang diundang oleh Panitia untuk turut merayakan natal bersama ummat Kristen”[3].
Demikian yang dirilis dalam situs resmi UIN Makassar, sebuah perguruan tinggi yang dianggap mengusung misi Islam. Namun mahasiswa dari perguruan tinggi ini amat berani melanggar perkara yang tidak berani dilanggar oleh kaum awam pada umumnya. Inikah Islam?! Jelas bukan Islam, bahkan ia merupakan sebab yang menyukseskan misi Kristenisasi.

Ini adalah musibah besar bagi umat Islam, mahasiswa “Islam” kini mengajak umat Islam untuk bernatal bersama!! Subhanallah, sungguh ini adalah kemungkaran besar!!

Para pembaca yang budiman, dua fenomena tragis lagi miris ini telah memaksa kami menurunkan sebuah fatwa tentang hal ini. Sengaja kami pilihkan fatwa ulama Islam, agar kita mengetahui bahwa pengingkaran kami, bukanlah dibangun di atas prasangka, bahkan telah ditopang oleh penjelasan dan keterangan ulama kita. Sedang ucapan dan fatwa mereka tentunya berdiri di atas dalil-dalil syariat!!

Kali ini kami akan menurunkan sebuah fatwa resmi dari seorang terkenal di Timur Tengah, beliau dikenal dengan nama Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- (wafat 1421 H).

Seorang penanya pernah melayang suatu pertanyaan kepada beliau, seraya berkata,

حكم تهنئة الكفار بعيد الكريسمس؟ وكيف نرد عليهم إذا هنئونا به؟ وهل يجوز الذهاب إلى أماكن الحفلات التي يقيمونها بهذه المناسبة؟ وهل يأثم الإنسان إذا فعل شيئا مما ذكر بغير قصد؟ وإنما فعله إما مجاملة أو حياء أو إحراجا أو غير ذلك من الأسباب؟ وهل يجوز التشبه بهم في ذلك؟

“Apa hukumnya mengucapkan, “Selamat Natal” (“Happy Christmas”) kepada orang- orang Kafir?  Bagaimana pula menjawab mereka bila mereka mengucapkannya kepada kita?  Apakah boleh pergi ke tempat-tempat pesta yang mereka mengadakan dalam momen sepeti ini (yakni, dalam momen Natal)?  Apakah seseorang berdosa, bila melakukan sesuatu dari yang disebutkan tadi tanpa maksud yang sebenarnya. Dia melakukannya hanya untuk berbasa-basi, malu, nggak enak perasaan atau sebab- sebab lainnya?  Apakah boleh menyerupai mereka di dalam hal itu?”

Usai mendengarkan pertanyaan ini, Syaikh Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata,

تهنئة الكفار بعيد الكريسمس أو غيره من أعيادهم الدينية حرام بالاتفاق، كما نقل ذلك ابن القيم -رحمه الله- في كتابه “أحكام أهل الذمة”، حيث قال: “وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم، فيقول: عيد مبارك عليك، أو تهنأ بهذا العيد ونحوه، فهذا إن سلم قائله من الكفر، فهو من المحرمات، وهو بمنزلة أن تهنئه بسجوده للصليب، بل ذلك أعظم إثما عند الله، وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس، وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك، ولا يدري قبح ما فعل، فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه”. انتهى كلامه رحمه الله.

وإنما كانت تهنئة الكفار بأعيادهم الدينية حراما، وبهذه المثابة التي ذكرها ابن القيم؛ لأن فيها إقرارا لما هم عليه من شعائر الكفر، ورضا به لهم، وإن كان هو لا يرضى بهذا الكفر لنفسه، لكن يحرم على المسلم أن يرضى بشعائر الكفر، أو يهنئ بها غيره؛ لأن الله تعالى لا يرضى بذلك، كما قال الله تعالى: { إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ } . وقال تعالى: { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا } .

وتهنئتهم بذلك حرام سواء كانوا مشاركين للشخص في العمل أم لا. وإذا هنئونا بأعيادهم، فإننا لا نجيبهم على ذلك؛ لأنها ليست بأعياد لنا، ولأنها أعياد لا يرضاها الله تعالى؛ لأنها إما مبتدعة في دينهم، وإما مشروعة، لكن نسخت بدين الإسلام الذي بعث الله به محمدا -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إلى جميع الخلق، وقال فيه: { وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ } .

وإجابة المسلم دعوتهم بهذه المناسبة حرام؛ لأن هذا أعظم من تهنئتهم بها، لما في ذلك من مشاركتهم فيها.

وكذلك يحرم على المسلمين التشبه بالكفار بإقامة الحفلات بهذه المناسبة، أو تبادل الهدايا أو توزيع الحلوى، أو أطباق الطعام، أو تعطيل الأعمال ونحو ذلك، لقول النبي -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: « من تشبه بقوم فهو منهم » . قال شيخ الإسلام ابن تيمية في كتابه: (اقتضاء الصراط المستقيم مخالفة أصحاب الجحيم): “مشابهتهم في بعض أعيادهم توجب سرور قلوبهم، بما هم عليه من الباطل، وربما أطمعهم ذلك في انتهاز الفرص واستذلال الضعفاء”. انتهى كلامه رحمه الله.

ومن فعل شيئا من ذلك فهو آثم سواء فعله مجاملة، أو توددا، أو حياء أو لغير ذلك من الأسباب؛ لأنه من المداهنة في دين الله، ومن أسباب تقوية نفوس الكفار وفخرهم بدينهم.

والله المسئول أن يعز المسلمين بدينهم، ويرزقهم الثبات عليه، وينصرهم على أعدائهم، إنه قوي عزيز.

“Mengucapkan “Selamat Natal” (“Happy Christmas”), atau perayaan keagamaan mereka lainnya kepada orang-orang Kafir adalah haram hukumnya menurut iitifaq’ (kesepakatan para ulama, sebagaimana dinukil dari Ibnul Qayyim –rahimahullah- di dalam kitabnya “Ahkâm Ahl adz-Dzimmah”, beliau berkata,”Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka, maka itu adalah haram menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat terhadap hari-hari besar mereka dan puasa mereka, sembari mengucapkan, “Semoga hari raya anda diberkahi bagi anda” atau anda yang diberikan ucapan selamat berkenaan dengan perayaan hari besarnya itu dan semisalnya.  Perbuatan ini, kalaupun orang yang mengucapkannya dapat selamat dari kekafiran, maka perbuatan ini tidak akan selamat dari hal-hal yang diharamkan. Ucapan semacam ini setara dengan engkau ucapkan selamat dengan sebab sujudnya ia kepada salib. Bahkan hal itu (selamat hari raya) lebih besar  dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dibanding memberikan ucapan selamat atas minum-minum khamar, membunuh jiwa, melakukan zina dan sebagainya.  Banyak sekali orang yang nilai keimanan di sisinya,  terjatuh ke dalam hal itu. Sementara itu, dia tidak mengerti keburukan sesuatu yang ia perbuat. Jadi, barangsiapa yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena melakukan suatu maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka berarti dia akan menghadapi kemurkaan Allah dan Kemarahan-Nya”[4]. Ucapan Ibnul Qoyyim -rahimahullah- telah selesai. 

  

Mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir berkenaan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan mereka adalah haram dan kedudukannya seperti ini (seperti) yang telah disebutkan oleh Ibnul Qoyyim -rahimahullah-. Karena, di dalamnya terdapat persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekafiran (yang mereka lakukan) dan meridhai hal itu bagi mereka. Walaupun dirinya sendiri tidak ridho (rela) terhadap kekufuran itu, akan tetapi haram bagi seorang Muslim meridhai syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat kepada orang lain berkenaan dengannya, karena Allah Ta’ala tidak meridhai hal itu, sebagaimana yang Allah -Ta’ala- firmankan,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلاَ يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu”. (QS. Az-Zumar : 7)

Allah -Ta’ala- juga berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama kalian”. (QS. Al-Maa’idah : 3)

Jadi, mengucapkan selamat kepada mereka berkenaan dengan hal itu adalah haram, baik mereka itu rekan-rekan satu pekerjaan dengan seseorang (Muslim) ataupun tidak.

Bila mereka mengucapkan selamat berkenaan dengan hari-hari besar mereka kepada kita, maka kita tidak boleh menjawabnya karena hari-hari besar itu bukanlah hari-hari besar kita.  Juga karena ia adalah hari besar yang tidak diridhai Allah Ta’ala; baik disebabkan perbuatan mengada-ada ataupun disyari’atkan di dalam agama mereka, akan tetapi hal itu semua telah dihapus oleh Dienul Islam yang dengannya Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam diutus Allah kepada seluruh makhluk.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imraan : 85)

Mengucapkan selamat kepada mereka hubungannya hal itu merupakan perkara yang haram, sama saja mereka teman bagi seseorang dalam pekerjaannya ataukah bukan teman.

Jika mereka mengucapkan selamat kepada kita kaitannya dengan hari-hari besar mereka, maka kita tidak menyambut mereka atas hal itu. Karena, hari-hari itu bukanlah hari raya kita dan ia merupakan hari-hari yang tak diridhoi oleh Allah -Ta’ala-. Sebab, entah hari-hari besar mereka itu bid’ah (diada-adakan) dalam agama mereka, atau entah ia memang disyariatkan, akan tetapi ia telah dihapus dengan (datangnya) agama Islam yang Allah mengutus dengannya Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada seluruh makhluk.

Penyambutan (kedatangan) seorang muslim terhadap undangan mereka kaitannya dengan momen ini (yakni, hari raya mereka) adalah haram. Karena, sambutan seperti ini lebih besar (dosanya) dibandingkan pengucapan selamat kepada mereka kaitannya dengan hari-hari besar mereka, karena adanya andil (keikutsertaan) bersama mereka dalam hal itu.

Demikian pula, haram hukumnya bagi kaum muslimin menyerupai orang-orang Kafir, seperti mengadakan pesta-pesta berkenaan dengan hari besar mereka tersebut, saling berbagi hadiah, membagi-bagikan kue, hidangan makanan, meliburkan pekerjaan dan semisalnya, berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[5].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata di dalam kitabnya Iqtidho‘ Ash-Shirath Al-Mustaqim Mukhalafah Ash-hab Al-Jahim, ”Menyerupai mereka di dalam sebagian hari-hari besar mereka akan melahirkan rasa senang di hati mereka atas kebatilan yang mereka lakukan. Terkadang hal itu membuat mereka antusias untuk memanfaatkan kesempatan  (momen) dan merendahkan kaum lemah (iman)”[6]. Selesai ucapan beliau -rahimahullah-.

Barangsiapa yang melakukan sesuatu diantara hal itu, maka dia telah berdosa, sama ia melakukannya karena basa-basi, ingin menarik simpati,  malu, atau sebab- sebab lainnya, karena ia termasuk bentuk menjilat menurut agama Allah dan merupakan sebab penguat hati orang-orang kafir, dan bangga terhadap agama mereka.

Hanya kepada Allah kita memohon agar Dia memuliakan kaum muslimin dengan agamanya, menganugerahkan kemantapan hati dan memberikan pertolongan kepada muslimin atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.

[Sumber Fatwa : Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Asy-Syaikh Muhammad Ibn Sholih Al-Utsaimin (3/44-46/no. 404), karya Syaikh Al-Utsaimin -rahimahullah-, dengan tartib Fahd bin Nashir As-Sulaiman, cet. Dar Al-Wathon dan Dar Ats-Tsuroyya, 1413 H]

Para pembaca yang budiman, inilah fatwa dan penjelasan dari seorang ulama rabbani dan penuh kasih. Beliau menjelaskan hukum ucapan selamat Natal dan menghadiri Natal dengan penjelasan ilmiah.

  • Kesimpulan

Terakhir, kami akan meringkas beberapa buah kesimpulan bagi anda agar mudah memahami isi fatwa di atas:

  1. Tak boleh mengucapkan selamat Natal (“Happy Christmas”), karena ia merupakan ucapan yang menunjukkan ridhonya seseorang kepada kebatilan dan kekafiran yang ada di dalamnya.
  2. Barangsiapa yang ridho dengan kekafiran, maka ia kafir, seperti ridho kepada acara Natal yang di dalamnya disuarakan kekafiran!!
  3. Haram hukumnya ikut serta dalam Natal. Jika ucapan selamat saja tak boleh, maka hadir di dalamnya lebih utama!!
  4. Barangsiapa hadir Natal karena sekedar basa-basi, maka ia akan terkena laknat dan murka Allah!!
  5. Dilarang keras ikut memeriahkan Natal dengan mengadakan pesta-pesta berkenaan dengan hari besar mereka tersebut, saling berbagi hadiah, membagi-bagikan kue, hidangan makanan, meliburkan pekerjaan dan semisalnya.
  6. Jika mereka mengucapkan, “Selamat Natal”, maka kita jangan sambut mereka, apalagi menghadiri acara Natal mereka.
  7. Haram hukumnya melakukan acara Natal, karena ia merupakan acara bid’ah dan ibadah yang tak ada perintahnya dalam Islam, baik di zaman Nabi Isa –alaihis salam-, maupun di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

 



[1] Gilbert Lumoindong (lahir di Jakarta, 23 Desember 1966; umur 47 tahun) merupakan seorang pendeta asal Indonesia. Ia terkenal sebagai salah satu pembawa acara “Penyegaran Rohani Agama Kristen” di RCTI pada tahun 1992-1997.

Lumoindong pernah mengecap pendidikan di Lembaga Pendidikan Teologi Indonesia dan lulus diploma pada tahun 1990. Ia kemudian melanjutkan studi teologinya di Institut Teologi dan Pendidikan Indonesia. Lumoindong sempat menjadi ketua GO Studio Jakarta pada tahun 1993 sampai 1997, sebelum akhirnya ia memisahkan diri dan mendirikan GL Ministry pada tahun 1998.

Saat ini ia masih aktif sebagai pengkhotbah baik di stasiun TV maupun radio dan memimpin sekitar 8.000 jemaat yang tergabung dalam GBI Flow Fellowship Centre.

Ia termasuk anggota Gereja Bethany Indonesia (GBI), sebuah Sinode Kristen yang berbadan hukum gereja Indonesia dan berpusat di Surabaya, Jawa Timur. Bethany merupakan salah satu gereja dengan teologi karismatik dengan denominasi Pentakostal. Gereja ini merupakan anggota dari Persekutuan Injili Indonesia (PII)

[2] Lihat dan klik http://www.gbikapernaum.com/news-latest/gbi-news/1044-natal-pkb-2013.html

[3] Lihat http://penelitian.uin-alauddin.ac.id/uin-3239-mahasiswa-sa-natal-bersama-ummat-kristiani.html

[4] Lihat Ahkam Ahlidz Dzimmah (1/441) oleh Ibnul Qoyyim, cet. Dar Ibni Hazm, 1418 H.

[5] HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4031), Ahmad dalam Al-Musnad (5114), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (8327), Ibnu Manshur dalam As-Sunan (2370). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (4347)

[6] Lihat Iqtidho‘ Ash-Shirath Al-Mustaqim Mukhalafah Ash-hab Al-Jahim (hal. 219), cet. Mathba’ah As-Sunnah Al-Muhammadiyyah, Kairo, 1369 H.

No Responses

Leave a Reply