Hukum Mengangkat Tangan Saat Doa Qunut Witir dan Mengamini Imam di Dalamnya

Hukum Mengangkat Tangan Saat Doa Qunut Witir dan Mengamini Imam di Dalamnya

(Tanya-Jawab bersama Ulama seputar Qunut Witir)

Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -Hafizhahullah-

gambar doa qunut

Witir beserta qunutnya merupakan perkara yang samar bagi sebagian orang. Sholat witir merupakan salah satu sholat sunnah yang amat dianjurkan dalam agama.

Qunut merupakan salah satu bagian yang terkait dengan witir, sebab disunnahkan melakukan qunut dalam witir, entah sebelum atau sesudah ruku’. Hanya saja qunut ini, bukanlah sebuah keharusan yang mesti menyertai semua witir yang kita kerjakan. Boleh sekali-kali witir kita diiringi oleh doa qunut, baik di Bulan Romadhon, atau pun di luar bulan tersebut.Demikian sekilas tentang witir dan kaitannya dengan qunut.

Para pembaca yang budiman, pada kesempatan ini, kami akan mengangkat perkara lain yang berkaitan dengan QUNUT WITIR, seperti hukum ANGKAT TANGAN dalam witir, dan hukum MENGAMINI doa qunut dalam witir oleh jama’ah tarwih, dengan menukilkan sejumlah fatwa para ulama kita, dimana fatwa mereka terbangun di atas dalil-dalil dan kaedah-kaedah syariat.

Hukum Mengangkat Tangan dalam Qunut Witir

  • Fatwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah-

ورفع اليدين في قنوت النازلة ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في دعائه على المشركين الذين قتلوا السبعين قارئا . أخرجه الإمام أحمد (3/137 ) والطبراني في الصغير (ص 111) من حديث أنس بسند صحيح .
وثبت مثله عن عمر وغيره في قنوت الوتر.
وأما مسحهما بالوجه في القنوت فلم يرد مطلقا لاعنه صلى الله عليه وسلم ، ولا عن أحد من أصحابه ، فهو بدعة بلا شك

“Mengangkat kedua tangan dalam qunut nazilah telah tsabit (shohih) dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam doanya atas kaum musyrikin yang telah membunuh 70 orang qori’. Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad (3/137), Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (hal. 111) dari haditsnya Anas dengan sanad yang shohih. Telah tsabit yang semisalnya dari Umar dan selainnya dalam hal qunut witir.

Adapun mengusapkan kedua tangan pada wajah dalam qunut, maka tidak datang (suatu hadits) secara mulak dari beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-, dan tidak pula dari seorang dari kalangan para sahabatnya. Itu adalah bid’ah, tanpa syak (ragu).” [Lihat Irwa’ Al-Gholil (2/181), cet. Al-Maktab Al-Islamiy, 1405 H]

 

  • Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-

Dalam sebuah kesempatan, Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah- pernah ditanya,

س: ما حكم رفع اليدين في الوتر؟

“Apa hukum mengangkat kedua tangan dalam witir?”

Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah- menjawab,

ج: يشرع رفع اليدين في قنوت الوتر؛ لأنه من جنس القنوت في النوازل، وقد ثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه رفع يديه حين دعائه في قنوت النوازل. خرجه البيهقي رحمه الله بإسناد صحيح

Disyariatkan mengangkat kedua tangan dalam qunut witir, karena ia sejenis dengan qunut nazilah. Sungguh telah tsabit (shohih) dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa beliau mengangkat kedua tangannya ketika berdoa dalam qunut nazilah. Hadits itu dikeluarkan oleh Al-Baihaqiy -rahimahullah- dengan sanad yang shohih.” [Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Mutanawwi’ah li Asy-Syaikh Abdil Abdil Aziz Ibni Baaz (30/51)]

 

  • Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah-

Seorang penanya pernah berkata kepada beliau,

هل من السنة رفع اليدين عند دعاء القنوت مع ذكر الدليل؟

“Apakah termasuk sunnah, mengangkat kedua tangan di saat doa qunut, disertai penyebutan dalil.”

Kemudian Syaikh Al-Utsaimin -rahimahullah- menjawab,

نعم، من السنة أن يرفع الإنسان يديه عند دعاء القنوت؛ لأن ذلك وارد عن رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – في قنوته حين كان يقنت في الفرائض عند النوازل ، وكذلك صح عن أمير المؤمنين عمر بن الخطاب – رضي الله عنه – رفع اليدين في قنوت الوتر ، وهو أحد الخلفاء الراشدين الذين أمرنا باتباعهم .

“Ya, termasuk sunnah bila seseorang mengangkat kedua tangannya saat doa qunut, karena hal itu telah datang dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam qunutnya, ketika beliau qunut dalam dalam sholat-sholat fardhu ketika (terjadinya) nazilah (peristiwa).

Demikian pula halnya, telah shohih dari Amirul Mukminin ‘Umar bin Khoththob’ -radhiyallahu anhu- tentang mengangkat kedua tangan dalam witir. Beliau adalah salah satu khulafa’ rosyidin yang kita diperintah untuk mengikuti mereka.” [Lihat Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Al-Utsaimin (14/136)]

 

Sebagian ulama menukilkan bahwa ini juga merupakan pendapat sejumlah salaf.

  • Al-Imam Ibnul Mundzir An-Naisaburiy Asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata,

روينا عن عمر بن الخطاب، وابن مسعود، وابن عباس، أنهم كانوا يرفعون أيديهم في القنوت، وبه قال أحمد، وإسحاق، وأصحاب الرأي.

“Kami telah meriwayatkan dari Umar bin Khoththob, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas bahwa mereka mengangkat kedua tangannya dalam qunut. Inilah pendapat yang dinyatakan oleh Ahmad, Ishaq dan ashabur ro’yi.” [Lihat Al-Isyroof ala Madzahib Al-Ulama’ (2/273)]

Bolehnya mengangkat saat qunut merupakan pendapat yang disokong oleh madzhab Syafi’iyyah –menurut pendapat yang benar- sebagaimana yang dijelaskan oleh An-Nawawiy dalam Roudhoh Ath-Tholibin (1/255), dan juga madzhab Hanabilah seperti yang  dijelaskan dalam Al-Inshof (2/123) oleh Al-Mardawiy.[1]

Para ulama tersebut berdalil dengan keumuman hadits yang menyebutkan bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam qunutnya mengangkat tangan.

Pendapat ini juga dikuatkan sebuah atsar yang shohih dari Amirul Mukminin, Umar bin Khoththob -radhiyallahu anhu- berikut ini :

Dari Abu Rofi’, mantan budaknya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- berkata,

صلَّيتُ خَلفَ عمرَ بنِ الخطَّابِ رضيَ اللَّهُ عنهُ، فقَنَتَ بعدَ الرُّكوعِ، ورفعَ يَديهِ وجَهَرَ بالدُّعاءِ

“Aku pernah sholat di belakang Umar bin Khoththob -radhiyallahu anhu-, lalu berqunut setelah ruku’, mengangkat kedua tangannya, dan mengeraskan doanya.” [HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (2/212), dan di-shohih-kan oleh An-Nawawiy dalam Khulashoh Al-Ahkam (1/460)]

 

Hukum Mengamini Doa Imam dalam Qunut Witir

………………………………………………………………

 

  • Fatwa Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy -rahimahullah-
    Al-Imam Ibnu Qudamah -rahimahullah- berkata dalam sebuah kitabnya,

إذا أخذ الإمام في القنوت أمن من خلفه لا نعلم فيه خلافا وقاله إسحاق

“Bila imam memulai qunutnya, maka orang-orang (makmum) yang ada dibelakanganya mengamini. Kami tidak mengetahui ada khilaf dalam hal itu. Perkara ini juga dinyatakan oleh Ishaq.” [Lihat Al-Mughni fi Fiqh Al-Imam Ahmad Ibni Hambal Asy-Syaibani (1/821) karya Ibnu Qudamah, cet. Dar Al-Fikr, 1405 H]

Para ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ menyatakan bahwa disyariatkan untuk mengamini doa imam saat qunut (nazilah atau witir) dengan nash fatwa berikut:

يشرع التأمين على الدعاء في القنوت، وعند الثناء على الله سبحانه يكفيه السكوت وإن قال سبحانك أو سبحانه فلا بأس، ويرفع يديه في دعاء القنوت وتكبيرات الجنازة والعيدين،

“Disyariatkan mengamini doa dalam qunut. Di saat imam memuji Allah –Subhanah-, maka cukup ia diam dan jika ia katakan, ‘Subnahaka’, atau ‘Subhanah’, maka tidak mengapa. Ia mengangkat tangannya dalam doa qunut, takbir-takbir dalam sholat jenazah serta dua sholat ied.” [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (7/48)]

Pendapat yang menyatakan disyariatkannya mengamini doa dalam qunut witir merupakan madzhab Syafi’iyyah, Hambaliyyah, sebuah pendapat dalam madzhab Hanafiyyah, serta pendapat yang didukung oleh Syaikh Al-Utsaimin. [Lihat Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab (3/493), Mughnil Muhtaj (1/167), Syarh Muntahal Irodat (1/241) oleh Al-Bahutiy, Al-Bahr Ar-Ro’iq (2/48), dan Asy-Syarh Al-Mumti’ (12/139)][2]

[1] http://www.dorar.net/enc/feqhia/3610

[2] http://www.dorar.net/enc/feqhia/3610

No Responses

Leave a Reply