Hak Tetanggamu yang Terlalaikan

Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -Hafizhohulloh-

Islam adalah agama rahmat. Agama yang membimbing umatnya agar hidup saling menyayangi diantara manusia. Gaya hidup cuek dan kurang perhatian telah dihapuskan di dalam Islam. Sebuah ajaran yang berprikemanusiaan telah diusung oleh Islam sejak awal munculnya, sehingga wajarlah bila Islam dikenal dengan “agama kasih sayang”. Jangankan manusia, hewan pun merasakan kasih sayang dari pemeluk agama Islam, karena pengaruh keislaman dan keimanan mereka.

Dimana pun kaum muslimin berada, maka pasti ketenangan dan kasih sayang tersebar. Tapi kapan saja kaum kafir yang berkuasa dan kaum muslimin jadi penduduk minoritas, maka disinilah saatnya ketenangan dan kasih sayang hilang, seperti yang terjadi di Bosnia, Checnya, muslim Rohingya di Myanmar dan tempat lainnya. Di saat kaum kafir berkuasa, kaum muslimin banyak mendapatkan tekanan dan kezhaliman!! Hilanglah kasih sayang buat mereka, walaupun para penganut kekafiran mempropagandakan bahwa mereka adalah “pembawa panji kasih sayang”!!! Itu hanya slogan semu bagaikan tong kosong nyaring bunyinya.

Parapembaca yang budiman, kini kami mengajak anda untuk tahu bagaimana Islam dan Nabinya, Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- mengajarkan kepada manusia salah satu bentuk kasih sayang manusia. Di dalam sebuah, beliau hadits bersabda,

ليس المؤمنُ الذي يَشْبَعُ، وجارُهُ جَائِعٌ إلى جنبه

“Bukanlah mukmin, orang yang kenyang, sedang tetangganya kelaparan di sampingnya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (112), Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (12741), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no. 7307) dan lainnya. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam dalam Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghir (no. 5382)]

Al-Imam Abdur Rauf Al-Munawiy -rahimahullah- berkata saat memaknai hadits ini,

“Maksudnya, bukanlah mukmin yang aku kenal bahwa ia beriman dengan keimanan yang sempurna, orang yang kenyang sedang tetangga di samping kelaparan, karena orang seperti ini telah menelantarkan sesuatu yang ada di pundaknya menurut syariat berupa hak tetangga”. [Lihat At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghir (2/624)]

Suatu perkara yang sering dilalaikan oleh sebagian diantara kaum muslimin bahwa tetangga punya hak atas diri kita. Di saat membutuhkan bantuan, maka kita bantu dia. Di masa ia butuh pakaian atau apa saja, maka kita berikan sesuai kemampuan. Di kala mereka lapar, sedang kita tahu hal dari keadaannya, maka kita wajib memberikan sebagian makanan atau minuman, tak boleh bermasa bodoh!!

Sebagian orang telah melalaikan adab Islam yang mulia lagi indah ini, sehingga tetangganya kelaparan, tak ada tegur sapa, apalagi menanyakan keadaannya. Pergi pagi, pulang sore, sementara tetangga sendiri di sekitar rumahnya, ia tak tahu jika mengalami kesusahan!! Bahkan ada diantara mereka yang selalu menutup pintu rumahnya rapat-rapat, dijaga oleh anjing dan SATPAM. Semua orang tak boleh masuk dengan alasan “mengganggu” tuan rumah.

Di hari libur, mereka keluar ke pantai dan tempat wisata lainnya bersenang-senang bersama teman-teman sejawat untuk menghabiskan waktu, harta dan energi. Padahal andaikan semua itu ia kerahkan dan berikan kepada tetangganya, niscaya tak ada diantara tetangganya kelaparan.

Orang-orang yang kikir kepada tetangga seperti ini modelnya, banyak anda temukan di wilayah perkotaan dan metropolitan. Orang hidup serba cuek!! Ia tak mau tahu apa menu makanan tetangganya dalam sehari-hari. Memberi makan saja si tetangga tidak!! Apalagi mau tahu menu mereka.

Andaikan ia mau tahu, maka pasti air matanya berlinang saat melihat para tetangga yang hidup penuh kekurangan. Menu sehari-hari tetangganya yang miskin, yah paling maksimal berupa nasi dan tahu, atau nasi dantempe, atau nasi dan teri, atau bahkan nasi saja disirami sedikit minyak atau garam.

Para pembaca yang budiman, Islam dalam memuliakan tetangga tidak membatasi tetangga muslim saja, bahkan yang kafir pun harus ikut merasakan perhatian dan bantuan kita.

Seorang ulama Negeri India, Al-Imam Al-Muhaddits Syaikh Abul Ulaa Muhammad Abdur Rahman Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata,

“Nama tetangga mencakup yang muslim dan kafir, yang budak, fasik, sahabat dan musuh, orang asing dan mukim, yang bermanfaat dan bermadhorot, yang dekat dan asing, yang dekat rumahnya dan yang jauh. Masing-masing memiliki tingkatan, sebagiannya lebih atas yang lain”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/62)]

Membantu tetangga dalam menghilangkan laparnya dengan memberinya makanan adalah sebuah kewajiban atas orang-orang yang mampu. Sebab, di dalam harta benda mereka ada kewajiban yang harus dikeluarkan selain zakat!! Jadi, orang-orang kaya dan mampu harus mengerti bahwa kewajiban dalam harta benda, bukanlah sekedar mengeluarkan zakat, bahkan ia pun harus mengeluarkan kewajiban lain yang kita kenal dengan nama “infaq” dari harta bendanya sesuai kondisi yang terjadi. Infaq ini tidaklah dibatasi oleh jumlah dan waktu. Kapan saja mau berinfaq dan berapa saja yang diinfaq-kan, maka hal itu sudah melepaskan tanggung jawab dan kewajibannya.

Di saat ia melihat tetangga kelaparan, maka ia wajib memberi mereka sebagian dari harta bendanya berupa makanan dan minuman atau sesuatu yang bisa menggantikannya.

Ulama Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata saat mengeluarkan dua mutiara faedah dari hadits yang mulia di atas,

“Di dalam hadits ini terdapat dalil yang gamblang bahwa haram bagi seorang tetangga yang kaya untuk membiarkan para tetangganya kelaparan!! Wajib baginya untuk memberikan kepada mereka sesuatu yang dapat menghalau rasa laparnya. Demikian pula memberi mereka pakaian, jika mereka telanjang (yakni, kekurangan pakaian), dan sejenis itu diantara kebutuhan –kebutuhan primer. Di dalam hadits ini juga, terdapat isyarat bahwa di dalam harta mereka (orang-orang kaya) terdapat suatu kewajiban, selain zakat. Karenanya, janganlah orang kaya menyangka bahwa tanggung jawab mereka telah lepas setelah mengeluarkan zakat harta mereka setiap tahunnya. Bahkan atas diri mereka masih ada kewajiban-kewajiban lain karena adanya keadaan dan kondisi insidental yang termasuk kewajiban bagi mereka dalam menunaikannya. Jika tidak, maka mereka akan masuk dalam ancaman firman Allah -Ta’ala-…”. [Lihat Ash-Shohihah (1/280-281) karya Al-Albaniy]

Kemudian beliau membawakan firman Allah -Ta’ala-,

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35) [التوبة/34، 35]

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (QS. At-Taubah : 34-35)

Nah, inilah adab yang amat perlu kita hidupkan dan galakkan kembali agar kita juga terbiasa bersedekah dan berinfak kepada sesama manusia. Sebuah keanehan, banyak orang yang rela menghabiskan uangnya untuk menghadiri konser musik atau turnamen sepak bola dalam negeri, maupun mancanegara. Padahal menghadiri hal-hal seperti ini hanyalah menghabiskan waktu dan harta, bahkan bila mendengarkan musik, maka itu haram!! Menghadiri hal seperti ini tak ada kebaikannya bagi akhirat kita.

Sebaliknya, orang seperti ini bila memiliki tetangga miskin yang serba kekurangan, maka sifat kikirnya menjadi-jadi dan tangannya bagaikan terbelenggu. Dia tak mau pusing apakah tetangga kenyang atau lapar, yang jelas ia happy (bahagia) sendiri!! Subhanallah, alangkah jauhnya orang ini dari amalan-amalan keimanan.

No Responses

Leave a Reply