Fatwa MUI Tahun 1984 tentang Aliran Sesat Syi’ah

Fatwa MUI Tahun 1984 tentang Aliran Sesat Syi’ah
(Disertai Catatan Ringan dari Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -Hafizhahullah-)

gambar syiah sesatPara pembaca yang budiman, kali ini situs resmi “Pesantren Al-Ihsan Gowa” akan merilis fatwa resmi MUI yang telah dilupakan oleh banyak orang atau tak diketahui oleh mereka. Fatwa sengaja kami ungkap ke hadapan para pembaca agar kita semua memahami dengan baik keberadaan kaum Syi’ah menurut tinjauan para ulama kita. Adapun teks fatwa itu, maka sekarang kami akan bawakan berikut ini:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ ah sebagai berikut:
Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu di antaranya :

1)     Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.

2)    Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).

3)    Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.

4)    Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat.

5)    Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib)

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah
[Sumber Fatwa : Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (hal. 95), diterbitkan oleh Bagian Proyek Sarana dan Prasarana Produk Halal Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Departemen Agama RI, 2003 M]

Catatan dan Renungan

Kesesatan Syi’ah bukanlah hanya sebatas apa yang disebutkan dalam fatwa ini, bahkan masih banyak yang belum yang disebutkan, seperti mereka mengkafirkan para sahabat, kecuali segelintir, menyatakan Al-Qur’an di tangan kaum muslimin kurang, mereka mengutak-atik ayat dengan memberikan tambahan, menuduh A’isyah -radhiyallahu anhu- sebagai pezina, menyatakan imam mereka tahu perkara ghaib, dan masih banyak lagi kalau mau disebutkan. Jika anda mau memperluas ilmu tentang kesesatan mereka, silakan baca dalam Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-, dan klik artikel tentang hal itu di : http://pesantren-alihsan.org/agama-syiah-rofidhoh-bahaya-laten-yang-mengancam-kaum-muslimin.html

Para ulama sejak munculnya Syi’ah, telah menyatakan sesatnya Syi’ah, bahkan mereka menulis kitab-kitab bantahan atas kaum Syi’ah. Jadi, jika hari ini MUI mengeluarkan fatwa sesatnya Syi’ah alias Rofidhoh alias Ja’fariyyah alias Itsna Asyariyyah, maka kita pada hari tak perlu heran dan alergi dengan fatwa tersebut. Sisi lain, kaum Syi’ah sendiri telah mengafirkan dan menyesatkan para sahabat!![1]

Ketika kaum Syi’ah mengafirkan dan menyesatkan sahabat, maka dalam waktu yang sama kaum Syi’ah tak mau disesatkan oleh kaum muslimin!!! Padahal mereka memang sesat!!!

Para pembaca yang budiman, fatwa MUI ini sengaja kami angkat pada hari ini agar kaum muslimin mengerti bahwa pernyataan sesatnya Syi’ah bukanlah fatwa dan pernyataan baru, bahkan telah ada sejak 29 tahun yang lalu.

Belakangan ini kami mendengar desas-desus bahwa MUI tak pernah mengeluarkan fatwa sesatnya Syi’ah, sehingga ada sebagian orang mengklaim bahwa fatwa MUI Jawa Timur merupakan fatwa baru dalam hal ini. Andaikan saja tak ada fatwa baru dan lama dari MUI, maka masyarakat Islam banyak yang mengetahui kesesatan kaum Syi’ah. Masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat bodoh yang dapat dipecundangi. Diantara mereka ada ulama dan penuntut ilmu yang menguasai Al-Qur’an dan Sunnah, serta paham betul tentang golongan-golongan sesat.


[1] Walaupun dalam hal itu mereka tak membangun tuduhan kafir dan sesat bagi para sahabat di atas hujjah dari Al-Qur’an dan Sunnah.

No Responses

Leave a Reply