Di Saat Turun Sujud, Imam dulu sebelum Makmum!!

Di Saat Turun Sujud, Imam dulu sebelum Makmum!!

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

[Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa, Sulsel]

gambar jalanMungkin anda pernah menyaksikan sebuah pemandangan yang sering terjadi pada jama’ah di masjid saat mereka menunaikan sholat jama’ah di belakang seorang imam. Pemandangan yang kami maksudkan, adanya jama’ah yang tak sabar dalam menunggu gerakan imamnya, sehingga terkadang mereka mengiringi imam dalam sebagian gerakan. Ada lagi yang lebih parah, sekelompok orang-orang jahil mendahului imamnya dalam gerakan-gerakan sholatnya. Seakan ia adalah imam yang harus diikuti oleh yang lain. Ini adalah perkara yang terlarang!!

Lantaran itu, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,

أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ أَوْ لَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ

“Tidakkah seorang diantara kalian takut -bila ia mengangkat kepalanya sebelum imam-, akan Allah jadikan kepalanya atau rupanya dengan rupa keledai?!” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 691) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 427)]

Ibnu Bazizah At-Tunisiy -rahimahullah- berkata,

“Mungkin yang dimaksud dengan pengubahan adalah berganti rupa, atau pengalihan kondisi lahiriah atau kondisi abstrak, ataukah keduanya sekaligus. Ulama yang lain memahami hadits itu berdasarkan lahiriahnya, sebab tak ada penghalang dari bolehnya hal itu terjadi”. [Lihat Fathul Bari (2/184) karya Ibnu Hajar]

Perhatikanlah bahaya mendahului imam dalam gerakan-gerakan sholat. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- ancam pelakunya dengan hukuman keras berupa pengubahan bentuk menjadi keledai, seekor hewan yang pandir dan bodoh. Dengan pengubahan ini, manusia akan mengambil hikmah bahwa yang melakukan hal seperti ini hanyalah orang-orang bodoh seperti keledai!!!

Di dalam sholat, seorang makmum juga dilarang menyertai dan menyamai imam dalam gerakan-gerakannya, karena khawatir suatu saat nanti ia akan mendahului imam. Lantaran itu para sahabat Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- ketika mereka sholat bersama dengan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka mereka membiarkan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersungkur sujud dan meletakkan dahinya, barulah setelah itu mereka bergerak dan turun ke bawah untuk bersujud dengan meletakkan wajah dan dahinya ke tanah.

Sahabat Al-Baro’ bin Azib -radhiyallahu anhu- berkata,

كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَإِذَا رَكَعَ رَكَعُوا وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَقَالَ « سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ». لَمْ نَزَلْ قِيَامًا حَتَّى نَرَاهُ قَدْ وَضَعَ وَجْهَهُ فِى الأَرْضِ ثُمَّ نَتَّبِعُهُ

“Dahulu mereka (para sahabat) sholat bersama Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Bila beliau rukuk, maka mereka pun rukuk. Bila beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, maka beliau berdoa, “sami’allohu liman hamidah”. Kami senantiasa berdiri sampai kami melihat beliau sungguh telah meletakkan wajahnya pada tanah, lalu kami pun mengikuti beliau”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 474), Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 622), Abu Ya’laa dalam Al-Musnad (no. 23 & 1697), Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Awsath (no. 9284), Ali bin Al-Ja’ad dalam Al-Musnad (no. 2557),Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2/92) dan lainnya]

Hadits ini menerangkan kepada kita bahwa seorang makmum tak boleh turun dan bergerak sujud sampai imam meletakkan dahi dan wajahnya ke lantai atau tanah, tanpa menyertainya dalam gerakan, apalagi mendahuluinya!!

Al-Imam Abu Zakariyyah An-Nawawiy -rahimahullah- berkata,

وفي هذا الحديث هذا الأدب من آداب الصلاة وهو أن السنة أن لا ينحني المأموم للسجود حتى يضع الإمام جبهته على الأرض إلا أن يعلم من حاله أنه لو أخر إلى هذا الحد لرفع الإمام من السجود قبل سجوده قال أصحابنا رحمهم الله تعالى في هذا الحديث وغيره ما يقتضى مجموعة أن السنة للمأموم التأخر عن الإمام قليلا بحيث يشرع في الركن بعد شروعه وقبل فراغه منه والله أعلم

“Di dalam hadits ini terdapat adab ini diantara adab-adab sholat, yaitu bahwa sunnahnya, seorang makmum tidaklah turun untuk sujud sampai imam meletakkan dahinya di atas tanah, kecuali jika ia mengetahui dari keadaan (kebiasaan) imam bahwa andaikan ia undur sampai batas ini, maka imam akan bangkit dari sujudnya, sebelum makmum bersujud. Para sahabat kami (yakni, ulama yang semadzhab dengan beliau) -rahimahumullah- berkata, “Di dalam hadits ini dan selainnya terdapat sesuatu yang menetapkan -keseluruhannya- bahwa sunnahnya bagi makmum adalah terlambat dari imam sejenak dimana makmum mulai dalam suatu rukun setelah imamnya, dan sebelum usainya imam dari rukun itu, wallahu A’lam”. [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim Ibn Al-Hajjaj (4/191)]

Jadi, makmum tidaklah bergerak dan turun untuk sujud, kecuali setelah ia melihat imamnya dalam keadaan bersujud. Inilah sunnah (petunjuk) Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- yang banyak ditinggalkan oleh kebanyakan orang saat ia sholat berjama’ah!! Kita menyaksikan banyak orang yang tergesa-gesa, sampai ia pun menyertai imam dalam sebagian gerakan atau bahkan mungkin di kalangan mereka ada yang sengaja mendahului imamnya!!!

Sunnah ini banyak dilanggar orang di zaman ini, zaman yang jauh dari zaman kenabian. Tak luput dari pelanggaran ini kaum berilmu, apakah itu ustadz, ataukah santri. Hal ini telah saksikan dengan mata kepala kami saat kami sholat di suatu pesantren. Kami melihat banyak diantara mereka yang tak mengindahkan hal ini, mungkin karena kejahilannya terhadap sunnah ini, atau mungkin ada sebab lain, wallahu A’lam.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata,

أن جماهير المصلين يخلون بما تضمنه من التأخر بالسجود حتى يضع الإمام جبهته على الأرض ، لا أستثني منهم أحدا حتى من كان منهم حريصا على اتباع السنة ، للجهل بها أو الغفلة عنها ، إلا من شاء الله ، و قليل ما هم

“Sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang melaksanakan sholat, telah melalaikan sesuatu yang dikandung oleh hadits ini berupa keterlambatan dalam sujud sampai imam meletakkan dahinya ke tanah. Aku tak mengecualikan diantara mereka seorang pun, hingga pun orang yang bersemangat diantara mereka dalam mengikuti sunnah, karena kejahilan terhadap sunnah ini atau kelalaian darinya, kecuali orang-orang yang Allah kehendaki. Tapi mereka ini sedikit sekali”. [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (6/225-226)]

Demikian yang kita saksikan dimana-mana saat kita melaksanakan sholat di masjid-masjid kaum muslimin. Kami berharap kepada Allah, semoga dengan tulisan ini, sunnah yang satu ini kembali bersemi dan tersebar di kalangan kaum muslimin. Innah waliyyu dzalik wal qodiru alaihi. Innahu huwas sami’iul alim. Washollallahu ala Nabiyyina wa ala aalihi wa shohbih ajma’in.

كتبه الفقير إلى عفو ربه تعالى عبد القادر أبو فائزة ليلة الأربعاء، تاريخ 6 صفر 1435 هـ

No Responses

Leave a Reply