Derajat Hadits Puasa Enam Hari Syawwal

Derajat Hadits Puasa Enam Hari Syawwal

oleh : Al-Ustadz Abul Fadhl Al-Bughisiy –hafizhahullah-

[Pengajar Ponpes Al-Ihsan Gowa, Sulsel]

Seorang saudara fillah, Al-Akh Abu Zahroh di Papua sempat mengabari kami bahwa ada seorang mantan kiai NU bernama KH. Mahrus Ali menyatakan bahwa hadits “Puasa Enam Hari Syawwal” adalah hadits yang lemah!!

Saat mendengar berita ini, kami kaget dan segera membuka kitab-kitab hadits demi meneliti dan memeriksa kebenaran pernyataan itu. Tapi ternyata “ijtihad” Sang Kiai dalam menilai hadits itu amat keliru.

Para pembaca yang budiman, kami mengajak anda melihat sisi kekeliruan Sang Kiai dalam penilaiannya dengan mengikuti bahasan ringkas di bawah ini.

Sanad dan Redaksi Hadits

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِىُّ بْنُ حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَاعِيلَ – قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ – أَخْبَرَنِى سَعْدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ ثَابِتِ بْنِ الْحَارِثِ الْخَزْرَجِىِّ عَنْ أَبِى أَيُّوبَ الأَنْصَارِىِّ – رضى الله عنه – أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ »

Al-Imam Muslim -rahimahullah- berkata dalam Shohih-nya berkata, “Yahya bin Ayyub, Qutaibah bin Sa’id dan Ali bin Hujr seluruhnya dari Isma’il –Abu Ayyub berkata, “Telah menceritakan kami Isma’il bin Ja’far-, ia berkata, Sa’ad bin Sa’id bin Qois telah mengabariku dari Umar bin Tsabit bin Al-Harits Al-Khozrojiy dari Abu Ayyub Al-Anshoriy -radhiyallahu anhu-, bahwa ia (Abu Ayyub) menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

“Barangsiapa yang berpuasa pada Bulan Romadhon, lalu ia susul dengan enam hari puasa dari Bulan Syawwal, maka puasa itu laksana puasa setahun penuh”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 1164)]

Derajat Rawi-rawinya

Sekarang kita lihat derajat rawinya di sisi para ulama kita dan disini kami hanya mengambil dari Al-Hafizh Ibnu Hajar saja, sebab beliau telah merangkum penilaian para ulama terhadap semua rawi hadits dalam Al-Kutub As-Sittah. Berikut derajat mereka:

  • Yahya bin Ayyub (tsiqoh hafizh), Qutaibah bin Sa’id Al-Baghlaniy (tsiqoh tsabt) dan Ali bin Hujr Al-Marwaziy (tsiqoh hafizh). Ketiga tsiqoh ini bersepakat meriwayatkan hadits ini dari:
  •  Isma’il bin Ja’far Al-Anshoriy (tsiqoh tsabt)
  • Sa’ad bin Sa’id bin Qois Al-Anshoriy, shoduq (jujur), namun buruk hafalannya (shoduq sayyi’ul hifzhi).
  • Umar bin Tsabit bin Al-Harits Al-Anshoriy Al-Khozrojiy (tsiqoh)
  • Abu Ayyub Al-Anshoriy -radhiyallahu anhu-

Kalau kita memperhatikan sanad hadits ini, maka semua rowinya tsiqoh (terpercaya) dan hujjah, kecuali Sa’ad bin Sa’id. Ia dinilai oleh al-Hafizh sebagai rowi yang shoduq, namun buruk hafalannya. Rawi yang seperti ini, walaupun dinilai lemah, namun ia masih mungkin dikuatkan haditsnya jika ada rawi yang menguatkan[1]. Alhamdulillah, Sa’ad bin Sa’id dikuatkan oleh rawi lain, yaitu Shofwan bin Sulaim (tsiqoh), sebagaimana dalam riwayat Abu Dawud dalam Sunan-nya (2433). Bahkan ada rawi lain ikut meriwayatkan hadits ini dari Umar bin Tsabit Al-Anshoriy sebagaimana dalam riwayat Al-Humaidiy (382). Rawi itu adalah Yahya bin Sa’id bin Qois Al-Anshoriy, orang tsiqoh tsabt[2]. Selain itu, Sa’ad bin Yahya dikuatkan juga oleh saudaranya yang bernama Abdu Robbih bin Sa’id Al-Anshoriy (tsiqoh) sebagaimana dalam Sunan An-Nasa’iy Al-Kubro (2865)[3]. Dengan demikian, hadits ini shohih berdasarkan beberapa jalur yang menguatkannya. Jadi, tak benar bila hadits ini dikatakan bahwa Sa’ad bin Sa’id meriwayatkannya secara tafarrud (bersendirian), tanpa diiringi oleh rawi lain!!!

Para pembaca yang budiman, selain Imam Muslim, hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya (2433), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (759), Al-Humaidiy dalam Musnad-nya (381), An-Nasa’iy dalam Al-Kubro (2863), Ad-Darimiy dalam Sunan-nya (1761), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1716),  Ath-Thohawiy dalam Syarh Musykil Al-Atsar (2344), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro  (4/292), Ath-Thoyalisiy dalam Musnad-nya (594) dan Ahmad dalam Musnad-nya (5/417 & 5/419) dan lainnya dari banyak jalur. Semua jalur itu berasal dari Sa’ad bin Sa’id dan lainnya sebagaimana yang telah kami sebutkan]

Hadits ini semakin kuat karena banyaknya syawahid (penguat) bagi hadits ini, diantaranya hadits Tsauban secara marfu’,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ

“Barangsiapa yang berpuasa di Bulan Romadhon, maka pahala sebulan (dibalas) dengan 10 bulan, sedang puasa enam hari usai buka[4], maka itulah kesempurnaan puasa setahun penuh”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad , Ad-Darimiy dalam Sunan-nya (no. 1755), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 1715), An-Nasa’iy dalam Al-Kubro (no. 2860 dan 2861), Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya (2115), Ath-Thohawiy dalam Syarh Musykil Al-Atsar (2348 & 2349), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (3635), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (1451) dan dalam Musnad Asy-Syamiyyin (485), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (4/293) dan Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad (2/362). Hadits ini dinilai shohih oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 22412)]

Hadits dalam perkara ini juga diriwayatkan dari sahabat lain, seperti Jabir bin Abdillah dan Abu Hurairah -radhiyallahu anhuma- sebagaimana yang dapat lihat dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (1008-1009) karya Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah-.

Kesimpulan

1.    Hadits tentang keutamaan puasa enam hari di Bulan Syawwal usai Romadhon merupakan hadits yang shohih dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melalui periwayatan beberapa orang sahabat -radhiyallahu anhum-.  Karenanya, puasa enam hari Syawwal disyariatkan dan disunnahkan agar pahala kita semakin banyak.

2.    Adapun KH. Mahrus Ali yang melemahkannya, maka “ijtihad”nya tak perlu ditoleh, karena “ijtihad”nya menyelisihi kaedah ilmu hadits. Orang ini tak meyakini kaedah yang ditetapkan oleh para ulama hadits bahwa hadits-hadits lemah yang tidak keras ke-dho’if-annya (kelemahannya), jika dikuatkan oleh jalur lain, maka haditsnya bisa menjadi hasan atau shohih, bukan lagi dho’if. Apalagi hadits Abu Ayyub -radhiyallahu anhu- di atas telah diriwayatkan secara maqrun antara Sa’ad bin Sa’id dan rawi-rawi lainnya, sehingga asalnya lemah, namun meningkat jadi shohih atau hasan saat diiringi oleh rawi lainnya.

Jika kita tidak memegangi kaedah ini, maka pasti kita akan melemahkan ratusan, atau bahkan ribuan hadits yang asalnya lemah. Padahal hadits-hadits itu masih mungkin dikuatkan oleh hadits-hadits lain dari jalur rawi yang lain.

Kemudian sebuah perkara yang sering terjadi di kalangan penuntut ilmu, ia menilai sebuah hadits dengan melihat sebuah jalur saja, lalu menghukumi hadits itu, tanpa melihat jalur lain. Ada juga yang masih melihat dan mengkaji jalur-jalur lain, namun ia tak menempuh dua langkah: jam’uth thuruq (pengumpulan seluruh jalur periwayatan) dan taqwiyatul hadits bi ta’addudith thuruq al-khofifah adh-dho’f (menguatkan hadits dengan adanya berbagai jalur periwayatan yang ringan kelemahannya. Sehingga dari situ, ia dapat menguatkan sebuah hadits yang asalnya lemah dengan kelemahan yang ringan, karena adanya jalur lain yang menguatkannya, walapun sama lemahnya dengan kelemahan yang ringan. Wallahu a’lam.

Demikian pula langkah seperti ini dilakukan dalam menilai sebuah hadits yang lahiriahnya shohih, namun ia hakikatnya lemah karena ada illah khofiyyah (penyakit yang samar) padanya, entah pada matannya atau pada sanadnya. Semua ini anda bisa temukan dalam pembahasan mustholah al-hadits.

3.     Hadits ini telah di-shohih-kan oleh sejumlah ulama huffazhul hadits, semisal:  Ibnu Abdil Barr dalam Al-Istidzkar (3/380), Ibnul Qoyyim dalam Tahdzib As-Sunan (3/308-314), Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam At-Talkhish Al-Habir (2/408-409), Ibnul Mulaqqin dalam Al-Badr Al-Munir (5/752), Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (950) dan dalam Shohih Abi Dawud (no. 2102), Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad, dan selain mereka.

4.     Sang Kiai berkata, “Setahu saya, hadits tentang puasa enam Hari Syawal sama sekali tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari”. Kami katakan, “Kalau tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya, memangnya kenapa? Apakah hadits itu kita nilai shohih jika ia terdapat dalam Shohih Al-Bukhoriy saja?”

Hadits yang shohih tak mesti harus ada dalam Shohih Al-Bukhoriy. Apalagi hadits ini telah diriwayatkan oleh Muslim dan ulama hadits lainnya dari berbagai jalur. Andaikan pun Imam Muslim tak meriwayatkannnya, tapi hanya diriwayatkan oleh ulama lain dengan sanad yang kuat, maka kita harus menerima hadits itu dan mengamalkannya.

Metode Penulisan

Jika kita menoleh tulisan Sang Kiai, maka kita menemukan sedikit hal yang perlu dikoreksi dari tata bahasa, sisi penerjemahan dan transliterasi nama-nama rawi. Kita lihat, misalnya ia tulis :

  1. Mustakhraj Abu Awana. Mestinya: Mustakhraj Abu Awanah.
  2. Al-Souma’i. Mestinya: Ash-Shouma’i
  3. Majma Zawaid wa manba’ul fawaid. Mestinya: Majma’uz Zawa’id wa Manba’ul Fawa’id.
  4. al Bazzar. Mestinya: Al-Bazzar
  5. Sahih Bukhagri. Mestinya: Shohih Al-Bukhori.
  6. Sahih targhib wattarhib. Mestinya: Shohih At-Targhib wa At-Tarhib.
  7. Al Bani. Mestinya: Al-Albani.
  8. Mahrus ali. Mestinya: Mahrus Ali.
  9. Kyai. Mestinya: Kiai.
  10. Ala.Mestinya: Al-Alaa’
  11. Dzakwaan Assamman. Mestinya: Dzakwaan As-Samman.
  12. Abu Yazid al Madani, budak yang dibebaskan oleh Juwayriyah Al Ahmas (saudara salih dan Abdullah dan Muhammad Saleh Bani Saleh). Mestinya: Abu Yazid Al-Madani, budak yang dibebaskan oleh Juwayriyah bintu Al-Ahmas, saudara Shalih, Abdullah dan Muhammad Bani Abi Shalih)
  13. Daroqutni. Kadang ia tulis, Daaraqutni. Mestinya: Ad-Daruquthni
  14. Putra Abu Khaytsamah. Mestinya: Ia tulis saja sebagaimana adanya, Ibnu Abi Khoytsamah. Sebab itu sudah ibarat nama baginya. Sama dengan Ibnu Abbas, jangan ditulis, Putra Abbas. Walaupun maknanya benar.
  15. Ayah saya mengatakan orang-orang Mesir meriwayatkan hadis ini dari Zuhair,… Mestinya: Ayah saya mengatakan, “Orang-orang Mesir…”
  16. Hapalannya berubah ketika lansia[5]. Mestinya: Hafalannya berubah ketika lansia
  17. Abbas Adduri. Mestinya: Abbas Ad-Duri.
  18. Dan kata Uqaili I, yahya mengatakan: Dia adalah orang yang baik tapi lemah Bukhari meriwayatkan dari padanya, tapi di sertai perawi lain atau tanpa sanad.

Mestinya: Al-Uqaili menyebutkan dari Yahya bahwa ia berkata, “Dia adalah orang yang baik, tapi lemah. Al-Bukhariy meriwayatkan baginya secara maqrun (disertai perawi lain) dan ta’liq (tanpa sanad)[6].

19.  Tahdzibul kamal karya al mizzi. Mestinya: Tahdzibul Kamal karya Al-Mizzi.

20.  Ibrahim bin Yakub Aljozjani mengatakan: Lemah hadisnya. Mestinya: Ibrahim bin Ya’qub Al-Jauzajani mengatakan, “Lemah hadisnya”.

21.  Zuhair bin Muhammed Al Tamimi Ambari, Abu Mundzir Khurasani Marwazi Kharqi (Dia datang ke Syam  dan tinggal di Hijaz ). Mestinya: Zuhair bin Muhammad At-Tamimi Al-Anbari, Abul Mundzir Al-Khurasani Al-Marwazi Al-Kharqiy (Dia datang ke Syam dan tinggal di Hijaz).

22.  Peringkatnya  menurut Ibn Hajar :Riwayat penduduk Syam dari padanya  tidak lurus , dan  karena itu hadisnya lemah.

Mestinya: Peringkatnya menurut Ibnu Hajar: Riwayat penduduk Syam darinya, tidak lurus. Lantaran itu, ia dilemahkan karenanya.

23.  (وَيَأْتِيَ بِمَا يُنْكِرُ). Mestinya: (وَيَأْتِيْ بِمَا يُنْكَرُ)

24.  Ahmad bin Abdullah al ajli. Mestinya: Ahmad bin Abdillah Al-‘Ijliy.[7]

25.  dan  apa yang  di riwayatkan orang-orang dariBasra. Mestinya: dan  apa yang  diriwayatkan orang-orang dari Basrah.

26.  Dan Al hakim – Abu Ahmad berkata. Mestinya: Al-Hakim, Abu Ahmad.

27. Amr bin Abi Salamah  Al tinisi. Mestinya: Amr bin Abi Salamah  At-Tinnisi.

Bantahan Argumen Lemah

a)    Sang Kiai berkata, “Bila Aisyah menjalankan puasa enam hari Syawal , maka sudah tentu , beliau harus mendahulukan puasa qadha`  dulu . Untuk apa menjalankan puasa sunat lalu puasa yang wajib belum di jalankan . Mestinya menjalankan  puasa wajib dulu bukan sunat”.

Jawab: Ini masalah fiqih yang tak ada hubungannya puasa enam Hari Syawwal. Masalah manakah yang lebih didahulukan antara puasa Syawwal tersebut ataukah qodho’ bagi puasa Romadhon, tidaklah menggugurkan sunnahnya puasa Syawwal itu.

b)   .Sang Kiai berkata, “Imam Malik menyatakan : Penduduk Medinah tidak ada yang menjalankan puasa enam hari Syawal. Dan tiada hadisnya bahwa para sahabat atau Rasulullah SAW menjalankan puasa  enam hari Syawal”.

Jawab: ulama yang semadzhab dengan Imam Malik, yaitu Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam membantah Imam Malik -rahimahullah-,

لم يبلغ مالكا حديث أبي أيوب على أنه حديث مدني والإحاطة بعلم الخاصة لا سبيل إليه والذي كرهه له مالك أمر قد بينه وأوضحه وذلك خشية أن يضاف إلى فرض رمضان وأن يستبين ذلك إلى العامة وكان – رحمه الله – متحفظا كثير الاحتياط للدين، وأما صيام الستة الأيام من شوال على طلب الفضل وعلى التأويل الذي جاء به ثوبان – رضي الله عنه – فإن مالكا لا يكره ذلك إن شاء الله لأن الصوم جنة وفضله معلوم لمن رد طعامه وشرابه وشهوته لله تعالى وهو عمل بر وخير وقد قال الله عز و جل ( وافعلوا الخير ) الحج 77 ومالك لا يجهل شيئا من هذا ولم يكره من ذلك إلا ما خافه على أهل الجهالة والجفاء إذا استمر ذلك

“Hadits Abu Ayyub belum sampai kepada Malik bahwa ia adalah hadits madani (yang diriwayatkan oleh orang Madinah). Penguasaan terhadap ilmu orang-orang khusus tak ada jalan kepadanya. Perkara yang menyebabkan Malik membenci puasa itu adalah perkara yang beliau telah jelaskan dan terangkan. Demikian itu, karena beliau khawatir bila ada sesuatu ditambahkan kepada kewajiban puasa Romadhon dan agar perkara itu jelas bagi manusia umumnya. Dahulu Imam Malik menjaga diri dengan amat berhati-hati dalam urusan agama.

Adapun puasa enam Hari Syawwal demi mencari keutamaan dan berdasarkan penakwilan yang dibawa oleh hadits Tsauban -radhiyallahu anhu-, maka sesungguhnya Malik tidaklah membenci hal itu –insya Allah-. Karena, puasa itu adalah perisai dan keutamaannya telah diketahui bagi orang yang menahan makan, minum dan syahwatnya karena Allah -Ta’ala-. Itu adalah perbuatan kebajikan dan kebaikan. Allah -Azza wa Jalla- berfirman, “Kerjakanlah kebaikan”. (QS. Al-Hajj : 77)

Malik bukanlah tidak mengetahui sesuatu dari perkara ini dan tidaklah membenci dari perkara ini, kecuali karena sesuatu yang beliau khawatirkan atas orang-orang jahil dan kasar jika hal itu terus berlangsung”. [Lihat Al-Istidzkar (3/380)]

Demikian komentar Ibnu Abdil Barr -rahimahullah- usai membawakan sejumlah riwayat bagi hadits puasa enam Hari Syawwal. Walillahilhamdu wal minnah.

c)    Sang Kiai berkata, “Masak kita menjalankannya  karena ingin mendapatkan fadhilahnya lalu para  sahabat tidak ingin? keliru sekali , bukan benar sungguh”.

Jawab: Hadits-hadits tentang puasa enam Hari Syawwal telah tsabit dan nyata dari beberapa sahabat: Abu Ayyub, Jabir, Abu Hurairah dan Tsauban -radhiyallahu anhum-. Mungkin saja masih ada disana sahabat yang meriwayatkannya selain mereka ini.

Jika mereka meriwayatkannya, maka mustahil mereka tak mengamalkannya.Para sahabat manusia yang amat bersemangat mengamalkan sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sekecil apapun. Adapun kita belum menemukan riwayat yang menjelaskan bahwa mereka melakukan puasa enam hari Syawwal, maka ketidaktahuan kita bukanlah hujjah dalam meniadakan hal itu. Boleh jadi disana ada riwayat yang menjelaskan pengamalan mereka, namun karena kurangnya ilmu kita sehingga belum menemukannya. Wallahu a’lam bish showab.

Nasihat

Kami nasihatkan kepada kepada seluruh penuntut ilmu agar berhati-hati dalam menilai sebuah hadits, tanpa bimbingan para ulama. Seorang harus kembali kepada kaedah-kaedah mushtholah hadits yang telah ditetapkan oleh para ulama kita dengan meminta bantuan dan keterangan para ulama kita saat menilai suatu hadits. Selain itu, seorang penuntut ilmu harus melakukan riset ilmiah yang panjang dan hati-hati sebelum mengeluarkan hukum terhadap sebuah hadits. Sebab, boleh jadi hari ini ia menyatakan demikian, lalu ucapannya diikuti orang, sehingga mereka sesat karenanya. Alangkah banyaknya orang yang sesat gara-gara ulah sebagian penuntut ilmu yang masih berbau kencur dengan beraninya mengeluarkan hukum, tanpa ilmu yang matang. Akhirnya, bukan malah membimbing manusia, tapi malah menyesatkan mereka.


[1] Walaupun disana ada sebagian ulama yang menilainya sebagai rawi hasan haditsnya.

[2] Bukan Yahya bin Sa’id Al-Aththor Al-Anshoriy Abu Zakariyya, sebagaimana yang diklaim oleh Sang Kiai. Ini satu kekeliruan Sang Kiai. Yang benar bahwa Yahya bin Sa’id disini adalah Yahya bin Sa’id bin Qois, saudara Sa’ad bin Sa’id. Yahya orangnya tsiqoh, sedang Sa’ad dho’if (lemah). Disinilah kesalahan sang Kiai dalam menilai rawi hadits. Yang menguatkan bahwa ia adalah Yahya bin Sa’id bin Qois, Al-Humaidiy dalam Musnad-nya membawakan sanadnya dari Yahya bin Sa’id dari Umar bin Tsabit. Perlu diketahui bahwa Umar bin Tsabit tak memiliki murid yang bernama Yahya selain Yahya bin Sa’id bin Qois, saudara Sa’ad bin Sa’id. Yahya ini tsiqoh, berbeda dengan Yahya bin Sa’id Al-Aththor yang dho’if (lemah).

[3] Terakhir kami dapatkan rawi lain yang menguatkan Sa’ad bin Sa’id, yaitu Utsman bin Amer Al-Harroniy sebagaimana yang diriwayatkan oleh An-Nasa’iy dalam Al-Kubro (2867).

[4] yakni, usai puasa Romadhon, atau maksudnya usai sholat Iedul Fitri. Wallahu A’lam.

[5] Ini anda lihat saat ia membawakan biografi Suhail bin Abi Shalih.

[6] Kata, “…tanpa sanad”. dalam menerjemahkan kata “ta’liq”, sebenarnya masih kurang tepat. Sebab, ta’liq tak mesti tanpa sanad. Kadang ada sanadnya, tapi sebagiannya tak disebut. Kadang juga semua sanad dihapus sampai kepada qo’il-nya (pengucapnya). Tapi terjemahan Sang Kiai kita maklumi. Sebab, mungkin ia sulit membahasakannya.

[7] Beliau adalah imam dalam ilmu al-jarh dan at-ta’dil, penulis Kitab Ats-Tisqot. Beliau lahir di Kufah pada tahun 182 H dan wafat pada tahun 261 H.

No Responses

Leave a Reply