Bukan Begitu Caranya

Berbuat Baik, Bukan Begitu Caranya!!

gambar bid'ah sesat“Banyak jalan menuju ke Roma”. Ungkapan ini telah sering lewat di telinga kita dan terkadang terpatri di hati sebagian manusia. Dia merupakan kalimat yang dijadikan dalil untuk menunjukkan banyaknya cara yang bisa ditempuh untuk meraih sesuatu yang diinginkan.

Dalam kehidupan ini, banyak manusia yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menempuh berbagai cara, asalkan keinginannya tercapai. Oleh karenanya, sangat menyedihkan sekali jika ada diantara kaum muslimin menjadikan ungkapan ini sebagai prinsip hidupnya. Makanya jangan heran, banyak orang di masa kini berkata “mencari yang haram saja susah apalagi yang halal…!!!” sehingga ia menempuh cara apapun walaupun harus menginjak dan menyikut saudaranya, yang penting tercapai keinginannya.

Bahkan yang lebih tragis lagi, jika prinsip ini di masukkan ke dalam agama Allah -Subhana Wa Ta’ala- sehingga banyak menimbulkan kerusakan dan kemungkaran yang besar. 1001 cara ditempuh untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengabaikan tuntunan Rasulullah-Sholllallahu alaihi wa sallam-. Akhirnya setiap orang beribadah sesuai selera dan hawa nafsu mereka. Diantara mereka ada yang sholat sambil bersiul, ada yang sholat dengan dua bahasa, ada yang sholat hanya 3 kali sehari semalam, bahkan ada yang sholat di kuburan!!! Jika kita bertanya kepada mereka tentang amalannya tersebut, maka merekapun beralasan, ”Niat kami kan baik, kan tujuannya satu yaitu Allah”.

Pembaca yang budiman, walaupun niat kita baik, namun bukan begitu caranya. Kita harus beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang telah dituntunkan oleh Nabi Muhammad -Sholllallahu alaihi wa sallam-. Sebab, hal itu merupakan konsekuensi dari persaksian kita terhadap dua kalimat syahadat yaitu,

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله

Artinya, kita harus mengesakan Rasulullah-Sholllallahu alaihi wa sallam- sebagai satu-satunya manusia yang wajib diikuti sebagaimana kita mengesakan Allah -Azza wa Jalla- sebagai satu-satunya yang wajib untuk disembah. Bahkan Allah -Subhana Wa Ta’ala- tidak akan menerima suatu amalan dan tidak akan mencintai suatu kaum, kecuali mereka mau mengikuti Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam-. Allah-Ta’ala- berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ  [آل عمران/31]

“Katakanlah (Wahai Muhammad ), jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Penganmpun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imron : 31).

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. [HR. Muslim]

Oleh karena itu, seseorang tidak boleh beribadah asal-asalan, semau gue atau sesuai selera masing-masing. Sebab, seluruh kebaikan dan tata cara ibadah di dalam agama ini,  telah dituntunkan dan dijelaskan dengan baik oleh Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam-. Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًا إِلاَّ كاَنَ حَقًّا عَلَيِْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرٍ مَا يَعْلَمُهُ لَهَمْ وَ يَنْهَاهُمْ عَنْ شَرٍّ مَا يَعْلَمُهًُ لَهُمْ

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan menjadi kewajibannya untuk menunjuki umatnya segala kebaikan yang ia ketahui untuk mereka, dan melarang mereka dari segenap kejelekan yang ia ketahui untuk mereka”. [HR. Muslim]

Namun pada hari ini, kebanyakan orang tidak memperhatikan perkara ini. Mereka beribadah kepada Allah dengan hawa nafsunya. Mereka dipermainkan oleh syetan sehingga melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang indah dan baik.

Diantara mereka, ada yang ingin menegakkan amalan JIHAD dengan membom disana-sini. Mereka ingin menegakkan hukum Allah dimuka bumi ini, walaupun harus menumpahkan darah sesama muslim. –Na’udzu billahi min dzalika-

Tapi sayang, bukan begitu caranya. Ketahuilah, para ulama telah menjelaskan bahwa jihad tidak akan tegak, kecuali terpenuhi padanya beberapa syarat;

(1)     Memiliki wilayah atau negara. Oleh sebab itu, Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- tidaklah berjihad, kecuali setelah memiliki wilayah, yaitu Madinah

(2)     Memiliki istitho’ah (kemampuan) yang mencakup kemampuan keimanan, tauhid dan amal shalih, maupun kemampuan fisik berupa jumlah personil tentara, serta jumlah dan jenis persenjataan yang ada pada kaum muslimin. Oleh sebab, itu Allah -Azza wa Jalla- tidak memerintahkan Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- berjihad ketika di Makkah, sebab belum memiliki kemampuan dan kekuatan.

(3)     Di bawah komando seorang pemimpin negara. Hal ini berdasarkan sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ,

“Sesungguhnya seorang pemimpin itu adalah perisai (pelindung) yang dibawah kepemimpinannya, diperangilah (musuh) dan dengannyalah dihindarkan bahaya musuh”. [ HR.Al-Bukhary (2597) dan Muslim (1841)].

Oleh karena itu, berjihad tidak boleh dilaksanakan, kecuali bersama pemerintah, dan harus menunggu izin darinya. Barangsiapa yang berjihad tanpa seorang pemimpin (pemerintah) atau izin darinya, maka dia telah melanggar dan melampaui batas, sebab yang diperintahkan untuk menegakkan jihad adalah para penguasa, bukan orang perorangan.

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawiy -rahimahullah- berkata saat menyebutkan aqidah Ahlus Sunnah, “Haji, dan jihad akan terus berjalan bersama pemerintah dari kalangan kaum muslimin, yang baik maupun yang fajir sampai tegaknya hari kiamat, tak akan dibatalkan dan digugurkan oleh sesuatu apapun”. [Lihat Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (hal. 50)]

(4)     Ada izin dari orang tua (kecuali dalam kondisi darurat). Terkhusus lagi jika keduanya sangat membutuhkan keberadaan putranya di sisinya. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh hadits ‘Abdullah bin ‘Amr -radhiyallahu anhu- ia berkata, “Suatu ketika, datanglah seseorang kepada Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- meminta izin untuk pergi berjihad. Kemudian Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda,

أَحَيٌّ وَالِدُكَ ؟ قَالَ: نَعَمْ ، قَالَ : فَفِيْهِمَا فَجَاحِدْ

“Apakah kedua orang tuamu masih hidup ?” Orang tersebut menjawab, “Ya” Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Maka berjihadlah kamu untuk (melayani) keduanya.”[HR. Al-Bukhari (3004) dan Muslim (2549)].

Oleh karenanya, tindakan-tindakan TERORISME yang terjadi pada hari ini tidak bisa dikatakan sebagai JIHAD, walaupun mereka menghias-hiasi ucapannya dengan ayat dan hadits-hadits jihad. Sebab syarat-syarat untuk ditegakkan jihad tidaklah terpenuhi pada mereka. Selain itu, mereka sering menafsirkan makna ayat dan hadits JIHAD sesuai dengan hawa nafsu mereka, tanpa mau menoleh kepada kaedah dan penjelasan para ulama.

Diantara manusia juga, ada yang mau berdakwah di jalan Allah, mereka melanglang buana kesana kemari selama 3 hari, 4 hari, 7 hari, 40 hari, 4 bulan bahkan 1 tahun untuk mengajak manusia melaksanankan shalat dan menyebarkan “sunnah”. Mereka memiliki semangat yang tinggi sampai kadang terbilang nekad, sebab banyak diantara mereka yang tidak memiliki ilmu yang cukup, bahkan baru insaf dari maksiatnya, sudah diajak untuk pergi berdakwah. Padahal medan dakwah memiliki banyak tantangan dan cobaan di dalamnya yang mengharuskan bagi mereka untuk mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya. Sedang bekal yang paling utama dalam medan dakwah adalah ilmu tentang syari’at Allah-Azza wa Jalla-.  Ilmu dalam medan dakwah adalah senjata bagi seorang dai. Ketika seorang dai tidak memilikinya, maka sama saja ia melemparkan dirinya ke dalam jurang kebinasaan. Ibarat seseorang yang terjun ke medan perang, tanpa membawa senjata, maka ia akan mati konyol.

Selain itu, perlu diketahui bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- tak pernah mengutus orang-orang jahil yang tak paham agama dengan baik untuk pergi berdakwah. Adapun mereka ini, maka mereka memerintahkan semua pengikutnya –walaupun ia jahil- untuk pergi berdakwah.

Mereka ingin berdakwah di jalan Allah, akan tetapi bukan begitu caranya. Ketahuilah,  dakwah adalah suatu ibadah yang agung di sisi Allah. Sedang suatu ibadah tidak akan diterima disisi Allah, jika tidak terpenuhi padanya dua syarat yaitu ikhlas dan ittiba’ (mengikuti) tuntunan Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam-. Oleh karenanya, seorang dai harus mematuhi rambu-rambu dalam berdakwah yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukan hanya sekedar semangat dan niat yang baik, akan tetapi perlu juga diperhatikan cara dalam berdakwah.

gambar kewajiban ayahMereka juga rela meninggalkan anak, istri, orang tua dan orang-orang yang menjadi tanggungannya demi “dakwah”. Padahal hukum dakwah dalam Islam adalah fardhu kifayah. Sedangkan hukum mencari nafkah bagi keluarga adalah fardhu ‘ain. Telah diketahui bersama bahwa sesuatu yang hukumnya fardhu kifayah, jika ada yang melakukan amalan tersebut, maka jatuhlah kewajiban dari yang lainnya. Sedangkan fardhu ‘ain, maka hukumnya orang perorang. Jika tidak dilaksanakan, maka seseorang akan berdosa. Oleh karena itu, sungguh mengherankan jika ada orang yang mendahulukan fardhu kifayah daripada fardhu ‘ain…?!?!

Sebagian manusia ada yang mengaku cinta kepada Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam-. Mereka senantiasa merayakan MAULID dan ISRA’ MI’RAJ di setiap tahunnya sambil memutar lagu-lagu cinta Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam- di mesjid-mesjid. Pohon-pohon pisang hias (tiri) yang dipenuhi dengan telur yang beraneka warna, membuat suasana semakin meriah. Jika ditanya  tentang amalan yang mereka lakukan, maka mereka menjawab “Inikan baik, ini sebagai bukti cinta kami kepada Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam-”. Ya, baik menurutnya. Tapi mana contohnya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya. Mereka tak pernah melakukan hal-hal itu. Andaikan itu baik, maka mereka akan mendahului kita dalam melakukannya.

Orang yang mengaku cinta Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam kesehariannya sangat jauh dari sunnah Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam-, bahkan membenci jika ada orang yang mau melaksanakan sunnah Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam-. Kita saksikan, mereka yang mengaku cinta Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam- sangat alergi dan marah, jika ada anggota keluarganya yang berjenggot, memakai cadar dan menaikkan celananya di atas mata kaki, karena mengamalkan sunnah Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam-. Duhai, demikiankah cinta Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam- ??! Tapi yang jelas, bukan begitu caranya.

Pembaca yang budiman, kita harus mencintai Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- sesuai petunjuk beliau, bukan asal-asalan dan sekedar mengaku cinta. Sebab, mencintai Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- adalah kewajiban bagi setiap muslim berdasarkan firman Allah -Ta’ala-,

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ  [التوبة/24]

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”.(QS. At Taubah : 24)

Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy -rahimahullah- berkata, “Dalam ayat ini terdapat dalil tentang wajibnya mencintai Allah, dan Rasul-Nya; tak ada khilaf diantara umat dalam hal itu, dan bahwa hal itu (cinta Allah dan Rasul-Nya) lebih dikedepankan atas segala sesuatu yang dicintai”. [Lihat Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (8/87)]

Lantas bagaimanakah caranya seorang dikatakan CINTA RASUL -Shallallahu alaihi wa sallam-? Menjawab hal ini, Al-Imam Al-Qodhi Iyadh -rahimahullah- berkata, “Ketahuilah! orang yang mencintai seseorang, ia akan mengutamakannya dan mengutamakan kecocokan diri dengannya. Jika tidak, maka ia tidak benar di dalam kecintaannya dan  ia hanya sebagai orang yang mengaku-ngaku saja. Maka orang yang benar di dalam kencintaannya kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang tampak darinya tanda-tanda tersebut. Yang pertama dari tanda-tanda itu adalah meneladani Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, mengamalkan sunnah-sunnahnya (ajaran-ajarannya), mengikuti perkataan dan perbuatannya, dan beradab dengan adab-adabnya, pada waktu susah dan mudah, pada waktu senang dan benci”.[Lihat Asy-syifa (2/22)]

Jadi, cinta kepada Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- bukan hanya di bibir saja, atau hanya sekali dalam setahun. Bukan begitu caranya, tetapi harus dengan memegang teguh sunnahnya dan mengamalkannya seumur hidup.

Oleh karenanya, seyogyanya bagi kaum muslimin untuk kembali menelaah hadits-hadits Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- dalam beribadah kepada Allah –Ta’ala-. Janganlah Iblis dan bala tentaranya dari kalangan jin dan manusia membuat kalian jauh dari tuntunan Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- sehingga membuat kalian termasuk golongan orang-orang yang menyesal. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً (27) يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلاَنًا خَلِيلاً (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولاً (29)  [الفرقان/27-30]

 “Dan (Ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagi-Ku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.”. (QS. Al-Furqon : 27-29).

Berpegang teguhlah kalian dengan sunnah Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam-, bahkan gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian sampai kalian berjumpa dengan Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- di telaganya. Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- telah menjamin bagi orang-orang yang taat kepadanya dengan surga dalam sabdanya,

كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ اْلجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قِيْلَ: وَ مَنْ يَأْبَى يَا رَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ :”مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ اْلجَنَّةَ, وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Maka ditanyakan kepada Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam-, “Siapa orang-orang yang enggan itu wahai Rasulullah?” Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa yang taat kepadaku, maka ia akan masuk surga dan barang siapa yang durhaka kepadaku, maka dialah orang yang enggan”. [HR. Al-Bukhoriy]

 Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

 

 

No Responses

Leave a Reply