Berjalan Mendekati Sutroh

Berjalan Mendekati Sutroh

oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah-

[Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa]

gambar tiang masjid nabawi 2Mengambil sutroh (pembatas) berupa dinding, kayu yang ditancap, kursi, barang, kendaraan atau tiang masjid dan lainnya adalah perkara yang diwajibkan bagi seorang muslim saat ia hendak sholat. Hendaknya ia menghadap kepada sutroh dan mendekatinya. Adapun ukuran sutroh (pembatas) yang ia letakkan di depannya –sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam edisi lalu-, setinggi dua jengkal.

Ketika imam hendak sholat, maka sebelum takbir, hendaknya ia mendekat ke dinding masjid. Jika dindingnya jauh dan tidak mungkin mendekat, maka diwajibkan baginya mengambil barang (misalnya, kursi, meja dan lainnya), lalu ia letakkan di depannya sebagai sutroh (pembatas) sehingga setan tidak mengganggu khusyu’-nya.

Demikian pula halnya seorang yang sholat sunnah sendirian, wajib baginya mengambil sutroh dan mendekat kepadanya. Adapun makmum, maka ia tak perlu mengambil sutroh, cukup dengan sutroh imamnya.

Para pembaca yang budiman, muncul sebuah pertanyaan, “Bila seorang masbuq (terlambat) dan tertinggal satu atau dua rakaat. Seusai imam salam, ia bukan lagi makmun, tapi masbuq. Nah, ketika ia mau menyempurnakan sholatnya, apa yang harus ia lakukan? Apakah tetap berdiri di tempatnya, ataukah berjalan selangkah-dua langkah demi mendekati sutroh?”

Pertanyaan ini telah dijawab oleh sebagian ulama bahwa ia harus berjalan mendekati sutroh (pembatas) berupa dinding atau yang lainnya, bukan terpaku di tempat semula!!

Al-Imam Malik bin Anas Al-Ashbahiy -rahimahullah- berkata, “Orang yang meneruskan rakaatnya yang tertinggal dari imam, tak mengapa baginya untuk berjalan mendekati tiang yang berada paling dekat di hadapannya, di samping kanan, di sebelah kiri atau di belakang; dia berjalan mundur sedikit. Dengan demikian dia bisa menjadikan tiang ini sebagai sutroh (penghalang). Jika ia jauh (dari tiang), maka dia tetap berdiri di tempatnya dan harus menghalangi orang yang lewat dengan sekuat tenaga”. [Lihat Syarh Az-Zarqani ala Mukhtasar Khalil (1/208)].

Abul Walid Ibnu Rusyd Al-Qurthubiy -rahimahullah- berkata, “Jika dia meneruskan rakaat yang tertinggal dari imam, dan dia berada di dekat tiang, hendaklah dia berjalan menuju kepadanya. Tiang tersebut adalah sutroh (penghalang) dalam sisa-sisa sholatnya. Jika di dekatnya tidak ada tiang, maka dia tetap shalat di tempatnya dan mencegah orang yang akan lewat di hadapannya dengan sekuat tenaga. Barang siapa yang lewat di depannya, maka ia berdosa. Adapun orang yang lewat di antara shaf, jika jama’ah mengerjakannya bersama imam, maka tak ada dosa baginya, karena imam adalah sutroh (penghalang) bagi seluruh jama’ah. Wa billahit taufiq”. [Lihat Fatawa Ibnu Rusyd (2/904)].

Pernyataan kedua ulama ini bukan tanpa dasar, bahkan berdasarkan hadits dan atsar. Dengarkan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لاَ يَقْطَعْ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلاَتَهُ

“Apabila salah seorang dari kalian shalat menghadap sutroh (penghalang), maka hendaklah dia mendekat kepadanya, niscaya setan tidak akan memotong shalatnya.” [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (695), dan An-Nasa’iy dalam Al-Mujtaba (748). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (782)]

Di dalam hadits ini Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan seseorang mendekati sutroh. Nah, jika sutroh-nya tidak dekat, sementara tak ada jalan untuk mendekat, kecuali harus melangkah barang selangkah-dua langkah, maka seseorang boleh berjalan mendekat ke sutroh (pembatas alias penghalang).

Lebih gamblang dari hadits ini, hadits Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma-, ia berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّيْ، فَمَرَّتْ شَاةٌ بَيْنَ يَدَيْهِ فَسَاعَاهَا إِلَى الْقِبْلَةِ حَتَّى أَلْزَقَ بَطْنَهُ بِالْقِبْلَةِ

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah sholat, lalu seekor kambing mau lewat di depan beliau, maka beliau mendahului kambing itu ke (dinding) kiblat sampai beliau menempelkan perutnya ke (dinding) kiblat”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (11937), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (934) dan Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya (827). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ashl Shifah Ash-Sholah (1/122)]

Jika seseorang dibolehkan berjalan satu-dua langkah dalam sholatnya demi menjaga kesempurnaan sholat dari gangguan berupa adanya kambing yang lewat, maka tentunya masbuq yang mau mendekati sutroh dibolehkan ke arah sutroh agar setan tak mengganggu ke-khusyu’-annya.

Hadits-hadits seperti inilah yang pernah diamalkan Umar -radhiyallahu anhu- ketika melihat seseorang sholat tanpa menghadap sutroh.

Qurroh bin Iyas -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

رَآنِيْ عُمَرُ وَأَنَا أُصَلِّيْ بَيْنَ أُسْطُوَانَتَيْنِ فَأَخَذَ بِقَفَائِيْ فَأَدْنَانِيْ إِلَى سُتْرَةٍ فَقَالَ: صَلِّ إِلَيْهَا

“Umar melihatku sedang shalat di antara dua tiang. Dia langsung memegang leherku dan mendekatkan aku ke sutroh (penghalang) sambil berkata, “Shalatlah menghadap sutroh (penghalang)”. [HR. Bukhariy dalam Shahih-nya: Kitabush Sholah, bab: Ash-Sholah ila Al-Usthuwanah  (1/577) secara mu’allaq, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (7502)]

Mungkinkah Qurroh bin Iyas mendekat ke tiang tanpa berjalan dan bergerak?! Jawabnya, tidak mungkin!! Jelas ia harus bergerak selangkah-dua langkah ke arah tiang.

 Jadi, seorang masbuq diperintahkan untuk mendekat ke sutroh, walaupun ia harus berjalan satu-dua langkah untuk mencari sutroh, baik berupa tiang atau dinding dan lainnya, karena hadits pertama di atas bersifat umum, yakni mencakup makmum, masbuq, dan munfarid (orang yang bersendirian sholat). Jadi, kelirulah sebagian orang yang mengingkari sunnahnya berjalan bagi masbuq yang kehilangan sutroh seusai imam salam!!

Sisi lain, berjalan demi mengejar rukuknya imam adalah boleh dan dianjurkan demi mendapatkan keutamaan sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa hadits dari sejumlah sahabat.

Diantaranya, hadits Zaid bin Wahb Al-Juhaniy, ia berkata,

خَرَجْتُ مَعَ عَبْدِ اللهِ مِنْ دَارِهِ إِلَى الْمَسْجِدِ , فَلَمَّا تَوَسَّطْنَا الْمَسْجِدَ رَكَعَ اْلإِمَامُ, فَكَبَّرَ عَبْدُ اللهِ ثُمَّ رَكَعَ وَرَكَعْتُ مَعَهُ ثُمَّ مَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الصَّفِّ حَتَّى رَفَعَ الْقَوْمُ رُؤُوْسَهُمْ, قَالَ: فَلَمَّا قَضَى اْلإِمَامُ الصَّلاَةَ قُمْتُ أَنَا, وَأَنَا أَرَى لَمْ أُدْرِكْ, فَأَخَذَ بِيَدِيْ عَبْدُ اللهِ, فَأَجْلَسَنِيْ وَقَالَ: إِنَّكَ قَدْ أَدْرَكْتَ

“Aku pernah keluar bersama Abdullah (yakni, Ibnu Mas’ud) dari rumahnya menuju ke masjid. Tatkala kami berada di tengah masjid, maka imam ruku’. Abdullah bin Mas’ud pun bertakbir lalu ruku’. Aku juga ruku’ bersamanya, lalu kami berjalan sampai tiba ke shaff saat kaum (jama’ah sholat) mengangkat kepala mereka. Dia (Zaid bin Wahb) berkata, “Tatkala imam menyelesaikan sholatnya, maka aku berdiri –sedang saya memandang bahwa aku tak mendapatkan shalat (secara sempurna)-, maka Abdullah bin Mas’ud menarik tanganku, lalu mendudukkan aku, seraya berkata, “Sesungguhnya engkau telah mendapatkan sholat (secara sempurna)”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2622), Ath-Thohawiy (1/231-232), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (9/271/no.9353), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2/90/no.2418). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1/455)]

Berjalan demi meraih keutamaan seperti ini saja boleh, apalagi berjalan demi menunaikan kewajiban mengambil dan mendekati sutroh!!! Tentunya lebih utama boleh, bahkan hukumnya wajib!!!

Hadits Zaid bin Wahb ini menjelaskan kepada kita bahwa seorang yang datang terlambat, lalu ia menemui imam sedang ruku’, maka ia disunnahkan untuk ruku’ sambil berjalan di belakang shaff menuju shaff dalam keadaan tenang, tanpa terburu-buru. Dengan ini, ia dianggap telah mendapatkan satu raka’at, tanpa harus menambah.

Di dalam sholat, memang seseorang dilarang bergerak, tanpa hajat, bahkan boleh jadi sholatnya batal, bila ia banyak bergerak dan gerakannya beruntun. Adapun bila seseorang berjalan, karena ada hajat yang mendorong ia berjalan (seperti, mendekati sutroh atau untuk mendapati rukuknya imam atau yang lainnya), maka tentunya dibolehkan bergerak dan berjalan sebanyak satu-dua langkah.

Bukankah dahulu para sahabat berjalan dan memutar haluan saat berubahnya kiblat?!! Jelas mereka berjalan dan memutar haluan.

Dari Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhu- berkata,

بَيْنَا النَّاسُ بِقُبَاءٍ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ إِذْ جَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ اللَّيْلَةَ قُرْآنٌ وَقَدْ أُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْكَعْبَةَ فَاسْتَقْبِلُوهَا، وَكَانَتْ وُجُوهُهُمْ إِلَى الشَّأْمِ فَاسْتَدَارُوا إِلَى الْكَعْبَةِ

“Tatkala manusia di Quba’ di saat sholat Shubuh. Tiba-tiba seseorang datang kepada mereka seraya berkata, “Sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah diturunkan Al-Qur’an kepadanya semalam dan sungguh beliau diperintahkan untuk menghadap Ka’bah”. Wajah mereka (sebelumnya) menghadap ke negeri Syam, lalu berputarlah mereka menghadap Ka’bah”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 403)]

Semua ini menunjukkan bahwa berjalan dan bergerak di saat ada hajat adalah boleh. Karenanya, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- biasa menggendong sebagian cucunya. Abu Qotadah -radhiyallahu anhu- berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

“Sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah sholat, sedang beliau menggendong Umamah bintu Zainab, puteri Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, anaknya Abul Ash bin Robi’ah bin Abdi Syams. Bila beliau sujud, maka beliau meletakkannya. Bila bangkit, maka beliau menggendongnya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 516)]

Inilah beberapa nukilan seputar hukum berjalan mendekati sutroh bagi masbuq seusai imam salam, semoga menjadi petunjuk bagi orang-orang yang mau menapaki jalan-jalan sunnah.

No Responses

Leave a Reply