Awas, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sholat Jumat!!

Awas, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sholat Jumat!!

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

(Pengasuh Ponpes Al-Ihsan, Gowa, Sulsel)

Masjidil-Haram-Wallpaper

Sholat Jumat merupakan sholat fardhu yang amat ditekankan dalam Islam. Setiap orang mengetahui tentang wajibnya sholat yang satu ini. Bahkan sudah menjadi kebiasaan dan pengetahuan di masyarakat bahwa sholat Jumat adalah wajib diikuti oleh kaum pria. Adapun wanita cukup sholat Zhuhur di rumahnya, tanpa sholat jumat lagi.

Artikel ini kami turunkan, karena kami melihat ada gejala buruk yang tersebar di masyarakat muslim, dengan adanya sebagian orang yang bergampangan meninggalkan Sholat Jumat. Mungkin karena tidak mengetahui hukumnya. Ada juga yang sudah tahu bahwa Sholat Jumat adalah berhukum wajib bagi setiap laki-laki yang sudah baligh, namun karena dasar malas, ia pun dengan entengnya meninggalkan hak Tuhannya di Hari Jumat berupa Sholat Fardhu yang kita kenal dengan “Sholat Jumat”.

Hati anda akan jengkel bercampur sedih saat melihat banyak orang yang sibuk di toko, kantor, dan tempat kerjanya, atau di atas kendaraannya, sementara khothib sudah berkhuthbah, namun tak ada tanda-tanda yang mengisyaratkan bahwa mereka akan ikut Sholat Jumat.

Kepada mereka yang pemalas ini, kami “hadiahkan” beberapa buah hadits nabawi yang berisi ancaman bagi mereka agar mereka sadar tentang bahaya meninggalkan Sholat Jumat!!!

Para pembaca yang budiman, orang yang meninggalkan Sholat Jumat pernah diancam oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- untuk dibakar sebelum mereka dibakar di neraka, na’udzu billah…

  • Dari Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu anhu- bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda kepada suatu kaum yang tertinggal (tidak ikut) sholat Jumat,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلاً يُصَلِّى بِالنَّاسِ ثُمَّ أُحَرِّقَ عَلَى رِجَالٍ يَتَخَلَّفُونَ عَنِ الْجُمُعَةِ بُيُوتَهُمْ

“Sungguh amat berkeinginan untuk memerintahkan seseorang memimpin manusia melaksanakan sholat, lalu aku akan membakar rumah orang-orang yang tertinggal dari Sholat Jumat”. [HR. Muslim dalam Kitabul Masajid (no. 652)]

Hadits menunjukkan betapa besarnya dosa orang yang meninggalkan sholat Jumat. Saking besarnya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- berkeinginan kuat untuk membakar rumah-rumah kaum yang malas atau enggan menghadiri sholat Jumat, agar menjadi pelajaran bagi mereka dan yang lainnya.

Abu Bakr As-Suyuthiy -rahimahullah- berkata,

وقال بعض المحققين : إن هذا الحديث ونحوه باق فيما احتاج إنكار المنكر إلى رادع شديد لانهماك أهل الناس في الفساد وعدم رجوعهم بما دون ذلك وقد حرق عمر بن الخطاب قصر سعد وحانوت الخمار وغير ذلك (الديباج على مسلم – (2 / 294))

“Sebagian muhaqqiqin berkata, “Sesungguhnya hadits ini dan semisalnya tetap (berlaku) dalam perkara yang diperlukan dalam mengingkari kemungkaran berupa penghalang kuat (dari sikap teledor), karena asyiknya manusia dalam kerusakan dan tidak rujuknya mereka dengan sesuatu yang lebih rendah dari hal tersebut. Sungguh Umar bin Al-Khoththob telah membakar istana Sa’ad (bin Abi Waqqosh), kedai khomer, dan lainnya”. [Lihat Ad-Dibaj ala Muslim Ibn Al-Hajjaj (2/294)]

Sebagian orang terkadang tak sadar, kecuali diberikan hukuman berat. Karena itu, boleh bagi pemerintah mengancam untuk membakar rumah-rumah milik para pemalas yang tak mau hadir dalam sholat Jumat. Bahkan boleh membakarnya!!

Meninggalkan sholat Jumat merupakan bentuk kelalaian hati. Lalai dari mengingat Allah dan mengingat hari berbangkit.

  • Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah -radhiyallahu anhuma- bahwa keduanya menceritakan bahwa keduanya pernah mendengar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda di atas kayu-kayu mimbar beliau,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Betul-betul beberapa akan berhenti meninggalkan sholat-sholat Jumat ataukah Allah akan tutup hatinya, lalu betul-betul mereka akan menjadi orang-orang yang lalai”. [HR. Muslim dalam Kitabul Jum’ah (no. 865)]

Syaikh Faishol bin Abdil Aziz Alu Mubarok -rahimahullah- berkata,

فيه : وعيد شديد لمن ترك الجمعة لغير عذر شرعي .

“Ini adalah ancaman keras bagi orang meninggalkan sholat Jumat tanpa udzur syar’iy”. [Lihat Tathriz Riyadh Ash-Sholihin (2/135)]

Betul, ini adalah ancaman yang amat keras bagi para pemalas yang berat hati menghadiri Sholat Jumat bersama kaum beriman. Hatinya akan dilalaikan dari mengingat Allah dan hari perjumpaan dengannya, sampai ia pun akan mati dengan membawa segala kerugian dan kegagalan yang akan melahirkan penyesalan yang besar di Padang Mahsyar.

Orang yang lalai seperti ini besar kemungkinan hatinya akan dicap oleh Allah sebagai hati munafiq. Ketahuilah bahwa meninggalkan Sholat wajib adalah keharaman yang amat berbahaya yang akan mengantarkan pelakunya untuk meremehkan, bahkan merendahkan kewajiban-kewajiban agama, diantaranya Sholat Jumat.

Di dalam sejarah kaum pada zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, tak ada yang berani meninggalkan sholat, selain manusia-manusia yang sudah dicap munafiq!! Manusia-manusia yang tertutup dari kebaikan!!!

  • Dari Abul Ja’ad adh-Dhomriy -radhiyallahu anhu-, ia berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

من ترك الجمعة ثلاثا من غير عذر فهو منافق

“Barangsiapa yang meninggalkan Sholat Jumat tiga kali tanpa udzur (alasan yang dibenarkan), maka ia munafiq”. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya (no. 2857) dan Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no. 258)]

  • Dari Usamah -radhiyallahu anhu-, ia berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ تَرَكَ ثَلاثَ جُمُعَاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كُتِبَ مِنَ الْمُنَافِقِينَ

“Barangsiapa yang meninggalkan tiga Jumat, tanpa ada udzur, maka ia dicatat termasuk golongan kaum munafiqin”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (422)]

Ibnu Humam Al-Hanafi -rahimahullah- berkata dalam Fathul Qodir,

صرح أصحابنا بأن الجمعة فرض آكد من الظهر وباكفار جاحدها

“Para sahabat kami menegaskan bahwa sholat Jumat adalah fardhu (kewajiban) yang lebih ditekankan dibandingkan sholat Zhuhur dan mengafirkan orang yang mengingkarinya”. [Lihat At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghir (2/793)]

Dua hadits di atas merupakan dalil qoth’iy yang menyatakan bahwa akhir dari kehidupan orang yang lancang meninggalkan sholat Jumat adalah kemunafiqan, insya Allah.

Kemunafikan yang akan menghalangi pelakunya dari taufiq dan segala kebaikan serta keutamaan.

  • Dari Abul Ja’ad adh-Dhomriy -radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

“Barangsiapa yang meninggalkan tiga Sholat Jumat, karena meremehkannya, maka Allah akan tutup hatinya”. [HR. Abu Dawud (1052), At-Tirmidziy (no. 500), An-Nasa’iy (no. 1369) dan Ibnu Majah (no. 1125)]

Muhaddits Negeri India, Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata

قال الشيخ عبد الحق في اللمعات الظاهر أن المراد بالتهاون التكاسل وعدم الجد في أدائه لا الإهانة والاستخفاف فإنه كفر والمراد بيان كونه معصية عظيمة

“Syaikh Abdul Haqq berkata dalam Al-Luma’at, “Yang tampak bahwa yang dimaksud meremehkan adalah malas dan tak bersungguh-sungguh dalam menunaikannya, bukan maksudnya merendahkannya, karena itu kekafiran. Maksudnya, penjelasan hal sebagai maksiat yang amat besar!!” [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (3/11)]

Yang terkena ancaman dalam hadits ini adalah mereka yang malas menghadiri sholat Jumat, tanpa ada udzur, misalnya: sakit, safar, dan lainnya.

  • Dari Jabir bin Abdillah -radhiyallahu anhu-, ia berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

“Barangsiapa yang meninggalkan Sholat Jumat sebanyak tiga kali, tanpa darurat, maka Allah akan tutup hatinya”. [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 1126)]

Muhaddits Negeri Madinah, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad -hafizhahullah- berkata,

والرسول صلى الله عليه وسلم أخبر أن الذي يتكرر منه هذا العمل يطبع الله على قلبه، فلا يصل إليه هدى، ولا يصل إليه خير، وهذا يدلنا على خطورة هذا العمل، وأنه أمر لا يسوغ ولا يجوز، وأن الواجب على كل مسلم أن يحرص على حضور الجمعة والجماعة، ولا يتهاون في ذلك؛ حتى لا يعرض نفسه للوقوع في هذا الوعيد الشديد

“Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengabarkan bahwa orang yang berulang kali perbuatan ini (yakni, meninggalkan sholat Jumat), Allah akan menutup hatinya, sehingga petunjuk tidak sampai kepadanya, kebaikan tidak sampai kepadanya.

Ini menunjukkan kepada kita tentang bahayanya perbuatan ini dan bahwa ia adalah perkara yang tidak boleh, serta bahwa kewajiban bagi setiap muslim untuk bersemangat menghadiri sholat Jumat dan sholat Jama’ah (lima waktu). Ia tidak bergampangan dalam hal itu sampai ia pun memperhadapkan dirinya untuk terjerumus dalam ancaman yang keras ini!!” [Simak kaset Syarh Sunan Abi Dawud saat menjelaskan hadits di atas]

Para pembaca yang budiman, sebagian orang terkadang meninggalkan sholat Jumat karena sibuk dan asyik dengan urusan dunianya. Namun ia tak sadar bahwa dunia yang melalaikannnya akan menjadi sebab hatinya akan dicap dan ditutup.

  • Dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

أَلاَ هَلْ عَسَى أَحَدُكُمْ أَنْ يَتَّخِذَ الصُّبَّةَ مِنْ الْغَنَمِ عَلَى رَأْسِ مِيلٍ أَوْ مِيلَيْنِ فَيَتَعَذَّرَ عَلَيْهِ الْكَلَأُ فَيَرْتَفِعَ ثُمَّ تَجِيءُ الْجُمُعَةُ فَلَا يَجِيءُ وَلَا يَشْهَدُهَا وَتَجِيءُ الْجُمُعَةُ فَلَا يَشْهَدُهَا وَتَجِيءُ الْجُمُعَةُ فَلَا يَشْهَدُهَا حَتَّى يُطْبَعَ عَلَى قَلْبِهِ

“Ingatlah, barangkali diantara kalian ada seseorang yang mengambil (mengembala) kambing sekitar satu atau dua mil. Lalu, ia pun kesusahan rumput, lalu ia mendaki. Kemudian datanglah Sholat Jumat. Karenanya, ia pun tidak datang dan menghadiri sholat Jumat.

Sholat Jumat datang, lalu ia pun tidak menghadirinya. Sholat Jumat datang, lalu ia pun tidak menghadirinya, sampai hatinya ditutup”. [HR. Ibnu Majah (1127)]

  • Dalam riwayat lain, dari Haritsah bin Nu’man, ia berkata, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

يَتَّخِذُ أَحَدُكُمُ السَّائِمَةَ فَيَشْهَدُ الصَّلَاةَ فِي جَمَاعَةٍ، فَتَتَعَذَّرُ عَلَيْهِ سَائِمَتُهُ فَيَقُولُ: لَوْ طَلَبْتُ لِسَائِمَتِي مَكَانًا هُوَ أَكْلَأُ مِنْ هَذَا، فَيَتَحَوَّلُ وَلَا يَشْهَدُ إِلَّا الْجُمُعَةَ، فَيَتَعَذَّرُ عَلَيْهِ سَائِمَتُهُ، فَيَقُولُ: لَوْ طَلَبْتُ لِسَائِمَتِي مَكَانًا هُوَ أَكْلَأُ مِنْ هَذَا، فَيَتَحَوَّلُ فَلَا يَشْهَدُ الْجُمُعَةَ وَلَا الْجَمَاعَةَ، فَيُطْبَعُ عَلَى قَلْبِهِ

“Seorang diantara kalian akan mengambil (memelihara) hewan ternak. Ia masih menghadiri sholat jama’ah. Kemudian hewan ternaknya pun kesulitan (makanan). Ia bergumam, “Andaikan aku carikan untuk hewan ternakku suatu tempat yang lebih berumput dibandingkan (tempat) ini”. Akhirnya, ia pun berpindah dan tidak lagi menghadiri sholat, selain sholat Jumat.

Kemudian hewan ternaknya pun kesulitan (makanan) lagi. Ia bergumam, “Andaikan aku carikan untuk hewan ternakku suatu tempat yang lebih berumput dibandingkan (tempat) ini”. Akhirnya, ia pun berpindah dan tidak lagi menghadiri sholat Jumat dan tidak pula sholat jama’ah. Akibatnya, hatinya ditutup”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/433)]

Jadi, sesibuk apapun seorang hamba dalam mencari dunia, maka jangan sekali-kali menyibukkannya dari menghadiri sholat jama’ah, apalagi sholat Jumat!!

Itu merupakan sikap peremehan terhadap sholat Jumat. Jika sholat Jumat saja, ia berani meninggalkannya, maka yakinlah sholat-sholat lainnya akan ia tinggalkan, bahkan boleh jadi syariat-syariat lain akan ia kesampingkan.

Subhanallah, sungguh rugi orang yang seperti ini. Ia menyangka bahwa dunia adalah segalanya. Adapun hak Allah berupa sholat dan lainnya adalah perkara kedua!

  • Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu anhu- berkata,

من ترك الجمعة ثلاث جمع متواليات فقد نبذ الإسلام وراء ظهره

“Barangsiapa yang meninggalkan Sholat Jumat sebanyak tiga kali Jumat secara berturut-turut, maka sungguh ia telah membuang Islam di balik punggungnya”. [HR. Abu Ya’laa dalam Al-Musnad (no. 2712)]

Inilah akibat meninggalkan sholat Jumat tiga kali berturut-turut. Sifat seperti ini hanyalah ada pada kaum munafiqin.

  • Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَأْتِهَا، طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ، وَجَعَلَ قَلْبَهُ قَلْبَ مُنَافِقٍ

“Siapa yang mendengarkan adzan pada hari Jumat, namun ia tak mendatanginya, maka Allah tutup hatinya dan Allah menjadikan hatinya hati munafiq”. [HR. Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (no. 3005)]

Kewajiban menghadiri sholat Jumat ini merupakan kewajiban bagi setiap insan muslim yang mukallaf.

Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy -rahimahullah- berkata,

وقد استدل بأحاديث الباب على أن الجمعة من فروض الأعيان وقد حكى ابن المنذر الإجماع على أنها فرض عين . وقال ابن العربي : الجمعة فرض بإجماع الأمة . وقال ابن قدامة في المغني : أجمع المسلمون على وجوب الجمعة

“Hadits-hadits bab ini telah dijadikan dalil bahwa sholat Jumat termasuk fardhu ‘ain (kewajiban bagi setiap mukallaf). Ibnul Mundzir telah menukil ijma’ (kesepakatan) bahwa ia merupakan fardhu ain.

Ibnu Arobiy berkata, “Sholat Jumat merupakan fardhu berdasarkan ijma’ umat”.

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, “Kaum muslimin telah bersepakat (ijma’) tentang wajibnya sholat Jumat”. [Lihat Nailul Author (3/272)]

Perhatian:

Semua hadits-hadits di atas telah dikuatkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wat Tarhib (no. 724-735), cet. Darul Ma’arif.

 

No Responses

Leave a Reply