Amalan Ringan bagi Calon Penghuni Sorga

Amalan Ringan bagi Calon Penghuni Surga

Oleh: Al-Ustadz Abdul Qadir Abu Fa’izah -Hafizhahullah-

(Pembina Pesantren Al-Ihsan Gowa)

Image1342

Surga merupakan tempat idaman bagi setiap muslim. Negeri yang penuh dengan kenikmatan dan kesempurnaan yang tiada taranya. Sebuah negeri keabadian yang tidak ada lagi rasa sakit dan penderitaan di dalamnya.

Namun untuk meraihnya kita butuh perjuangan  berat untuk melawan hawa nafsu yang senantiasa mengarahkan kita kepada jalan-jalan kebururkan, sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah -Azza Wa Jalla-,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41) [النازعات : 40 ، 41

“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,  maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat : 40 – 41)

Jadi, jiwa manusia pada galibnya condong kepada keburukan yang akan menjerumuskan pemiliknya kepada neraka.

Rasulullah-Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- bersabda,

حُفَّتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga diliputi hal-hal yg tak menyenangkan dan neraka diliputi dengan syahwat.”  [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no.2822)]

Saking sulitnya jalan yang harus ditempuh, sampai malaikat Jibril pun khawatir bahwa tak seorang pun yang dapat memasukinya. Nabi-Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- bersabda,

«لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْجَنَّةَ قَالَ لِجِبْرِيلَ : اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا.

فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ : أَىْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لاَ يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلاَّ دَخَلَهَا ثُمَّ حَفَّهَا بِالْمَكَارِهِ

ثُمَّ قَالَ : يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ : أَىْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لاَ يَدْخُلَهَا أَحَدٌ»

قَالَ : «فَلَمَّا خَلَقَ اللَّهُ النَّارَ قَالَ : يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا. فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ : أَىْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لاَ يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ فَيَدْخُلُهَا فَحَفَّهَا بِالشَّهَوَاتِ

ثُمَّ قَالَ : يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا. فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ : أَىْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لاَ يَبْقَى أَحَدٌ إِلاَّ دَخَلَهَا»

“Tatkala Allah telah menciptakan surga dan neraka, maka Allah mengutus Jibril ke surga dan berfirman, “Lihatlah apa yg telah Aku persiapkan untuk penghuninya”. Jibril pun mendatangi surga dan melihat-lihatnya dan segala yang dipersiapkan bagi penghuninya. Kemudian Jibril kembali kepada Allah dan berkata, “Demi keperkasaan-Mu, tidak ada seorangpun yang mendengar tentangnya, kecuali ingin masuk ke dalamnya”.

Kemudia ia diperintahkan kembali ke surga, ternyata surga telah diliputi oleh hal-hal yang tak menyenangkan. Jibril kembali pada-Nya, ia berkata, “Demi keperkasaan-Mu, aku khawatir tak akan ada seorang pun yg memasukinya”. Ia berfirman, “Pergilah ke neraka dan  lihatlah apa yang telah Aku persiapkan untuk penghuninya”. Ternyata neraka menumpuk satu sama lain, lalu Jibril kembali dan berkata, “Demi keperkasaan-Mu, tak ada seseorang pun mendengarnya lalu (kepingin) memasukinya. Lalu Jibril diperintahkan untuk kembali menegok neraka, ternyata neraka diliputi oleh syahwat. Ia berfirman, “Kembalilah ke neraka”. Jibril kembali ke neraka, lalu ia berkata, “Demi keperkasaan-Mu, aku khawatir tak akan ada seorang pun yang selamat darinya, melainkan akan memasukinya.” [HR. Abu Dawud (4877), At-Tirmidziy (2560), dan An-Nasa’iy (3763). Lihat Shohih Al-Jami’ (5210)]

Namun dengan rahmat yang luas dan kasih sayang Allah yang sempurna kepada hamba-hamba-Nya, Allah -Subhana Wa Ta’ala- menganugerahkan kepada para hamba-Nya amalan-amalan yang ringan.

Jika seorang hamba berusaha konsisten di atasnya, niscaya amalan-amalan ringan itu bisa menjadi sebab Allah -Azza Wa Jalla- akan memasukkannya ke dalam surga.

Adapun amalan-amalan tersebut adalah:

Membaca Al-Qur’an dan Mengamalkannya

Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang Allah berikan kepada Rasulullah-Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- dan anugrah teragung yang Allah turunkan ke alam semesta ini. Sebab Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa menuju keridhoan Allah dan surga-Nya.

Membaca Al-Qur’an diiringi tadabbur merupakan amalan yang akan memasukkan seseorang ke dalam surga, misalnya:

  • Membaca ayat kursi

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ قَرَأَ آيَةَ اْلكُرْسِي فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَم يَمْنَعَهُ مِنْ دُخُوْلِ اْلجَنَّةِ اِلاَّ اَنْ يَمُوْتَ

“Barangsiapa yang membaca ayat kursi setiap selesai sholat fardhu, tidak ada yang dapat menghalanginya masuk surga, kecuali dia meninggal dunia.” [HR. An-Nasa’iy dalam Al-Kubro (no. 9928). Di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (no. 972)]

  • Membaca surah Al-Mulk

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ {تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ}.

وفي رواية: فأخرجته من النار و أدخلته الجنة

“Satu surat dalam al-Qur’an (yang terdiri dari) tiga puluh ayat (pada hari kiamat) akan memberi syafa’at (dengan izin Allah Ta’ala) bagi orang yang selalu membacanya (dengan merenungi artinya), sehingga Allah mengampuni (dosa-dosa)nya, (yaitu Surat Al-Mulk): “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Dalam riwayat lain: “…sehingga dia dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga”. [HR. Abu Dawud (no. 1400), At-Tirmidzi (no. 2891), dan Ibnu Majah (3786). Dinilai hasan oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 7975)]

  • Membaca Surah Al-Ikhlas

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu-, dia berkata,

أَقْبَلْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ : (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ)، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (وَجَبَتْ)، قُلْتُ: (وَمَا وَجَبَتْ؟)، قَالَ: (الْجَنَّةُ)

“Saya datang bersama Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Lalu beliau mendengar seorang membaca “Qul huwa Allahu ahad Allahu al-samad” (Surah al-Ikhlas). Maka Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam-  bersabda, “Tetaplah (baginya surga)”. Sayapun bertanya, “Apa yang tetap ?” Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menjawab, “surga”. [HR.  At-Tirmidzi (3897), dan An-Nasa’iy (no. 994) Dinyatakan hasan oleh Al-Albaniy dalam At-Ta’liq Ar-Roghib (2/224)]

 

Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- juga bersabda,

مَنْ قَرَأَ {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} عَشَرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِيْ الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang membaca Qul Huwallah Ahad sepuluh kali, maka Allah akan bangunkan untuknya rumah di surga.” [HR. Ahmad (3/437). Di-shohih-kan oleh Al-Abaniy dalam Shahih Al-Jami’ (no. 6472)]

……………………………

…………………..

Berdzikir kepada Allah -Azza Wa Jalla-

Dzikir merupakan ibadah yang ringan di lisan, namun memiliki keutamaan yang besar di sisi Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- .  dengan berdzikir akan menguatkan hati dan badan, membuat hati menjadi lapang dan gembira, dapat mengusir setan, memudahkan rezki dan mendatangkan kecintaan Ar-Rahman serta manfaat yang lainnya. Oleh karenanya, kita sangat butuh dengan ibadah dzikir ini sebagaimana yang diucapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-,

الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُوْنُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ ؟

“Dzikir bagi  hati seperi air bagi ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut meninggalkan air?” [Lihat Al-Wabil Ash-Shoyyib (hal. 63)]

Oleh sebab itu, orang yang meninggalkan dzikir dan lupa kepada Allah, maka ia akan mendapati hidupnya terasa sempit dan berat serta akan mengantarnya pada kesengsaraan di dunia dan di akhirat. Allah -Azza Wa Jalla- berfirman,

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ  [الحشر : 19]

 “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)

……………………………………………

……………………………………………

Adapun dzikir yang telah datang keterangannya dari sunnah, yang menjadi sebab seseorang dimasukkan ke dalam surga adalah sebagai berikut:

  • Bertasbih, bertahmid dan bertakbir

Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِهِ وَهُوَ يَغْرِسُ غَرْسًا فَقَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا الَّذِي تَغْرِسُ؟  قُلْتُ غِرَاسًا لِي قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى غِرَاسٍ خَيْرٍ لَكَ مِنْ هَذَا؟ قَالَ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ يُغْرَسْ لَكَ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ

“Bahwa Rasulullah melewatinya sedang bercocok tanam, seraya Rasulullah menegurnya dan berkata, “Wahai Abu Hurairah, apa yang sedang kau tanam? Aku menjawab, “Menanam tanaman ya Rasulullah”. Beliau berkata, “Maukah engkau kuberitahukan tentang tanaman yang lebih baik dari ini?” Abu Hurairah menjawab, “Tentu ya Rasulullah”. Beliau berkata, “Katakanlah :

(سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر), niscaya akan ditanamkan untukmu dengan setiap kalimat tersebut, sebuah pohon di surga. [HR. Ibnu Majah (3807) dan Syaikh Al-Albani menghasankannya dalam kitab Shohih Targhib (1549)]

  • Berdzikir Setelah Berwudhu

Dari sahabat ‘Uqbah bin Amir -radhiyallahu anhu- bahwa Nabi-Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

“Tidak ada seorangpun di antara kalian yang berwudhu dengan baik (menyempurnakannya), kemudian berdoa,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

(artinya : “Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang haq, kecuali hanya Allah tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.), kecuali dibukakan baginya delapan pintu surga yang ia boleh masuk dari mana yang dia inginkan. [HR. Muslim (345)]

  • Membaca لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Kalimat hauqolah (لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ) adalah kalimat ringan, namun ternyata ia adalah harta simpanan yang amat berharga di surga, yang telah disapkan oleh Allah -Tabaroka wa Ta’ala- bagi mereka yang gemar membacanya.

Dari sahabat Abu Musa -radhiyallahu anhu-, dia berkata bahwa Rasulullah-Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- bersabda,

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ” أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ ؟”

قُلْتُ : (بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَدَاكَ أَبِي وَأُمِّي)، قَالَ : (لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ)

Wahai Abdullah bin Qais (Abu Musa), maukah engkau kuberitahu tentang salah satu simpanan diantara simpanan-simpanan surgawi?

Abdullah bin Qais menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah”. beliau bersabda, “Simpanan itu adalah ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah’.”. [HR. Al-Bukhoriy (4205)]

  • Membaca Doa Masuk Pasar.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ دَخَلَ اْلسُّوْقَ فَقَالَ : لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَ يُمِيْتُ وَ هُوَ حَيُّ لاَ يَمُوْتُ بِيَدِهِ اْلخَيْرُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةً وَ مَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةً وَ رَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةً وَ بُنِىَ لَهُ بَيْتًا فِيْ الجَنَّةِ

“Barangsiapa yang masuk pasar, lalu membaca (dzikir): “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyii wa yumiit, wa huwa hayyun laa ya yamuut, bi yadihil khoir, wa huwa ‘ala kulli syai’in qodiir” [Tiada sembahan yang benar, kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, Dialah yang menghidupkan dan mematikan. Dia-lah yang maha hidup dan tidak pernah mati, ditangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu]”, maka Allah akan menuliskan baginya satu juta kebaikan, menghapuskan darinya satu juta kesalahan, dan meninggikannya satu juta derajat dan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga  ” [HR. HR at-Tirmidzi (no. 3428 dan 3429), Ibnu Majah (no. 2235), dan syaikh al-Albani dalam kitab Shahihul Jaami’” (no. 6231)]

No Responses

Leave a Reply